Episode 15 - Menyerang Watugaluh


Terpukau dengan apa yang ada di hadapan kami, tanpa diperintah dan mungkin tanpa disadari kami berlutut memberi penghormatan kepada Prabu Hastabrahma. Tubuhku bergetar hebat, bukan karena rasa takut. Entah, ada perasaan aneh apa yang menghampiri diriku, seolah ada suatu harapan baru bagi kami semua, jawaban dari para Dewata.

“Semuanya berdirilah, jangan seperti itu. Saya belum… bahkan tidak pantas untuk mendapatkan kehormatan seperti itu. Simpan penghormatan kalian sampai aku memenggal keangkuhan Jayalodra dengan pedang ini, tentu semua dengan seizin para Dewa,” Hastabrahma mengangkat pedangnya ke atas dan langit pun menyambutnya dengan tiupan angin dan sambaran kilat yang muncul tiba-tiba menerangi langit malam.

Keesokan harinya, kami semua diminta kembali berkumpul di pendopo. Ternyata Prabu Hastabrahma hendak menyampaikan strateginya kepada kami. Berbeda dengan saat di Watugaluh, kali ini semua prajurit yang tersisa diberikan pengarahan untuk maju ke medan perang. Iya, benar… karena jumlah kami hanya sedikit, kami akan menggunakan seluruh kekuatan kami untuk menyerang.

“Kali ini kita akan mengerahkan seluruh kekuatan yang kita miliki. Kita akan menyerang langsung ke Watugaluh,” ungkap Prabu Hastabrahma kepada kami semua.

“Ampun beribu ampun Paduka, tapi bila kita mengerahkan seluruh pasukan, bagaimana dengan pertahanan kita. Bagaimana dengan Prabu Reksa Pawira dan yang lainnya?” tutur Surya Kusuma memerotes keputusan Hastabrahma.

“Kita mengerahkan seluruh pasukan saja belum tentu bisa mengalahkan Jayalodra dan bala tentaranya, apalagi bila membagi dua pasukan kita untuk menyerang dan bertahan,” Hastabrahma bangkit dari tempatnya duduk dan berjalan ke arah Surya Kusuma.

“Masalah Ayahanda Prabu dan yang lainnya tak perlu kau cemaskan. Untuk saat ini Jayalodra belum mengetahui keberadaan kita. Itu baik, kita manfaatkan kondisi itu sebagai pertahanan. Kita akan datang ke Watugaluh dari arah selatan dan Utara.

“Jayalodra tidak terlalu pintar, dia hanya licik. Dia tidak akan berpikir bila Ayahanda Prabu ada di Kedu yang letaknya di barat Watugaluh dan medannya sulit untuk dijangkau. Dengan menyerang melalui kedua arah tersebut saya yakin Jayalodra akan mengira bahwa Ayahanda Prabu dan keluarga keraton lainnya bersembunyi di Lor Gunung, atau pun salah satu adipaten di selatan.

“Ini memberikan kita kesempatan. Bila kita kalah, aku akan memberi isyarat ke langit dengan pedangku, akan kupancarkan api yang membelah langit. Dan yang berada di sini, dapat segera meninggalkan Kedu dan menuju ke tanah Pasundan,” Prabu Hastabrahma menepuk-nepuk kecil pundak Surya Kusuma dan terlihat sang Adipati manggut-manggut tanda bersepakat dengan Sang Prabu.

“Jadi kita akan menyerang melalui dua arah, selatan dan utara. Kita akan membagi dua pasukan, pasukan dengan jumlah terbanyak akan dipimpin oleh Soka Dwipa, menyerang dari arah selatan, sedangkan kelompok yang menyerang dari arah utara akan kupimpin langsung.

“Kelompok yang menyerang dari arah selatan bertugas untuk menciptakan kegaduhan, tarik sebanyak mungkin pasukan siluman Jayalodra menuju gerbang selatan. Masalah pelaksanaan akan diatur oleh Soka Dwipa, kami telah membicarakannya beberapa waktu lalu.

“Sementara pasukan yang menyerang dari arah utara, tugas kita adalah menyelinap masuk ke dalam Keraton Watugaluh dan menyerang Jayalodra. Bagaimana? Ada pertanyaan atau mungkin ada yang ingin menambahkan sesuatu? Silahkan, saya terbuka untuk itu,” perkataan Prabu Hastabrahma hanya diamini oleh seluruh orang yang hadir di pendopo. Semuanya terdiam dan memasang wajah seolah sedang berpikir.

“Oh iya, ada satu lagi yang kulewatkan. Aku membutuhkan bantuan… aku butuh seseorang yang tidak memiliki ilmu kanuragan, seorang yang energinya lemah sehingga sulit untuk terdeteksi. Apakah ada yang bersedia membantuku?”

Setelah Prabu Hastabrahma berkata seperti itu, prajurit milik Surya Kusuma dan Tedjo Alur saling celingukan dan mulai berbicara berbisik-bisik. Namun, berbeda dengan yang dilakukan mereka, prajurit keraton Watugaluh yang tersisa kompak memandang ke arahku, termasuk Soka Dwipa. Bahkan Darojat yang berdiri di sisiku menyenggol-nyenggol pundakku dengan sikutnya.

“Saya bersida Kanjeng Prabu,” ujarku lantang sambil maju ke hadapan Sang Prabu sambil memberinya hormat.

“Bagus! Kamu memiliki keberanian. Dan sepertinya, bisa saya rasakan kamu cocok untuk tugas ini.”

“Ampun beribu ampun kanjeng Gusti. Tapi, bila hamba boleh tahu, sebenarnya tugas seperti apa yang hendak Kanjeng Gusti percayakan kepada saya?”

“Tugas yang sangat penting dari seluruh perencanaan penyerangan ini. Kau harus mengendap-endap dan mengambil Mustika Karang Abang yang dikalungkan oleh Jayalodra di saat kami mengalihkan perhatiannya dengan pertarungan!”

Apa yang dikatakan oleh Prabu Hastabrahma sontak membuat tubuhku lemas. Leher bagian belakang dan wajahku terasa memanas. Telapak tanganku merasakan hawa dingin Tenggorokanku terasa sulit untuk menelan ludah. Jantungku berderap lebih kencang, sangat kencang tidak seperti biasanya.

Iya… itu semua karena aku telah membuat keputusan besar. Keputusan yang menentukan nasib seluruh negeri, keputusan yang menentukan nasibku, hidup atau matiku. Tapi rasanya seperti cenderung lebih dekat ke arah kematian.

“Kau tidak perlu cemas, aku sendiri yang akan menjamin keselamatanmu,” tutur Hastabrahma sambil memegang kedua bahuku dan tersenyum kepadaku.

“Baik. Semuanya, persiapkan diri kalian. Beristirahatlah karena besok pagi kita akan berangkat ke Watugaluh. Kalian siap mengalahkan Jayalodra? Kalian siap merebut kembali tanah kalian? Kalian siap menjadi bagian dari sejarah Watugaluh yang Agung?”

“Terimakasih… silakan kembali ke tempat istirahat kalian masing-masing, dan kita berkumpul esok pagi di depan keraton Kedu!” seruan dari Prabu Hastabrahma disambut semangat oleh para prajurit.

Semua prajurit sangat bersemangat saat menjawab seruan dari Sang Prabu. Namun lain denganku, aku terus memikirkan nasibku esok. Meski begitu, aku tidak ingin menunjukan keraguan dan rasa takutku di hadapan yang lainnya. Aku tidak ingin membuat mereka kecewa, aku ingin dapat menjadi sesuatu yang berarti bagi orang-orang di sekitarku meski itu artinya aku harus mengorbankan nyawaku sekalipun.

Di pagi yang berselimut kabut, di saat udara dingin masih terasa menyentuh kulit hingga menembus ke dalam tulang, seluruh prajurit gabungan milik keraton Watugaluh, Adipadi Tedjo Alur dan Adipadi Surya Kusuma sudah berbaris rapih di halaman Keraton Kedu. Kami semua memanjatkan doa agar perjuangan kami diberkahi oleh para Dewa.

Kami mulai berangkat menuju medan perang. Berbeda dengan biasanya, kali ini tidak ada umbul-umbul, tidak ada genderang atau pun terompet perang. Kami berangkat dengan senyap. Setelah keluar dari perbatasan Kadipaten Kedu, kami mulai berpencar. Kelompok yang dipimpin Soka Dwipa dan Surya Kusuma berbelok menuju selatan, sementara kelompokku yang dipimpin oleh Prabu Hastabrahma menuju ke arah utara.

“Ro… Kamu sudah berpamitan belum dengan Srinti?” tanya Darojat di tengah perjalanan.

“Kamu kok ya, sempet-sempetnya menanyakan hal seperti itu dalam kondisi seperti ini…”

“Jadi…. Belum pamitan?” tanya Darojat yang semakin penasaran dan menyodorkan Wajah sangarnya itu ke arahku.

“Sudah kok, tadi pagi sekali. Sebelum kita berkumpul, aku menemuinya terlebih dahulu.”

“Lantas…. Apa yang dia katakana, Ro?”

“Dia hanya berkata bahwa dia menitipkan cintanya kepadaku. Aku dimintanya untuk menjaga dan membawa cintanya itu kemanapun aku pergi.”

Tiba-tiba, sambil terus berjalan mengikuti rombongan, tangan Darojat mencengkeran bahuku.

“Kamu yang tabah ya, Ro…. Sepertinya kekasihmu sudah sangat siap melepasmu, merelakanmu untuk pergi dan tak kembali.”

“Weeehh… enak saja kamu kalau ngomong… masa seperti itu?” kusingkirkan tangan Darojat dari bahuku.

“Lah? Benar ‘kan? Dia bilang kalau kamu disuruh membawa cintanya kemana pun kamu pergi. Itu tandanya dia tahu dan sudah merelakan kamu ke nirwana. Tenang, Ro… kalau kamu sudah nggak ada, biar aku yang menjaga Srinti.” Perkataan Darojat yang membuatku terkejut, dia hanya bercanda atau selama ini diam-diam juga menyukai Srinti?

“Bukan seperti itu, justru kesebalikannya. Kekasihnya sangat berharap bila Kuntjoro dapat pulang dengan selamat, itu mengapa kekasihnya berkata demikian. Agar Kuntjoro dapat pulang dan mengembalikan cinta yang dititipkan padanya,” ujar Prabu Hastabrahma menengahi kami berdua sambil terus berjalan.

Tanpa terasa langkah kaki telah membawa kami cukup dekat dengan perbatasan Watugaluh. Kami tiba di dekat air terjun Panamangsa sesaat sebelum matahari kembali keperaduannya. Saat hari mulai gelap, kami memutuskan untuk mendirikan kemah di sini, di dekat danau kecil yang ada di pinggir air terjun. Diperkiraan rombongan kedua yang dipimpin oleh Soka Dwipa baru akan tiba di gerbang selatan pada esok pagi.

Entah apa yang ada di dalam pikiranku, rasanya malam ini berbeda dengan malam lainnya. Bintang yang bertaburan di atas langit malam seolah lebih indah dari biasanya. Ini aneh, padahal aku kan hendak melawan Jayalodra, tapi mengapa suasana malam ini terasa begitu indah untukku? Apa mungkin ini malam terakhirku sehingga para Dewa menghiburku dengan pemandangan indah?

“Kamu tidak beristirahaat? Beban yang kamu pikul memang berat, tapi percayalah, saya tidak akan membiarkanmu memikul beban itu sendiri,” ujar Prabu Hastabrahma yang menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Ampun Kanjeng Gusti, harus hamba akui bila hati hamba merasa takut,” ujarku sembari menghaturkan hormat kepadanya.

“Ro… kalau kamu masih memiliki rasa takut itu wajar. Tandanya kamu masih sadar bila kamu adalah manusia biasa. Yang harus kamu khawatirkan bukan itu, tapi apabila rasa takutmu itu menyebabkan penderitaan bagi orang yang kamu sayangi. Bukan demi dirimu, tapi demi merekalah kamu harus bisa menaklukkan rasa takut di hatimu. Sekarang kamu istirahatlah, besok pagi sebelum matahari terbit kita harus mulai memanjat tebing itu.” Apa yang disampaikan oleh sang Prabu menyentuh semangatku. Seolah aku mendapatkan keberanian untuk menghadapi hari esok.

“Kalau begitu hamba mohon pamit istirahat dulu, Kanjeng Prabu. Selamat malam.” Sang Prabu menjawab dengan anggukan kepalanya.

Aku pergi menghampiri Darojat yang sudah tertidur pulas. Kupinjam kakinya untuk kujadikan bantalan kepala. Kurebahkan tubuhku di atas tanah sambil memandangi bintang, kelopak mataku perlahan terasa berat hingga akhirnya aku pun terlelap di bawah cahaya malam.

Angin yang berhembus semakin lama kian menusuk tulang. Telapak tangan dan kakiku terasa sangat dingin. Tidurku terusik karenanya, gawat ini! Besok aku akan bertempur, tapi malamnya susah tidur begini. Tiba-tiba ada yang menepuk paha sebelah kiriku. Oh… ternyata aku dibangunkan oleh Adipati Tedjo Alur. Setelah membangunkanku, dia beralih membangunkan yang lainnya secara perlahan. Yang sudah bangun pun turut membantunya membangunkan prajurit lain yang masih terlelap.

Setelah membangunkan si Darojat, dengan mata yang masih berat aku bergegas menuju ke tepi danau kecil yang berada di bawah air terjun. Kumasukan kedua telapak tanganku ke dalam air dan terasa begitu dingin hingga telapak tanganku mengeriput seketika. Kuambil air dengan kedua telapak tanganku itu dan kubasuhkan ke wajahku. Rasanya sangat segar.

“Semuanya berkumpul! Kita akan segera menuju Keraton Watugaluh. Kita akan memanjat tebing ini dengan memanfaatkan tumbuhan merambat yang ada di sebelah sana,” ujar Prabu Hastabrahma sambil menunjuk ke tebing di timur air terjun.

“Kita harus tetap waspada dan menjaga satu sama lain. Kita akan melewati hutan yang penuh dengan hewan buas dan juga mungkin pasukan siluman Jayalodra. Jadi, semuanya persiapkan diri kalian dan berhati-hatilah,” tambah Prabu Hastabrahma sebelum memimpin kami berjalan menuju tebing timur.

Segera setelah tiba di tebing timur, secara bergantian kami panjat tebing yang menjulang angkuh itu. Angin yang berhembus cukup tenang sehingga memudahkan kami untuk meraih tanaman merambat untuk dipanjat. Ternyata memanjat terasa jauh lebih mudah ketimbang saat menuruninya. Seluruh pasukan bisa tiba di atas. Bahkan, sebelum matahari menampakkan binar cahayanya di ufuk timur.

Kami membentuk formasi limas dengan Prabu Hastabrahma memimpin di depan. Perlahan Masuk ke dalam hutan sambil tetap menjaga satu sama lainnya dengan mempertahankan bentuk formasi yang kami buat. Belum lama memasuki hutan, kami dikejutkan oleh serangan Banteng Hutan yang secara tiba-tiba melompat menyeruduk dari balik semak yang ada di sebelah kanan kami!

Aku dan Darojat yang berada di dalam formasi limas aman dari serangan itu. Namun, sayangnya prajurit yang berada di formasi luar harus tertanduk olehnya. Banteng hitam dengan mata yang berwarna merah itu mengamuk, mengacaukan formasi kami. Banteng itu mengoyang-goyangkan kepalanya dengan keras ke kiri dan kekanan, berusaha menyingkirkan seorang prajurit yang tertancap dan menggantung di tanduknya.

Tedjo Alur yang tampaknya kesulitan untuk mencari celah menyerang banteng itu, langkahnya maju mundur seolah bimbang hendak menyerang atau tidak. Sementara itu, Darojat berdiri di hadapanku, memasang badan untuk melindungiku. Dia tahu bila kemampuan bertarungku masih sangat lemah.

Prabu Hastabrahma mengeluarkan pedang Banaspati dari tubuhnya. Namun kali ini berbeda, saat pedang itu keluar dari tubuhnya tidak ada lagi api yang menjalar di pedang tersebut. Api justru muncul dari tubuh Hastabrahma manakala ia menggenggam gagang pedang dengan kedua tangannya. Dan sama seperti sebelumnya, api yang menyelimuti tubuhnya berubah menjadi baju perang.

Prabu Hastabrahma menghunuskan pedangnya ke arah tubuh bagian kiri dari Banteng hitam itu. Namun, banteng ini cukup lincah untuk dapat menghindari serangan Sang Prabu. Bahkan, setelah berhasil menghindar, banteng buas itu malah berbalik menyerang Prabu Hastabrahma.

Terlihat bahwa tubuh Hastabrahma tertanduk oleh Banteng kekar itu! Akan tetapi, bukannya tubuh sang Prabu yang roboh malah tanduk Banteng itu yang patah dan terbakar. Tubuh banteng itu pun terhempas ke belakang dan di saat itulah Prabu Hastabrahma mengayunkan pedangnya. Dari pedang Banaspati itu mengeluarkan api yang membakar habis tubuh Banteng besar itu.

Kami meninggalkan tempat itu dan berlari menuju Keraton Watugaluh. Waktunya semakin sempit, pasukan yang dipimpin oleh Soka Dwipa akan memulai penyerangannya saat matahari terbit. Kami harus tiba di sana sesaat setelah Soka Dwipa dan Pasukannya membuat kegaduhan di gerbang selatan. Jika kami terlambat, dapat berbahaya bagi pasukan yang hendak menyerang tersebut.