Episode 3 - Episode 3

Guru itu bernama Ma’am Tina, guru Bahasa Inggris, dan ia merasa seperti baru saja menyuruh Selli telanjang alih-alih memperkenalkan diri. Sebab gelagat anak baru itu tidak memberi tanda-tanda kalau ia akan memperkenalkan diri. Selli tidak pernah memperkenalkan diri. Biasanya dia diwakilkan orang lain, seperti; ‘kenalkan, ini anak bungsuku, Selliana.’ Atau ketika Anggie memamerkan Selli seolah-olah gadis itu miniatur kaca yang berisi salju; ’temanku yang satu ini bisa memecahkan soal fisika tanpa bantuan Tuhan, namanya Selliana.’

Bajingan-bajingan itu tahu namaku, lalu kenapa?

Memperkenalkan diri secara umum tidak pernah terpikir dalam benak Selli. Terakhir kali ia menarik perhatian banyak orang jatuh pada tanggal 7 Mei 1996, hari kelahirannya. Gadis itu menangis seperti kesetanan.

“Ayo.” Ma’am Tina berbisik dengan senyum jahat.

“Namaku—Namaku saja?” Selli berbisik balik.

“Ya, kau mau sekaligus memamerkan keahlianmu membaca puisi?”

Ma’am Tina adalah cenayang terburuk.

“Tidak, tidak, aku tidak akan membaca puisi.”

“Kalau begitu beritahu saja kami namamu.”

Di depan kelas?

Bagi Selli, berbicara di depan banyak orang adalah kematian. Jenis kematian yang hanya bisa ditemukan dalam film Final Destination. Jika Selli terpaksa harus melakukannya, tahapannya begini; kepalanya akan pusing, jari-jarinya menegang, jantungnya membeku, ginjalnya berhenti menyaring racun, dan kepalanya mulai berdelusi seperti terkena sentuhan narkoba, sehingga matanya tampak tidak berfungsi.

Namaku Selliana.

Hanya itu.

2 kata sialan.

Sepenting apa sih nama?

Shakespeare pun berkata ‘apalah arti sebuah nama’

“Namaku Selliana.” Selli bahkan tidak bisa disebut bergumam.

Bel berbunyi. Dengan nada Swan Lake. Selli yakin malaikat penyelamatnya datang. Jadi, saat bel yang tidak akan berbunyi selamanya itu, Selli mengucapkan namanya. Tidak ada yang dengar. Tentu saja.

“Siapa, nak?” Ma’am Tina pun yang berdiri di sebelahnya tidak dengar. Tapi, dengan begitu—dengan kepura-puraan yang baru saja Selli lakukan, seolah wajahnya berkata aku baru saja memperkenalkan namaku tapi bel itu merusak segalanya. Yang benar saja—Selli punya kesempatan untuk hanya memberitahu namanya pada Ma’am Tina. Bukan ke sekelompok hyena. Biarlah Ma’am Tina yang selanjutnya memperkenalkan namanya ke seluruh orang di dunia ini, pikir Selli. Dan biarkan Selli mengunjungi hutan dengan tenang. Dia sedang menjadi pusat perhatian. Padahal dia tidak melakukan apa pun.

Selli merasa dikelilingi hyena.

Singa betina yang dikelilingi hyena.

Tapi bukan hyena yang berada di hutan sungguhan. Melainkan hyena-hyena yang ada dalam film The Lion King.

Paling tidak aku bisa memandangi awan dari meja sialan ini.