Episode 50 - Canting Emas


 

Pagi hari ini demikian cerah. Langit berwarna biru, dengan sedikit gumpalan awan. Matahari baru saja terbit, menebar cahaya keemasan dari arah timur.

Tatapan mata Bintang juga menatap ke arah timur. Lamunan membawanya kembali ke Dusun Peledang Paus. Di hari seperti ini, biasanya Lembata Keraf si Kepala Dusun sedang menatap laut. Apakah kebiasaan menantikan paus masih tetap dilakukan orang tua setengah baya itu? Yang tak Bintang ketahui adalah Lembata Keraf masih tetap menatap laut. Namun, Kepala Dusun itu tak lagi menantikan kehadiran paus. Yang ia nantikan adalah kepulangan Sang Lamafa Muda. Yang ia harapkan adalah pencapaian besar seorang lamafa, mengembalikan nama besar para penikam paus.

Angin pagi berhembus pelan, menyapa setiap pori-pori tubuh layaknya sentuhan lembut kasih ibu.

Bintang lalu membayangkan Bunda Mayang sedang duduk di depan gubuk. Ia dikelilingi oleh anak-anak dusun yang hendak mendengarkan pelajaran-pelajaran tentang dunia di luar Pulau Paus. Dulu, Bintang pun demikian bersemangat mendengar Bunda berceritera. Dari mana kiranya bunda mendapatkan informasi sedemikian banyak, bila selama ini Bunda tak pernah meninggalkan Pulau Paus? Belakangan ini, pertanyaan tentang jati diri Bunda Mayang kerap mengisi lamunan.

Kehangatan matahari pagi ini mirip sekali dengan senyuman ramah seorang ayah kepada anaknya.

Bintang hanya samar-sama mengingat senyuman Ayahanda Balaputera. Ayahanda pastilah seorang ahli. Ayahanda mampu membuka segel Pulau Bunga. Ayahanda mengenal seorang kakek tua, Kepala Pengawal Istana Keempat di Kerajaan Parang Batu. Kata-kata Kepala Pengawal tersebut kembali terngiang di benak Bintang. “Nak Bintang, sampaikanlah salamku bilamana kau bertemu ayahmu, Balaputera. Sungguh berat beban yang ia pikul…” Beban apakah gerangan? Batin Bintang mencari jawaban.

“Kawan Bintang…”

“Buk!”

Bintang terhuyung setengah langkah ke depan. Panglima Segantang menepuk, atau lebih tepatnya menghantam, pundaknya.

“Apakah yang Kawan Bintang lamunkan?” tegur Panglima Segantang.

Bintang Tenggara hanya menatap tajam. Sepekan terakhir adalah pengalaman setengah pahit, yang mungkin tak akan terlupakan seumur hidupnya.

“Hm? Panglima ada yang berbeda dari aura Kasta Perunggumu,” ujar Bintang penasaran.

“Oh… Aku sekarang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5,” jawabnya ringan.

“Apakah kau melakukan terobosan kasta semalam?”

“Terobosan? Tidak. Aku terbangun dan seperti biasa tingkatan kasta keahlianku sudah bertambah. Bukankan demikian juga dengan Kawan Bintang?”

“Tidak!” jawab Bintang. Untuk menaikkan tingkatan kasta keahlian, seorang ahli berkonsentrasi penuh menggelembungkan mustika, memecahkannya, lalu merangkai mustika baru. Sebagian besar ahli bahkan harus bertapa berhari-hari untuk menjalani proses ini, dan bukan tanpa risiko. Kesalahan sedikit saja, mustika akan retak. Mustika retak berarti keahlian tak lagi dapat bertumbuh dengan baik.

Meski harus diakui, Bintang menempuh jalan pintas. Dengan melontarkan beberapa kata pujian, semalam ia meminta gurunya menggunakan mata hati untuk menggelembungkan mustika, memecahkannya, lalu merangkaikan mustika baru. Kini Bintang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4. Mungkin upaya yang diperlukan tidak sampai serumit bertapa, tapi tetap merupakan sebuah usaha!

Nah, Panglima Segantang ini hanya tertidur, mendengkur, lalu mustika tenaga dalamnya pecah dan terangkai sendiri!? Tak dapat diterima nalar!

“Hari ini kita berpisah. Jangan khawatir, kita akan bertemu lagi di suatu hari nanti,” ucap Panglima. Wajahnya sedikit kusut.

Mengapa aku perlu khawatir, keluh Bintang dalam hati. Hidupku akan lebih tenteram tanpa seseorang yang gemar berkelahi di dekatku.

“Bawalah Kartu Satwa ini,” Bintang menyodorkan kartu berukuran setelapak tangan. “Kuyakin pada waktunya nanti kau bisa mengeluarkan Harimau Bara untuk menemanimu.”

Panglima Segantang menerima Kartu Satwa tersebut. Bintang menyaksikan betapa semakin kusut wajah Panglima. Mengingatkannya pada dua malam lalu, ketika mereka berpisah dengan Lima Sekawan Penakluk Samudera. Panglima Segantang tak memiliki banyak kawan.

“Panglima…” Bintang Tenggara sedikit ragu. “Bagaimana bila kau juga turut mendaftar ke Perguruan Gunung Agung…” Setelah mengucapkan kalimat itu, tiba-tiba lidah Bintang kelu. Ia setengah menyesal memberikan saran yang tak perlu.

Panglima Segantang menatap lesu. “Aku sudah bertekad untuk berguru ke Istana Danau Api…” jawabnya pelan.

“Baiklah bila demikian,” ungkap Bintang Tenggara cepat, lalu bergegas minggat.

Bintang meninggalkan penginapan yang disiapkan oleh Kerajaan Parang Batu. Sambil menghitung setiap langkah kaki, ia ke arah jantung Kota Taman Selatan. Di pusat kota itulah nantinya terdapat Monumen Genta sebagai tempat pendaftaran murid-murid baru Perguruan Gunung Agung.

Pemandangan Pulau Dewa sangat asing bagi Bintang. Di pulau ini begitu banyak patung dan umbul-umbul, serta pura. Patung-patung tersebut diukir dengan keahlian sangat tinggi, alangkah indahnya. Umbul-umbul pun menampilkan corak berwarna-warni, sungguh menyegarkan. Pura-pura mencerminkan kedisiplinan dan ketaatan ajaran, betapa membanggakan.

Di sepanjang jalan, ada pula gerai-gerai yang menjajakan berbagai perlengkapan bagi ahli. Sudut mata Bintang menangkap sebuah jubah berwarna ungu. Sungguh indah, pikirnya. Ia pun masuk ke dalam gerai, lalu menyerahkan beberapa keping perunggu pemberian Lombok Cakranegara untuk membeli jubah tersebut. Sungguh cocok untuk kuberikan kepada Bunda Mayang, pikirnya. Ia pun menghenyakkan jubah tersebut ke dimensi penyimpanan di mustika Komodo Nagaradja.

Dari kejauhan kedua mata Bintang kemudian menangkap sebuah gerbang besar, atau gapura. Bentuknya merupakan dua bangunan berundak yang serupa. Terlihat gapura tersebut sangat sebangun, seolah hanya terdiri dari satu bagian saja, sementara bagian satunya lagi merupakan pantulan sebuah cermin besar. Bintang sangat senang melihat bagunan yang begitu simetris.

Gapura tidak memiliki atap penghubung di bagian atas. Ia hanya terhubung di bagian bawah, itu pun terletak lebih tinggi dari posisi lapangan di depannya. Untuk mencapai gerbang tersebut, setumpuk anak tangga berjumlah 17 berjejer rapi.

Di balik gapura terlihat sebuah monumen. Menurut penduduk setempat, monumen yang berbentuk genta raksasa dan tinggi menjulang itu merupakan perlambang keberanian dan untuk mengenang para pahlawan yang dulu gugur saat Perang Jagat. Sesuai bentuknya, monumen itulah yang dikenal dengan nama ‘Monumen Genta’.

Bintang kini memasuki wilayah lapangan di sisi bawah gapura. Suasana di lapangan riuh rendah. Terlihat banyak anak remaja yang bersiap mengikuti ujian masuk Perguruan Gunung Agung. Lebih dari seribuan jumlah mereka. Ada yang seperti Bintang, datang seorang diri. Ada pula yang ditemani oleh ibu dan ayah, keluarga, bahkan warga sedusun.

“Kepada para peserta ujian masuk Perguruan Gunung Agung,” tiba-tiba terdengar suara menggelegar. Pada saat yang sama, terlihat puluhan murid Perguruan Gunung Agung yang sepertinya menjadi bagian dari panitia ujian masuk berbaris keluar.

Suara pengumuman tersebut kemudian berlanjut untuk menjabarkan tahapan ujian masuk Perguruan Gunung Agung. Secara keseluruhan, ujian masuk dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah ‘usia dan keahlian’, tahap kedua ‘kerja sama’, dan tahap ketiga ‘hasrat’.

Ujian masuk tahap pertama, usia dan keahlian, sangatlah sederhana. Setiap murid diharuskan berjalan melewati ‘Gapura Nyata’. Gapura ini adalah gerbang masuk menuju area dalam Monumen Genta, yang sebelumnya menarik perhatian Bintang.

Gapura tersebut mampu menelusuri usia melalui tulang belakang makhluk hidup secara akurat. Kemampuan ini tak dapat diakali bahkan oleh ahli tingkat tinggi sekalipun. Selain itu, gapura sakti itu juga mampu menentukan kasta dan tingkat keahlian secara tepat. Ia akan menjelajahi mustika tenaga dalam untuk melakukan penilaian terhadap keahlian. Mungkin kemampuan inilah yang menyebabkan gerbang tersebut dinamakan, Gapura Nyata.

Lebih dari seribu peserta ujian masuk lalu berbaris sesuai arahan murid-murid Perguruan Gunung Agung. Satu per satu mereka menapaki 17 anak tangga menuju Gapura Nyata. Di samping gapura, tiga orang dewasa duduk di balik meja. Mungkin mereka adalah para guru dari Perguruan. Yang jelas, saat ini tugas mereka adalah membacakan hasil dan menjadi saksi atas penelusuran Gapura Nyata.

“14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4. Lulus!” Terdengar lantang suara salah satu guru tersebut.

Pengumuman tersebut lalu disambut sorak-sorai dari sanak saudara yang mengantarkan.

“15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4. Tidak lulus!”

“Tapi… menurut ibuku usiaku baru 14 tahun!” terdengar suara membantah.

“Salahkan ibumu karena tak bisa menghitung, selanjutnya.” Salah satu dari ketiga guru berkomentar.

Seorang anak remaja terpaksa dibopong turun dari Gapura Nyata.

“14 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 3. Tidak lulus!”

“Tapi menurut guruku, aku berada di Kasta Perunggu Tingkat 4…” suara anak remaja lain memelas.

“Salahkan gurumu karena tak memiliki keahlian. Selanjutnya.”

Anak remaja tersebut tak hendak percaya pada kenyatan. Ia menangis terisak, menuruni anak tangga Gapura Nyata.

“15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 3. Tidak mungkin lulus!”

“Tapi… tapi menurut ibu dan guruku, aku berusia 14 tahun dan berada di Kasta Perunggu Tingkat 4…” suara anak remaja itu mencoba menggugat hasil.

“Salahkan ayahmu karena dikibuli oleh ibu dan gurumu... Lanjut!”

Bintang mengamati berbagai ekspresi dari mereka yang lulus maupun yang tak lulus. Bagi yang lulus, dunia baru akan terbentang luas di hadapan mereka. Bagi yang tidak lulus, mereka masih punya kesempatan untuk berguru di perguruan-perguruan kecil di Pulau Dewa.

“13 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4. Lulus!” Bintang Tenggara sedikit terkejut, usia dirinya ternyata sudah menginjak 13 tahun.

Hari jelang siang. Langkah kaki Bintang menapak ke dalam wilayah Monumen Genta. Ratusan anak remaja lain yang telah lulus tahap pertama berkumpul menunggu perintah selanjutnya.

Bintang lalu melangkah menuju salah satu sudut lapangan. Selain mencari tempat berteduh, ia juga hendak menghindar dari kerumunan anak remaja lain di tengah lapangan. Di salah satu sudut ia melihat sebuah payung. Saat menghampiri payung tersebut, telinga Bintang lalu menangkap bisik-bisik beberapa orang remaja.

“Jangan… jangan ke arah sana. Di bawah payung itu adalah calon Putri Perguruan…”

“Oh, benarkah? Apakah dia Anak Agung Ayu Canting Emas?* Kudengar tahun ini ia secara resmi mengikuti ujian masuk Perguruan Gunung Agung.”

“Mana, mana? Aku ingin melihat langsung… Kudengar kecantikannya terkenal di seantero Pulau Dewa…”

Mencuri dengar bisik-bisik tersebut, Bintang segera menghentikan langkah. Baru saja ia hendak memutar, kedua matanya bertatapan dengan sepasang bola mata yang begitu indah. Rasanya seperti memandang langit malam tak berawan saat diterangi purnama. Akan tetapi, sorot mata tersebut sungguh angkuh. Tunggu dulu… sepertinya aku pernah melihat sepasang mata itu, pikir Bintang dalam hati.

Bintang kemudian mengamati sosok seorang anak gadis seusia. Tubuhnya ramping dibalut lapisan kemben tenun berwarna biru muda. Bahunya dibiarkan terbuka. Rambutnya panjang dikepang ke belakang. Setengah wajahnya ditutupi cadar yang juga berwarna biru muda…

Benar! Ini adalah anak perempuan sombong di atas Elang Laut Dada Merah yang tersasar ke Pulau Paus. Dari teman seperjalanan anak gadis itulah Kepala Dusun Lembata Keraf mendapat informasi tentang ujian masuk… serta memperoleh Lencana Perunggu Perguruan Gunung Agung.

Anak gadis yang memiliki nama demikian panjang itu juga menatap ke arah Bintang. Sebagaimana Bintang mengenali dirinya, sepertinya ia juga mengenali Bintang.

Langkah kaki Bintang semakin mantap untuk memutar arah dan menghindar menjauh. Di saat memutar, kedua matanya lalu menatap sosok gadis remaja bertubuh mungil yang sedang berdiri seorang sendiri. Bentuk wajahnya bulat, matanya mendekati sipit, dan kulitnya sedemikian putih sampai seolah menyilaukan. Seutas ikat kepala melingkar di kening, mengikat rambut hitam pekat dan pendek. Pembawaan gadis tersebut sangatlah kikuk.

Bintang tak pernah melihat jenis pakaian yang ia kenakan. Atasannya adalah kemeja tanpa lengan dan tanpa kerah berwarna hitam pekat, dengan motif akar tetumbuhan merambat berwarna keemasan, namun kusam seolah sudah tua sekali umur pakaian tersebut. Sebuah tas kulit lusuh dengan tambalan di sana-sini, menyelempang di pundak sampai pinggulnya. Bawahan yang ia kenakan adalah celana pendek dengan warna dan motif yang serupa dengan atasan.

Ada yang aneh dari kaki anak gadis tersebut…

Ketika Bintang hendak mengamati lebih jauh, tetiba muncul seorang remaja laki-laki. Ia mengenakan pakaian layaknya pendekar, dengan atasan lengan panjang cerah dan bawahan celana panjang yang juga berwarna cerah. Sebuah ikat melingkar dan tersimpul di pinggang. Rambutnya lurus belah tengah, dibiarkan terurai sedikit menutupi mata. Wajahnya tampan, tapi ada yang aneh dari tatapan matanya.

“Gadis cantik, siapa gerangan namamu?” ungkapnya lembut sambil merangkul bahu si gadis kecil… Sebuah cincin dengan batu akik besar tersemat di ibu jari tangan kanan remaja lelaki tersebut. Sebuah cincin yang serupa juga tersemat di jari telunjuk tangan kirinya. Apakah batu akik sedang naik daun lagi?

Si gadis kecil terkejut dan sontak melepaskan diri dari rangkulan remaja laki-laki tersebut. Ia lalu mundur selangkah…

Segera setelah itu, sudut mata Bintang menangkap pergerakan dari kiri dan kanan. Dari kiri, gadis remaja bernama Anak Agung Ayu Canting Emas melangkah cepat mendekat. Dari arah kanan, sosok tubuh besar, berambut cepak, bertelanjang dada dan menyoren parang besar melangkah tegap!

“Hei! Apa yang hendak kau lakukan?!” seru si tubuh besar kepada remaja lelaki tersebut.

“Adik kecil, apakah dikau tersasar? Ijinkan kakak mengantarkanmu pulang…” sambungnya ke arah gadis mungil. Dengan tubuh demikian bongsor, wajar saja bila gadis tersebut terlihat seperti anak kecil.

“Siapakah gerangan, Ki Sanak?” tanya remaja lelaki tersebut sedikit risih.

“Namaku bukan Ki Sanak.” terdengar jawaban. “Namaku Panglima Segantang!”

“Siapa kalian!?” sergah Anak Agung Ayu Canting Emas yang datang menghampiri Panglima dan remaja lelaki tersebut. “Apa yang hendak kalian lakukan!? Segera kalian enyah dari hadapanku!”

“Oh… seorang gadis jelita hendak mengenalku,” timpal remaja tersebut menyibak senyum. Ia lalu menempatkan tangan kiri di pinggang, dan merentangkan tangan kanan ke atas seolah hendak menggapai langit. Kembali Bintang menangkap keanehan dari sorot matanya.

“Namaku tersohor di Pulau Jumawa Selatan, bahkan terngiang di seantero penjuru Negeri Dua Samudera. Tak seorang ahli pun yang tak pernah mendengar ketenaranku. Tak terbilang berapa kali dalam sehari mereka mengucapkan namaku. Aku adalah… Aji Pamungkas!” Kemudian, tangan kanannya mengepal di udara.

Panglima Segantang segera menggapai gagang Parang Hitam. Ia merasa bahwa remaja tersebut memasang kuda-kuda dan hendak melancarkan jurus pamungkas.

Melihat gelagat dua remaja lelaki di depannya, Anak Agung Ayu Canting Emas pun waspada. Ia mundur setengah langkah, lalu memasang kuda-kuda.

“Sring!”

Terdengar bunyi berdesing ketika sebuah wajah mengerikan bernuansa kekuningan muncul menutupi pundak sampai ke perut Anak Agung Ayu Canting Emas. Sisi atas wajah mengerikan itu terdapat semacam mahkota keemasan yang menutupi bahu, leher, sampai tulang selangka. Pada posisi dada, dua mata besar membelalak. Hidung besar lalu mengembang di ulu hati. Sebuah mulut dan dagu lebar menutupi perut. Dua pasang taring besar atas bawah menempel pada posisi tulang rusuk. Melingkar sampai ke belakang punggung, adalah sepasang telinga besar. **

Sebuah baju zirah!

Bintang mau tak mau segera melangkah cepat. Akan terjadi kesalahpahaman yang dapat berujung fatal bila ia terlambat menengahi!

Tepat di saat Bintang tiba dan hendak memberi penjelasan, terdengar suara membahana.

“Ujian masuk tahap kedua dimulai! Segera bentuk kelompok yang terdiri dari lima orang! Seorang Guru Muda Perguruan Gunung Agung akan memandu tiap-tiap kelompok.”

“Oh… Canting Emas telah bergabung dalam sebuah kelompok.” Terdengar suara menyapa ramah. Bintang sepertinya pernah mendengar suara itu.

“Mari kita berpindah tempat.”

“Swush!”

Suasana menjadi gulita ketika kelompok yang hampir saja berkelahi, dibawa masuk ke dalam gerbang dimensi.



Catatan:

*) Anak Agung Ayu: anak perempuan dari gologan Ksatria

    Canting Emas: bukan hanya diambil dari nama alat tradisional untuk membuat motif batik, melainkan juga diadaptasi dari nama ‘Tanting Mas’.

**) Jika kesulitan membayangkan baju zirah ini, coba bayangkan sebuah topeng dari Pulau Bali yang besar dan dipasang di dada.


Tak terasa sudah masuk ke Episode 50. Saat ini, per episode dibaca oleh sekitar 700an pembaca. Terima kasih kepada para ahli baca sekalian.

Merayakan episode ke-50 ini, maka nantikan episode bayangan yang akan terbit pada Sabtu malam pukul 19.00 WIB. :D

Terima kasih juga atas satu lagi review 'Legenda Lamafa' di blog https://mariasoraya.com/2017/04/25/menelusuri-legenda-lamafa-melalui-ceritera-net/