Episode 4 - Episode 4

Selli yakin tidak ada yang memandanginya lagi sejak ia berhasil duduk di pojok dekat jendela yang kacanya sudah menjadi tempat pesta prom para laba-laba remaja. Tempat duduk Selli, meskipun masih sejajar dengan meja yang ada di depannya, seperti memiliki aura jahat tersendiri. Dia seperti terpisah. Atau memang sengaja dipisah.

Mejanya lebih pantas berada di penjara. Di setiap sudut pakunya keluar dan kadang berkamuflase sehingga seseorang akan lupa bahwa paku itu bisa melukai apapun. Aromanya busuk. Seperti bau cat tapi lebih buruk dan tidak berguna. Di situ tergambar beberapa karakter dalam serial Cartoon Network. Johnny Bravo?

Tapi kepalanya lebih mirip Arnold si kepala baseball.

Dan beberapa coretan hitungan matematika yang tidak sampai selesai.

Kemampuan berhitung memang mengerikan. Dia bisa datang kapan saja dan pergi kapan saja.

Dan beberapa guratan bertuliskan ‘PUNK’

“Kau tidak ikut orientasi siswa?” tanya seorang pria berambut tebal yang duduk tepat di depannya.

“Tidak,” jawab Selli.

“Kenapa?”

“Karena aku menghindarinya.”

“Wow. Semua orang mengikuti orientasi siswa. Kau belum resmi menjadi anak SMA kalau belum mengikuti orientasi siswa.”

“Aku pikir aku resmi menjadi anak SMA ketika aku membayar biaya daftar ulangnya.”

“Itu, kan, secara teknis. Kau tidak bergabung dalam keseruannya. Orientasi siswa itu seru.”

“Ya, seru untuk mereka yang berada di atas.”

“Di atas? Apa sih maksudmu?”

Selli menggeram. Dia bisa saja menjadi seidiot Forrest Gump saat di depan banyak orang, tapi dia seorang pendebat yang hebat untuk satu lawan satu. Gadis itu membuka tasnya, mengambil buku dengan cover bertuliskan CAMPUS dan menyobek salah satu kertasnya, dengan pulpen yang sudah siap ditangan, Selli menggambar piramida yang menjelaskan kasta sosialita para remaja. Tingkatan di piramida itu hanya terdiri dari 2 bagian. Para Populer di atas dan Para Pecundang di bawah. Selli juga menulis kriteria-kriteria Para Populer dan Para Pecundang.

Para Populer:

1. Cowok dengan rambut berminyak.

2. Cewek dengan rok pendek.

3. Pemain band.

4. Mencintai pelajaran olahraga

5. Siapapun yang bisa melawak di kelas.

6. Siapapun yang pandai mengarang pengalaman seks pribadinya.

Para Pecundang:

1. Anak baru.

2. Tidak punya keahlian khusus selain mendengarkan guru.

3. Benci pelajaran olahraga.

4. Bahkan tidak akan dijadikan bahan lelucon yang berarti;

5. Tidak menarik untuk dilirik sekalipun.

“Ini daftar yang aneh,” kata si pria. “terutama yang terakhir.”

“Inilah yang terjadi pada kehidupan sosial kita. Nah, siapa pun yang menganggap orientasi siswa adalah hal yang menyenangkan, maka mereka pasti berada di bagan Para Populer.”

“Kau mendiskriminasi.”

“Pengalaman didiskriminasi itulah yang membuatku yakin.”

“Siapa namamu?”

Selli terkejut. Pertanyaan ini muncul berkali-kali dalam kurun waktu sepuluh menit. Tapi, dia tidak harus mengatakan namanya di depan banyak orang. Dia hanya harus menyebutkan namanya di depan seorang pria. Seorang. Pria. Sungguhan.

Selli lebih berpengalaman dengan para pria yang kejantanannya setengah. Pria kemayu. Banci kaleng.

Satu-satunya hal yang meyakinkan kalau mereka adalah pria yah cuma penis.

Ini adalah pengalaman pertamanya berurusan dengan pria sungguhan.

Pria banci tidak akan memerkosaku.

Jadi, Selli menjawab;

“Selliana. Namaku, Selliana.” Dan mereka pun bersalaman.