Episode 47 - Penakluk Samudera (1)


Hari menjelang petang. Kapal yang kehilangan tiang layar kini mengapung pelan di tengah lautan. Kapten dan para anak buah kapal sedang mempersiapkan layar darurat agar mereka dapat melanjutkan perjalanan.

Kapten kapal menyadari betul bahwa mereka sudah tersimpang arah. Ia memperkirakan bahwa kapal kini mengapung di perairan Pulau Logam Utara. Dengan demikian, mereka malah menjauh dari tujuan pelayaran. Ketibaan di Pulau Dewa dipastikan tertunda.

“Kawan Bintang, jurus apakah gerangan tadi?” tiba-tiba Panglima bertanya. Ia sudah tak dapat menahan diri. Kedua pupil di bola matanya demikian besar.

Bintang masih merahasiakan Tinju Super Sakti, bahkan dari Panglima. Saat ini belum waktunya membuka rahasia itu kepada siapa pun.

“Jurus simpanan,” ungkap Bintang singkat. Ia baru saja selesai merapal jurus Delapan Penjuru Mata Angin untuk menyerap tenaga alam. Tak sampai 15 menit, 80 persen tenaga dalam yang hilang telah tergantikan.

“Apakah Tinju Super Sakti?” Sebentar lagi Panglima akan rela bersembah sujud saking ingin mengetahui nama jurus tersebut.

“Jurus simpanan,” kembali Bintang menjawab singkat.

Belum sempat Panglima merengek lebih lanjut, tiba-tiba salah seorang anak buah kapal berteriak… “Ada perahu layar dari arah utara!”

“Cepat pastikan, apakah perahu armada kerajaan, perahu dagang, atau perahu bajak laut!” balas sang Kapten memberi perintah.

Tak terlihat ada bendera yang menunjukkan jati diri perahu. Sebagaimana diketahui umum, perahu armada kerajaan pastilah memasang panji-panji kerajaan. Perahu dagang juga memasang umbul-umbul serikat dagang dimana perahu tersebut bernaung. Sedangkan perahu bajak laut… perahu bajak sering menyamar dengan memasang panji-panji atau umbul-umbul. Namun, perahu yang sedang mendekat itu tidak menunjukkan identitas sama sekali.

Perahu layar tersebut semakin mendekat. Bintang mengamati dengan seksama. Yang paling mencolok dari perahu tersebut adalah haluan perahu yang terlihat sedikit melengkung panjang ke depan atas. Lalu, terlihat dua tiang layar utama, berbeda dengan perahu yang kini ditumpangi karena hanya terdapat satu tiang layar. Dari haluan perahu, terkembang tiga lembar layar berbentuk segitiga yang berjejer mendatar dan dihubungkan ke tiang layar pertama. Tiang layar pertama juga mengikat dua lagi layar utama, dengan posisi atas bawah. Layar di bawah berukuran paling besar, hampir tiga kali lebih besar dari layar di atasnya. Kemudian, pada tiang kedua, mengembang lagi sepasang layar dengan posisi atas bawah, walau keduanya berukuran lebih kecil. Keseluruhan layar berwarna biru tua.

Ukuran panjang perahu sekitar 25-30 m dengan lebar sekitar 6-8 m. Bila dilihat perbandingan panjang dan lebar, maka lambung perahu tersebut cukup ramping. Lambung terbuat dari kayu yang mengkilap. Di sisi belakang, buritan, terdapat sebuah anjungan dua lantai. Kemungkinan lantai dasar adalah kabin.

Meski tak memiliki pengalaman dalam hal perahu, Bintang dapat memastikan bahwa perahu itu dibuat oleh tangan-tangan terampil. Ia sungguh terpesona akan keindahan perahu di depan matanya.

“Perahu pinisi!” ungkap Panglima yang sedari tadi juga mengamati perahu tersebut.

Sekarang jarak perahu berjenis pinisi dengan kapal yang ditumpangi Panglima dan Bintang hanya terpaut beberapa puluh meter. Anehnya, tak terlihat seorang pun anak buah kapal yang bertugas di geladak, maupun kapten perahu di atas anjungan.

Panglima memicingkan kedua bola matanya. “Ada yang aneh…” gumamnya pelan.

Bintang menangkap kehadiran mustika tenaga dalam dari arah perahu tersebut. Lima jumlah mereka, pikirnya. Mengapa mereka tak menampakkan diri? Apakah benar perahu bajak laut?

Jarak perahu dan kapal yang terombang-ambing dimainkan ombak, semakin memendek. Keduanya hanya terpisah jarak sekitar sepuluh meter.

“Siapa gerangan di sana?!” teriak Kapten Kapal Perang Kerajaan Parang Batu. Biasanya, bilamana melihat panji-panji Kapal Perang, perahu bajak laut akan berupaya menghindar. Tapi, tidak dengan perahu ini.

“Kawan Bintang, mari kita bajak perahu itu!” ajak Panglima.

Bintang hanya terdiam. Ia pura-pura tak mendengar gagasan tindak kejahatan tersebut. Seandainya bisa meminta pemilik perahu untuk mengantar, maka akan lebih baik. Namun, sekali lagi, masih tak terlihat penumpang perahu.

Kini jarak terpisah sekitar enam meter...

Tetiba-tiba dua buah bayangan melesat secepat kilat! Bayangan pertama bentuknya bulat besar, sedangkan bayangan kedua lebih langsing. Keduanya mengarah ke Panglima!

“Brak!” sebuah senjata besar menghantam dari atas ke arah kepala, dan segera ditangkis oleh Parah Hitam. Telapak kaki kanan Panglima terhenyak ke dalam geladak kapal!

Di saat Panglima menangkis, bayangan kedua lalu melesatkan tendangan ke arah perutnya. Panglima tak bisa bergerak karena tekanan dari atas dan kaki yang terkunci.

Bintang yang berada di sebelah Panglima reflek bergerak dengan melancarkan sebuah tendangan sapuan untuk melindungi perut Panglima. Saat kedua tendangan bertemu, Bintang merasakan kelembutan sekaligus kekuatan pada saat yang bersamaan. Bintang lalu terdorong empat sampai lima langkah ke belakang!

Begitu serangan mendadak tersebut digagalkan, kedua bayangan tersebut serta merta melesat kembali ke perahu pinisi. Gerakan keduanya sungguh seirama dan cepat. Hanya dalam dua kedipan mata, mereka menyerang dan kembali mundur!

Bintang baru saja menyeimbangkan tubuh ketika sudut matanya melihat Panglima melompat ke arah perahu Pinisi. Sambil mendecakkan lidah, ia pun segera menyusul dan melompat ke perahu tersebut.

Sesampai di atas geladak perahu pinisi, Bintang melihat Panglima berdiri tegak. Parang Hitam telah kembali menyoren di punggungnya. Di hadapan Panglima berdiri seorang anak remaja seusia. Tinggi mereka hampir setara, namun bentuk tubuhnya bulat dan besar. Bila panglima berotot kekar, maka anak remaja tersebut berotot gemuk.

Ia mengenakan baju lengan panjang berwarna gelap yang dibiarkan terbuka, sehingga menyembulkan perut besarnya. Celana yang ia kenakan mirip Panglima, yaitu longgar, dengan panjang hanya sampai sedikit di atas mata kaki. Di kepalanya melingkar sebuah ikat yang khas, dimana bagian depannya berbentuk segitiga. Itu adalah tanjak.

Yang membuat Bintang lebih terkesima, adalah sebuah dayung besar yang kini ia sandarkan di punggung, persis di balik leher. Dayung selalu terdiri dari bilah untuk mengayuh air, gagang untuk direngkuh dengan tangan kanan, dan pegangan untuk ditopang oleh tangan kiri.

Bilah dayung tersebut lebarnya hampir dua jengkal dan panjangnya hampir tiga jengkal. Tebalnya sekitar dua jari orang dewasa. Setelah bilah dayung, disusul gagang bulat sepanjang setengah lengan orang dewasa. Di bagian pangkalnya, terdapat pegangan melingkar berlubang seperti gelang. Padahal, biasanya bagian pegangan di pangkal dayung berbentuk seperti huruf ‘T’ bukanlah ‘O’.

Dayung besar tersebut berwarna biru tua. Panjang keseluruhan dayung mencapai satu setengah meter. Kelihatannya sangatlah berat!

Bila dibandingkan dengan Parang Hitam Panglima, maka dayung tersebut kelihatan sangat gempal. Dayung ini jugalah yang menebas dan ditangkis oleh Parang Hitam tadi. Bintang merasakan aura yang berbeda dari dayung tersebut.

“Apakah kau pernah mengetahui tentang Tujuh Senjata Pusaka Baginda?” tiba-tiba mata hati Komodo Nagaradja mengajukan pertanyaan. *

“Kabarnya, Tujuh Senjata Pusaka Baginda merupakan senjata pusaka milik Sang Maha Patih saat Perang Jagat dulu,” jawab Bintang cepat, masih mengamati remaja gempal di depannya.

“Salah,” timpal Komodo Nagaradja. “Tujuh Senjata Pusaka Baginda merupakan senjata-senjata milik para Jenderal Bhayangkara.” **

“Oh…” Bintang kini mengamati dayung tersebut.

“Dayung itu adalah salah satunya… Dayung Penakluk Samudera!”

Masih dalam keterpanaan, Bintang merasakan pandangan tajam yang datang dari sebelah remaja gempal itu. Kini kedua mata Bintang bertatapan dengan sepasang mata seorang gadis remaja. Wajahnya jelita, bentuk tubuhnya terbilang tinggi langsing. Anehnya, ia mengenakan selendang yang menutup sekujur kepala, menyembunyikan setiap helai rambut. Pakaiannya adalah baju lengan panjang dan celana longgar yang panjang sampai hampir menyentuh geladak perahu. Ia tidak menenteng senjata.

“Ammandar Wewang! Keumala Hayath!” tiba-tiba Panglima membentak. “Beraninya kalian membokongku! Mari kita selesaikan perselisihan ini sekarang juga!”

Rupanya Panglima mengenal kedua tokoh tersebut!

“Hahaha… Panglima Segantang… i’o masih saja terlalu tegang. Hahaha…” gelak remaja bernama Ammandar Wewang. “Kami hanya menyapa, sudah lama tak bersua.”

“Panglima Segantang! Soe kawanmu itu?” tanya gadis bernama Keumala Hayath.

Logat keduanya sangat berbeda. Bintang hanya bisa menebak-nebak...

“Hahaha…. Sudah, sudah. Tidak sopan bila kita tak memperkenalkan diri kepada kawan Panglima… Hahaha…” seru si gempal.

“Namaku Ammandar Wewang, Sang Pelayar Langit!”

Ta punya nama Nuku Tidore! Si Kapitan Perang!” tiba-tiba terdengar suara tinggi melengking. Disusul seorang remaja berkulit gelap keluar dari kabin.

Muncul seorang lagi dengan logat yang sama sekali berbeda, pikir Bintang.

“Panglima Segantang, Sang Siluman Silat!” Sepertinya Panglima tak mengenal tokoh yang baru muncul itu.

“Kemala Hayath, Sang Laksamana Muda.”

Semua kini menatap ke arah Bintang. Sepertinya menunggu ia menyebutkan nama…

“Bintang Tenggara,” akhirnya Bintang bersuara…

Namun, semua masih menatap, termasuk Panglima… Seolah menunggu sesuatu…

“Hahaha…” Ammandar Wewang kembali tertawa lebar sambil menatap Bintang. “Mari kita ulangi sekali lagi…” ucapnya menutup tawa.

“Ammandar Wewang, Sang Pelayar Langit!”

“Nuku Tidore, Si Kapitan Perang!”

“Panglima Segantang, Sang Siluman Silat!”

“Kemala Hayath, Sang Laksamana Muda.”

Kini kembali giliran Bintang…

“Bintang Tenggara… Sang Lamafa Muda…?” ujarnya setengah ragu.

Bila setelah menyebutkan nama diharuskan menambahkan nama panggilan, lalu mengapa Panglima Segantang menyebut diri sebagai Sang Siluman Silat? Bukankah ia Si Jenius Silat…? Tunggu… setelah dipikir-pikir, memang kelebihan terbesar Panglima Segantang adalah pada naluri bertarung layaknya naluri binatang siluman…

“Atje Pesut, Si Putri Duyung…”

Bintang terkejut! Sebelum suara itu terdengar, sama sekali tak ia sadari kehadiran sesiapa pun di belakangnya. Bintang lalu memutar tubuh dan menengadah… Seorang gadis cantik berkulit putih mendekati pucat… Rambutnya berwarna kekuningan, seperti rambut jagung. Ia melangkah di atas salah satu tali layar. Kini ia berjinjit di haluan perahu. Ia tak mengenakan alas kaki. Sapuan angin laut membelai gaun putih dan rambut kuning keemasan.

“Angin berujar… petang ini kita akan melakukan sesuatu yang berbeda,” gumamnya pelan.

Mandira bebye, Bintang Tenggara! Aya pu nama Zilaz Parare, Si Mutiara Api!” tiba-tiba muncul lagi seorang tokoh. Kedua tangannya memegang piring, sepertinya ia baru selesai memasak penganan petang.

“Selamat datang wahai Bintang Tenggara, Sang Lamafa Muda, di atas Pinisi Penakluk Samudera!” ungkap Ammandar Wewang. Lalu, ia mengangkat kepala ke belakang dan tertawa lebar. Tangan kirinya memegang perut yang turun naik karena gelak tawa tersebut.

“Salam hormat kepada Lima Sekawan Penakluk Samudera. Perkenalkan hamba adalah Kapten Kapal Perang dari Kerajaan Parang Batu, hendak mengantarkan tetamu Kerajaan Parang Batu ke Pulau Dewa.”

Lima Sekawan Penakluk Samudera? Kapten Kapal adalah jabatan yang cukup tinggi, apa alasannya ia begitu hormat kepada kelima anak remaja di atas perahu pinisi ini?

“Mana ngoni punya layar?” tanya Nuku Tidore.

“Kemungkinan besar dihantam Panglima Segantang,” sela Keumala Hayath sinis.

“Mengapa kalian berkumpul di perairan ini? Bukankah kalian bertanggung jawab atas armada perang di kerajaan kalian masing-masing?” seru Panglima Segantang. Matanya menyipit, entah apa yang ia curigai.

Bintang mulai dapat membaca situasi. Kemungkinan besar kelima remaja ini adalah pemuda-pemudi berbakat di kerajaan mereka masing-masing. Bahkan, besar kemungkinan mereka adalah calon pemimpin tertinggi armada perang tiap-tiap kerajaan..

“Kami sedang berputar-putar tanpa haluan…” jawab Ammadar Wewang, kembali ditutup dengan gelak tawa.

“Kebetulan sekali… Sekarang kalian antarkan kami ke Pulau Dewa!” seru Panglima bersemangat.

“Hm… Haruskah kita mengantar mereka ke pulau Dewa?” Ammandar Wewang bertanya kepada teman-temannya.

“Aku menolak!” seru Keumala Hayath.

“Mari temani mereka,” jawab Zilaz Parare sambil menawarkan pisang goreng.

Ta tidak setuju,” sahut Nuku Tidore. Kemudian ia kembali ke kabin perahu.

“Laut berkata… antarkan mereka…” Atje Pesut setengah berbisik.

“Hahahaha… rupanya pemecah kebuntuan pemungutan suara jatuh padaku,” Ammandar Wewang terlihat sangat senang.

“Ammandar, lakukan pintaku,” seru Panglima.

“Mengapa kami harus melaksanakan permintaanmu,” sela Keumala Hayath. “Ketika kami membentuk Penakluk Samudera, engkau menolak ikut serta!”

Bintang hanya terdiam. Ia tak hendak ikut campur ke dalam apa pun itu permasalahan masa lampau di antara mereka. Akan tetapi, tanpa bantuan dari para Penakluk Samudera ini, kemungkinan besar mereka tak akan tiba di Pulau Dewa tepat waktu.

Panglima juga terdiam. Mendengar kata-kata Keumala Hayath tadi, lidahnya seperti kelu sampai tak bisa bersuara sama sekali.

Matahari semakin condong ke barat. Bintang dan Panglima masih berdiri di perahu pinisi yang dinamai Pinisi Penakluk Samudera. Jadi, ‘Penakluk Samudera’ adalah nama perahu pinisi, sekaligus nama kelompok mereka. Nama ini pastinya diambil dari nama Senjata Pusaka Baginda di tangan Ammandar, Dayung Penakluk Samudera.

“Kami akan mengantarkan kalian ke Pulau Dewa dengan satu syarat,” tiba-tiba Ammandar Wewang berujar.

“Apa syaratnya?” Panglima menimpali cepat.

“Kami akan mengantarkan kalian hanya jika Sang Lamafa Muda dapat mengalahkanku,” jawabnya disusul gelak tawa.

Hah!? Apakah ia serius? Bintang tak habis pikir. Pastilah ada kesalahan pengajaran dalam dunia persilatan dan kesaktian ini. Mengapa hanya untuk diantarkan saja, seseorang harus bertarung?

“Kasta Perunggu Tingkat 5… lalu dayung itu…” gumam mata hati Komodo Nagaradja. “Muridku, kau akan berhadapan dengan lawan yang sangat tangguh.”

“Baik, kami menerima tantanganmu!” jawab Panglima Segantang.

“Kawan Bintang,” ia lalu berbisik. “Lawanmu sangatlah berat, aku saja tak yakin bisa mengalahkannya.”

Bintang hanya menatap lesu. Bila kau sendiri tak yakin menang, mengapa menerima tantangan atas namaku.

“Aku juga memiliki syarat,” ungkap Bintang. “Syaratnya adalah aku yang menentukan jenis pertarungan kita.”

“Baiklah,” jawab Ammandar sambil kembali tertawa.

“Guru apakah kelebihan dayung besar itu?” mata hati Bintang menyapa Nagaradja.

“Dayung Penakluk Samudera… memiliki kesaktian unsur air. Tebasannya membawa gemuruh gelombang laut menghantam dan memporak-porandakan pertahanan lawan,” ucap Nagaradja.

“Perlu kau ketahui juga, setiap Senjata Pusaka Baginda tidak memiliki Kasta yang tetap. Ia akan tumbuh bersama empunya.”

Bintang berjalan ke tengah perahu. Ia lalu membuat lingkaran berdiameter lebih kurang 50 cm. Kemudian ia berdiri tepat di tengah.

“Sangat sederhana,” ungkapnya. “Salah satu dari kita berdiri di tengah lingkaran dan menerima satu serangan lawan. Bergantian. Kemenangan ditentukan oleh hitungan jumlah langkah mundur.”

“Hahaha…” gelak tawa menjadi jawaban atas syarat pertarungan tersebut. Bintang menganggap gelak tawa tersebut sebagai petanda setuju.

“Aku akan bertahan terlebih dahulu,” ungkap Ammandar sambil berjalan ke arah lingkaran.

“Silakan,” Bintang memberi jalan.

“Kawan Bintang, apakah kau yakin?” bisik Panglima. “Kemampuan bertahan dan menyerang senjata pusaka itu sungguh digdaya.”

“Aku sudah siap,” ungkap remaja gempal itu. Ia membentangkan kedua lengannya lebar. Bilah dayung besar tersebut hanya dipegang pada satu tangan saja.

“Tempuling Raja Naga!” seru Bintang sambil mengeluarkan senjata pusakanya.



Catatan:

*) Tujuh Senjata Pusaka Baginda pernah disebutkan dalam Episode 1.

**) Dalam Episode 23, Mayang Tenggara menyapa Komodo Nagaradja sebagai Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara.

Bila ada kemiripan antara nama-nama tokoh ‘Penakluk Samudera’ dalam episode ini dengan nama-nama tokoh pahlawan dari berbagai daerah di Nusantara, itu bukanlah kebetulan. Mohon maaf bila kurang berkenan, ceritera ini fiksi fantasi belaka.

Pengarang merekomendasikan untuk menelusuri asal dan pencapaian pahlawan-pahlawan yang namanya diadaptasi:

Ammandar Wewang (Sang Pelayar Langit): Ammana I Wewang

Keumala Hayath (Sang Laksamana Muda): Malahayati (Keumalahayati)

Nuku Tidore (Si Kapitan Perang): Nuku Muhammad Amiruddin

Zilaz Parare (Si Mutiara Api): Silas Papare

Atje Pesut (Si Putri Duyung): Atje Voorstad (Aminah Sjoekoer)

‘Penakluk Samudera’ sebenarnya adalah judul dari ceritera bersambung yang rencananya juga akan diterbitkan (Selasa dan Kamis) di situs ini. Serial novel ringan ini akan akan lebih banyak membahas ‘legenda bahari’ di Negeri Dua Samudera.

Perjalanan dimulai dari Ammandar Wewang mengumpulkan ‘party’ lalu mengelilingi Pulau Logam Utara, menjelajahi laut Negeri Dua Samudera, bahkan sampai berlabuh ke Benua Atas dan Benua Bawah.

Akan tetapi, penulisannya memerlukan waktu yang tak sedikit. Mendeskripsikan jenis perahu dan kebudayaan bahari tiap daerah memerlukan riset yang cukup mendalam.

Oleh karena itu, pengarang harus menunda novel ringan ini. Mohon maaf kepada sponsor. Rencana tinggal rencana.

Meski demikian, tokoh-tokoh yang hadir dalam dua episode ini, kemungkinan akan kembali muncul di masa depan.

Bila berkenan, mohon tanggapan atas episode ini.

Tabik.