Episode 49 - … Langit


 

Dua jam.

Hanya sekitar dua jam saja waktu bagi Bintang dan Panglima tiba di salah satu dermaga di Pulau Dewa. Mereka baru menempuh perjalanan dari perairan Pulau Logam Utara. Kecepatan Pinisi Penakluk Samudera yang ditopang oleh kesaktian Ammandar Wewang dan Zilaz Parare sungguh mencengangkan. Bagaimana bila ke-Lima Sekawan Penakluk Samudera tersebut bekerja sama? Sungguh tak terbayangkan.

Secara sepintas, Bintang telah menyaksikan langsung kesaktian unsur angin Ammandar Wewang dan kesaktian unsur api Zilaz Parare. Lalu, menurut Panglima Segantang, Atje Pesut adalah yang terkuat di antara mereka. Gadis belia berambut pirang tersebut dikatakan memiliki keterampilan khusus peramal… dan menurut Komodo Nagaradja, juga berdarah siluman. Bagaimana caranya berhadapan dengan seorang peramal yang berkekuatan siluman…? Serius. Ini adalah pertanyaan serius di dalam benak Bintang.

Kemudian masih ada Nuku Tidore dengan elang hitam misterius dan Keumala Hayath yang memiliki tendangan lembut tapi keras. Bila dibandingkan dengan latih tarung di Kerajaan Parang Batu semalam, jurang pemisah kemampuan kelima ahli yang baru saja Bintang temui itu bagai bumi dan langit. Mungkin ini yang dimaksud dari pepatah ‘masih ada langit, di atas langit’.

“Aku, Bintang Tenggara, berhutang budi kepada Lima Sekawan Penakluk Samudera,” seru Bintang ke arah perahu pinisi yang bersiap berlayar meninggalkan dermaga Pulau Dewa.

“Hahaha… Janganlah kau berpikir terlalu jauh. Betapa senang aku dapat bersua Sang Lamafa Muda,” jawab Ammandar Wewang.

“Bintang di langit tenggara… Takdirmu dan takdirku… bersinggungan,” bisik Atje Pesut.

Tidak terlihat Nuku Tidore dan Zilaz Parare di atas geladak.

“Bintang Tenggara!” seru Keumala Hayath. “Sampaikan kepada kawanmu itu… agar ia berani jujur pada dirinya sendiri!”

Panglima Segantang sedari tadi hanya tegak membatu. Mungkin ia sedang berlatih kesaktian unsur tanah.

Pinisi Penakluk Samudera mulai berlayar meninggalkan dermaga Pulau Dewa…

“Oh! Satu hal lagi…,” seru Ammandar Wewang. “Sang Lamafa Muda, kuyakin kau pernah mendengar tentang Pasukan Lamafa Langit.”

“Benar, aku pernah membaca tentang Pasukan Lamafa Langit,” jawab Bintang cepat. *

“Aku, Ammandar Wewang Sang Pelayar Langit, akan membuka satu rahasia untukmu…,” Ammandar kini tersenyum.

“Bahwasanya, nama lengkap dari pasukan itu adalah… Pasukan Lamafa 'dan' Langit!” Seperti biasa Ammandar Wewang menutup dengan tawa lebar sambil memegang perut besarnya.

“Hm…” Komodo Nagaradja bereaksi.

Dengan demikian, perahu Pinisi Penakluk Samudera mulai menghilang dari pandangan.

Langit malam itu sungguh cerah, sangat bertolak belakang dengan badai di siang hari tadi. Meski tak terlihat bulan, bintang-bintang bersinar cemerlang menghias tabir malam. Di sudut langit, bintang-bintang bahkan terlihat bagai jutaan pasang mata yang mengawasi dua anak remaja. Mereka menantikan kesempatan menjadi saksi sebuah petualangan.

Panglima Segantang masih menatap jauh ke arah menghilangnya Pinisi Penakluk Samudera. Ekspresi wajahnya kusut. Suasana hatinya seperti sangat gundah. Terlihat ia menghela napas panjang.

“Panglima,” tegur Bintang Tenggara. “Apa alasan sebenarnya engkau hendak berguru kesaktian unsur api di Istana Danau Api?”

“Aku dilahirkan dengan bakat sebagai ahli silat. Sejak kecil aku gemar bermain senjata, menempa raga, dan bertarung. Awalnya, kupikir tidak ada yang lebih menyenangkan selain persilatan…” Panglima Segantang kembali menghela napas panjang.

“Namun, lama-kelaman aku menyadari bahwa karena bakat dan kegemaranku itu, tak banyak anak seusia yang hendak bermain denganku. Mereka menghindar. Bahkan, sebagian dari anak-anak itu sampai berlari menjauh bilamana melihat kedatanganku.”

Bintang memperhatikan Panglima dengan seksama.

“Pandangan mata orang-orang dewasa selalu mencerminkan ketakjuban dan kebanggaan. Akan tetapi, pandangan mata anak-anak menunjukkan… rasa takut…” Panglima tersenyum pada diri sendiri.

“Sampai pada suatu hari, aku bertemu dengan Keumala, lalu Ammandar, Atje… Mereka adalah anak-anak yang mirip denganku. Kami terlahir berbeda.”

Bintang mulai membaca seperti apa situasi yang dialami oleh Panglima. Terkucilkan di dalam dunianya sendiri.

“Aku sangat bersemangat ketika mereka mengajakku bertualang mengarungi samudera… Sampai pada hari ketika kuketahui, bahwa bakat kesaktianku adalah unsur tanah. Bagaimana mungkin seseorang dengan kesaktian unsur tanah dapat mengarungi samudera luas…?” Ekspresi Panglima bertambah kusut.

Hanya itu? Bintang setengah terkejut. Hanya karena merasa bahwa bakat unsur tanah tidak cocok bertualang di atas perahu? Kemudian ia meninggalkan kawan-kawan karibnya dan memutuskan untuk mempelajari unsur lain? Bintang setengah tak percaya betapa sederhana pemikiran Panglima.

Kalau saja Bintang dapat menunjukkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, maka ia akan membuka gambar dan keterangan bagaimana para ahli beradaptasi. Misalnya saja, ada seorang ahli dengan kesaktian unsur tanah yang berjulukan Si Gurun Pasir. Ia memanggul sebuah kendi besar yang terbuat dari pasir kemana pun ia pergi. Dengan demikian, ahli tersebut mengatasi kelemahannya. Ia selalu memiliki cadangan pasir.

“Yang Terhormat Tetamu Kerajaan Parang Batu, kami adalah petugas penjemputan,” ungkap seorang lelaki muda menghampiri Panglima dan Bintang.

“Kami baru mendapat kabar bahwa penerimaan murid baru di Perguruan Gunung Agung ditunda sampai lusa,” ungkap seorang prajurit mengabari.

“Selain itu, persyaratan masuk Perguruan Gunung Agung tahun ini diperketat. Hanya ahli di bawah usia 14 tahun dengan minimal Kasta Perunggu Tingkat 4, yang diperbolehkan mengikuti ujian masuk.”

Karena terbiasa berlatih sedari subuh, Bintang telah siap menjelajahi Kota Taman Selatan. Kota ini adalah ibukota, sekaligus pintu masuk menuju Pulau Dewa.

“Kawan Bintang, aku akan membantumu menaikkan tingkatan kasta, sebelum bertolak menuju Istana Danau Api,” ungkap Panglima Segantang dengan sungguh-sungguh.

Terkait Kasta Perunggu Tingkat 4, Bintang tidaklah terlalu khawatir. Ia memiliki beberapa teori untuk menerobos dari Tingkat 3 menuju Tingkat 4. Salah satu teori tersebut semudah membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin, lalu memenuhi mustika di ulu hati dengan tenaga dalam sampai menggelembung. Saat mustika pecah, barulah tantangan membentuk mustika baru dapat dijalani. Ini adalah perkara enteng, pikir Bintang.

“Kau tak khawatir tentang persyaratan Kasta Perunggu Tingkat 4?” tanya Komodo Nagaradja malas.

“Haruskah murid khawatir, wahai Guru bijaksana nan digdaya?”

“Sama sekali tidak! Saat ini pun mata hatiku dapat menaikkanmu langsung ke Kasta Perunggu Tingkat 5.”

Komodo Nagaradja sesungguhnya tidaklah sesumbar. Menggunakan mata hati, ia bisa membantu memecahkan mustika, menahan tenaga dalam, lalu merangkaikan kembali mustika yang baru. Selain itu, dengan kemampuan Bintang saat ini, Nagaradja merasa bahwa anak itu memang sudah layak berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5. Jadi, memang tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Hari ini adalah kesempatan bagi Bintang mencaritahu lebih lanjut tentang Pulau Dewa dan Perguruan Gunung Agung. Dari penelusuran di Pustaka Istana Kerajaan Parang Batu, Bintang telah mengetahui bahwa Perguruan Gunung Agung bukanlah satu-satunya perguruan di Pulau Dewa, tapi ia adalah perguruan terbesar.

Terdapat banyak perguruan-perguruan yang lebih kecil. Perguruan-perguruan tersebut biasanya menampung calon murid-murid yang tidak lolos ujian masuk Perguruan Gunung Agung. Jadi, murid-murid dapat tetap mempelajari keahlian di Pulau Dewa. Tambahan lagi, perguruan-perguruan kecil tersebut memiliki afiliasi dengan Perguruan Gunung Agung, sehingga kualitas murid-murid mereka dapat bersaing dengan rata-rata murid perguruan di luar Pulau Dewa.

Setiap tahun, Perguruan Gunung Agung hanya menerima 500 murid Kasta Perunggu. Berdasarkan hasil ujian masuk, murid-murid dalam angkatan baru tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tiga golongan: Purwa, Madya dan Utama. **

Kini Bintang dan Panglima sedang menelusuri Kota Taman Selatan. Kota ini adalah kota terbesar di Pulau Dewa. Sesuai namanya ia terletak di selatan pulau. Ujian masuk perguruan pun akan berlangsung di alun-alun kota ini.

“Brak!” tetiba terdengar suara berdegar seperti pintu yang didobrak. Lalu disusul suara membentak.

“Keluar kalian!”

Panglima Segantang segera bergegas ke arah suara tersebut. Bintang Tenggara menyusul di belakang. Ia sudah dapat memperkirakan akhir dari kejadian ini. Apalagi kalau bukan Panglima Segantang berkelahi dengan entah siapa itu.

“Berani sekali kalian berutang, lalu enggan membayar!” seru seorang remaja berusia sekitar 15an tahun. Mukanya mirip kambing. Di belakangnya, empat orang remaja lain angkuh berdiri.

“Tapi adikku tak pernah berutang kepada kalian…” balas seorang remaja seusia. Posisi tubuhnya setengah menjongkok. Terlihat pipinya membengkak, darah menetes dari lubang hidungnya. Tepat di belakangnya, seorang anak yang lebih muda meringkuk tak berdaya.

“Kalian berutang 100 keping perak kepada Tuan Muda kami! Bayar segera, atau aku akan memotong tanganmu dan adikmu!” ***

“Kami tak memiliki uang sebesar itu… Aku mohon, janganlah merisak kami.” ****

“Kalian murid perguruan kecil berani melawan kami murid-murid Purwa dari Perguruan Gunung Agung?!”

Golongan Purwa di Perguruan Gunung Agung menampung murid-murid dengan kemampuan biasa-biasa saja. Pada setiap angkatan, jumlah mereka adalah 300 murid. Karena hanya menempati golongan Purwa, fasilitas yang mereka terima sangatlah terbatas.

Kemudian murid golongan Madya, berjumlah 150 orang. Mereka merupakan murid yang berbakat kelas menengah. Biasanya Murid Madya setidaknya telah memiliki kesaktian unsur tertentu.

Terakhir adalah murid Utama. Golongan ini hanya berjumlah 50 murid. Mereka adalah yang paling berbakat dari setiap angkatan di Perguruan Gunung Agung.

“Bugh!” tiba-tiba remaja bermuka kambing meninju wajah remaja yang memohon itu sampai terpental.

“Serahkan berapa pun uang kalian saat ini! Tuan Muda kami akang menganggap sebagai pembayaran bunga. Esok aku akan datang lagi menagih utang kalian.”

“Tapi kami tak pernah berutang sepeser pun kepada Tuan Muda kalian…”

Remaja bermuka kambing mengangkat kaki kanan hendak menendang, ketika Panglima tiba dan tangan kanannya mencekik leher remaja itu. Dengan postur tubuh yang begitu besar, terlihat mudah sekali baginya untuk kemudian mendorong remaja bermuka kambing.

“Hei, apa yang kau lakukan!?”

“Siapa kau!?”

“Jangan campuri urusan orang lain!”

Kawanan itu berseru bergantian. Namun tak seorang pun berani melangkah maju. Mereka semua berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4, setara dengan Panglima Segantang.

Bintang Tenggara menjaga jarak. Bahkan menyembunyikan diri di balik sebuah gerai yang kebetulan belum beraktivitas. Ia tak hendak terlibat dalam perseteruan yang tiada perlu. Baginya, berkelahi di jalanan adalah membuang-buang waktu saja. Waktu lebih bermanfaat dihabiskan di pustaka, menelusuri kitab sejarah atau kitab penyembuhan.

“Beraninya kau mendorongku!” teriak pemuda berwajah kambing. “Enyah kau dari sini sebelum aku betul-betul marah!”

“Apakah kalian merisak kedua orang ini?” tanya Panglima Segantang. Postur tubuhnya tegap, bertelanjang dada dan menyoren parang besar di pundak. Siapa pun akan berpikiran dua kali jika hendak berurusan dengan sosok yang demikian menyeramkan.

“Mereka berutang kepada Tuan Muda kami!”

“Kami tak kenal siapa Tuan Muda yang mereka sebut-sebut. Kami juga tak mengenal mereka…,” ungkap si korban perisakan. “Kami kakak beradik sedang dalam perjalanan menuju perguruan kami… ketika mereka tetiba menyerang.”

“Antarkan aku ke Tuan Muda kalian…” seru Panglima Segantang.

“Hahaha… Mana mungkin Tuan Muda kami hendak bertemu dengan anak dusun sepertimu. Beliau adalah salah satu Murid Tauladan di Perguruan Gunung Agung.

Bintang memicingkan mata. Berdasarkan informasi yang ia miliki, dari lima puluh murid yang masuk ke golongan Utama di Perguruan Gunung Agung, maka akan ada sepuluh murid terbaik. Mereka menjabat sebagai Putra Perguruan dan Putri Perguruan. Merekalah yang biasa dikenal sebagai Murid Tauladan.

“Aku akan tetap berada di sini… bila kalian tak memenuhi kehendakku,” jawab Panglima Segantang.

Remaja berwajah kambing menggeretakkan gigi lalu memberi perintah, “Serang dia!”

Panglima Segantang sebenarnya memang tak terlalu suka berbasa-basi. Ia pun merangsek maju. Menghentakkan napas, Panglima Segantang melompat ke depan sambil mengayunkan tinju tangan kanan menghantam dada lawan pertama. Lalu ia bergerak ke samping sambil melepaskan tendangan sapuan, menjegal lawan kedua.

Terakhir, tangan kirinya meninju wajah lawan ketiga. Rangkaian gerakan mengalir alami tanpa perlu dipikirkan. Tubuh Panglima seolah bergerak tanpa perlu diperintah. Mungkin ini yang disebut sebagai naluri bertarung dari Sang Siluman Silat. Dalam satu hendakan napas, tiga orang lawan terjungkal!

Dua lawan di belakang, salah satunya bermuka kambing, terlambat menyerang. Entah mengapa, langkah kaki mereka tersandung dan tubuh mereka tertahan sesuatu...

Ya, sesaat sebelum Panglima Segantang menghadapi ketiga lawan di depan, Bintang telah melempar empat Segel Penempatan. Dengan demikian, Panglima memiliki cukup waktu untuk melibas ketiga lawan yang melangkah paling depan. Berbeda dengan Panglima yang menyerang dengan naluri, Bintang mengutamakan perhitungan yang matang dan akurat.

“Kau… kalau kau memang bernyali, tunggulah di sini. Ka… kami akan kembali dengan Tuan Muda kami,” gertak si muka kambing setengah tergagap.

Panglima Segantang menyilangkan tangan di depan dada.

“Bangkitlah,” ujar Bintang pelan kepada dua orang kakak beradik korban perisakan. “Sebaiknya kalian bergegas menuju perguruan.”

Kedua kakak beradik menuruti. Dalam hati mereka terheran… karena memang tak banyak murid yang mau mencampuri urusan murid-murid Perguruan Gunung Agung. Apalagi, dalam hal perisakan, banyak murid yang memilih memalingkan wajah dan menutup mata.

“Terima kasih, kami ucapkan,” ungkap sang kakak. “Siapakah gerangan nama Kakak Ahli?”

“Panglima Segantang,” terdengar jawaban singkat. Mereka pun segera pergi setelah mendengar jawaban Panglima Segantang.

“Apakah kalian yang menyerang kelima temanku…?” tetiba terdengar suara bertanya dari kejauhan.

Terlihat seorang remaja berambut lurus panjang melangkah cepat. Setiap satu langkah kaki mendorong tubuhnya bergerak setara dengan empat atau lima langkah kaki biasa. Di belakangnya, kelima murid Purwa Perguruan Gunung Agung berlari tergopoh-gopoh.

Cepat sekali langkah kakinya, pikir Bintang. Kemungkinan besar kesaktian unsur angin, dengan keahlian Kasta Perunggu Tingkat 8 atau 9.

Panglima Segantang masih berdiri tegap. “Mereka merisak sesama ahli. Aku hanya bertindak sewajarnya,” ujarnya.

Remaja tersebut mengibaskan telapak tangannya pelan, seolah mengusir lalat yang menganggu. Seketika itu juga angin kencang berhembus ke arah Bintang dan Panglima. Padahal, gerakan mengibaskan tangan tersebut sama sekali tak terlihat seperti merapal jurus. Keduanya langsung terpental lima-enam langkah mundur!

“Kalian perlu belajar untuk tidak mencampuri urusan orang lain,” ujarnya dengan nada meremehkan.

Panglima segera menggenggam Parang Hitam. Sisik Raja Naga aktif, mumbungkus kedua lengan dan kaki Bintang. Tempuling Raja Naga siap dikeluarkan kapan saja. Keduanya sepenuhnya sadar bahwa lawan di depan mereka bukanlah lawan sembarang. Bahkan tanpa mengerahkan jurus, lawan mampu mendorong sedemikian hebat.

“Namaku Swardana… Ingatlah nama ini ketika kalian tiba di neraka nanti.”

Panglima Segantang dan Bintang Tenggara segera berpencar. Masing-masing menyibak kembangan.

“Ehem!” tetiba terdengar suara mendehem yang membahana.

“Apa yang terjadi di sini?” Kata-kata yang keluar demikian menekan. Datangnya dari posisi di atas mereka.

Ketika menengadah, Bintang melihat sosok seseorang yang melayang jauh tinggi di udara. Paling tidak, jarak yang memisahkan mereka sekitar 200an meter.

“Maha Guru Keempat…” gumam Swardana. “Salam Hormat, Maha Guru Keempat,” ia lalu menundukkan kepala.

“Salam Hormat, Maha Guru Keempat,” serentak kelima orang di belakang Swardana berseru sambil membungkukkan tubuh.

“Jangan mencoreng arang ke atas nama baik Perguruan.”

“Hanyalah sedikit kesalahpahaman, Maha Guru.” Suwardana tetap menunduk ketika menjawab.

“Segeralah kembali ke Perguruan.”

Swardana lalu menatap tajam ke arah Bintang dan Panglima, sebelum ia memutar tubuh dan melengos pergi.


Catatan:

*) Komodo Nagaradja mengingat keberadaan Pasukan Lamafa Langit dalam Episode 18. Bintang membaca sekilas tentang Pasukan Lamafa Langit dalam Episode 40.

**) Purwa, Madya, Utama. Mengingatkan pada jaman jaya Pramuka.

***) risak: ri.sak [v] , me.ri.sak v mengusik; mengganggu. Bahasa Inggris: bully

****) Nilai tukar:

1 keping perunggu = Rp1.000

100 keping perunggu = 1 keping perak = Rp100.000

100 keping perak = 1 keping emas = Rp1.000.000

Ada yang bertanya, “Dari manakah daerah asal Panglima Segantang, bila dibandingkan dengan Nusantara?”

Panglima Segantang berasal dari Kerajaan Serumpun Lada di wilayah barat laut Negeri Dua Samudera… Sedangkan di barat laut Nusantara, ada wilayah yang dikenal dengan sebutan Negeri Segantang Lada… yaitu Kepulauan Riau.

Terima kasih juga atas review pembaca melalui blog: http://penacinta.blogdetik.com/2017/04/25/legenda-lamafa-bacaan-seru-sebelum-tidur?_ga=1.113913479.1069777766.1476188855