Episode 9 - Dikejar



Pastha merasakan ketegangan mengalir dalam urat nadinya. Meski sering balapan di sirkuit tapi beda rasa adrenalin antara balapan untuk kesenangan dengan balapan karena dikejar pembunuh bayaran. Meski tangannya sudah tidak gemetaran tapi perasaannya masih takut bercampur tegang.

Pastha, Damar, dan Yashwan dihadang empat orang berbadan kekar saat keluar dari toko elektronik. Empat orang itu mengancam akan melenyapkan mereka kalau tidak menyerahkan rekaman pembicaraan yang melibatkan Buhri Brothers. Saat Yashwan sedang bersilat lidah dengan empat orang kekar itu, Pastha memberi isyarat pada Damar agar masuk ke mobil. Pastha juga sudah berada dalam mobil dan begitu kakinya siap dipedal gas, ia menyuruh Yashwan cepat masuk mobil. Yashwan lompat ke mobil dan Pastha tancap gas diikuti sumpah serapah si orang-orang kekar.

Namun, karena salah satu dari orang kekar tersebut ternyata mahir mengemudikan roda empat, maka mobil super Koenigsegg buatan Swedia yang dipakai untuk mengejar mereka, berhasil menyusul dengan cepat dan membuat Pastha terpaksa masuk tol sampai sejauh ini.

"Lebih cepat lagi, Pastha! Kita hampir ditabrak!" teriak Damar panik. Sedetik kemudian terasa guncangan dari bumper yang disenggol dari belakang.

"Iya! Ini sudah tancap gas pol. Mau bagaimana lagi. Mereka pakai supercar!" jawab Pastha kuatir akan keselamatan nyawa mereka jika mobil Teslanya terguling akibat ditabrak oleh Koenigsegg yang bodinya dibuat dari Titanium Diboride.

"Kita harus keluar dari tol ini. Gerbang keluar sekitar lima belas kilometer lagi ke arah Pasteur. Sampai disitu kita lewat jalan kampung saja untuk menghilangkan jejak," kata Yashwan. Matanya memperhatikan peta digital di ponselnya sambil jarinya menelusuri jalan mana yang paling ramai di Bandung. Yashwan berpendapat tempat yang ramai adalah tempat pelarian paling baik untuk menghindari pembunuhan. Kalaupun ajal mereka ada ditangan para orang kekar itu setidaknya banyak saksi mata yang bisa membantu polisi menangkap pelakunya.

"Kenapa polisi belum datang juga?!" kata Damar yang tak henti berdoa dan terus berteriak setiap kali laju mobil terasa melambat.

"Karena polisi tidak percaya kalau kita sedang dikejar-kejar penjahat di jalan tol sepanjang jarak Jakarta - Bandung seperti di film laga!" Yashwan kesal pada keadaan yang melelahkan ini.

"Pastha, ambil jalur lambat," sambung Yashwan. "Lalu berhenti di bahu jalan."

"Berhenti?! Kau ingin kita dilenyapkan penjahat itu?!" Pastha tidak setuju. Damar juga terperanjat karena saran Yashwan terdengar seperti mereka akan menyerahkan nyawa.

"Turuti saja. Percayalah padaku. Aku tidak akan membuat kita celaka, dan aku yakin mereka sebenarnya tidak ingin mencelakai kita juga," tegas Yashwan.

"Kau yakin?" Pastha ragu. Ia terus memacu kencang mobilnya.

"Sangat yakin karena mereka tidak akan mengejar kita sejauh ini kalau hanya untuk melenyapkan kita. Mereka bisa menghantam kita dengan sekali tabrak lalu kita hancur. Mereka bisa kabur dan kemudian mengganti warna dan plat mobil."

Damar tiba-tiba berteriak karena ia merasa Pastha melambatkan laju mobilnya.

"Kita memang harus melambat, Damar, kita akan berhenti di bahu jalan!" seru Yashwan.

Damar menarik napas panjang dan berdoa lagi. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi dan memegang erat sabuk pengamannya.

Pastha pindah ke jalur lambat. Mobil Koenigsegg pengejarnya juga mengikutinya. Setelah beberapa saat berada dibelakang mobil box, Pastha perlahan meminggirkan mobilnya. Yashwan meminta Pastha untuk siap tancap gas sesuai aba-aba darinya. Pengejar mereka juga diam di bahu jalan tanpa ada seorangpun yang keluar. Semenit. Dua menit. Tiga menit.

"Jalan sekarang!" perintah Yashwan.

Pastha memacu mobilnya.

"Langsung ngebut zigzag salip sebanyak mobil yang kau bisa!" Yashwan semangat karena yakin akan bisa lepas dari mobil yang mengejar mereka.

Pastha menyalip gila-gilaan di jalan tol. Damar yang duduk di kursi samping Pastha tidak lagi berteriak tapi memejamkan mata, memegang sabuk pengaman, dan komat-kamit berdoa.

Yashwan sudah memegang kartu pembayaran tol ditangannya. Ia akan dengan cepat menempelkan kartu itu di mesin sehingga Pastha bisa langsung tancap gas lagi segera setelah portal gerbang terbuka.

Benar saja, hanya butuh beberapa detik di gerbang tol sebelum Pastha melaju kencang melewati jalanan kota Bandung. Ia melewati jalan layang Pasupati sambil menyalip secepat yang dia bisa kemudian mengambil arah ke Institut Teknologi Bandung.

Sampai disekitaran kampus Institut Teknologi Bandung Pastha mengendurkan injakan pedal gas karena Yashwan yakin tidak ada lagi mobil Koenigsegg mengejar sejak keluar dari tol Pasteur.

Dibawah pohon Akasia di dekat taman Ganesha, Pastha menghentikan mobilnya.

Damar bernapas lega dan mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali.

Pastha keluar dari mobil dan berteriak untuk melepaskan tekanan di dadanya, "Gilaaaa! Aaarrrgg! Gilaaaa!" Ia memukul kap mobilnya.

Sementara itu Yashwan mendongak penuh syukur lalu mengisi paru-parunya dengan udara segar.

Setelah satu sama lain selesai melepaskan ketegangan dan tekanan, mereka bersandar di batang pohon dan Yashwan membeli minuman dingin dari minimarket yang ada di seberang taman Ganesha.

"Bagaimana Buhri Brothers tahu bahwa ada rekaman pembicaraan tentang kongkalikong tambang? Dari Mulawarman?" kata Pastha dengan suara lelah tapi menyimpan kedongkolan. Ia menyeruput soda lalu bersandar lagi pada batang pohon.

Yashwan menggeleng, "Bukan dari Mulawarman. Mulawarman merekam pembicaraan itu bukan untuk memeras tapi untuk bukti hukum."

Damar menyela Yashwan, "Mungkin Buhri Brothers punya tim IT yang menyelidiki arsip di internet. Mungkin juga dari Cakrakinaryo. Bukankah Mulawarman pernah bilang bahwa ia pernah mengatakan pada Cakrakinaryo untuk mengakui kolusinya dengan Buhri Brothers yang menyebabkan banjir bandang kemarin atau rekaman pembicaraannya akan diserahkan pada polisi."

"Rekaman itu ada pada kita. Mulawarman tidak punya file asli atau salinannya karena kau sudah menghapusnya dan menyembunyikan jejaknya dari internet," sambung Yashwan.

"Tapi polisi sudah menangkap Cakrakinaryo dan Claudius Sutanto. Heri Darwindo juga sudah. Tanpa rekaman itu polisi bisa memproses kolusi dan korupsi yang menyebabkan tambang membanjiri Magelang." ujar Pastha.

Mereka bertiga diam beberapa saat untuk minum dan menikmati suasana santai.

"Rekaman itu bisa menghukum Buhri Brothers secara korporasi, bukan individu seperti Claudius Sutanto." kata Yashwan kemudian. Ia meneguk ice frappe yang tinggal sedikit sampai habis. "Kalau secara korporasi dipidana, saham Buhri Brothers bisa anjlok. Bayar denda ke negara triliunan rupiah. Tidak ada deviden. Buhri Brothers bisa dituntut pailit. Bangkrut. Habislah riwayat perusahaan itu."

Damar ikut bicara, "Ahh! Karena itulah mereka memakai Koenigsegg si mobil super itu untuk mengejar kita! Mobil itu mencolok di tempat umum seperti Ferrari dan Porsche atau Rolls Royce, tapi itulah cara mereka menunjukkan bahwa mereka punya uang untuk melakukan apa saja termasuk mendapatkan rekaman pembicaraan Buhri Brothers dengan cara apapun! Kehilangan mobil semahal Koenigsegg tidak ada artinya buat mereka."

Pastha bergidik membayangkan betapa pentingnya rekaman itu bagi Buhri Brothers. "Kita bisa benar-benar dilenyapkan kalau mereka tidak mendapatkan rekaman pembicaraan itu. Apalah artinya nyawa kita dibanding dengan risiko bangkrutnya perusahaan raksasa mereka," Pastha sungguh cemas.

Yashwan juga cemas dengan kenyataan itu. Ia lebih cemas karena bertanggung jawab atas keselamatan kawan-kawan yang selama ini membantunya. Ia tambah cemas bahwa keselamatan Desitra juga terancam. Belum lagi kalau sampai terjadi sesuatu pada Jardis, apa yang akan dikatakan pada keluarga besarnya.

"Insya Allah kalian akan baik-baik saja. Sekembalinya kita ke Jakarta nanti kalian tidak usah datang lagi ke rumahku. File rekaman itu tak akan kemana-mana selain di kamar bawah tanah dan safe deposit box bank," kata Yashwan dengan nada setenang mungkin untuk meredam panik Damar dan Pastha.

Ia melanjutkan, "Semoga saja tidak tapi andai salah satu dari kalian mendapat ancaman, katakan saja rekaman itu ada padaku dan suruh mereka mengejarku."

"Lalu apa yang akan kau lakukan kalau mereka mengejarmu?" tanya Damar.

"Semoga saja mereka tidak mengejarku sebelum aku melakukan sesuatu," sahut Yashwan. "Ayo kita pulang. Kita tidak ada rencana plesiran di Bandung, kan. Kecuali kalian mau kutinggal disini," sambung Yashwan yang langsung masuk ke mobil dan duduk dibelakang setir.

"Hei, mau dibawa kemana mobilku?" seru Pastha.

"Gantian sekarang aku yang kebut-kebutan ya," Yashwan berkelakar.

"Hahaha! Bisa jebol mobilku. Ini bukan mobil balap! Tapi kebetulan kalau kau mau menyetir. Otot-ototku kaki sampai sakit karena kebut-kebutan tadi."

Kali ini Damar memilih duduk di kursi belakang. Yashwan mengemudikan mobil Tesla milik Pastha itu dengan kecepatan normal. Mobil listrik itu harus di-charge secepatnya sesampainya di Jakarta.

Dan tentu sebelum Buhri Brothers mengutus pembunuh bayaran betulan, ia sudah harus bertindak secepatnya pula. Tapi mengandalkan polisi saja tidak cukup. Apa yang harus kulakukan, kata Yashwan dalam hati. Apakah profesor Sinna dan profesor Suyudi bisa membantu? Yashwan sungguh berharap kolega yang dimiliki kedua profesor yang jadi gurunya itu bisa membantunya. Dan sebagai langkah awal ia harus mendatangi kedua profesor itu secepatnya. Sendirian.