Episode 6 - Episode 6

Selli menemukan Hitler di salah satu blog gratis milik seseorang bernama Nyomui. Jaringan internet di rumah Selli memang payah. Sehingga kalau ia baru membuka satu halaman dan ingin pindah ke halaman lainnya, waktu yang diperlukan sama seperti saat kau buang air kecil dan pintunya rusak.

Sulit tidak penasaran dengan Hitler.

Bagaimana bisa dia menyimpan kumis itu sepanjang tahun.

Dan bagaimana mungkin semua orang dikendalikan seseorang dengan kumis seperti itu.

Halamannya tidak mau terganti sama sekali. Dengan terpaksa Selli terus memandangi Hitler di layer komputernya.

Baiklah, kau mulai menantangku.

Wajahmu seperti menantangku.

Ekspresimu berubah yah?

Selli bertanya-tanya sendiri lagipula bagaimana bisa dirinya menjebloskan diri ke halaman tentang Hitler.

Andai aku hidup saat perang dunia kedua.

Pasti wajahku yang terpampang di situ.

*

Dalam perjalanan ke sekolah Selli memikirkan Vladimir Putin. Ia memikirkan Vladimir Putin saat buang air besar menekan flush dengan tangan kanan atau tangan kiri, dan jika ia memutuskan memakai tangan kiri jari apa yang akan dia gunakan sebab jika dia memakai jari kelingking pasti perlu usaha yang besar. Atau ada seseorang yang menekankannya flush? Karena dia seseorang yang berpengaruh untuk negaranya? Selli pikir itu wajar karena siapapun yang berpengaruh pada negara—entah itu baik atau buruk atau masih diperdebatkan baik atau buruknya—pasti akan diperlakukan secara berbeda.

Diperlakukan secara berbeda.

Bagaimana rasanya?

Tidak ada orang di kelas.

Selli menjadi orang pertama yang hadir. Udara masih dingin. Meja masih berdebu. Dan memandangi awan dari jendela kedengarannya ide bagus.

Dia datang 1 jam lebih awal sebelum kelas dimulai. Tidak ada alasan pasti kenapa ia ingin datang secepat mungkin ke sekolah selain ingin buru-buru meninggalkan rumahnya.

Selli kembali duduk di pojok. Sendirian. Tanpa teman sebangku. Apa gunanya teman sebangku. Dan merencanakan apa yang akan ia katakan saat ada orang kedua yang datang ke dalam kelas. Bagaimanapun juga Selli bukan anti-sosial. Gadis itu hanya mencari cara yang tidak mencolok untuk ikut berbaur. Seperti gula. Atau racun.

Dalam keheningan mencekam khas kelas-kelas sekolah SMA, Selli tidak tahu kegiatan apalagi yang lebih baik dari tidak melakukan apa-apa—jadi, ia memandangi mejanya saja. Lantas kepalanya mendongak ketika mendengar bunyi pintu reot terbuka. Pintu itu milik kelasnya. Dan seorang gadis berkulit hitam dengan ransel reebok sebesar anak 5 tahun menggelantung di punggungnya yang kurus. Selli bertanya-tanya darimana kekuatan gadis itu berasal sehingga mampu membopong benda itu tanpa merasa kesulitan. Pasti bukan karena kulitnya hitam.

Itu rasis sekali.

Kalau aku harus membawa tas sebesar itu setiap hari ke lantai 2. Aku bakal menuntut medali emas dari sekolah ini.

Gadis berkulit hitam itu memandangi Selli dengan tatapan yang bagi Selli cukup meresahkan. Bukan menatapnya dengan jahat atau apa. Hanya saja Selli tidak berani membalas tatapannya dan menyarankannya untuk letakkan-tas-saja-dululah-baru-memandangiku.

“Saya tidak melihat kamu di orientasi siswa.” Kata pertama dari gadis itu.

Astaga. Ternyata robot.

Dan, ya Tuhan. Orientasi siswa lagi. Habis ini seseorang akan membotaki kepalaku karena tidak ikut orientasi siswa.

“Aku baru pindah rumah. Jetlagnya cukup parah,” sahut Selli, tanpa mengeluarkan nada sarkasme sama sekali.

“Wow, kamu dari negara mana?”

Keputusan yang buruk menggunakan kata jetlag.

“Tidak, tidak, maksudku, aku hanya pindah rumah dan banyak barang-barang yang harus ditata ulang. Rumahku yang baru kecil. Jadi, kami sedikit kerepotan dengan memutuskan apa yang harus kami lakukan dengan barang-barang yang tersisa. Membakarnya atau menyumbangkannya.”

“Kamu sudah ada teman sebangku?”

Selli menggeleng.

“Boleh saya duduk di sampingmu?”

“Tanpa penolakan sedikit pun.”

Gadis itu duduk di sampingnya, meletakkan tas reeboknya dengan cara dibanting, dan mengulurkan tangan.

“Nama saya Flora. Siapa namamu?”

“Selliana. Namaku Selliana.”

Teman wanita pertama.

Kesempatan Selli untuk bunuh diri dengan alasan tidak punya teman pun tertutup rapat.