Episode 5 - Episode 5

Selli selalu bertingkah konyol untuk menghindari para lelaki sungguhan. Itulah mengapa ia menjadi magnet para banci. Tapi, pagi itu ia tidak benar-benar bertingkah konyol. Ia hanya berpura-pura untuk konyol.

Masalahnya, ketika Selli berpura-pura untuk konyol, kekonyolannya itu malah menjadi sesuatu yang asli, yang menyebalkan, yang lebih terkesan kalau ia bersikap seperti itu dengan maksud dan tujuan tertentu. Dia pernah mencoba lebih keras dulu, saat hidupnya dikelilingi orang-orang yang dididik untuk menunjukkan keeleganan.

Nama pria yang berargumen bahwa orientasi siswa itu menyenangkan adalah Elren. Nama macam apa itu. Dan dia tidak berkata sesuatu yang penting setelah mengetahui nama Selli. Dia tidak bertanya Selli berasal dari mana. Dia tidak bertanya kenapa model rambutmu mirip gadis Cina yang sebagian besar dalam hidupnya dihabiskan untuk kabur dari perjodohan. Dia tidak bertanya kenapa-kau-terus-memakai-jaket yang tidak bisa dijawab dengan ini-untuk-menutupi-payudaraku-agar-tidak-terlalu-mencolok. Dia juga tidak menawarkan Selli hubungan pertemanan. Yang mana juga tidak terlalu dibutuhkan oleh gadis itu.

Elren hanya mengetahui nama gadis yang duduk di belakangnya. Dan itu tidak penting-penting banget.

Selli hanya mengetahui nama pria yang duduk di depannya. Dan itu tidak penting-penting banget.

*

“Bagaimana hari pertamamu?” pertanyaan itu menjelma menjadi pintu masuk menuju kamar Selli. Sebab ibunya memasang diri tepat dihadapannya. Dan Selli merasa ibunya tidak akan pergi dari situ sebelum menerima jawaban.

Seperti Sphinx saja.

“Lumayan.”

“Kenapa kau terus memakai kupluk?”

“Cuacanya panas.”

 “Lingkungan kita yang dulu juga panas, tapi kau tidak pernah memakai kupluk. Hanya memakai jaket.”

“Aku melindungi kepalaku.”

“Dari apa?”

“Cuaca panas.”

“Tapi kau melepasnya bukan saat di kelas?”

“Tentu saja. Aku tidak ingin jadi Assassin Creed sendirian.”

“Kau betah di sekolah barumu?”

“Karena aku tidak mau jadi pengangguran dan hidup dengan menjadi peliharaan suami, aku betah.”

“Bagus.” Selli membiarkan dirinya masuk sesaat ketika ibunya mengendurkan posisi. Ia dibanjiri keringat dan ia memutuskan akan terus mandi meski kiamat datang.

“Aku dapat pekerjaan,” kata ibunya. Selliana menghentikan langkahnya sebentar ke kamar mandi. Yakin kalau omongan ibunya merupakan ancaman yang lebih besar dari kiamat.

“Wow, pekerjaan apa?”

“Menjaga kasir.”

“Bagus.” Dan Selli melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi.

Selli tidak terkejut mendapati foto keluarga yang pernah ia letakkan di situ sudah hilang. Tapi ia terkejut karena ibunya tidak mengomentari tindakannya itu. Aku tidak pintar soal tata ruang, gumamnya.