Episode 2 - Episode 2

Pergi ke sekolah, bercanda dengan teman, makan siang, pulang, mandi, mencari acara televisi yang membahas tentang mayat hidup atau semacamnya, makan malam kalengan, tidur di Kasur lantai. Jadwal Selli tidak seburuk itu. Setidaknya untuk yang terakhir. Ia hanya harus tidur di atas kasur. Dan kasur itu terletak di lantai.

Selli tidak menyadari sejak kapan dirinya menjadi begitu skeptis. Meski pun dia tidak pernah benar-benar tidak peduli pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Gadis itu hanya akan berteriak kalau ada meteor yang jatuh di jalanan rumahnya—sambil berharap dengan begitu ia tidak perlu pergi ke sekolah karena ada sebuah meteor menyegel jalanannya—gadis itu juga hanya akan mengajak ngobrol seseorang yang bisa melahirkan bayi kembar 3 tanpa hamil, atau seorang banci, atau seorang gadis yang akan rela mengiriminya SMS berisi ‘cowok ini membuatku super basah dan kini ia menjilati leherku!’ ketika hal itu sedang berlangsung, seperti Anggie. Kadang Anggie memberi pertunjukkan langsung lewat SMS sebelum mereviewnya menjadi sebuah artikel ketika bertemu dengan Selli beberapa hari setelah percumbuan itu terjadi.

Ini hanya sekolah. Bukan kunjungan ke neraka. Selli mengulang-ulang itu di kepalanya. Tapi tetap saja itu tidak berhasil.

Selli yakin kalau seragam sekolahnya kesempitan sehingga ia baru menyadari kalau payudaranya tumbuh begitu cepat seperti bayi kucing.

“Aku perlu membeli seragam baru,” kata Selli.

“Ini baru hari pertama, Selli,” jawab ibunya, yang masih menyusun jeruk menjadi suatu bangunan yang tinggi tanpa tahu apa tujuannya. Pengganti vas bunga, barangkali.

“Ya. Dengan seragam ini aku terlihat seperti cewek murahan yang memanfaatkan uang jajan anak sekolah untuk meremas dadaku.”

“Oh, Yesus, pakai jaket ini.” Ibunya memberikan jaket yang tidak tipis-tipis banget berwarna hijau tentara.

“Mama bukan Kristen.”

“Aku melihatnya di tv.”

“Baiklah. Aku minta jaket yang lain.”

Suni bergeming dan mengambil dompet. Mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dan memberikannya pada Selli. “Menabunglah untuk jaket barumu.”

Selli lebih merasa dirinya bukan seperti seorang murid baru, melainkan algojo yang menyimpan lusinan senjata tajam di dalam tasnya. Selli membungkus kepalanya dengan kupluk jaket, mengisi kantung jaket dengan kedua tangannya. Selli memiliki poni yang mirip gorden. Sejajar dan menutupi sebaris keningnya sehingga matanya hampir tertutup, roknya melewati lutut dan kaus kakinya terlihat dalam balutan sepatu Vans. Yang sudah berapa kali ia mengingatkan diri sendiri bahwa kombinasi ini sangat konyol tapi tetap saja dipakai.

Gadis itu berharap ada seseorang yang terkejut dengan kehadirannya di sekolah baru itu, tapi nyatanya tidak ada. Tidak ada yang peduli dengan siswa baru. Tidak ada yang peduli dengan semua siswa. Sampai seorang guru—sepertinya—mendekati Selli dan bertanya kenapa kau telat setengah jam yang dijawab dengan; aku anak baru.

“Siapa namamu?” mereka berakhir di sebuah ruangan guru yang panas karena AC baru dinyalakan. Guru berkumis setebal jari kelingking bayi itu membuka sebuah catatan.

“Selliana.”

“Kau akan masuk ke kelas 10-3.”

“Baiklah, di mana tempat itu berada.”

“Biar saya antar.”

Sekejap Selli merasa seperti tamu. Tamu yang akan dihajar habis-habisan setelah ini.

“Anggota tambahan,” seru si guru, nadanya seperti seorang prajurit yang menyerukan kalau ada prajurit bodoh yang siap menyerahkan dirinya sebagai umpan.

“Maaf, tempat duduknya sudah penuh. Tambahan satu meja akan membuat dekorasi kelas ini mirip sebuah tubuh yang kena tumor.” Sebuah suara perempuan tua menjawab dari dalam. Selli tidak tertarik mencari tahu sosok seperti apa yang menolaknya.

“Oke, tidak masalah,” jawab si guru berkumis. “Ke sini.” Tur berlanjut, pikir Selli.

Mereka berdiri di depan pintu kelas 10-1 yang sedang diisi oleh guru Bahasa Inggris. Selli mendengar bagaimana guru itu berucap dengan Bahasa Inggris seperti makhluk yang telah diberkahi kemampuan bicara sejak bayi.

“Anggota tambahan! Apakah kalian masih punya kursi?” Selli merasa bangga karena ia membuat sebuah kelompok berhenti melanjutkan kegiatan untuknya. Untuk memperhatikan siapa-sih-anak-baru-yang-berani-beraninya-menginterupsi-kelas-ini.

“Tentu Mr.Hot. aku ingin mengucapkan selamat datang untuk anggota baru kita. Bagaimanapun kalian perlu punya banyak awak agar kapal kalian tidak oleng dan tenggelam.” Selli merasakan isi perutnya bergejolak aneh, tangannya semakin menekan kantung sehingga berimbas pada kupluknya yang menekan kepalanya. Ia terlihat seperti orang Es Kimo yang terdampar di suatu negara tropis.

“Selamat datang.” Selli menampakkan diri, melewati ambang pintu dengan perasaan yang sama ketika ia memasuki kebun binatang—saat itu Selli masih berumur 7 tahun dan mengira kebun binatang diisi binatang-binatang yang berkeliaran sesuka hati. Ia takut dimakan Angsa—dan belum berani menghadap ke arah tempat duduk. Tapi dia tidak bisa selamanya berdiri menyamping atau berjalan menyamping. Jadi, ia menurunkan kupluknya dan menghadap ke depan. Seluruh mata menghampirinya dan Selli menyadari kalau mata-mata itu sejajar dengan payudaranya sehingga ia merasa tidak perlu membalas tatapan itu satu per satu.

“Kau bisa mengambil tempat duduk yang di pojok. Kami menyisakannya untukmu.” Dusta guru Bahasa Inggris itu.

“Ok.”

“Tunggu, sebelum itu kau bisa memperkenalkan diri.”

Memang penting, yah?

Dan inilah bagian terburuk. Selli membayangkan dirinya langsung berlari menuju tempat duduk yang berada di sudut ruangan dan mengurung diri bersama jaketnya sepanjang hari. Atau langsung muntah-muntah di tempatnya sekarang berdiri. Mana yang akan lebih menarik perhatian?