Episode 7 - Episode 7

Selli punya teman perempuan. Yang kelihatannya anak baik-baik. Selli lumayan peduli. Dia lelah dijejali cerita tentang sesuatu yang dihisap atau berdenyut atau menyembur. Jika dia terus berteman dengan Anggie tidak menutup kemungkinan kalau Selli bisa saja jadi lesbian. Sebab apa pun yang dikhayalkan Selli berdasarkan penuturan Anggie selalu membuat dadanya berdebar. Dan selalu membuatnya ingin menggigit sesuatu.

Hari ini Elren duduk kembali di depannya. Dia memakai jaket hitam Adidas dengan kupluk bercorak bintang-bintang putih. Selli ingin kupluk semacam itu. Tapi itu milik Elren. Dan kupluk miliknya berwarna hijau tua tanpa corak. Tidak berseni sama sekali. Seketika Selli bertanya-tanya seperti apakah wujud seni itu sendiri.

Pastilah kupluk jaket Elren itu wujud dari seni.

Atau lukisan Van Googh.

“Kenapa kau duduk di pojok, Flora?” Tanya Elren, tatapan pria itu ke arah gadis yang di samping Selli, tapi tatapan Selli tepat ke arah Elren. Memandangi jambang Elren yang berlebihan dan bentuk pipinya dan dagunya dan bulu matanya yang lentik—hanya pria terpilih yang diberikan bulu mata seperti itu—dan bibirnya yang kecil sedang terkatup. Yang menurut Selli itu lebih mirip vagina anak perempuan berumur lima tahun ketimbang bibir.

“Saya tidak nyaman. Lagipula Selli tidak punya teman sebangku.”

Elren kini menatap Selli. Selli menatap Flora. Dia tidak ingin ketahuan kalau baru saja memandangi Elren.

“Apa kalian dapat melihat papan tulis? Kupikir jarak ini cukup jauh,” tanya Elren.

“Lumayan,” jawab Selli.

“Kenapa kau masih memakai kupluk?” Pertanyaan Elren kini lebih menjurus. Selli terkejut mendapati Elren memerhatikan hal-hal tidak penting seperti kupluk atau papan tulis.

Selli melepas kupluknya. Dan juga jaketnya. Sehingga kemeja kesempitannya kini dipandangi pria yang berdiri di depannya. Perasaan aneh menelusuri seluruh pembuluh darah Selli ketika menyadari kalau sebentar lagi tubuh berbalut kemejanya itu akan dipandangi oleh banyak orang. Bukan perasaan bahagia. Hanya perasaan ingin memamerkan sesuatu.

Pelajaran sejarah harusnya dibawakan oleh guru mantan narapidana atau seseorang yang pernah mengencingi puncak gunung Himalaya, agar setiap membahas kerajaan-kerajaan masa lalu bisa diselingi dengan cerita pengalamannya saat di penjara atau saat air kencingnya beku. Tapi hari itu pelajaran sejarah sama membosankannya dengan memandangi api unggun sendirian di pulau tak berpenghuni.

Sepertinya itu bukan membosankan. Tapi menakutkan.

Jadi, Selli tidak peduli dengan sejarah. Satu-satunya sejarah yang masih Selli pelajari adalah perang dunia kedua dan Hitler dan kenapa-dia-tidak-lahir-saat-itu. Dan ia kini hanya memandangi kepala Elren. Dan bahunya. Dan kupluk jaketnya yang digantungkan di kursi. Dan membayangkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi dalam 7 jam ke depan.

Dia pasti anak populer.

Dia suka orientasi siswa.

Aku benci orientasi siswa.

Dia punya jaket kupluk yang bagus.

“Harusnya ada seseorang yang memikirkan nasib penemu-penemu hal kecil. Bukan hanya Einstein atau Alan Turing atau Stephen Hawking. Misalnya saja penemu gayung, atau serbet, atau korek api.” Flora tiba-tiba berargumen. Selli merasa harus menyahutinya meski belum punya jawaban yang pasti.

“Mungkin karena barang temuan mereka tidak penting-penting banget.”

“Wah, siapa penemu kancing, misalnya? Apa itu tidak penting untuk kemeja kita?”

“Yah, entahlah. Jika buku pelajaran diisi oleh seluruh orang yang menemukan sesuatu, tebalnya kupikir bisa setinggi meja ini. Atau bahkan lebih. Dan kita perlu waktu 50 tahun untuk mempelajari semuanya. Dan jika itu terjadi, kupikir setelah sekolah selesai kita akan berakhir di rumah sakit sambil mendongengi para suster tentang para penemu. Dan para suster akan berpikir wah untung aku tidak sekolah.”

“Saya pikir kamu benar juga. Tidak ada waktu untuk mempelajari semuanya.”

“Tapi seseorang harus mencatat sejarah kehidupan penemu Jaket Kupluk.” Elren, dengan satu gerakan menghadap ke belakang. “Jaket Kupluk itu bisa menjadi apa saja. Dia bisa menjadi jaket dan topi dan cocok digunakan kemana saja bahkan ke neraka.”

“Kenapa kamu mau ke neraka?” Tanya Flora.

“Paling tidak aku tidak sesumbar bakal masuk surga. Lagipula kenapa kau butuh jaket kupluk kalau masuk surga?”

“Lalu kenapa kau butuh jaket kupluk untuk ke neraka?” Tanya Selli, keberanian menanyakan sesuatu sedikit demi sedikit muncul dalam dirinya.

Elren terdiam, memikirkan sesuatu, sambil menatapi Selli. Ya Tuhan, jangan lama-lama. Jawab sajalah.

Elren masih memandangi Selli. Berpikir.

Jangan tatap aku lama-lama, kau pikir aku patung? Atau sebuah pajangan di museum berhantu?

Elren belum selesai berpikir.

Tatapanmu seperti sedang membayangkanku telanjang.

Elren membuka mulutnya.

Nah, ayo. Sebutkan sesuatu dan aku akan langsung kabur dari tatapanmu.

“Karena aku tidak ingin memperlihatkan wajahku.” Jawaban Elren menusuk dada Selli, dengan cara yang aneh dan nyata, “maksudku, suatu pencapaian yang buruk jika teman-temanku yang di neraka nanti melihatku juga ada di sana.” Dan cowok itu tertawa. Seolah-olah hal barusan adalah lelucon. Sebenarnya memang lelucon. Tapi Selli tidak bisa menganggap itu lelucon.

Karena bisa saja itu jadi kenyataan.