Episode 44 - ‘Satu Pukulan’


“Srash!”

Decur air menyibak ke segala penjuru. Terara terpental empat-lima langkah ke belakang. Ia baru saja menahan pukulan tinju lawan dengan menyilangkan lengan di depan dada.

Kemudian, ia melonggarkan kuda-kudanya dan berdiri tegak. Lengan kanannya bergetar.

“Aku menyerah,” ungkap Terara. “Adik Bintang, terima kasih telah menunjukkan kekuranganku.”

Dengan demikian ia segera turun dari panggung. Seluruh wakil dari Istana Keempat kehilangan kesempatan meraih kemenangan.

“Hah! Apa yang terjadi?”

“Hanya satu pukulan biasa membuat pertahanan Terara menyerah?!

“Mungkin Terara sedang tidak enak badan…?”

Hanya Terara yang menyadari sepenuhnya kejadian di atas pangung tadi. Sejak menguasai kesaktian unsur air, belum ada lawan seusia yang dapat menembus pertahanan jurus sakti yang ia kuasai. Tapi malam ini, ia merasa yakin bahwa tulang lengan kanannya retak!

Bintang baru saja melepaskan tiga pukulan tinju beruntun. Tiga pukulan beruntun itu tentu tak akan menghasilkan Tinju Super Sakti, namun cukup kuat bahkan untuk mendorong Panglima Segantang. Akibat seringnya berlatih tarung dengan Panglima, Bintang tak menyadari ambang batas kekuatannya sendiri. Walau yang terjadi merupakan kesalahan Panglima, selepas ini aku harus menjenguk dan meminta maaf kepada Terara, pikirnya.

“Istana Utama memenangkan latih tarung…” seru pembawa acara yang juga tak percaya dengan hasil pertarungan barusan.

“Istana Kedualah lawan selanjutnya. Namaku Suralaga, 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4,” seorang remaja kemudian melompat ke atas panggung. Setelah rekannya Gili Nangu dan Priggarata masing-masing meraih satu kemenangan, ia tak hendak ketinggalan.

Bintang berdiri tenang, dan terlihat bingung. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya apakah perlu kembali memperkenalkan diri atau tidak. Akhirnya ia memutuskan bahwa tentu lebih sopan untuk kembali memperkenalkan diri…

“Keberuntungan tak akan terjadi dua kali!” seru Suralaga angkuh. “Aku akan mengirimmu pulang ke dusun asalmu!”

Bintang kembali terlihat bingung. Silakan kalau memang mampu mengalahkanku, tapi mengapa ia merasa berkewajiban mengirimku pulang ke Dusun Peledang Paus? Tidakkah ia tahu bahwa esok aku hendak menuju Perguruan Gunung Agung? Mengapa tak mengirimku ke Pulau Dewa saja?

Usai mengungkapkan perasaan di hati, Suralaga merangsek menyerang. Rupanya ia adalah ahli silat. Ia ingin menyelesaikan pertarungan secepat mungkin. Dalam pikirannya, Kasta Perunggku Tingkat 3 bukanlah lawan yang berimbang baginya. Membungkus sekujur lengannya menggunakan tenaga dalam, ia melontarkan tinju ke arah dada Bintang!

Bintang pun melakukan hal yang sama. Bedanya, ia juga turut mengalirkan tenaga dalam ke sendi-sendi di kaki, pinggang, dan bahu. Teknik ini adalah dasar yang diajarkan gurunya, siluman sempurna yang jago silat. Otot-otot yang telah dinutrisi secara permanen oleh Komodo Nagaraja pun mengencang. Sedikit membungkukkan tubuh, Bintang melenting ke depan!

“Brak!”

Tiga tinju beruntun terlebih dahulu menghantam dada Suralaga! Saking cepatnya ketiga tinju tersebut, maka yang terlihat hanyalah satu pukulan saja. Untungnya di saat-saat kritis Suralaga menyadari kesalahannya, sehingga sempat melindungi dada dengan tenaga dalam. Ia pun terpelanting sekitar tujuh-delapan langkah ke belakang. Tak sadarkan diri.

Kepala Pengawal Istana Kedua, Pringgabaya, terbangkit dari tempat duduknya. Ia yang tadinya duduk-duduk santai menunggu kemenangan Suralaga terkejut bukan kepalang. Terara yang lengannya sedang diperiksa oleh tabib Istana Keempat pun masih terkejut. Kepala Pengawal Istana Utama, Lombok Cakranegara, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Panglima Segantang melipat tangan ke depan dada, ekspresi bangga tercermin dari raut wajahnya.

“Satu pukulan!?” terdengar suara pembawa acara memecah keheningan.

“Ehm… maksudku, Petarungan dimenangkan oleh wakil Istana Utama!” teriak pembawa acara lagi. Tak lama disusul sorak-sorai dari kubu Istana Utama. Mereka tak peduli apakah yang terjadi di atas panggung adalah kebetulan belaka atau pun bukan. Kini adalah kesempatan mereka untuk bersorak lebih keras terhadap kubu Istana Kedua.

“Gili Nangu, cepat naik ke atas panggung!” seru Kepala Pengawal Istana Kedua. “Kerahkan seluruh kemampuanmu!”

Serta merta Gili Nangu melompat ke atas panggung. Pada pertarungan sebelumnya, ia hendak melawan perwakilan Istana Utama namun dicegah oleh Istana Keempat. Kini ia memperoleh kesempatan emas.

“Namaku Gili Nangu, 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4,” ungkapnya berdiri di depan Bintang.

“Bintang Tenggara, 12 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 3,” jawab Bintang cepat. Kali ini ia memperoleh kesempatan untuk kembali memperkenalkan diri.

Gili Nangu tak hendak mengulangi kesalahan Suralaga. Menurut pengamatannya, Suralaga terburu-buru sehingga kemungkinan melakukan kesalahan dalam merapal jurus. Walhasil, mungkin temannya itu terkena hentakan balik dari jurusnya sendiri. Pandangan umum pun menyimpulkan hal yang serupa.

Gili Nangu kemudian memasang kuda-kuda silat. Seperti Suralaga, ia adalah ahli yang menekankan pada persilatan. Bintang menyimpulkan bahwa lawan di depannya benar-benar serius. Ia pun memasang kembangan.

Kuda-kuda adalah posisi tubuh atau sikap siaga untuk menyerang atau bertahan, yang cenderung diam. Sedangkan kembangan pada dasarnya adalah rangkaian gerakan mengantisipasi secara berkesinambungan. Jadi, bisa dikatakan bahwa kuda-kuda bersifat statis, sedangkan kembangan bersifat dinamis. Meski, ada sejumlah pengecualian dalam kondisi-kondisi tertentu.*

Gerakan kembangan Bintang merupakan aliran tangan kanan dan kiri yang bergerak sedang, membentuk lingkaran kecil. Kedua kakinya menapak ringan seakan melayang di atas panggung. Ia melangkah pelan ke kiri dan ke kanan membentuk jalur setengah lingkaran mengelilingi lawan.

Benar, ini adalah kembangan yang mengacu pada kembangan milik Panglima, meski terdapat perbedaan di beberapa gerakan. Karena setiap hari dalam sepekan ini mereka berlatih tarung bersama, gerakan kembangan menempel begitu dalam ke benak dan sumsum tulang belakang Bintang. Suatu hari nanti, kembangan ini mungkin akan memiliki namanya sendiri, dan terkenal di seluruh pelosok Negeri Dua Samudera.

“Kembangan!?” gumam Kepala Pengawal Istana Ketiga. Orang tua setengah baya tersebut sudah cukup memiliki pengalaman untuk mengetahui perbedaan kembangan dengan kuda-kuda.

Sebaliknya, Gili Nangu cukup kebingungan melihat lawan bergerak setengah lingkaran mengelilingi dirinya, ke kiri dan kanan. Terlebih lagi, kedua tangan Bintang seolah hendak merapal jurus, namun tak ada jurus yang diluncurkan. Pada akhirnya Gili Nangu menyimpulkan bahwa rangkaian gerakan Bintang adalah gerakan yang bertujuan mengelabui.

Perkiraan Gili Nangu hanya setengah benar… Sampai tetiba Bintang, yang saat itu berada di sisi kanannya, menghentakkan napas dan merangsek menyerang! Tidak siap, Gili Nangu melompat ke arah berlawan dengan niat menjaga jarak.

Namun, ketika ia merasa akan berhasil mundur dan keluar dari wilayah serang Bintang, Gili Nangu merasakan punggungnya seperti tertahan sesuatu yang keras. Gerakan mundurnya mendadak melambat!

“Bugh!”

Belum lepas Gili Nangu dari keterkejutannya, tinju beruntun Bintang menghantam tepat di ulu hatinya! Ia terdiam, mata mendelik, lalu rubuh di tempat.

“Keterampilan khusus itu…” gumam Panglima, mata menyipit.

Tak ada yang tahu sejak kapan, tapi kini Panglima sudah berdiri di sebelah Kepala Pengawal Istana Utama, tepat di sisi panggung berlatih. Tak ada yang tahu pula selain Panglima Segantang, bahwa saat Bintang menarikan kembangan, ia telah melempar segel pijakan untuk menghentikan gerakan mundur lawan. Biasanya segel pijakan ini dimanfaatkan untuk melenting di udara, tapi kini fungsinya sedikit dimodifikasi. Sungguh sebuah strategi bertarung yang membutuhkan perhitungan matang.

Tiga orang lawan rubuh seolah hanya dengan satu pukulan! Pertahanan tangguh Terara ditembus, ketidaksabaran Suralaga justru kalah tangkas, serta kehati-hatian Gili Nangu berbalik menjadi kelengahan.

Suasana hening. Jikalau saja ada yang menjatuhkan jarum, maka kemungkinan besar seluruh penjuru gelanggang berlatih akan mendengar suara denting jarum tersebut.

“Lombok Cakranegara!” teriak Pringgabaya, Kepala Pengawal Istana Kedua, berang memecah keheningan. “Siapa sebenarnya wakil terakhirmu itu?! Apakah pendekar bayaran!? Aku menuntut penjelasan!?”

Kecurigaan Pringgabaya tentu sangat berasalan. Jikalau memang ada seorang anak berusia 12 tahun di Kerajaan Parang Batu yang sedemikian berbakat, mengapa tak pernah terdengar sampai ke telinganya? Selain itu, dua orang wakil dari Istana Kedua berurutan kalah mengenaskan!

“Aku juga menuntut penjelasan! Sesuai aturan, latih tarung ini hanya diperuntukkan bagi generasi muda Kerajaan Parang Batu!” seru Kepala Pengawal Istana Ketiga, meski untuk alasan yang berbeda. Ia sangat penasaran darimana gerangan kembangan itu berasal.

Lombok Cakranegara hanya bisa tersenyum ringan. Sebulir keringat mengalir di pelipisnya. Ia sendiri menyembunyikan keterkejutan. Bagaimana mungkin ia bisa memperkirakan anak semuda itu memiliki strategi bertempur sedemikian canggih? Oh, andai saja Lombok Cakranegara melihat keseluruhan dari ‘99 Taktik Tempur’ versi Komodo Nagaradja… mungkin ia akan berkeringat dingin sampai berhari-hari lamanya. **

“Jawab pertanyaan kami!” kini Pringgabaya setengah membentak.

“Ia memiliki Lencana Kerajaan Parang Batu, tidakkah itu cukup?” jawab Lombok santai.

“Lombok Cakranegara, jangan mempermainkan kami!”

“Hm… Tidakkah kalian pernah mendengar tentang kelahiran Sang Lamafa Muda dari Pulau Paus?” Lombok berujar.

“Memang ada kabar burung tentang Sang Lamafa Muda dari Pulau Paus, tapi apa hubungannya dengan latih tarung kali ini?” ujar Pringgabaya.

“Bintang Tenggara, Sang Lamafa Muda!” seru Lombok Cakranegara dengan dagu terangkat tinggi, sambil menunjuk ke arah Bintang.

Semua mata kini kembali tertuju ke arah Bintang. Siapa di wilayah tenggara yang tak pernah mendengar tentang keperkasaan lamafa? Seluruh hadirin mulai berbisik sambil memperhatikan Bintang di atas panggung. Bahkan ada yang berdiri dari tempat duduknya.

“Hahaha…” lelaki setengah baya Kepala Pengawal Istana Kedua mengangkat kepalanya dan tertawa lebar.

“Sejak kapan Pulau Paus menjadi wilayah Kerajaan Parang Batu, dan apa pula buktinya anak itu adalah Sang Lamafa Muda yang kau sebut-sebut?”

“Uhuk… Uhuk…” tiba-tiba terdengar suara batuk yang berat dari kubu Istana Keempat. “Sebuah Gardu Jaga telah didirikan di Dusun Peledang Paus. Seluruh wilayah Pulau Paus kini berada di bawah perlindungan Kerajaan Parang Batu.”

Suara tersebut berasal dari seorang sesepuh tua. Saking sepuh dan tuanya, seluruh rambut di kepala, alis dan janggutnya berwarna putih. Ia adalah Kepala Pengawal Istana Keempat. Sejak awal latih tarung, ia tertidur di bangkunya. Tak ada yang berani membangunkan.

Mata Kepala Pengawal Istana Kedua dan Ketiga melotot ke arah kubu Istana Keempat. Akan tetapi, bahkan kedua Kepala Pengawal tersebut tak berani mempertanyakan pernyataan Kepala Pengawal Istana Keempat. Terlihat jelas perbedaan senioritas di antara mereka. Terlebih lagi, berbagai pejabat dari kedua Istana membenarkan pernyataan tentang keberadaan Gardu Jaga Kerajaan Parang Batu di Pulau Paus.

“Lalu, apa buktinya anak itu adalah adalah Sang Lamafa Muda dari Pulau Paus!?” Pertanyaan kembali ditujukan kepada Lombok Cakranegara.

Lombok lalu menatap ke arah Bintang, “Adik, kumohon…”

Seketika itu juga Bintang mengeluarkan Tempuling Raja Naga! Tempuling putih dengan ukiran halus ruas-ruas tulang seolah mampu menyedot napas setiap orang yang menatapnya. Kemudian aura senjata pusaka Kasta Perak menyibak ke seluruh penjuru gelanggang berlatih.

“Sebuah tempuling Kasta Perak. Telah menjagal Paus Surai Naga sekira sebulan yang lalu,” ungkap Kepala Pengawal Istana Keempat menimpali. “Beruntung sekali aku dapat menyaksikan kelahiran seorang lamafa jelang akhir hayatku…”

Kepala Pengawal Istana Kedua dan Ketiga menganga. Dagu mereka seperti hendak lepas dari tempatnya.

“Saat ini bukan waktunya mengagumi senjata pusaka… Apakah kita akan melanjutkan latih tarung?” ungkap Lombok Cakranegara ringan, kini berada di atas angin.

“Kepala Pengawal, izinkan aku bertarung,” pinta Sembalun. “Kelengahan adalah penyebab kekalahan demi kekalahan sebelumnya. Aku yakin dapat mengalahkannya dengan kesaktianku.”

“Lombok Cakranegara, sungguh tak adil bilamana wakilmu menggunakan senjata pusaka Kasta Perak,” teriak lelaki setengah baya Kepala Pengawal Istana Ketiga.

“Apakah wakil kami pernah mengandalkan senjata pusakanya pada partai-partai sebelumnya?” Lombok Cakranegara membalikkan.

Sembalun kemudian melompat ke atas panggung. Seketika itu juga ia mengeluarkan parangnya. Tanpa tempuling, Bintang adalah petarung jarak dekat, sedangkan Sembalun adalah petarung jarak menengah. Bintang telah mengamati jurus Parang Api milik Sembalun. Kombinasi antara kepiawaian menggunakan parang dan kesaktian unsur api akan sulit untuk dihadapi.

Dari tiga latih tarung sebelumnya, kubu lawan telah menyaksikan cara Bintang bertarung. Meski, tentu saja mereka hanya melihat, belum tentu memahami. Yang lebih penting lagi, mereka tentu telah memperkirakan bahwa dari tiga latih tarung sebelumnya, Bintang setidaknya menggunakan tenaga dalam cukup banyak – mungkin mencapai 50 persen. Yang tak mereka ketahui, karena memiliki otot-otot yang diperkuat permanen, sesungguhnya Bintang hanya mengerahkan kurang dari 30 persen tenaga dalam dari mustika Kasta Perunggu Tingkat 3.

Sembalun menghentakkan napas lalu menebaskan parangnya. Baru setelah berhadapan langsung, Bintang merasakan tekanan dari Sembalun yang penuh percaya diri dan mendominasi.

Sembalun terus merangsek, sedangkan Bintang hanya berkelit ke kiri dan ke kanan, bahkan mundur teratur. Ia tak menemukan celah di atara tebasan dan tusukan parang. Kini Bintang sudah mendekati ujung panggung berlatih.

“Pengecut, hadapi parangku jikalau kau memang jantan!” ia berseru kepada kepada Bintang.

“Kawan Bintang, hantam kepalanya segera!” teriak Panglima dari sudut panggung.

Andai saja panglima yang bertarung saat ini, pasti ia akan beradu parang dengan Sembalun, dan tak akan mundur barang selangkah pun. Panglima adalah Panglima, dan Bintang adalah Bintang. Keduanya memiliki gaya bertarung yang sangat berbeda. Walaupun, hasil akhirnya akan sama. Keduanya dapat mengalahkan Sembalun.

Sembalun rupanya terintimidasi oleh teriakan Panglima. Ditambah posisi Bintang yang tak lagi memiliki ruang mundur, ia menggeretakkan gigi, lalu merampung seluruh kekuatan untuk menghantam dalam sekali pukul. Dengan cepat Sembalun melompat dan menebaskan parang yang telah diimbuh kesaktian unsur api!

“Bum!”

Ledakan parang terlihat dan terasa lebih besar dibandingkan ledakan yang selama ini Sembalun kerahkan. Kepulan asap yang dihasilkan pun lebih tebal. Kepala Pengawal Istana Utama terkejut. Ia menyaksikan langsung tebasan itu mengenai Bintang dengan telak. Namun, Panglima Segantang justru yang mencegahnya melompat ke atas Panggung. Padahal, pada beberapa latih tarung sebelum ini, Panglima yang melompat ke atas panggung tanpa basa-basi. Sebuah ironi.

Suasana hening. Seluruh hadirin terdiam menunggu kepulan asap tersibak. Beberapa penonton menelan ludah. Melihat penampilan Bintang sebelumnya, serta jati dirinya sebagai Sang Lamafa Muda, tak seorang pun berani menebak hasil pertarungan kali ini.

Ketika asap akhirnya menyilam dibawa angin malam, mereka menyaksikan Sembalun… dalam posisi bersujud tak berdaya! Sedangkan Bintang berdiri tegak, sambil menyeka debu yang menempel di pakaiannya.

Kepala Pengawal Istana Ketiga melompat dari tempat duduknya! “Apa yang terjadi?” suaranya seperti tersedak.

Sekali lagi, tak ada yang tahu apa yang terjadi selain Bintang… dan Panglima. Panglima yakin betul di saat-saat genting tadi, Bintang menangkis menggunakan Sisik Raja Naga, lalu dengan cepat menghantam perut Sembalun.

Sisik Raja Naga adalah pusaka yang unik. Berbeda dengan Tempuling Raja Naga yang begitu perkasa, Sisik Raja Naga sama sekali tak menyibak aura apa pun. Kondisi ini berlaku ketika sisik pelindung tersebut dalam keadaan pasif, maupun aktif.

Dalam keadaan aktif, Sisik Raja Naga dapat menyebar menjadi pelindung yang ringan, lentur sekaligus kuat. Mungkin ketiadaan aura dan kemampuan berubah ukuran tersebut merupakan dampak dari jurus Alih Wujud Semesta yang sempat diutarakan Komodo Nagaradja. ***


Catatan:

*) Definisi ‘kembangan’ dan kembangan milik Panglima dijabarkan dalam Episode 38.

**) 99 Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja sejauh ini baru dua kali dipraktekkan, yaitu dalam Episode 29 dan Episode 34.

***) Komodo Nagaradja menyatakan tentang jurus Alih Wujud Semesta dalam Episode 20.