Episode 51 - Kayu, Angin dan Api


 

Bintang Tenggara merasakan tubuhnya dibawa melayang dan berputar-putar. Kepala pun pening, perut terasa mual. Ini adalah kali pertama ia bepergian menggunakan gerbang dimensi.

Tiba-tiba tubuh Bintang terlontar dari gerbang dimensi. Sigap, ia melempar Segel Penempatan dan mendarat di pasir seolah menuruni anak tangga. Panglima mendarat berat tepat di sebelahnya, menyibak pasir ke segala penjuru arah. Aji Pamungkas jatuh tersungkur. Anak Agung Ayu Canting Emas mendarat ringan setelah bersalto dua tiga kali di udara. Terakhir, gadis bertubuh kecil mengambang turun sambil memegang daun besar di atas kepala untuk memperlambat kecepatan jatuh.

“Selamat datang ke dimensi ujian masuk Perguruan Gunung Agung,” terdengar suara menyapa. “Namaku I Wayan Balik Anjana. Kalian dapat memanggilku Guru Muda Anjana.”

Benar, Bintang mengenal lelaki dewasa muda ini. Ia adalah lelaki yang tersasar ke Pulau Paus bersama anak perempuan cantik nan sombong itu. *

“Guru Muda Anjana,” seru Anak Agung Ayu Canting Emas. “Aku tak percaya dengan kumpulan orang-orang ini!”

“Oh? Aku tadi sempat menyaksikan kesalahpahaman. Bagaimana bila kalian memperkenalkan diri masing-masing terlebih dahulu,” Guru Muda Anjana tersenyum ramah. 

“Namaku Panglima Segantang! Kasta Perunggu Tingkat 5.”

“Namaku… menghias ‘sungai telaga dunia persilatan’ Negeri Dua Samudera… Aji Pamungkas! Kasta Perunggu Tingkat 5.” Sorot matanya terligat berbeda. **

“Kasta Perunggu Tingkat 6. Anak Agung Ayu Canting Emas. Panggil aku Canting Emas.”

“Na.. namaku…” si gadis bertubuh kecil terlihat ragu, bahkan terkesan malu… “Kuau… Kakimerah… Kasta Perunggu Tingkat 4.”

“Hm… namamu lucu sekali… kau tak berasal dari wilayah ini,” ucap Aji Pamungkas. “Izinkan aku memanggilmu… Kukame… sebagai panggilan mesra.”

“Tutup mulutmu lelaki busuk!” Canting Emas mendamprat. “Kuau Kakimerah, tampaknya kau datang dari Pulau Belantara Pusat. Jangan mudah percaya dengan seorang lelaki pun!”

Kuau Kakimerah terlihat bingung. Seluruh perhatian yang tertuju kepada dirinya membuat canggung.

“Namaku Bintang Tenggara. Kasta Perunggu Tingkat 4,” ucap Bintang cepat. Ia tak sampai hati melihat raut wajah Kuau Kakimerah.

Tetiba Kuau Kakimerah terkejut, sampai mundur selangkah… Terdengar ia bergumam pelan, “bintang di langit tenggara…”

“Hei, apa yang kau lakukan padanya!?” hardik Canting Emas sambil menunjuk ke arah Bintang.

“Apa maksudmu membentak dan menunjuk ke arah sahabatku!?” seru Panglima Segantang. Sebentar lagi sumbu pendeknya tersulut api.

“Sudah, sudah…” Guru Muda Anjana menyibak senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ujian berikutnya adalah terkait kerja sama dalam kelompok. Meski, penilaian secara pribadi pun akan diberikan.”

Kemudian Guru Muda Anjana melanjutkan penjelasan bahwa saat ini mereka berada di sebuah pulau di dalam dimensi khusus. Tujuan mereka adalah secepatnya mencapai sebuah pura di atas bukit di tengah pulau. Di sepanjang perjalanan akan ada berbagai macam rintangan dan hambatan. Bila tidak mampu mengatasi tantangan, mereka diperbolehkan menyerah.

Kelompok-kelompok lain yang juga beranggotakan lima orang akan tiba di pulau dimensi yang serupa. Dari 200an kelompok yang ikut serta, hanya 100 kelompok pertama yang tiba di tengah pulau yang akan mendapat kesempatan mengikuti ujian selanjutnya.

“Baik! Ujian akan dimulai ketika suara lonceng berdenting. Ingat, seluruh anggota kelompok diharuskan tiba di dalam pura. Aku akan terus mengawasi.” Dengan demikian, Guru Muda Anjana menghilang dari pandangan.

“Kalian hanya akan menghambat langkah kakiku!” seru Canting Emas.

“Berbicara tentang kaki, Kukame… mengapa kaki kananmu berwarna merah?” ujar Aji Pamungkas, sambil menjulurkan tangannya hendak meraba lutut Kuau Kakimerah.

“Plak!”

“Bug!”

Tamparan Canting Emas dan tinju Panglima Segantang … mendarat serentak di wajah Aji Pamungkas.


“Kalian tak perlu berbuat kasar, padaku…” rintih Aji Pamungkas. “Bagaimana bila tamparan dan tinju tadi merusak wajah tampanku….?”

Ia berjalan paling belakang. Paling depan, Canting menapak cepat, disusul Kuau. Bintang dan Panglima berjalan berdampingan di posisi tengah.

“Sahabat Bintang, sesuai permintaanmu, sudah kuputuskan untuk menemanimu di tahun pertama di Perguruan Gunung Agung,” ungkap Panglima Segantang serius. “Tahun depan baru aku akan bertolak ke Istana Danau Api.”

Bintang hanya diam, sejak kapan ia naik tingkat dari ‘Kawan Bintang’ menjadi ‘Sahabat Bintang’? Apakah tingkatan selanjutnya menjadi ‘Saudara Bintang’? Satu tahun ini pasti akan terasa lama sekali. 

Dalam diam, Bintang melangkah sambil memperhatikan sekeliling. Setelah bunyi lonceng petanda ujian dimulai, mereka kini menapaki semak belukar menuju ke tengah pulau.

Tiba-tiba Canting berhenti mendadak, disusul Kuau. Di hadapan mereka, sebuah jurang nan dalam dan terjal terbentang luas. Jarak antara tebing tempat kelompok tersebut berdiri dan tebing di seberang terpaut sekitar 300an meter.

“Canting Emas, tidakkah kau mengetahui apa-apa saja ujian pada tahap kedua ini?” Bintang telah menyimpulkan bahwa Canting Emas merupakan bagian dari lingkaran dalam Perguruan.

“Setiap tahun, jenis ujian berubah-ubah. Terdapat ratusan kemungkinan,” jawab Canting Emas cepat. “Kita tak mungkin menuruni lembah tanpa dasar ini. Aku tak membawa pusaka maupun binatang siluman yang dapat terbang.”

Bagi Bintang, semisal ini adalah ujian perorangan, maka ia dapat menggunakan Segel Penempatan. Perlahan-lahan ia akan melompat dari satu segel ke segel berikutnya sampai ke seberang.

“Adakah yang membawa tali temali panjang?” tanya Bintang Tenggara.

Semua terdiam.

“A… apakah ini bisa…?” tanya Kuau Kakimerah ragu. Ia mengeluarkan sebuah benih dari tas selempang lusuh, lalu meletakkan biji tersebut di atas tanah. Telapak tangannya lalu mengalirkan tenaga dalam.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan…” Kuau Kakimerah seperti sedang menuturkan mantra.

“Rotan Bunian: Tambat,” gumamnya pelan. Seketika itu juga menjalar tumbuh bilah rotan seukuran dua ibu jari orang dewasa dari dalam tanah. Terus tumbuh seolah tanpa batas.

Apakah kesaktian unsur kayu? Bintang meraih ujung rotan. Rencananya ia akan menyeberang sambil membawa rotan tersebut. Sesaat Bintang hendak melempar Segel Penempatan, Aji Pamungkas tiba-tiba berseru.

“Busur Mahligai Rama-Shinta!”

Aji Pamungkas lalu mengangkat tangan kanan, cincin batu yang tersemat di jari telunjuk tangan kirinya menyala redup. Mata cincin tersebut rupanya adalah Batu Biduri Dimensi, yang memiliki ruang penyimpanan terbatas di dalamya. Harga Batu Biduri Dimensi sangatlah mahal.

Dari dalam batu, lalu muncul sebuah busur besar yang segera ia raih. Ukiran yang menghiasi sekujur busur sangatlah rinci. Pada bagian-bagian tertentu, terdapat pula kombinasi warna yang memukau. Sungguh senjata yang indah… Meski demikian, busur tersebut hanya menyibak aura senjata Kasta Perunggu. Terasa bahwa sebenarnya busur indah itu… biasa-biasa saja.

“Aku akan mengukur jarak lembah ini terlebih dahulu,” ungkap Aji Pamungkas. Satu lagi cincin Batu Biduri Dimensi yang tersemat di ibu jari tangan kanannya menyala redup, sebuah anak panah pun muncul keluar. Lagi-lagi Bintang merasakan keanehan dari sorot mata Aji Pamungkas.

Aji Pamungkas lalu berdiri menyamping, meluruskan lengan kiri yang memengang busur, dan membidik serong ke atas. Posturnya sungguh anggun. Ia pun menarik dawai dan melesatkan anak panah!

Di kejauhan, anak panah yang dilepaskan kemudian terlihat terombang-ambing dimainkan angin dan jatuh… Jatuh bahkan kurang dari separuh jarak lebar jurang. Ada pusaran angin yang bertiup deras di jurang itu.

“Cukup lebar…” ucapnya tenang. Aji Pamungkas lalu menyambung rotan yang ditumbuhkan Kuau ke anak panah baru yang ia keluarkan. Tak seorang pun percaya ia mampu mengirimkan anak panah itu menyeberang jurang.

“Panah Asmara, Bentuk Pertama: Cinta Sejati!”

Tak seorang pun percaya bahwa nama jurus tersebut benar-benar ada. Walau demikian, semua merasakan aliran tenaga dalam menyelimuti sekujur busur menuju anak panah. Kemudian, aliran udara di ujung mata anak panah berpuntir deras. Kesaktian unsur angin?

“Wush!”

Aji Pamungkas kembali melesatkan anak panahnya. Kini, lintasan terbang anak panah sama sekali tak terpengaruh oleh hembusan angin. Anak panah terus melesat dan menancap di salah satu pohon di seberang jurang!

Kuau Kakimerah menyentuh pangkal rotan untuk memberi perintah. Terlihat ujung rotan di seberang tebing bergerak melingkari pohon dan mengikatkan diri.

“Aku akan menyeberang terlebih dahulu,” seru Canting Emas.

Secara taktis, lebih aman bagi Bintang yang menyeberang terlebih dahulu. Karena bilamana terjadi sesuatu tak terduga, ia memiliki Segel Penempatan. Meski demikian, Bintang hanya diam. Ia menantikan kesempatan menyaksikan kelebihan baju zirah milik Canting Emas.

Sama sekali tak ada kejadian yang di luar dugaan. Kelima anak remaja tersebut menyeberang dengan aman.

“Huh! Sepele…” dengus Aji Pamungkas. “Tak kusangka semudah ini ujian masuk Perguruan…”

Usai Aji Pamungkas berkata-kata sesumbar, kelompok tersebut tiba di sebuah padang rumput nan luas. Tepat di tengah-tengah padang rumput tersebut, terlihat sebuah patung batu yang besar dengan postur gemuk. Posisinya berlutut pada satu kaki, mata melotot, dan salah satu tangannya menggenggam senjata gada, mirip pentungan. Jika dilihat sepintas, ada kemiripan antara wajah patung tersebut dengan baju zirah yang tadi dikenakan Canting Emas.

Dwarapala…” gumam Canting Emas.

Seketika itu juga sebuah formasi berbentuk kotak menyegel seluruh wilayah padang rumput luas tempat mereka kini berada. Kiri, kanan, depan, belakang, atas dan bawah... terkunci.

Lalu, patung tersebut bergetar dan bangkit berdiri! Tingginya hampir dua kali lipat orang dewasa. Ia menatap tajam ke arah lima anak remaja di hadapan. Semua mata yang tadinya memandangi patung Dwarapala, menoleh ke arah Canting Emas.

“Zirah Rakshasa!”

Canting Emas lalu menggerakkan jemari tangannya seperti merapal jurus. Kemudian, terlihat kembali baju zirahnya menyibak melingkupi tubuh bagian atas. Aura perisai pusaka Kasta Perak pun tersibak. Siaga.

“Persiapkan diri kalian,” ungkap Canting Emas. “Kita harus mengalahkan patung Dwarapala itu untuk melewati ujian ini.”

“Hm… Kukame, berlindunglah di balik kakang,” ujar Aji Pamungkas dengan lembut.

“Panah Asmara, Bentuk Pertama: Cinta Sejati!”

Anak panah yang diimbuh dengan jurus kesaktian unsur angin kembali melesat cepat ke arah dada patung Dwarapala.

“Srek!” Dada Dwarapala berlubang sebesar dua kepalan tinju. Sungguh kesaktian unsur angin memiliki kekuatan menembus berkecepatan tinggi.

“Dum!”

Tetiba patung Dwarapala yang dadanya berlubang meledak! Serpihan-serpihan batu terlontar ke seluruh penjuru arah.

Bintang merasa ada yang kurang mengena dari serpihan-serpihan tersebut. Kecurigaannya tak salah. Dalam satu kedip mata, serpihan-serpihan tersebut merangkai diri. Tak hanya menjadi satu, namun dua Dwarapala!

“Canting Emas, apakah Dwarapala itu?” seru Bintang.

“Dwarapala adalah patung penjaga pintu gerbang. Biasanya terdapat pada pintu masuk sebuah bangunan candi, kuil, istana, atau tempat peribadatan suci lainnya. Tugasnya menolak kekuatan jahat!”

“Dum!”

Aji Pamungkas kembali meledakkan satu Dwarapala lagi. Sama seperti sebelumnya, satu Dwarapala kembali merangkai diri menjadi dua Dwarapala. Jadi, kini ada tiga Dwarapala.

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!”

Aji Pamungkas lalu mengeluarkan dan melesatkan tiga anak panah sekaligus! Bentuk kedua dari jurus sakti unsur angin ini pastinya memakan tenaga dalam cukup besar. Ketiga Dwarapala yang ditembus setiap anak panah segera meledak. Namun, lagi-lagi setiap Dwarapala yang meledak kembali menjadi dua Dwarapala. Jadi, secara keseluruhan, kini ada enam patung batu setinggi lebih dari dua meter berjejer. Mereka bergerak serempak tapi lambat, menuju Bintang Tenggara dan yang lainnya.

“Aku hampir kehabisan tenaga dalam…,” ujar Aji Pamungkas. Kemudian ia duduk bersila, berupaya menyerap dan menyuling tenaga alam. Terlihat ia seperti mempraktekkan teknik pernapasan. ***

“Kau tak berguna!” teriak Canting Emas ke arah Aji Pamungkas.

“Panglima, tahan sebentar!” teriak Bintang. Panglima Segantang yang sedari tadi diam, sudah menggengam Parang Hitam. Ia baru hendak menghantam lawan di depan mata!

“Kuau, dapatkah engkau menghentikan gerakan mereka,” ujar Bintang sambil menatap gadis mungil tersebut.

Kuau Kakimerah menunduk, tak berani bertatapan mata dengan lawan bicaranya. “Akan kucoba,” lalu terdengar ia menjawab pelan.

“Wahai Datuk Mambang Tanah, kumohon inayat akan kesuburan… Rotan Bunian: Bebat!”****

Dari dalam tanah, lalu muncul beberapa bilah rotan berduri sebesar lengan orang dewasa. Rotan tersebut lalu melesat cepat dan mengikat keenam Dwarapala yang sedang melangkah lambat.

Bintang segera menghampiri Dwarapala untuk menyelidiki lebih lanjut.

“Percuma saja!” seru Canting Emas. “Tak ada jalan pintas dalam ujian ini. Ini adalah ujian kekuatan dan daya tahan…”

Benarkah demikian? ujar Bintang dalam hati. Ia terus mengamati salah satu Dwarapala.

“Apa itu?” Panglima menunjuk ke arah kepala Aji Pamungkas yang sedang duduk bersila.

Bintang Tenggara melihat sesuatu yang ilusi mengambang di atas kepala Aji Pamungkas. Terlihat seperti angka ‘3’. Lalu ia menoleh ke Panglima, Canting dan Kuau… masing-masing memiliki lingkaran, layaknya angka ‘0’ di atas kepala mereka. Bintang pun menengadah untuk memastikan angka ‘0’ di atas kepalanya. Hitungan jumlah Dwarapala yang telah dihancurkan!

“Kuau,” mohon lepaskan mereka,” ujar Bintang.

Kuau Kakimerah segera menarik jurus Rotan Bunian. Keenam Dwarapala kembali melangkah lambat. Satu yang paling dekat dengan Bintang segera mengayunkan gadanya.

“Brak!”

Gada menghantam tanah, meninggalkan lubang sebesar roda pedati. Bintang telah terlebih dahulu melompat ke samping, kemudian mengayunkan tinju yang sudah dibalut tenaga dalam ke arah lutut Dwarapala itu.

“Dum!”

Lutut kanan Dwarapala meledak. Ia pun kehilangan keseimbangan. Namun, belum sempat tumbang, bebatuan hasil ledakan telah kembali dan merangkai menjadi kaki yang baru!

Bergerak lambat. Berkekuatan yang cukup besar. Bila dada hancur, maka akan meledak dan menjadi dua Dwarapala. Bila hanya anggota tubuh hancur, maka akan terangkai yang baru. Demikian kesimpulan Bintang.

“Sahabat Bintang, aku sudah tak sabar!” seru Panglima Segantang.

“Hancurkan mereka!” ungkap Bintang Tenggara. “Namun gunakan tenaga dalam seminimal mungkin… Kita tak tahu sampai berapa banyak mereka akan berlipat ganda,” ungkapnya kepada Panglima Segantang.

Seketika itu juga Panglima Segantang merangsek menghantam Dwarapala.

“Dum! Dum! Dum!”

Tiga Dwarapala hancur dalam satu rangkaian sabetan Parang Hitam yang menghantam dada mereka. Ketiga Dwarapala tersebut lalu merangkai diri menjadi enam Dwarapala. Angka ‘3’ kini terlihat di atas kepala Panglima Segantang.

“Zirah Rakshasa: Kandik Agni!”*****

Canting Emas berseru. Tiba-tiba terlihat mulut pada Zirah Rakshasa di posisi perut menganga. Dari dalamnya terlihat dua buah gagang kayu yang berukiran daun, bunga dan buah bermotif melingkar-lingkar.

Canting Emas segera meraih kedua gagang lurus itu di masing-masing tangan. Terlihat ia menarik keluar sepasang kapak kembar berukuran sedang dari mulut yang masih menganga itu. Gagang masing-masing kapak sedikit lebih panjang dari dua jengkal jari tangan. Kepala kapak nan tajam berukuran satu telapak tangan orang dewasa, dengan ukiran yang senada dengan gagangnya. Senjata Kasta Perak!

Lalu, Canting Emas mengalirkan tenaga dalam ke arah kedua Kandik Agni. Ukiran pada kepala kandik pun menyala berwarna kuning. Sungguh indah ukiran yang menyala itu. Kesaktian unsur api!

“Dum! Dum! Dum! Dum!”

Canting Emas terlihat seperti menari ketika ia berkelebat menghantam dan meledakkan empat Dwaralapa dalam satu rangkaian serangan! Bila pola serangan panglima terlihat kaku dan kuat, pola serangan Canting sungguh lentur dan lincah. Angka ‘4’ kini mengambang di atas kepala gadis tersebut.

Merasa tertinggal, Panglima Segantang pun kembali merangsek menyerang!

Suara dum demi dum semakin sering terdengar beruntun-runtun. Panglima Segantang dan Canting Emas terlibat dalam sebuah persaingan tiada berarti. Bintang saat ini sedang berlari ringan ke arah salah satu sisi dinding ilusi yang menyegel mereka.



Catatan:

*) I Wayan Balik Anjana dan seorang gadis tersasar ke Pulau Dewa dalam Episode 3.

**) Istilah ‘sungai telaga dunia persilatan’ kerap muncul di dalam novel silat “Nagabumi: Jurus Tanpa Bentuk” karya Seno Gumira Ajidarma.

***) Dalam Episode 38, ada seorang lelaki setengah baya sedang berlatih pernapasan

****) mambang/mam·bang/ n makhluk halus yang menurut kepercayaan sebagian orang membinasakan manusia

          bunian/bu•ni•an/ n makhluk halus; siluman

          membebat/mem•be•bat/ v membarut atau mengikat (dengan perban, kain, dan sebagainya)

*****) Kandik: Kapak. Agni: Api.

Ada lagi review di blog. Trims, suhu!   http://www.jangipan.com/2017/04/legenda-lamafa-sebuah-cerita-menyimpan.html?m=1