Episode 45 - Sosok Mencurigakan


 

Empat kemenangan beruntun, semuanya tuntas melalui pukulan cepat dan kuat. Kesemuanya diperoleh dengan menerapkan strategi bertarung yang sangkul nan mangkus. Tak satu pun terdengar suara yang berani menggugat kemenangan-kemenangan tersebut. Hanya kekaguman hadirin yang tak terungkap kata-kata.

Bagi sebagian dari hadirin, hanya satu pertanyaan yang mencuat di dalam hati, “Seperti inikah sosok lamafa yang melegenda itu?”

Bintang hendak turun dari panggung ketika terdengar suara menegurnya, “Adik Sang Lamafa Muda, sudikah kiranya engkau memberikan tunjuk ajar kepadaku?”

Panglima Segantang mengernyitkan dahi sambil menatap ke arah sumber suara tersebut. Ia melihat Pringgarata menapaki tangga panggung. Panglima baru hendak menyuarakan pandangannya, ketika Lombok Cakranegara angkat bicara.

“Kepala Pengawal Istana Kedua, sahabatku, sepertinya kami tidak akan melanjutkan latih tarung malam ini,” ungkap Kepala Pengawal Istana Utama. Kata-katanya ditujukan kepada Pringgabaya, bukan kepada Pringgarata.

Pringgabaya, sang Kepala Pengawal Istana Kedua hanya melengos. Dengan jumlah kemenangan yang telah Istana Utama raih, maka mereka sudah jelas menjadi pemenang.

Sedangkan Kepala Pengawal Istana Ketiga sedikit menyesali keputusannya dengan hanya membawa satu wakil. Meski demikian, ia memang tak bisa berbuat apa-apa, karena memang hanya Sembalun seorang yang memiliki kemampuan memadai dari kubunya.

“Kawan Bintang…,” bisik Panglima dari bawah panggung. “Tak lengkap kemenanganmu malam ini bila tak berhadapan dengan lawan itu. Ia lebih tangguh!”

Bintang menatap ke arah Panglima. Kau hendak membawaku terperosok lebih dalam rupanya, keluh Bintang dalam hati.

“Muridku, ada benar kata-katanya itu,” kini Nagaradja yang menimpali.

Kalian sama saja, pikir Bintang lagi. Meski, ia tak bisa menampik bahwa jauh di dalam lubuk hatinya, ada kehendak untuk berhadapan dengan seorang ahli yang mendalami kesaktian unsur angin. Rupanya Panglima dan Nagaradja bukan saja berpengaruh terhadap pertumbuhan kemampuan silat, namun juga pertumbuhan hasrat bertarung. Aku harus bisa membentengi diri dari pengaruh buruk mereka, pikir Bintang sambil menghela napas.

“Kakak Lombok, ijinkan aku menuntaskan latih tarung malam ini,” ungkap Bintang. Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali.

“Adik Bintang, bila memang demikian kehendakmu, aku tak akan menolak,” ungkap Lombok Cakranegara.

“Terima kasih,” ungkap Pringgarata cepat. Secepat kilat pula ia mengeluarkan pedang angin miliknya. “Namaku Pringgarata, Kasta Perunggu Tingkat 5, usia 15 tahun.”

Bintang segera menyibak kembangan. Kasta Perunggu Tingkat 5… mirip Kum Kecho.

Melihat gerakan-gerakan berkesinambungan dalam kembangan, Pringgarata sudah dapat menduga-duga penyebab kekalahan Gili Nangu. Oleh karena itu, ia tak hendak menunggu terjebak dalam situasi terdesak.

“Pedang Angin Puyuh!”

Pringgarata menebaskan pedangnya bertubi-tubi ke ruang kosong di arah depan. Setiap tebasan pedang kemudian mengirimkan tebasan-tebasan angin yang bahkan terlihat dengan mata telanjang ke arah lawan. Tebasan angin tersebut menutup gerakan Bintang sehingga ia tak bisa mengelak ke samping. Satu-satunya arah menghindar… adalah mundur.

Namun, sesaat sebelum mundur, sudut mata Bintang menangkap kuda-kuda lawannya. Kuda-kuda tusukan, pikir Bintang. Dengan jurus Pedang Angin Puyuh, Pringgarata berniat mengunci gerakan, lalu mengarahkan lawan supaya mundur ke belakang. Ketika itu terjadi, maka ia akan merangsek menikam.

Proses, cara, atau perbuatan menempatkan dengan mengarahkan… dalam Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian dikenal dengan sebutan ‘penempatan’. Penempatan mungkin mujarab bagi lawan-lawan Pringgarata selama ini. Namun bagi Bintang, penempatan yang didasarkan pada perhitungan matang… merupakan landasan saat ia bertarung.

Melempar segel berpijak lalu menyerang dari arah tak terduga adalah penempatan. Menjebak Gili Nangu adalah penempatan. Memancing Sembalun adalah penempatan. Lihatlah di bawah panggung, ada seorang anak remaja yang paling sering menderita penempatan, Panglima Segantang namanya. Hanya saja, Panglima mampu menghadapi penempatan demi penempatan menggunakan naluri!

Bukannya mundur, Bintang justru berputar di tempat lalu melenting lurus ke atas. Di udara, ia kembali melenting ke arah belakang Pringgarata.

Seluruh hadirin menahan napas. Sepanjang sejarah latih tarung Kerajaan Parang Batu, mereka selalu terhibur. Namun kali ini, mereka semua tercengang. Satu-satunya yang memberikan tatapan mata bahwa yang sedang terjadi di atas panggung adalah lumrah adanya, hanyalah Panglima Segantang.

Meski demikian, reflek Pringgarata cukup baik. Di saat Bintang mendarat dan hendak melancarkan serangan, ia kembali menebaskan jurus Pedang Angin Puyuh. Berbekal jurus tersebut, Pringgarata merupakan lawan dengan jangkauan jarak jauh. Dengan demikian, Bintang membatalkan niat melancarkan serangan balik.

Kini jarak mereka terpisah tujuh sampai delapan langkah. Pringgarata kembali menebaskan jurus Pedang Angin Puyuh. Ia terus berupaya menempatkan Bintang ke posisi ideal agar dapat melancarkan serangan penutup. Meski lebih pintar dan berpengalaman dari lawan-lawan sebelumnya, upaya penempatan yang Pringgarata lakukan terus menerus menemukan jalan buntu.

Dari sudut pandang hadirin, Bintang juga tak dapat menembus pertahanan Pringgarata. Apakah pertarungan ini akan berakhir seri?

Dari sudut pandang Pringgarata, semakin sering ia menebaskan Pedang Angin Puyuh, maka semakin banyak tenaga dalam yang terkuras. Apakah akhir dari latih tarung ini adalah keunggulan daya tahan?

Dari sudut pandang Panglima, Bintang terlalu lama bermain-main di atas panggung. Andaikata dirinya yang berada di atas sana, maka saat ini pastilah ia sedang menampar Pringgarata, membalas kelakuan remaja tersebut terhadap Praya, lawan yang ditikam saat hendak menyerah.

Bintang kembali menyibak kembangan, bergerak setengah lingkaran mengitari Pringgarata. Pringgarata masih cukup sabar dan tenang. Meskipun demikian, paling banyak ia hanya bisa menebaskan dua atau tiga kali jurus Pedang Angin Puyuh. Sekarang atau tidak sama sekali, pikirnya. Ia pun menghentakkan napas dan mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk serangan terakhir.

Serangan tersebut mengirimkan tebasan-tebasan angin, yang kali ini menyebar lebih cepat dan lebih luas dari sebelumnya. Bilah-bilah angin menutup gerakan Bintang ke arah kedua sisi, bahkan ke atas! Di saat yang bersamaan, Pringgarata melesat menghunuskan pedangnya. Bintang hanya memiliki ruang mundur!

Terlambat! Tebasan-tebasan angin menghujani tubuh Bintang. Sekujur tubuhnya disayat-sayat oleh kesaktian unsur angin dari jurus Pedang Angin Puyuh. Di saat yang sama, pedang Pringgarata menusuk dada Bintang!

Tapi anehnya… sayatan-sayatan dan tusukan tersebut hanya menembus melewati tubuh...

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Meninggalkan bayangan yang kemudian disayat unsur angin dan tusukan pedang, kini Bintang berada tepat di sebelah Pringgarata yang sedang merangsek menikam. Penempatan! Ia lalu melepaskan tiga tinju beruntun berkecepatan tinggi!

“Trak!”

Pedang Pringgarata terlepas dan terpelanting jauh. Bukan hanya itu, kini terlihat lengan kanannya bergelayutan tak bertenanga. Kemungkinan sendi di bahu kanannya terlepas akibat hantaman Bintang!

“Pringgarata!” teriak Pringgabaya histeris melihat adik kandungnya rubuh.

Kepala Pengawal Istana Utama, dan Kepala Pengawal Istana Kedua tersebut bersamaan melompat ke atas panggung. Mereka memeriksa bahu Pringgarata. Pringgarata tergeletak, hanya bisa meringis menahan perih yang tak terperi.

“Apa yang kau lakukan?!” Kini Pringgabaya berdiri dan menunjuk ke arah Bintang.

“Sendi peluru di bahu kanannya terlepas. Sama sekali tidak fatal,” jawab Lombok Cakranegara.

“Tapi ia tak perlu berbuat sejauh ini di dalam latih tarung!” kekhawatiran dan amarah menyelimuti Pringgabaya.

“Hm…” Lombok Cakranegara lalu berdiri.

“Pringgabaya, di dalam latih tarung apa pun bisa terjadi. Pastinya akan ada pihak-pihak yang menderita cedera. Jangan salahkan lawan, salahkan dirimu sendiri yang kurang persiapan,” Lombok Cakranegara mengulang kata per kata dari ucapan Pringgabaya saat adiknya itu menusuk Praya.

Dada Pringgabaya naik-turun demikian deras. Akan tetapi, ia tak punya kata-kata untuk menyangkal. Segera ia mengangkat tubuh Pringgarata dan turun dari panggung.

“Pertarungan terakhir dimenangkan oleh perwakilan dari Istana Utama!” teriak pembawa acara!

Seluruh hadirin kemudian bersorak-sorai, sebagian lagi berdiri dan bertepuk tangan. Mereka lupa bahwa malam sudah semakin larut.

“Terima kasih,” ungkap Lombok Cakranegara di atas panggung. “Aku sepertinya berutang penjelasan kepada seluruh hadirin yang terhormat,” sambungnya.

“Bintang Tenggara, Sang Lamafa Muda, berada di Kerajaan Parang Batu untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti ujian masuk di Perguruan Gunung Agung. Rencana ini sudah dipersiapkan sejak berbulan-bulan lalu. Sebagai langkah persiapan tersebut, aku juga secara khusus mengundang anak jenius silat dari Kerajaan Serumpun Lada.”

Kata-kata Lombok Cakranegara disambut tepuk tangan dan sorak sorai dari para penonton.

“Hm…?” Bintang sedikit terkejut. Mengapa Kakak Lombok sengaja berbohong kepada seluruh hadirin?

Keberadaan Bintang di Kerajaan Parang Batu adalah kebetulan semata, kebetulan mengantarkan gulungan naskah milik Partai Iblis… Kehadiran Panglima Segantang malah murni sebagai sebuah kebetulan. Apa tujuannya berbohong? Sungguh sosok yang mencurigakan, pikir Bintang.

Sebaliknya, tatapan mata Lombok Cakranegara mengawasi tajam ke seluruh hadirin, mencari-cari jawaban yang masuk akal. Awalnya ia mengira-ngira bahwa kejadian malam ini direncanakan sepenuhnya oleh Kepala Pengawal Istana Kedua dan Istana Ketiga. Akan tetapi, menyimak rangkaian kejadian secara keseluruhan, ia pun menyimpulkan bahwa kedua Kepala Pengawal tersebut takkan mungkin menggadaikan wibawa atau berkhianat kepada Kerajaan Parang Batu.

Pada akhirnya, Lombok Cakranegara memperoleh kepastian bahwa tujuan mereka bukanlah dirinya. Pastinya ada anggota Partai Iblis di antara hadirin yang hendak menguji jati diri Bintang. Adapun tujuannya hendak memastikan apakah Bintang teman seperjalanan Panggalih Rantau, dan membawa gulungan naskah berisi daftar nama anggota Partai Iblis di wilayah tenggara.

Lalu, pandangan mata Lombok Cakranegara menangkap seseorang yang berada di urutan belakang kubu Istana Ketiga. Ia berdiri dan bergegas meninggalkan gelanggang berlatih. Sebelum menghilang, ia melempar pandang ke arah Bintang. Gerak-gerik sosok tersebut sangat mencurigakan.

“Sepertinya upayaku barusan membuahkan hasil,” gumamnya sambil tersenyum puas.

“Demikianlah latih tarung malam ini berakhir sudah,” terdengar pembawa acara hendak menutup kegiatan.

“Tunggu!” tiba-tiba terdengar teriakan menyela. Sesosok tubuh lalu meloncat ke tengah panggung.

“Aku, perwakilan dari Kerajaan Serumpun Lada, secara resmi menantang pemenang latih tarung Kerajaan Parang Batu malam ini!” terlihat Panglima Segantang berdiri membusungkan dada di tengah panggung.


***


“Oh, benarkah demikian adanya…?” terdengar suara setengah terkejut dari seorang lelaki muda. Dari perawakannya, dapat diketahui bahwa usianya adalah sekitar 20an tahun, atau mungkin 30an tahun…

“Jadi, kau secara tak sengaja berpapasan dengan Sang Lamafa Muda itu di Pulau Kuda?” suara tersebut kembali ingin memastikan.

“Benar. Semua informasi yang kumiliki adalah sesuai dengan isi laporan yang telah kusampaikan,” Kum Kecho berujar kepada sang Bupati Pulau Lima Dendam.

Sesuai permintaan Bupati itu, Kum Kecho mendatangi kediamannya pagi ini. Dari perbincangan mereka, terlihat Bupati tersebut sepertinya memiliki perhatian khusus terkait Sang Lamafa Muda. Bahkan, kemungkinan besar kehadiran Bupati semalam memang hendak menanyakan tentang Sang Lamafa Muda. Lalu tak sengaja, justru menyelamatkan Kum Kecho…

“Tempuling Kasta Perak… Kau benar-benar yakin tempulingnya itu bukan terbuat dari kesaktian unsur api? Atau kesaktian unsur es, mungkin?”

“Sudah kukatakan berkali-kali bahwa tempulingnya terbuat dari tulang!” nada bicara Kum Kecho terdengar sebal. Pertanyaan ini telah diajukan berulang-ulang.

“Dan kau tak menangkap nama Sang Lamafa Muda itu?”

“Benar. Ia tak menjawab pertanyaanku,” jawab Kum Kecho dingin.

“Bagaimana dengan asal-usulnya?”

“Asumsiku, ia berasal dari Pulau Paus,” timpal Kum Kecho cepat.

“Bagaimana dengan ciri-ciri fisiknya?”

“Bentuk wajahnya tegas. Ukuran mata sedang, alis tinggi, hidung runcing. Rambutnya ikal pendek. Berkulit kuning langsat,” ungkap Kum Kecho cepat. Ia sudah mulai bosan dengan Bupati yang duduk di hadapannya itu.

Ketika menatap Bupati sambil menjabarkan subyek pembicaraan, tiba-tiba Kum Kecho tersadar... Kecuali rambut ikal panjang yang dibiarkan terpaut di belakang telinga, perawakan Bupati itu justru mengingatkan kembali akan wajah Sang Lamafa Muda. Ada kemiripan di antara mereka!

“Apakah ada hal lain yang dapat kau sampaikan padaku?”

“Tidak ada. Semua informasi yang kumiliki telah kusampaikan.”

Padahal, Kum Kecho menyembunyikan fakta bahwa Sang Lamafa Muda itu menguasai maha jurus silat... Tinju Super Sakti. Untuk hal yang satu ini, ia berniat melakukan penyelidikan sendiri.

“Baiklah, bila demikian adanya,” Bupati menghela napas. Semangatnya mencari tahu tentang Sang Lamafa Muda seolah menguap.

“Sebentar lagi Bupati Pulau Satu Garang akan bertandang. Tentunya akan membahas tentang kejadian semalam. Kau tak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan permasalahan ini.”

“Bupati semalam mengatakan bahwa akan ada penugasan,” Kum Kecho mencari kesempatan untuk meninggalkan Markas Besar Partai Iblis.

“Oh, ya... Penugasan kali ini adalah menjaga keamanan salah seorang anggota yang menyusup di Perguruan Gunung Agung. Kau pergilah ke Pulau Dewa.”

“Baik. Aku akan bertolak dalam beberapa hari kedepan.”

“Ya... Kau boleh kembali ke kediaman barumu,” tutup Bupati sambil mengibaskan tangannya. Kum Kecho ini sama sekali tak punya tata krama saat berhadapan dengan orang yang lebih tinggi jabatannya, mungkin demikian pikirnya.

Kum Kecho segera meninggalkan Griya Bupati. Firasatnya mengisyaratkan ada yang aneh dari Bupati itu. Sesungguhnya Kum Kecho bukanlah jenis orang yang peduli terhadap orang lain. Namun, berdasarkan interaksinya dengan sang Bupati selama satu jam terakhir, ia menangkap kesan bahwa sang Bupati adalah jenis orang yang senang memanipulasi. Sosok Bupati itu sangat, sangat mencurigakan.

Selain itu, Kum Kecho juga menyimpulkan bahwa ada misteri yang lebih dalam di balik diri Bupati itu. Meski demikian, ia tak hendak memancing di air keruh. Lebih baik menjaga tepi kain sendiri, pikirnya.

“Ia menyembunyikan sesuatu...” gumam Bupati setelah Kum Kecho meninggalkan ruangan.

“Heheh... Kum Kecho... Siapakah gerangan sebenarnya engkau...? Jurus silat apa yang kau gunakan semalam...? Sungguh sosok yang mencurigakan...,” senyum tipis kemudian menghias bibir Bupati.

“Lapor, Tuan Bupati!” tiba-tiba terdengar suara, memecah lamunan si Bupati.

“Oh! Kau telah kembali dari Kerajaan Parang Batu? Apa yang kau dapatkan dari latih tarung semalam?”

“Lapor, Tuan Bupati. Sesuai rencana, kita berhasil memancing keluar Sang Lamafa Muda.”

Perkiraan Lombok Cakranegara sangat tepat, anggota Partai Iblis yang kini melapor adalah sosok yang ia lihat semalam.

“Ya, ya, ya... Sang Lamafa Muda... Lalu?”

“Namanya Bintang Tenggara. Kasta Perunggu Tingkat 3. Namun memiliki kemampuan mengalahkan lawan yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5.”

“Bintang... Tenggara...?” Bupati seolah-olah berupaya mencari nama tersebut dari dalam ingatannya.

“Sepertinya ia menguasai kesaktian terkait unsur bayangan. Di saat akhir latih tarung, ia menerapkan jurus aneh.”

“Jurus bayangan aneh... Bagaimana dengan tempulingnya?” kembali Bupati mengajukan pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan kepada Kum Kecho.

“Tempuling yang ia miliki tidak terbuat dari unsur kesaktian api maupun unsur kesaktian es. Tempuling tersebut kemungkinan besar terbuat dari tanduk, taring atau tulang binatang siluman Kasta Perak.”

“Ya, tempuling yang terbuat dari bagian tubuh binatang siluman... Apakah ia ada kaitan dengan Panggalih Rantau?”

“Hamba menyimpulkan bahwa ia bukanlah orang yang bepergian bersama Panggalih Rantau saat itu. Dari latih tarung, tak ada kesan bahwa ia menguasai jurus yang dapat membuat kawah besar di tanah.

“Informasi yang hamba peroleh lalu mengungkapkan bahwa ia sudah lama berencana untuk menuntut ilmu di Perguruan Gunung Agung. Kepala Pengawal Istana Utama Kerajaan Parang Batu menampungnya dalam upaya melakukan persiapan.”

“Oh, demikian... Baiklah, kau beristirahatlah dulu sambil menunggu penugasan selanjutnya.”

“Terima kasih, Tuan Bupati. Hamba mohon undur diri,” ungkap anggota tersebut, lalu dijawab dengan kibasan tangan si Bupati.

“Hm... Bintang Tenggara,” kembali Bupati itu bergumam setelah ditinggal sendiri di dalam ruangannya.

“Hehe...” ia kemudian tertawa sinis. “Tampaknya kau tumbuh dengan baik...”



Catatan:

Ada empat ‘sosok mencurigakan’ dalam Episode ini. Entah yang mana yang dimaksud oleh judul di atas :p

Akhirnya selesai juga sesi latih tarung. Cukup panjang dan sering terlupa nama tokoh dan urutan pertarungan. Setengah jalan saat menulis, mau tak mau akhirnya membuat grafik pertarungan sebagai acuan.

Terima kasih sekali kepada para ahli yang masih mengikuti Legenda Lamafa. Silakan dibagikan kepada kawan-kawan lain bila berkenan.

Kali ini tambahan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang sering mengemuka (FAQ).

1. Bagaimana cara membedakan mana jurus yang diteriakkan dan mana yang tidak?

Sangat sederhana. Bila jurus diapit tanda petik (“), maka jurus tersebut dilafalkan atau diteriakkan.

Panglima Segantang selalu meneriakkan jurus secara lengkap, maka penulisan jurusnya menggunakan tanda petik, misalnya: “Jurus Parang Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba!” atau “Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!”

Kum Kecho tak pernah melafalkan nama-nama jurus, maka penulisan tidak menggunakan tanda petik, misalnya: 1000 Nyamuk Buru Tempur! atau Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!

Bintang Tenggara biasanya melafalkan jurus, namun dipersingkat, misalnya: “Hampa!” atau “Badak!”

Bila jurus terlalu panjang, maka jarang ia lafalkan, walau bukan berarti tidak pernah. Seperti diketahui, gurunya cenderung memaksa untuk meneriakkan nama jurus secara lengkap.

2. Mengapa Kasta Perunggu Tingkat 3 bisa menang melawan Kasta Perunggu Tingkat 4? Karena bila demikian, apa gunanya pembagian kasta tenaga dalam?

Mustika di ulu hati adalah wadah penyimpanan tenaga dalam. Jadi, Kasta dan Tingkat adalah skala berapa banyak tenaga dalam yang bisa disimpan di dalam mustika itu.

Lalu, teknik melepaskan tenaga dalam dari mustika dikenal sebagai jurus.

Misalnya Bintang dengan Kasta Perunggu Tingkat 3. Mengerahkan jurus yang boros seperti Tinju Super Sakti terhadap lawan dengan Kasta Perunggu Tingkat 4 yang tidak memiliki jurus canggih. Maka ,walapun lawan ini memiliki simpanan tenaga dalam yang jumlah yang lebih banyak, tapi karena tak punya jurus yang bisa memanfaatkan tenaga dalam tersebut, dipastikan lawan ini akan terpelanting.

Kum Kecho pintar. Ia menggunakan Jurus Kepik Cegah Tahan untuk menangkal Tinju Super Sakti. Cara ini tak membutuhkan banyak tenaga dalam dari mustika karena kepik itu adalah binatang siluman. Walaupun, sebagai pawang ia boros menggunakan tenaga dalam untuk memperkuat jalinan mata hati dalam mengontrol si kepik.

3. Lalu bagaimana dengan senjata pusaka yang memiliki tingkatan Kasta? Apakah juga memiliki wadah penyimpanan tenaga dalam?

Tingkatan Kasta pada senjata pusaka, mengacu kepada aura yang dipancarkan. Kita ketahui bahwa sesama ahli bisa mengira-ngira Kasta dan Peringkat lawan melalui aura yang dipancarkan oleh mustika tenaga dalam. Tempuling Raja Naga memancarkan aura yang senada dengan para ahli Kasta Perak. Jadi, penetapan Kasta pada senjata pusaka bukan terkait jumlah tenaga dalam, tapi aura yang dipancarkan mirip dengan mustika tenaga dalam. Seberapa besar aura yang dipancarkan memang tergantung pada keunggulan senjata tersebut.

Dalam pertarungan ahli pada Kasta dan Tngkat yang sama, senjata pusaka bisa menjadi penentu kemenangan.

4. Mengapa hanya terbit tiga kali sepekan, mengapa tidak setiap hari?

Karena penulis juga manusia...

Dulu pembaca ceritera silat Karangan Kho Ping Ho, tiap episodenya hanya terbit sepekan sekali, bahkan dua pekan sekali. Membaca manga terjemahan Jepang versi penerbit lokal, terbitnya sebulan sekali. Mengikuti manga Naruto, One Piece, dll. di situs terjemahan pembajak, setiap episode hanya terbit sepekan sekali.

Kesimpulannya (yang tak terlalu nyambung), jeda antara setiap episode merupakan kenikmatan tersendiri. Kesempatan bagi benak kita berimajinasi tanpa mengenal batas.