Episode 46 - Cuaca Buruk

 

Suasana hati Melati Dara secerah cuaca di pagi hari ini. Ia baru saja melewati gerbang sebuah bangunan luas. Kini ia memasuki sebuah halaman menuju pintu masuk bangunan. Oleh orang-orang yang mengantarnya, bangunan ini dikenal sebagai wisma.

Dalam perjalanan tadi pun ia melihat banyak wisma-wisma serupa. Rupanya, lokasi wisma ini berada di salah satu wilayah elit di Pulau Lima Dendam. Meski masih jauh dari posisi di tengah pulau, namun kemewahan wisma cukup membuat pupil kedua bola matanya membesar.

Kini Melati Dara memeriksa ruangan di dalam wisma satu persatu. Tujuan pertama adalah dapur. Dapur itu demikian luas berlantai marmer, bertolak belakang dengan lantai tanah di kandang tempat ia selama ini menetap, dan mempersiapkan makanan dan ramuah binatang siluman.

Kemudian wisma tersebut memiliki tiga kamar besar, sedikit lebih luas dari kandang yang ia tempati dulu. Lalu ada sebuah kamar utama, yang lebih luas lagi ukurannya. Masing-masing kamar memiliki kamar mandi sendiri-sendiri. Melati Dara sudah membayangkan bagaimana ia akan berendam air hangat di dalam bak mandi seusai lembur bekerja meramu. Ia pun memutuskan bahwa kamarnya nanti adalah yang menghadap ke halaman belakang wisma.

Saat ini, Melati berada di depan pintu masuk kamar utama. “Aku harus membenahi kamar ini sebelum Tuan kembali,” ia bergumam.

Melati pun membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar utama. Sangat luas, pikirnya sambil menyapu pandang ke seluruh sisi ruangan. Ada tempat tidur dan almari besar-besar. Ada pula dua buah pintu, satu menuju kamar mandi, satunya lagi ke arah balkon.

Matanya lalu terhenti ke arah sisi jauh ruang kamar utama. Di sana terdapat sebuah meja dengan berbagai jenis senjata disusun dan digantung rapi. Lalu ada pula berbagai pakaian berwarna hitam mengkilap. Mungkin senjata dan perisai pusaka. Ia pun melangkah mendekat.

Setelah mendekat, betapa aneh pakaian-pakaian yang terbuat dari kulit hitam tersebut. Melati meraih satu pakaian dan betapa terkejutnya ia. Pakaian yang jelas diperuntukkan untuk perempuan tersebut, sangat terbuka dan hanya sedikit menutupi bagian-bagian tubuh tertentu saja. Apakah milik pasangan penghuni wisma sebelumnya? Perempuan mana kiranya yang senang berpakaian seperti ini?

Kemudian, Melati Dara melihat berbagai benda lain. Ada sebuah penutup wajah tanpa lubang mata dan mulut, ikat pinggang berduri, borgol kulit, tali kekang leher lengkap dengan rantainya… Apakah pemilik wisma juga memiliki binatang peliharaan?

Masih penasaran, Melati Dara meraih pakaian kulit lain yang tergantung. Pakaian ketat tersebut terkesan menutupi seluruh tubuh… Namun begitu dicermati, malah pada bagian-bagian pribadi perempuan terbuka lebar! Melati segera melempar pakaian tersebut.

Kini sepasang matanya jatuh ke arah sisi kumpulan senjata pusaka. Ada berbagai jenis cambuk dan pecut. Ada pula semacam pemukul lalat, berbagai bentuk dan ukuran. Lalu ada senjata yang ukurannya sepanjang dan sebesar lengan. Ujung senjata berwarna putih itu tumpul… Melati memperhatikan lebih seksama, lalu betapa terkejutnya ia bahwa ujungnya berbentuk seperti… seperti…

“Kyaaa!” Melati Dara berteriak dan berlari keluar dari kamar utama.

Ia berlari sampai ke dapur. Saat di dapur, baru Melati Dara teringat ceritera kelompok yang semalam menyerang dan pagi ini mengantarkan dirinya ke wisma. Mereka berceritera bahwa pemuda tampan yang sudah tewas itu memilih gadis-gadis muda sebagai budak. Dalam sebulan terakhir, dua orang budaknya meninggal karena kecelakaan, sedangkan dua lagi dicurigai mati bunuh diri.

Melati Dara tersontak! Segera ia kembali ke ruang utama. Ia raih dan bentangkan kain alas kasur di lantai. Kemudian ia lempar seluruh pakaian dan senjata aneh-aneh tersebut, serta ia bungkus kencang. Tak perlu berpikir panjang lagi untuk menyimpulkan bahwa seluruh pakaian dan senjata menjijikkan tersebut merupakan alat-alat penyiksaan!

Harus segera disingkirkan! Jangan sampai meracuni pikiran Tuan, pikir Melati khawatir.

Melati menyapu bersih kamar utama dari alat-alat penyiksaan. Kini ia sedang menyeret dua buntelan besar kain alas tempat tidur ketika sebuah suara parau menegurnya.

“Apa yang kau kerjakan, Budak?”

Melati Dara tersontak! Dua buah buntelan kain besar yang sedang ia seret diam di tempat.

“Apakah ada yang memotong lidahmu?” Kum Kecho bertanya sekali lagi.

Bila diperhatikan, sesungguhnya ukuran tubuh Kum Kecho adalah normal bagi anak berusia 12 tahun. Begitu pula dengan ukuran tubuh Melati Dara, layaknya gadis berusia 16 tahun. Dengan kata lain, Melati Dara lebih tinggi daripada Kum Kecho. Namun, setiap berada di depan Kum Kecho, Melati Dara seolah merasa sekujur tubuhnya mengecil.

Melati Dara pernah menghabiskan waktu di perguruan. Jadi, tidak aneh baginya melihat para ahli yang berusia ratusan tahun dapat berpenampilan layaknya anak remaja, pemuda, atau orang dewasa. Ketika berhadapan dengan Kum Kecho, ia merasa bahwa usia anak itu jauh di atas usianya sendiri.

“A… aku sedang membersihkan ka… kamar utama?” Melati Dara terbata-bata. Saat ini ia lebih mengkhawatirkan dua buntelan itu, daripada dirinya sendiri.

“Buntelan apa itu?”

“I.. ini adalah barang dan perkakas pemilik sebelumnya… Tak berguna bagi Tuan…”

Seketika itu juga Melati Dara merasakan belaian di rambutnya… lalu naik perlahan menyeka kulit kepala…

“Akh..!” Melati Dara merintih kesakitan. Kum Kecho, seperti biasa, menjambak rambut budaknya itu.

“Jangan berbohong, Budak! Apakah kau hendak mencuri?”

“Aku tidak mencuri!” tiba-tiba mata Melati Dara menatap Kum Kecho. Kedua bola matanya melotot merah. Beberapa helai rambutnya putus karena gerakan mendadak itu.

Kum Kecho pun terkejut. Interaksinya dengan Melati Dara menyimpulkan bahwa kondisi mental gadis tersebut memang tidak stabil… Ia pun melepaskan cengkeraman dari rambut gadis itu.

“Hmph… Jangan berlaku sesukamu. Setelah kau singkirkan barang-barang itu, segera bangun kandang di halaman belakang. Luasnya dua kali lebih besar dari kandang yang lama.”

“Membuat kandang…?” Melati Dara setengah tak percaya. “Tuan, apa gunanya membangun kandang… Lebih baik merombak kamar yang ada…”

“Apa gunanya membangun kandang, katamu?! Tentu saja untuk tempat tinggalmu, Budak! Kau pikir kau akan menetap dimana?!”

Melati Dara hanya melongo.

“Terimalah ini!” Kum Kecho lalu melemparkan sebuah kitab ramuan berwarna kusam. Kitab tersebut mendarat di lantai tepat di depan Melati Dara, dan tak sengaja terbuka…

“Siapkan 2.000 botol larutan Intisari Darah dan 300 pill Kembang Mercon. Resep kedua ramuan tersebut tercantum di halaman 243 dan di halaman 720 pada kitab itu.”

Melati Dara hanya mampu mengangguk pelan. Ia masih membayangkan kamar yang menghadap ke halaman belakang… Kini, ia membayangkan menatap kamar itu dari arah halaman… Suasana hatinya tak lagi secerah pagi.

“Aku akan bertolak dua hari dari sekarang!” dengan demikian Kum Kecho melangkah masuk ke dalam kamar utama.

Melati Dara menatap kitab yang tak sengaja terbuka di hadapannya. Lalu, kedua matanya menangkap nama sebuah ramuan…

‘Tonik Rambut’


***


Awan mendung bergelantung berat menutup matahari pagi. Warnanya kelabu, sekelabu suasana hati seorang gadis remaja di suatu tempat. Angin berhembus kencang, mendorong ombak laut bergejolak melibas tiang-tiang dermaga yang kokoh. Aroma laut berputar ke segala arah, membuat bahkan rambut di tengkuk para nelayan merinding.

Bintang dan Panglima berdiri di dermaga. Meskipun tumbuh di wilayah kepulauan, hati keduanya tetap gundah menatap laut. Laut tak pernah bisa ditebak.

Laut memiliki kehendak sendiri, yang seringkali berada di luar nalar manusia. Ia bisa memisahkan dua sejoli, atau malah mempertemukan orang-orang asing. Laut dapat mengantarkan perahu ke tujuan, dapat pula menenggelamkan sampai tak berbekas. Kehendak laut pun, tak pernah bisa diduga.

Meski demikian, laut tidaklah egois. Dari waktu ke waktu, ia akan mengirimkan petanda. Manusia yang bijak dapat membaca dan memecahkan petanda-petanda itu, untuk kemudian mengambil keputusan yang tepat atau bertindak dengan cepat.

Demikianlah laut.

“Menurut hematku, badai besar akan berlabuh,” ungkap Lombok Cakranegara sambil mengusap-usap dagunya sendiri. Tidak perlu kebijaksanaan untuk membaca kemungkinan tersebut.

Bintang menoleh ke arah Kepada Pengawal itu. Dalam hati ia mencibir. Orang ini memang cocok menjadi anggota Pasukan Telik Sandi. Ia penuh dengan muslihat. Menawarkan keamanan pada Pulau Paus agar aku bersedia membawa gulungan naskah Partai Iblis ke Pulau Dewa. Menahanku di Pulau Batu dengan alasan persiapan, supaya ia memiliki wakil pada latih tarung. Pada akhirnya, aku memantapkan jabatan dan mengharumkan namanya.

“Mau tak mau kalian harus segera berangkat. Ujian masuk Perguruan Gunung Agung akan berlangsung esok. Meski, aku tak tahu pasti tentang waktu ujian masuk ke Istana Danau Api,” tambah Lombok Cakranegara.

“Kawan Bintang, jangan bimbang dan janganlah ragu. Aku akan menemanimu sampai ke Pulau Dewa.”

Justru itu yang mengkhawatirkan, keluh Bintang dalam hati. Entah siapa lagi yang akan kau ajak berkelahi sesaat tiba di Pulau Dewa nanti. Beruntung semalam tak ada yang menanggapi tantangan Panglima secara serius. Walhasil, latih tarung ditutup segera setelah ia naik ke atas panggung.

“Adik Bintang, Yang Mulia Paduka Raja berpesan agar engkau tetap menyimpan Lencana Kerajaan Parang Batu, mungkin suatu hari nanti akan bermanfaat,” ujar Kepala Pengawal Istana Utama. Di belakangnya lalu muncul Kepala Pengawal Istana Kedua, Ketiga serta Keempat.

Kepala Pengawal Istana Kedua dan Ketiga hanya diam. Meskipun demikian, dari tatapan mata mereka tak terlihat ada permusuhan. Yang berlalu biarkanlah berlalu. Latih tarung semalam diakui bermanfaat sangat besar bagi setiap perwakilan mereka.

“Yang Terhormat Tetamu Kerajaan, dipersilakan menaiki perahu,” ujar Kapten kapal perang kerajaan dengan sopan.

Bintang dan Panglima pun melangkah ke atas geladak kapal.

“Nak Bintang, sampaikanlah salamku bilamana kau bertemu ayahmu, Balaputera. Sungguh berat beban yang ia pikul…” tetiba kakek tua Kepala Pengawal Istana Keempat menyapa menggunakan jalinan mata hati.

“Eh?!” Bintang terkejut. Kakek Kepala Pengawal Istana Keempat itu mengenal Ayahanda? Bintang memandang kakek yang matanya terpejam itu. Ia hendak bertanya lebih lanjut, tapi tali sauh kapal sudah dilepas.

Gelegar halilintar membaha memecah sepi di tengah laut. Sambaran kilat sambung-menyambung, menghiasi langit berwarna kelabu dengan kerlap-kerlip cahaya. Derau air hujan berputar-putar seolah tak hendak berbaur dengan laut. Deru angin melibas layar yang setengah terkembang. Gemuruh ombak mengombang-ambingkan kapal, seakan hendak menjungkirbalikkan isinya.

Badai! Kapal yang ditumpangi Bintang dan Panglima dihantam badai! Padahal, jarak antara Pulau Batu dan Pulau Dewa hanyalah setengah hari perjalanan laut. Dengan adanya badai ini, sulit untuk menebak berapa lama mereka akan tiba di Pulau Dewa.

“Tuan Bintang dan Tuan Panglima, mohon segera masuk ke dalam kabin kapal!” teriak sang Kapten di tengah kebisingan halilintar, deru angin, serta gemuruh ombak.

“Kami baik-baik saja!” balas Panglima cepat.

“Kawan Bintang, ini adalah kesempatan langka bagi kita untuk berlatih kembangan!” teriaknya ke arah Bintang.

“Kau sudah gila!” teriak Bintang kehilangan kesabaran, berbarengan dengan ledakan halilintar. Ia tak senang diseret keluar di tengah badai ini.

“Benar! Kita pasti bisa!” teriak Panglima tambah bersemangat!

Walhasil, di geladak kapal yang terombang-ambing keras dan diguyur hujan deras, Panglima dan Bintang berlatih kembangan. Mereka bergerak setengah melingkar saling berhadapan. Awalnya agak sulit bagi Bintang menyeimbangkan diri. Kemudian, ia mengalirkan tenaga dalam ke tubuh bagian bawah, sekaligus merapal jurus meringankan tubuh.

“Latihanmu kurang maksimal,” tegur Komodo Nagaradja menggunakan mata hati.

“Sambil melatih gerakan tubuh bagian bawah, alirkan juga tenaga dalam untuk melingkupi sekujur tubuh bagian atas. Upayakan agar rintik air hujan tidak menyentuh pakaianmu.”

Sekarang Bintang diharuskan melatih raga, pengaturan tenaga dalam, dan konsentrasi pada saat yang bersamaan. Sungguh melelahkan.

Dua jam berlalu, badai tak kunjung reda. Panglima dan Bintang masih menarikan kembangan.

“Beledar!” tetiba kilat menyambar dan menghantam bagian tengah tiang layar kapal, yang disusul suara halilintar menggelegar. Tiang layar tersebut kemudian retak!

“Tiang layar disambar petir!” teriak salah satu anak buah kapal.

Bintang dan Panglima yang baru hendak menyelesaikan latihan kembangan di atas geladak kapal sama terkejutnya. Sambaran petir begitu cepat dan perkasa sampai-sampai Bintang tertegun beberapa saat.

“Bahaya!” teriak kapten kapal.

Bila tiang layar patah dan tumbang, maka dapat menghantam geladak kapal. Bila posisinya tumbangnya tegak, maka akan menancap di geladak, bahkan menembus sampai ke dinding kapal!

“Krek!” terdengar suara dari tiang layar yang berderak dan retak. Tiang layar dipastikan tumbang. Pertanyaan berikutnya, ke arah mana tumbangnya tiang tersebut…

Dari posisi geladak kapal terlihat akan kemungkinan terburuk. Tiang layar tidak tumbang ke samping, akan tetapi tumbang tegak lurus. Dipastikan patahan tiang akan menancap di geladak kapal dan kemungkinan besar berlanjut ke lambung kapal.

“Kawan Bintang!” teriak Panglima. “Kita perlu menahan tiang itu!” Lalu ia melompat ke arah tumbangnya tiang layar

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Ketiga: Patah Tumbuh Hilang Berganti!”

Seketika itu juga kecepatan dan kekuatan Panglima Segantang berlipat ganda. Keduanya terjadi pada saat yang bersamaan. Ini adalah kali pertama Panglima mengerahkan Gerakan Ketiga dari Pencak Laksamana Laut di hadapan Bintang.

Melihat gelagat Panglima, Bintang segera berlari menyusul sambil melempar formasi ‘Segel Penempatan’. Segel Penempatan adalah nama segel sederhana yang selama ini ia gunakan untuk berpijak dan melenting, lalu bermanfaat juga untuk menahan gerak lawan bila ‘ditempatkan’ dengan akurat. Bintang terpaksa menamai segel tersebut atas desakan berulang-ulang oleh seorang guru cerewet.

Secara teknis, Bintang tidak menciptakan Segel Penempatan. Ia awalnya hendak membuat kerangkeng seperti yang tergambar di dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian. Saat itu, niatnya adalah menjebak binatang siluman Ayam Jengger Merah di Pulau Bunga, tapi tidak berhasil karena keterbatasan pemahaman.

Sekarang, karena seringnya merapal Segel Penempatan, bentuknya pun sudah lebih halus. Segel Penempatan berbentuk mirip sebuah piring datar yang tersusun dari formasi simbol-simbol melingkar dan rapi. Warnanya kejinggaan dan transparan.

Dengan melempar Segel Penempatan, Bintang berniat menghambat laju kejatuhan tiang layar. Segel Penempatan tentunya tidak dapat bertahan lama, biasanya pun hanya mampu menahan tubuh Bintang sebentar, atau menutup ruang gerak lawan sementara.

Sesuai perkiraan, kelima Segel Penempatan yang dilempar tak sanggup berbuat banyak. Kini Panglima sedang memeluk tiang layar, menahan sekuat tenaga. Ia berusaha menumbangkan tiang agar tak menancap di geladak kapal, namun tertahan tali-temali layar.

“Panglima!” teriak Bintang. “Lepaskan tiang itu!”

Panglima menoleh ke arah Bintang, lalu menggunakan sisa tenaga untuk mengangkat tiang sebelum melompat mundur.

“Badak!”

Bintang melesakkan Gerakan Pertama jurus Tinju Super Sakti ke tiang layar! Gelombang kejut yang tercipta membuyarkan deras hujan. Dentuman yang dihasilkan bersaing dengan gelegar halilintar. Tiang layar terlontar belasan meter ke arah laut!

Badai tiba-tiba berhenti. Awan kelabu membelah diri, menyibak matahari menjelang petang. Akan tetapi, tanpa tiang layar, kapal kini hanya dapat terombang-ambing pasrah dimainkan ombak laut.



Catatan:

Selamat kepada para pemenang kuis Episode 42!

1. Nur Amanu (Unsur kesaktian: Kayu; Jurus: Penjerat Langkah)

2. Adit Prastya (Unsur kesaktian: Cahaya; Jurus: Tikaman Cahaya Langit)

3. Captaiin Nemo (Unsur kesaktian: Logam; Jurus: Asta Magnet)

4. Shuka Wijaya (Unsur kesaktian: Angin; Jurus: Cakra Bayu)

5. Adib Husni Mukofa (Unsur kesaktian: Petir; Jurus: Seribu Tempuling Langit)

6. Agung Setiawan (Unsur kesaktian: Gravitasi; Jurus: Manipulasi Semesta)

Kalian memenangkan kuis berhadiah masing-masing voucher belanja sebesar Rp100.000. Bagi yang belum beruntung, nantikan kuis selanjutnya. :) 

Senang melihat demikian banyak kreativitas. Semua jawaban juga memahami konsep kekuatan di dalam dunia Legenda Lamafa, dimana selalu ada syarat dan ketentuan. Tidak ada jurus yang sempurna. Belum.

Walau nantinya tak diterapkan pada Bintang, jawaban-jawaban ini bisa menjadi unsur kesaktian tokoh-tokoh lain.

Bagi para pemenang, segera like Facebook Page ceritera.net di:

https://www.facebook.com/ceriteradotnet

Lalu kirimkan pesan yang berisi:

Nama:

Alamat pengiriman:

No telepon:

Admin akan segera mengirimkan hadiah voucher.

Terima kasih kepada sponsor!

Bintang Tenggara akan mengetahui unsur kesaktiannya pada Episode … (episodenya belum ditulis…)