Episode 14 - Penobatan Hastabrahma


Setibanya kami di Kadipaten Kedu, Tedjo Alur memerintahkan prajuritnya untuk mengumpulkan para tabib dan membawa mereka ke kamar Adipati Keraton Kedu. Selain itu, Tedjo Alur pun memberi perintah untuk menutup seluruh jalur masuk ke Kadipaten ini. Sesampainya di kamar, Tedjo Alur memerintahkan kami untuk membawa masuk sang Prabu ke dalam.

“Baringkan Prabu di sana,” ujar Tedjo Alur menunjuk ke arah kamar besar yang ada di dalam Keraton.

Kami kemudian menggotong Sang Prabu dan membaringkannya perlahan di atas tempat tidur. Tak lama berselang, para tabib yang dikawal oleh para prajurit berlari mendatangi kamar ini.

“Kami dengar Sang Prabu terluka parah? Sini biar kulihat…,” ujar seorang tabib tua berbaju cokelat.

Tabib itu memeriksa Sang Prabu diikuti oleh tabib lainnya. Mereka berdiskusi. Tak dapat kudengar suara mereka yang saling berbisik.

“Kalian silakan menunggu di luar. Jangan mengerubungi Prabu seperti ini, beri dia ruang untuk bernafas!” ujar seorang Tabib yang terlihat paling muda, tidak memiliki janggut putih seperti yang lainnya.

Kami keluar, sambil menunggu para tabib mengobati Sang Prabu, Pangeran Hastabrahma meminta kami untuk berkumpul di pendopo.

“Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus menyusun strategi untuk kembali mengambil alih Watugaluh,” ujar Pangeran Hastabrahma sesampainya di pendopo.

“Ampun beribu ampun Kanjeng Gusti, tapi melihat kondisinya sekarang, tidak mungkin kita menyerang Watugaluh,” ujar Soka Dwipa.

“Kamu benar, aku telah banyak mendengar cerita tentang Jayalodra, bagaimana kejamnya dan saktinya dia. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan dia menguasai Watugaluh,” sahut Hastabrahma.

“Saya dapat merasakan apa yang Kanjeng Gusti rasakan. Apa yang kini menimpa Kanjeng Pangeran juga pernah saya rasakan. Namun untuk menghadapi Jayalodra kita butuh perencanaan yang matang. Kita tidak bisa tergesa-gesa. Sebab kini Jayalodra memiliki pasukan siluman yang kekuatannya jauh di atas prajurit-prajurit yang bersama kita saat ini. Tambahan lagi, kita tidak tahu ada berapa banyak rakyat Watugaluh yang masih hidup, yang mungkin dijadikannya tawanan,” ujar Soka Dwipa.

Kata-kata Soka Dwipa tersebu sontak mengingatkanku kepada Empu Parewang. Bagaimana nasib kakek angkatku itu? Dia tidak ikut pergi bersama kami? Apa dia masih hidup atau sudah dihabisi oleh pasukan siluman yang mengobrak-abrik Watugaluh? Entahlah… aku hanya dapat mendoakan yang terbaik untuknya.

“Baiklah, untuk sementara kita harus menahan diri. Kita siapkan persenjataan, perbekalan, pelatihan, serta perencanaan untuk menyerang Jayalodra sambil menunggu kesehatan ayahandaku membaik. Ketika Ayahanda Prabu pulih, baru kita putuskan kapan waktu yang tepat untuk mengalahkannya,” ujar Sang Pangeran.

Beberapa hari kami lalui di Kadipatren ini dengan rasa was-was, takut jika pasukan siluman Jayalodra mengetahui keberadaan kami di sini dan menyerang kami. Jumlah kami tak banyak, hanya ada sekitar tiga pasukan tempur dari tiga Kadipaten ditambah kami para pelarian dari Watugaluh. Rasanya akan sangat sulit menaklukkan pasukan siluman Jayalodra.

Di tempat ini kami membagi tugas, aku bersama Darojat dan yang lainnya bertugas menjaga perbatasan, sedangkan pasukan Surya Kusuma menjadi telik sandi yang dikirim untuk memata-matai pergerakan pasukan siluman Jayalodra di Watugaluh. Hastabrahma, Surya Kusuma, Tedjo Alur dan Soka Dwipa terus menyusun strategi penyerangan ke Watugaluh di Balai Agung Keraton Kedu. Sungguh berat beban pikiran yang mereka tanggung, mereka harus mampu memikirkan bagaimana strategi yang tepat untuk mengalahkan Jayalodra dan bala tentara silumannya hanya dengan segelintir pasukan.

Saat bulan sabit menerangi langit malam Kedu, Prabu Reksa Pawira bangun dari tidur panjangnya. Dia berjalan terseok-seok keluar kamar, aku yang malam itu kebetulan bertugas di dalam istana melihatnya, aku membantunya duduk sementara Darojat yang ikut berjaga denganku kuperintahkan untuk memberi tahu Kanjeng Gusti Ratu.

“Jat, kamu cepat kasih tau Kanjeng Gusti Ratu Nila Kencana, Pangeran Hastabrahma dan yang lainnya, bilang kalau Kanjeng Prabu sudah sadar,” titahku kepada Darojat sambil membantu sang Prabu duduk di sebuah bangku panjang di luar kamar.

“Kamu tunggu sini ya, Ro… tak panggilin dulu. Jangan ke mana-mana loh, ya. Nanti kalau kamu kemana-mana aku susah nyarinya gimana?”

“Sudah cepat sana! Kok malah ngoceh terus!”

“Iya… iya… aku pergi dulu,” ujar Darojat sambil memberi hormat kepada Kanjeng Prabu sebelum ia pergi.

Sang Prabu terus memanggil-manggil nama Lembu Sutta, sepertinya ada yang ingin dibicarakannya dengan Sang Mahapatih. Namun dia harus kecewa manakala kuceritakan semuanya, ketika kuberitahu bahwa Lembu Sutta telah tiada. Dan harus bertambah sedih lagi ketika mendengar bahwa Putrinya, Rara Kemuning, telah meninggal dunia, sesaat sebelum sang suami gugur dalam pertarungan melawan Jayalodra.

Malam itu mungkin malam yang menggembirakan bercampur kesedihan. Menggembirakan karena dapat melihat Sang Prabu siuman, namun sedih karena harus melihat Sang Prabu meratapi kepergian anak dan menantunya. Pangeran Hastabrahma bersama yang lainnya pun datang.

“Ayahanda… Ampuni saya yang tidak berbakti kepada Ayahanda. Saya tidak ada di saat Watugaluh membutuhkan… maafkan saya Ayahanda,” ujar Hastabrahma sambil berlutut memeluk kaki Sang Ayah.

“Ini bukan kesalahanmu, seperti kau yang tiba-tiba muncul di hadapan Ayah saat ini, kekalahan Watugaluh pun sudah digariskan oleh Sang Pemilik Jagad Raya,” sahut Prabu Reksa Pawira sambil memejamkan mata dan menarik nafas panjangnya.

“Kita tidak bisa membuang waktu! Bawa aku ke pendopo, kumpulkan para petinggi, Guru dan pejuang yang kita miliki!” ujar sang Prabu.

“Tapi Ayahanda baru sadarkan diri, bagaimana dengan kondisi kesehatan Ayahanda?”

“Kita berpacu dengan waktu, cepat atau lambat Jayalodra bersama pasukannya akan menemukan kita. Kita harus bisa menyerang mereka sebelum mereka menyerang kita. Ayah tidak ingin mengulangi kesalahan hingga dua kali,”

“Tapi Ayah…,”

“Laksanakan! Ini Titah Raja!” ujar Prabu Reksa Pawira.

Hastabrahma memerintahkanku untuk mengumpulkan para petinggi, guru dan juga para prajurit ke pendopo. Untuk mempersingkat waktu aku meminta bantuan dari prajurit lainnya untuk memberitahu para petinggi agar berkumpul di pendopo. Sementara itu, Sang Pangeran memapah Ayahandanya berjalan menuju ke pendopo.

Kami semua berkumpul di pendopo. Raut wajah semua orang yang ada di sini menunjukan ketegangan. Mungkin mereka mencemaskan kondisi Sang Prabu, atau sepertiku, merasa cemas bila sewaktu-waktu dengan tetiba pasukan Jayalodra menyerang.

“Saya berterimakasih karena kalian masih setia kepada saya. Saya meminta maaf karena telah banyak merepotkan. Kondisi saya tidak memungkinkan untuk memimpin kalian maju ke medan pertempuran dan melawan Jayalodra beserta pasukannya. Maka dari itu, kuserahkan komando pasukan kepada putraku, Hastabrahma. Dan dengan ini pula, kunyatakan, mulai malam ini, dialah yang menjadi Raja kalian,” ujar Prabu Reksa Pawira.

“Tapi Ayahanda…,” ujar Hastabrahma dengan wajah terkejut sambil memandangi kedua mata Ayahandanya.

“Nak… Kau pernah meninggalkan Watugaluh untuk mencari dan menyebarkan dharma. Kini sudah saatnya kau kembali ke Watugaluh, kembali ke takdirmu sebagai Raja. Ayahanda yakin ada setiap alasan dari semua hal yang terjadi di hidup kita. Dan adanya kau di sini, di sisi Ayah saat ini, pasti juga karena suatu maksud,” tutur Sang Prabu sambil memegangi wajah Pangeran Hastabrahma yang terlihat bimbang.

“Maaf sebelumnya bila saya menyela percakapan kalian… Muridku Hastabrahma, benar yang dikatakan Ayahandamu. Setiap yang terjadi di atas muka bumi sudah dituliskan, dan semua berjalan karena ada sebab dan tujuannya. Begitu pula dengan yang terjadi hari ini, tentu sudah digariskan oleh Sang Maha Esa,” ujar salah seorang Guru dari rombongan yang ikut bersama Hastabrahma.

“Kau ingat? Perjalanan kita ke Bromo? Bukankah di sana kita menjumpai pedang Banaspati yang tertancap di tengah desa dan menyebabkan kekeringan di seluruh negeri timur itu? Kau ingat bagaimana dengan mudahnya kau mencabut pedang itu dari tanah? Kau tidak terbakar saat mencabut pedang itu, bukan? Apakah mungkin orang biasa dapat melakukannya? Kau ditakdirkan untuk menggunakan pedang yang kini tersegel di tubuhmu itu, wahai muridku. Kau ditakdirkan untuk berjuang bersama pedang itu,” tambah Sang Guru.

“Baiklah Guru… Ayahanda… saya akan menerima tanggung jawab sebagai Raja Watugaluh,” ungkap Hastabrahma dengan wajah yang tampak sedikit murung.

Malam itu pun langsung dilakukan upacara pengangkatan raja. Pangeran Hastabrahma dimandikan dengan air kembang setaman sambil dikelilingi oleh para Guru yang membaca doa. Kemudian sang Pangeran berlutut di hadapan Prabu Reksa Pawira. Sang Prabu memegang kepala pangeran Hastabrahma. Seharusnya dilakukan penyerahan mahkota dan senjata dari Prabu Reksa Pawira, hanya saja mahkota serta dada milik Sang Prabu tertinggal di Watugaluh.

“Dengan ini kuangkat kau sebagai Maharaja Watugaluh dengan gelar Sri Maharaja Hastabrahma Mahissasura Dhananjaya,” ujar Prabu Reksa Pawira dan disahut oleh para Guru dengan bacaan-bacaan mantera yang semakin keras suaranya.

Setelah upacara selesai, Mahaguru yang merupakan guru dari Prabu Hastabrahma meminta izin untuk melepaskan pedang Banaspati yang tersegel di tubuh Hastabrahma. Para Guru pun mengelilingi sang Raja, kemudian mereka mulai membacakan mantera. Prabu Hastabrahma berdiri di tengah sambil memejamkan mata, telapak tangannya disatukan di depan dadanya. Udara di sini tiba-tiba menjadi lebih panas dan terus bertambah panas.

Prabu Hastabrahma kemudian membuka tangannya dan munculah sebilah pedang yang mengeluarkan api dari dada sang Prabu. Pedang itu muncul diiringi dengan hembusan angina panas yang menerpa kami semua. Namun para guru tetap berkonsenterasi membaca mantera. Prabu Hastabrahma membuka matanya dan terkejut dengan apa yang terjadi.

“Prabu…. Prabu harus bisa bersatu dengan pedang itu untuk dapat mengendalikannya!” teriak Soka Dwipa.

Sang Prabu kemudian menutup kembali kedua matanya dan memegang gagang pedang itu dengan tangannya. Api yang berkobar di pedang itu perlahan menjalar, berpindah dari pedang menyelimuti tubuhnya dan bertambah besar seolah menenggelamkan tubuh Sang Prabu yang baru dilantik itu ke dalam Api.

Kupikir dia akan mati terbakar oleh api itu, ternyata dugaanku salah.

Api yang menyelimuti tubuhnya berubah menjadi baju perang yang hampir sama dengan yang dikenakan oleh Jayalodra, hanya saja motifnya berbeda. Yang dikenakan oleh Prabu Hastabrahma bermotif api dengan wajah makhluk aneh di dadanya. Dan saat baju perang itu muncul, udara di sekitarku kembali normal, tidak lagi panas seperti saat pedang itu membara tadi.