Episode 8 - Episode 8

Di dalam kelas Elren bisa saja tidak menengok ke belakang sekalipun. Dengan catatan tidak ada sesuatu yang menariknya seperti magnet. Sesuatu yang memberinya keberanian untuk menerima ocehan guru kalau-kalau mendapati salah satu muridnya memandangi hal selain papan tulis. Hal macam apa yang bertanggung jawab atas keputusannya terus menengok ke belakang?

Namanya Selli.

Dan dia memiliki poni yang aneh.

Seperti boneka Cina.

Jika Selli dijadikan boneka Cina pastilah aku akan membelinya

Mencari tahu apa yang ditutupi poninya itu?

“Di mana rumahmu?” Elren sebisa mungkin mencari sesuatu yang bisa ditanyakan kepada Selli. Jawabannya tidak terlalu penting bagi Elren. Hanya saja ia menginginkan momen untuk memerhatikan Selli lebih lama untuk memastikan sesuatu.

“Sembilan menit jika jalan kaki.” Jawaban Selli—secara teknis—tidak menjawab pertanyaan Elren. Tapi siapa peduli. Elren bisa melihat kedua bola mata Selli saat mereka saling bicara.

“Kau jalan kaki?”

“Ya.”

“Setiap berangkat dan pulang sekolah?”

  “Ya.”

Oh. Keparat. Buat pertanyaan yang jawabannya harus serangkaian kalimat.

“Apa aku boleh menyimpan nomormu?”

Dan ada jeda yang cukup lama sampai-sampai dimanfaatkan oleh Elren untuk mengutuk dirinya sendiri.

Pertanyaan fatal.

“Eh—maksudku.” Elren ingin mengubah pertanyaannya tapi tidak dapat memikirkan hal lain yang berkaitan dengan nomor selain ukuran Bra.

“Tentu,” jawab Selli.

Elren berupaya agar tidak menghela napas.

“Tapi, ponselku sedang rusak,” lanjut Selli, yang menurut Elren ini adalah salah satu jenis penolakan terlembut.

*

Matahari seganas apa pun tidak sanggup menggosongkan kulit Selli yang sudah terlampau putih, seolah-olah pigmen di dalam tubuhnya sudah tidak mampu mengeluarkan warna lain. Dengan gaya berpakaian yang hampir sama ketika berangkat, kini Selli memakainya untuk perjalanan pulang.

Bel dengan nada Swan Lake itu berputar-putar di kepalaku.

Pertanyaan Elren juga.

Dan jawaban bodohku juga.

Selli menggenggam ponselnya erat-erat. Memandanginya dan bertanya-tanya apa yang bisa dilakukan ponsel ini untuk kehidupannya selain menghubungkan suara ibu atau abangnya. Mengapa orang asing harus ikut terdaftar dalam ponselnya. Dan mengapa orang asing itu menginginkannya.

Bayangan Selli cukup aneh jika dilihat dari atas aspal. Bayangannya lebih mirip seseorang yang botak dan obesitas. Selli benci dengan bayangannya yang buruk rupa. Sampai sebuah bayangan yang lebih mirip Godzilla tiba-tiba muncul di sebelahnya dan bertingkah seolah ingin melahap bayangan Selli.

“Arah rumahmu ke sini?” Elren juga menutupi kepalanya dengan kupluk sehingga jika mereka dilihat dari jauh mirip sepasang saudara kembar. Hanya saja yang satu menaiki sepeda.

“Ya.”

“Masih jauh?”

“Masih ada tujuh menit yang harus kulewati andai kakiku tidak patah dengan tiba-tiba.”

“Aku bisa mengantarmu.”

“Dengan sepeda?”

Selli memandangi sepeda Elren yang lebih cocok dipakai anak perempuan tujuh tahun yang belum mengetahui rahasia semacam—sepeda dapat merenggut keperawananmu. Sepeda itu warna ungu, bannya kebesaran dan jari-jarinya mirip sebuah hasil kerja yang salah. Selain itu ada keranjang di bagian depan yang berisi brosur daftar harga produk minyak goreng, dan satu tempat duduk penumpang yang ukurannya hanya dua jengkal tangan Selli.

“Memangnya kau pikir aku sedang mengendarai helikopter?”

“Entahlah. Aku tidak mau membayar biaya servis jika sepedamu kenapa-kenapa.”

“Kau meremehkan kemampuan Bolby dalam hal mengangkut penumpang. Sepeda ini pernah dinaiki gajah.”

“Kau menganggapku gajah?”

“Tidak! Oh, kenapa sih kau ini selalu berpikiran buruk?”

“Selalu?” Selli menghentikan langkahnya. Elren mengerem sepedanya.

“Maksudku, kau seperti sedang memikirkan sesuatu yang buruk. Setiap jamnya. Dan kupikir aku ini cukup sok tahu. Dan aku yakin kalau aku tahu. Hanya saja kau pasti menganggap aku sok tahu.”

“Kau memang sok tahu.”

Selli melanjutkan perjalanannya. Elren kembali menjalankan sepedanya.

“Tidak, aku tidak sok tahu. Kau selalu terlihat seperti sedang memikirkan cara membuat pesawat terbang berbahan dasar gummy bear—sesuatu yang mustahil kau ciptakan. Kau takut berbicara di depan banyak orang tapi kau bisa menghabisi lawanmu satu lawan satu. Kau duduk di belakang dan menyendiri. Kau selalu memakai kupluk—“

“Kau juga memakai kupluk,” potong Selli. Kupluk yang keren.

“Oke, cuacanya memang panas. Tapi, kau tidak bisa mengenakan itu selamanya. Jadi, apa rumahmu masih jauh?”

“Empat menit lagi.”

“Baiklah, apa yang bisa kita bicarakan selama 4 menit? Maksudku, rumahku juga sudah dekat dan aku malas menunggu hari esok untuk mengobrol denganmu karena semangatku ke sekolah itu seperti para narapidana yang mendapat panggilan makan siang. Makan siang yang buruk.”

“Kita bisa berhitung mundur.”

“Oh, ya Tuhan, ponselmu tidak rusak, kan?”

“Rusak parah. Terlindas truk.”

“Itu mati. Bukan rusak. Kau pembohong yang payah.”

“Aku bisa berbohong. Aku bisa memberimu nomor palsu.”

“Kau tidak bisa membuat nomor palsu.”

“Dua menit.”

“Di mana rumahmu?”

“Aku tidak akan pulang kalau kau terus membuntuti.”

“Kita punya jalur akses pulang yang sama. Pahami itu.”

“Baiklah. Kau bisa duluan. Kau diberkahi dua kaki dan dua roda. Perjalananmu harusnya bisa lebih cepat.”

“Aku ingin tahu rumahmu.”

Selli menghentikan langkahnya lagi. Diam-diam ia tidak benar-benar benci dengan kehadiran Elren. Ia hanya senang mengerjainya. Mengerjai seorang pria sungguhan.

“Aku tidak akan pulang. Aku akan duduk di taman atau di perosotan sampai besok jika kau tetap membuntutiku.”

“Ya, ampun. Baiklah.”

Elren menjalankan sepeda sebagaimana seharusnya. Melihat anak laki-laki dengan kupluk dan tas di punggung, membawa sepeda keranjang, membuat Selli harus menahan tawa setengah mati. Cowok itu terus berjalan lurus dan menghilang dalam belokan ke jalan raya. Selli kembali berjalan dan berbelok menuju gang sempitnya. Dan ia memikirkan sesuatu.

Seharusnya dalam enam langkah lagi Selli sudah sampai di rumahnya dan masuk ke dalam kamar mandi, menelanjangi dirinya sendiri dan membiarkan air menelusuri setiap jengkal tubuhnya yang penuh lekukan. Tapi, pemikiran aneh itu membuatnya kembali berjalan balik menuju keluar gang. Dia tidak benar-benar keluar gang. Selli menempelkan tubuhnya di sisi tembok gang. Hampir terlihat seperti bersembunyi andai tubuhnya seukuran anak lima tahun. Selli memandangi jalanan lebar di depannya, dari dalam gang, menunggu sesuatu.

Satu menit.

Dua menit.

Dan Elren terlihat melewati jalan itu lagi. Mengayuh sepedanya dengan cepat. Ke jalan yang arahnya berlawanan dari arah rumah Selli.

Jalan pulang searah.

Yang benar saja.

Dasar pembohong payah.

Dan Selli tersenyum.