Episode 48 - Penakluk Samudera (2)


Tempuling Raja Naga, bilah putih sepanjang empat meter dengan ukiran halus bermotif susunan tulang belakang. Senjata pusaka tersebut bukan hanya sekedar senjata anugerah Komodo Nagaradja. Tempuling Raja Naga adalah bagian dari tubuh siluman sempurna tersebut, yang merupakan ahli digdaya pada jamannya.

“Hahahaha…” Ammandar Wewang tertawa senang.

“Senjata pusaka Kasta Perak…” gumam Keumala Hayath.

“Hm?” Nuku Tidore melangkah keluar dari kabin perahu pinisi.

“Wow! Tempuling!” Zilaz Parare terpesona.

“Siluman sempurna…,” Atje Pesut berbisik kepada diri sendiri. Kedua matanya lalu menatap ke arah tenggara. “Tulang… Komodo…” tambahnya pelan.

“Hmph!” Bintang menghentakkan napas dan melenting cepat ke arah Ammandar yang berada di dalam lingkaran.

Menyerang! Kedua tangannya menggenggam erat Tempuling Raja Naga yang diangkat sejajar kepala. Secara bersamaan Bintang mengalirkan tenaga dalam ke sekujur penjuru tubuh, dengan penekanan pada sendi dan otot. Lalu, Bintang juga mengaktifkan Sisik Raja Naga dan membuat berat tempuling menjadi 200 kg. Secara teknis, melalui serangan ini, Bintang mengerahkan seluruh kemampuannya dalam menggunakan Tempuling Raja Naga!

Ammandar menyaksikan gerakan yang sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan tersebut ia juga merasakan kekuatan yang sangat besar. Segera ia menggemgam erat gagang Dayung Penakluk Samudera. Ia silangkan dayung tersebut di depan dada. Telapak tangan kirinya lalu menempel pada bilah dayung.

“Brak!”

Tempuling menikam bilah dayung. Bintang merasakan getaran yang sangat keras. Sisik Raja Naga meredam lebih dari separuh getaran tersebut, sehingga genggaman pada tempuling tak terlepas.

Perahu Pinisi Penakluk Samudera terombang pelan. Terdengar decur air laut meriak ke segala penjuru. Pada saat yang sama, terdengar pula decur air dari Dayung Penakluk Samudera hendak meredam tikaman tempuling. Sepertinya ini merupakan mekanisme pertahanan dasar dari dayung besar itu. Meski demikian, ujung tempuling yang sangat runcing, secara alami tak bisa diredam oleh pertahanan air.

Kedua tangan Ammandar Wewang yang tadinya berniat menahan serangan Bintang di depan dada, kini merasakan senjata pusaka berbentuk dayung besar itu menempel ke dadanya. Lalu, tubuh bagian atas yang besar itu terhuyung ke belakang. Ammandar terlihat akan kehilangan keseimbangan. Ia tak menyangka bahwa kekuatan tikaman tempuling itu sedemikian besarnya. Kaki kirinya mau tak mau menapak selangkah ke belakang…

Akan tetapi, tempuling masih terus merangsek menikam! Tubuh besar Ammandar masih terdorong mundur. Kaki kanannya pun terpaksa menapak lebar ke belakang. Ammandar kini berada dua langkah keluar dari lingkaran.

Posisi Bintang masih berada di udara. Lututnya lalu menekuk… dan melangkah! Bintang sebelumnya sempat melempar empat Segel Penempatan yang disusun berlapis dua, sehingga kini ia menapak dan mendorong dengan kaki kanan… lalu kaki kiri. Di udara dan dalam posisi menikam, Bintang terlihat seperti menapak tangga. Ammandar terdorong dua langkah lagi…

Masih bisa! pikir Bintang. Segera ia menambah tenaga dalam ke arah tempuling. Biasanya, berat maksimal tempuling setelah dialiri tenaga dalam adalah 200 kg. Bintang memaksakan tambahan tenaga dalam sehingga berat tempuling bertambah lagi 50 kg, menjadi 250 kg. Lawannya kembali terdorong selangkah!

Lima langkah… Ammandar Wewang, Sang Pelayar Langit, terdorong lima langkah keluar dari lingkaran!

Bintang lalu mendarat ringan persis di dalam lingkaran.

“Hahaha…” Ammandar tertawa lepas. Ia yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5, sadar betul bahwa di saat memegang senjata pusaka Dayung Penakluk Samudera, malah terdorong lima langkah ke belakang. Selama ini, tak banyak ahli setingkat yang bisa mendorong tubuh gempalnya, bahkan ahli yang berada pada beberapa tingkat di atas pun, pasti akan mengalami kesulitan…

“Aku terdorong lima langkah!” sergah Ammandar Wewang, yang ditutup dengan tawa lebar.

“Kini giliranmu,” Bintang mempersilakan.

“Pulihkanlah dulu tenaga dalammu,” jawab Ammandar ringan.

Bintang menyadari bahwa serangan tadi memakan hampir 50% tenaga dalam. Memanglah tak sebesar konsumsi jurus Tinju Super Sakti. Andai saja ia tadi melontarkan Tinju Super Sakti, maka hasilnya pastilah lebih signifikan. Namun, dengan demikian ia akan membuka rahasia tentang maha jurus silat tersebut. Semakin banyak yang tahu tentang jurus Tinju Super Sakti, nantinya pastilah ada yang mengaitkan dengan jati diri Komodo Nagaradja. Mereka akan mengira-ngira bahwa siluman sempurna itu masih hidup. Lalu, jika sebuah perguruan yang ingin mempelajari jurus tersebut mencari-cari, bukan tak mungkin mereka bisa menemukan dan membuka segel Pulau Bunga. Tubuh siluman sempurna tersebut sedang tak berdaya di sebuah gua di pulau itu.

“Aku sudah siap,” ujar Bintang.

Yang tak seorang pun tahu, sejak mendarat tadi Bintang telah membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyerap dan menyuling tenaga dalam.

“Jangan terima serangan lawan mentah-mentah…” Komodo Nagaradja menasehati. “… kecuali jika kau ingin segera terlontar sampai ke Pulau Dewa,” tambah guru kesayangannya itu.

“Bersiaplah,” ungkap Ammandar. Seperti biasa, setiap kata dan kalimat yang ia lontarkan selalu dibuka dan atau ditutup dengan tawa lebar.

Ia berdiri dua langkah tepat di hadapan Bintang. Memasang kuda-kuda dengan lutut kedua kaki ditekuk keluar. Kemudian Ammandar memuntir pinggangnya ke arah kanan. Sikut kirinya menekuk di depan sejajar dada, sedangkan tangan kanannya yang memegang Dayung Penakluk Samudera lurus dan rendah di belakang. Dari kuda-kudanya tersebut, terlihat jelas bahwa serangan Ammandar adalah tebasan tangan kanan dengan kekuatan putaran pinggang dan sapuan bahu.

Dengan bobot tubuh yang demikian gempal, terpaan anginnya saja mungkin dapat melayangkan tubuh Bintang.

“Hragh!” Ammandar Wewang setengah mengaum menghentakkan napas. Dari Dayung Penakluk Samudera kemudian terlihat bayangan gelombang laut yang perlahan-lahan menyebar dan membesar. Gelombang tersebut memang ilusi adanya, tapi memancarkan aura yang perkasa mendominasi.

Sapuan dayung bergerak bersamaan dengan gelombang ombak deras secara diagonal. Lintasannya akan menyapu dari bawah menyerong ke atas dan akan tepat menghantam sisi rusuk Bintang. Terdengar pula suara gemuruh ombak yang siap menghempas apa pun di hadapannya.

Tepat di saat Ammandar bergerak, Bintang melontar lima Segel Penempatan. Lima adalah jumlah maksimal segel yang dapat ia rapal dalam satu gerakan. Lalu, ia pun memasang Tempuling Raja Naga dengan posisi menikam ke bawah…

Sedikit lagi dayung besar itu akan bersentuhan dengan tempuling, Bintang segera menyerongkan tempuling diagonal sesuai arah tebasan. Dua Segel Penempatan terpasang di sisi dalam pada pangkal dan ujung tempuling. Dengan demikian, selain mengandalkan otot dan sendi yang diperkuat dengan tenaga dalam serta Sisik Raja Naga, tempuling juga ditopang oleh Segel Penempatan!

Sedangkan tiga lagi Segel Penempatan yang sebelumnya dilempar, dipasang dengan posisi sedemikian rupa untuk membiaskan gelombang kesaktian unsur air yang menyertai tebasan. Formasi Segel Penempatan dan gelombang air dalam hal ini memiliki sifat yang sama, yaitu sama-sama ilusi tapi berkekuatan nyata.

Jadi, sejak awal tujuan Bintang bukanlah menahan serangan dayung dan gelombang yang datang bersamaan, melainkan membelokkan keduanya!

Hal ini Bintang lakukan karena menyadari potensi kekuatan serangan dan menerjemahkan anjuran gurunya untuk tidak menerima langsung tebasan Dayung Penakluk Samudera.

Akan tetapi, teknik ini tidaklah memadai. Dua Segel Penempatan di bawah dan atas tempuling segera lenyap, sedangkan ketiga Segel Penempatan yang bertujuan membelokkan gelombang laut hanya bertahan dalam beberapa kedip mata. Maksimal, cara ini hanya mampu membelokkan sekitar 30% dari tenaga tebasan. 10% lagi tenaga sapuan Ammandar kemungkinan besar bisa diserap oleh Sisik Raja Naga.

Kini Bintang terpaksa bertahan mengandalkan kekuatan raga dan tenaga dalam semata. Andai saja Tempuling Raja Naga memiliki unsur kesaktian seperti halnya Dayung Penakluk Samudera…

Pernah Bintang berpikir bahwa seharusnya tempuling tersebut memiliki kesaktian unsur tanah, selayaknya sang siluman sempurna yang membuat dan menganugerahi. Dengan demikian, kekuatan bertahan Tempuling Raja Naga akan dua atau tiga kali lipat lebih besar. Namun, ia urung mempertanyakan hal tersebut kepada gurunya karena tak hendak dikatakan ‘murid tak tahu diuntung’.

60% tenaga yang tersisa terus mendorong Bintang… Selangkah… Dua langkah... Tiga… Empat…

“Alirkan seluruh sisa tenaga dalam ke Sisik Raja Naga!” tiba-tiba Komodo Nagaradja berseru.

Di saat genting, Bintang pun menuruti perintah gurunya. Biasanya, mengaktifkan Sisik Raja Naga tidak memerlukan tenaga dalam. Bintang hanya perlu memberi perintah menggunakan mata hati, tapi kini ia mengalirkan seluruh tenaga dalam tersisa ke arah pelindung yang sedang aktif di kedua kaki dan lengan tersebut.

Menerima aliran tenaga dalam, Sisik Raja Naga terlihat mengembang. Bintang merasakan sensasi yang tak pernah ia alami sebelumnya. Rasanya seperti memakai balon pelampung yang kosong. Lalu, pelindung itu menyerap daya serang Ammandar!

Selama ini, kelebihan Sisik Raja Naga adalah sebagai pelindung yang ringan, lentur dan tak mudah ditembus, serta kemampuan meredam getaran sampai batasan tertentu. Namun kini, sisik tersebut menyerap daya serang lawan. Kemampuan penyerapan ini, meski demikian, berbanding lurus dengan jumlah tenaga dalam yang dialirkan Bintang. Dengan kata lain, bila Bintang mengalirkan 10 tenaga dalam, maka Sisik Raja Naga hanya dapat menyerap daya serang setara 10 tenaga dalam pula.

Dengan demikian, tenaga yang datang dari Ammandar dengan mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 5, tentu lebih besar dibandingkan Bintang yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3. Segera daya tampung Sisik Raja Naga mencapai ambang batas. Ketika ini terjadi, tiba-tiba Sisik Raja Naga menghasilkan ledakan!

Ledakan tenaga dalam tersebut membuyarkan laju hantaman dayung dan gelombang air. Ledakan tersebut juga menetralkan sisa daya serang. Ammandar terhuyung tiga langkah ke belakang… Begitu pula dengan Bintang… ia juga terhuyung tiga langkah lagi ke belakang!

Dalam dua pertarungan ini, ketika Bintang menyerang, Ammandar terdorong lima langkah. Sedangkan saat bertahan, Bintang sudah terdorong tujuh langkah… Kalah.

“Lengah…” Nuku Tidore kembali melangkah ke dalam kabin perahu Pinisi.

“Wow! Kita tiada menduga!” Zilaz Parare terkejut.

 “Laut tak pernah berbohong…” bisik Atje Pesut, masih berdiri di haluan perahu.

“Ammandar kalah!” seru Keumala Hayath menatap Bintang seolah tak percaya.

“Hahaha…” tiba-tiba Panglima Segantang tertawa lebar.

Bintang tertegun. Baru kali ini ia melihat Panglima Segantang tertawa sedemikian lebarnya. Biasanya, Panglima hanya tersenyum kaku atau menampilkan ekspresi penuh semangat. Namun, yang lebih mengejutkan, semua orang yang ada di atas perahu mengindikasikan bahwa Ammandar kalah. Bagaimana bisa? Aku terdorong dua langkah lebih jauh…

“Hahahaha…” Ammandar Wewang menimpali tawa Panglima.

“Saat diserang aku mundur lima langkah, namun Bintang mendarat di tempat. Saat menyerang aku memukul mundur tujuh langkah, namun pada saat yang sama tak dapat mempertahankan posisi serang. Malah, sebagai penyerang aku pun dipaksa mundur tiga langkah… Sesuai aturan, dengan demikian aku hanya mampu mendorong empat langkah…”

Hah?! Apakah ada aturan seperti itu? Benarkah ada hitung-hitungan pengurangan langkah? Bintang bertanya-tanya dalam hati. Sepertinya memang ada… Meski terkejut dan merasa bahwa Ammandar tidak sepenuhnya bersungguh-sungguh dalam adu kekuatan tadi, pembawaan dan raut wajah Bintang tetap tenang.

“Hahahaha…” kembali Ammandar tertawa sambil memegang perutnya. Walau kalah, ia tetap senang. Sungguh positif sekali sifat anak remaja itu.

“Giliran siapakah Dayung Penakluk Samudera kali ini?”

Ammandar lalu melempar dayung besar itu ke arah haluan perahu. Atje Pesut menjulurkan lengannya dengan gemulai. Pegangan yang berbentuk bundar di pangkal Dayung Penakluk Samudera terlihat membesar dan bersarang di pergelangan tangan gadis berambut pirang tersebut. Seketika itu pula gagang dan bilah dayung berubah menjadi lebih pendek dan ramping serta membelah diri. Lalu, dayung tersebut berputar deras dengan pergelangan tangan Atje Pesut sebagai sumbunya. Dayung Penakluk Samudera kini terlihat persis seperti baling-baling kincir angin!

“Bukan, bukan Atje,” seru Zilaz Parare. “Keumala Hayath punya giliran,” tambahnya.

Masih berputar di pergelangan tangannya, Atje Pesut lalu melakukan gerakan mendorong. Dayung yang telah berubah bentuk tersebut kini melesat ke arah Keumala Hayath. Sigap, Keumala Hayath menangkap dengan kedua tanggannya. Anehnya lagi, begitu tiba dalam genggaman Keumala, dayung patah menjadi dua bagian. Bagian bilah di tangan kiri membesar berbentuk perisai, sedangkan bagian pegangan di tangan kanan berubah menjadi pedang berukuran sedang. Sepasang pedang dan perisai tempur!

“Jangan heran…” ungkap Komodo Nagaradja menebak pikiran Bintang. “Dayung Penakluk Samudera dapat berubah bentuk sesuai dengan kecakapan penggunanya.”

“Benar, kini memang giliranku.”

“Kalian masih saja memperlakukan Dayung Penakluk Samudera sebagai senjata bergilir setiap selesai satu pertarungan?” Panglima berujar kepada Kemala Hayath. Tatapan matanya tak dapat menyembunyikan hasrat teramat sangat ingin memegang dayung tersebut.

“Gunakanlah selama kau masih berada di atas perahu ini...,” Keumala Hayath melempar perisai dan pedang tersebut ke arah panglima. Lalu ia memutar badan dan naik ke anjungan perahu.

Panglima menangkap Dayung Penakluk Samudera yang berbentuk perisai dan pedang dengan kedua lengannya. Saat tiba dalam genggaman, dayung tersebut kembali menyatu dan berubah bentuk. Gagangnya memendek, lingkaran pegangan di panggal mengecil, dan bilahnya memanjang… lurus, pipih tapi besar. Meski tetap memiliki ciri-ciri dayung, bentuknya kini lebih mirip dengan… pedang besar!

“Guru…” Bintang hendak memastikan sesuatu.

“Kau benar,” sela Komodo Nagaradja tanpa menunggu Bintang mengajukan pertanyaan. “Dayung itu dapat digunakan oleh sesiapa saja tanpa pandang bulu. Sifat yang sedemikian adalah kelebihan sekaligus kelemahan.”

Bintang penasaran. Seperti apa jadinya kalau senjata itu dirampas musuh. Lalu, seperti apakah bentuk Dayung Penakluk Samudera berwarna biru tua itu bila jatuh ke tangannya.

“Aku tak berhak mengayunkan Dayung Penakluk Samudera…” Panglima melempar kembali dayung tersebut ke arah Ammandar.

“Baiklah… Persiapkan pelayaran menuju Pulau Dewa!” seru Ammandar.

“Nuku Tidore, kumohon bantuan mengabarkan armada laut Pulau Logam Utara terdekat. Pinta mereka menjemput dan mengantarkan kapal milik Kerajaan Parang Batu pulang.”

“Swush!” Tiba-tiba bayangan seekor elang melesat keluar dari kabin Pinisi Penakluk Samudera. Elang tersebut bukanlah elang sungguhan, melainkan elang ilusi yang sekujur tubuhnya berwarna hitam pekat. Ukuran tubuhnya sedikit lebih ramping daripada Elang Laut Dada Merah yang pernah Bintang temui di Pulau Paus. *

Apakah Nuku Tidore memiliki keterampilan khusus pawang? Bintang bertanya dalam hati. Namun, yang melesat terbang barusan bukanlah burung siluman sungguhan.

“Aku perlu sedikit dorongan… Zilaz Parare, kumohon…” seru Ammandar lagi.

Zilaz Parare meletakkan piring penganan, lalu melangkah santai ke arah buritan pinisi. Ia mengambil posisi berdiri yang nyaman, lalu menengadahkan kedua telapak tangan setinggi rusuk.

“Mutiara Api!”

Seketika itu juga keluar bola-bola bercahaya berwarna kuning keemasan dari kedua telapak tangannya. Empat jumlah bola-bola tersebut, berukuran sebesar batok kelapa, dan bersinar seolah matahari-matahari kecil. Suasana sekitar perahu kemudian menjadi terang benderang. Kegelapan petang jelang malam dirompak habis.

“Duar!” tetiba keempat bola api tersebut meledak! Gelombang ledakan mengakselerasi Pinisi Penakluk Samudera untuk merangsek maju!

“Hop!” tetiba Ammandar melompat ke sisi atas anjungan perahu.

“Amuk Angin Bahorok!”

Ammandar mengangkat dagu sambil menarik napas panjang. Terlihat jelas perut buncitnya mengempis… lalu dadanya mengembang. Kemudian ia menghembuskan angin kencang dari mulutnya ke arah jalinan layar. Saking kencangnya angin yang ia tiupkan, sampai-sampai terdengar suara bergemuruh.

Berkat akselerasi ledakan Zilaz Parare dan dorongan badai angin Ammandar Wewang, Pinisi Penakluk Samudera melesat ke arah barat daya. Di dalam anjungan, terlihat Keumala Hayath memegang kemudi perahu.

Bintang membayangkan andai saja dalam pertarungan tadi Ammandar menyerang dengan Dayung Penakluk Samudera, sekaligus mengerahkan kesaktiannya. Kombinasi unsur air dan angin mungkin saja dapat mewujudkan komentar Komodo Nagaradja… bahwa Bintang akan tersapu jauh sampai ke Pulau Dewa.

“Panglima, sungguh setangguh itukah Ammandar Wewang?” bisik Bintang pelan.

Panglima menoleh, “Seingatku, yang terkuat di antara mereka adalah… Si Putri Duyung… Atje Pesut.”

Spontan Bintang menoleh ke arah haluan perahu. Atje Pesut masih berdiri tenang menatap ke depan. Rambut pirang dan gaun panjangnya berkibar menantang angin.

“Atje memiliki keterampilan khusus peramal,” sambung Panglima.

“Manusia berdarah siluman!” sela Komodo Nagaradja. “Kemungkinan besar terlahir dari salah satu suku yang mendiami sungai terbesar di Pulau Belantara Pusat.”



Catatan:

Sekali lagi, semoga menikmati dua episode tentang ‘Penakluk Samudera’. Semoga tidak menimbulkan rasa penasaran berlebih… Bagaimana mereka bertemu? Apa saja petualangan yang telah mereka lalui? Kemana nantinya mereka berlabuh?

Sayangnya, Panglima Segantang tak bisa membawa Dayung Penakluk Samudera...