Episode 43 - Tapak Suci …*


Dari kejauhan terlihat jajaran kepulauan yang membentang. Kepulauan tersebut terdiri dari gugusan enam pulau, yaitu lima pulau berukuran sedang dan satu pulau besar. Pulau terbesar itu ukurannya sangatlah luas, mungkin mencapai dua atau tiga kali lebih luas dari wilayah Pulau Dewa.** Pulau terbesar tersebut kemudian dikelilingi oleh lima pulau-pulau berukuran sedang.

Bila diperhatikan dengan lebih seksama, maka gugusan kepulauan ini membentuk sebuah bintang lima segi. Dengan kata lain, pulau terbesar terletak persis di tengah-tengah, sementara kelima pulau yang berukuran sedang membentuk setiap kaki-kaki bintang.

Oleh penghuninya, kepulauan ini dinamai sebagai Kepulauan Jembalang. Jembalang memiliki berbagai arti di berbagai wilayah Negeri Dua Samudera, namun secara umum jembalang berarti ‘hantu’. Kepulauan Jembalang juga memiliki sebutan lain, yaitu: Markas Besar Partai Iblis.

Tidak ada yang tahu dimana letak Kepulauan Jembalang sebagai lokasi Markas Besar Partai Iblis. Pemerintah Negeri Dua Samudera telah sejak lama menugaskan Pasukan Pengaman untuk mencari tahu lokasi ini, namun tak pernah membuahkan hasil. Bahkan, Pasukan Telik Sandi pun menemukan jalan buntu. Dari waktu ke waktu, para ahli dari aliran putih juga mencoba mengirimkan ekspedisi bilamana merasa menemukan petunjuk keberadaan Kepulauan Jembalang. Sejauh ini, selalu mereka menelan pil pahit kegagalan.

Kesepakatan umum lalu menyimpulkan bahwa Markas Besar Partai Iblis terletak di dimensi lain. Sebuah dimensi yang tersembunyi serta tak dapat ditembus selain oleh anggotanya. Jalur keluar masuk menuju Kepulauan Jembalang sesungguhnya tersebar di berbagai wilayah di Negeri Dua Samudera. Partai Iblis menyembunyikan gerbang dimensi di tempat-tempat strategis dan tersembunyi, yang tentunya bertujuan memudahkan kegiatan anggotanya.

Bagi anggota, struktur organisasi di Markas Besar Partai Iblis pun sangatlah unik. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok masyarakat.

Anggota yang baru bergabung ke dalam partai akan memulai dari peringkat terendah, dan menempati salah satu dari kelima pulau berukuran sedang. Itu pun mereka hanya diperbolehkan menempati sisi terluar dari pulau-pulau tersebut.

Seorang anggota baru diharuskan mengerjakan berbagai tugas partai, yang sebagian besarnya adalah tindak kejahatan, seperti: merompak, menculik, memeras, menganiaya, menipu, mencuri, membunuh… Semakin banyak jasa kepada Partai, serta seiring dengan meningkatnya keahlian, maka seorang anggota dapat bergerak semakin ke tengah pulau atau dengan kata lain, naik peringkat.

Bila anggota tersebut telah sampai ke posisi di tengah pulau berukuran sedang, dan bila telah memenuhi syarat, maka ia dapat dipromosikan untuk pindah ke pulau terbesar di pusat Kepulauan Jembalang.

Meski, ada satu jalan pintas yang dapat ditempuh untuk naik peringkat, yaitu dengan membunuh anggota yang peringkatnya lebih tinggi lalu menggantikan posisinya.

Naik peringkat adalah penting adanya. Kabarnya, kehidupan di pulau paling tengah sangatlah mewah dan melimpah ruah akan harta benda layaknya berada di istana kerajaan besar. Hal ini mungkin saja benar, karena mereka yang berada di pulau tengah merupakan para pembuat perintah-perintah kepada anggota di lima pulau yang mengelilinginya. Yang jelas, Ketua dan para Sesepuh Partai Iblis bertempat tinggal di pulau tengah. Kehidupan di pulau tengah merupakan impian sebagian besar anggota partai.

Pulau di tengah dikenal dengan Pulau Pusat Durjana. Disusul oleh pulau-pulau sedang dengan sebutan sebagai Pulau Satu Garang, Pulau Dua Pongah, Pulau Tiga Bengis, Pulau Empat Jalang, dan Pulau Lima Dendam. Jangan tanyakan mengapa ada angka dalam penamaan kelima pulau tersebut, karena sudah sedemikian adanya sejak seribu tahun lalu. Yang jelas, kata-kata garang, pongah, bengis, jalang, dan dendam mewakili nilai-nilai utama Partai Iblis.

Di salah satu sisi terluar Pulau Lima Dendam, berdiri berdampingan sebuah gubuk dan sebuah kandang. Ukuran gubuk yang terbuat dari kayu seadanya itu hanyalah seluas empat meter persegi, sedangkan kandang berukuran dua kali lipatnya. Kedua bangunan reyot tersebut terpisah jarak sekitar tujuh atau delapan meter.

Suasana malam begitu gelap, sunyi dan dingin.

Sebuah lentera menyala di dalam kandang. Samar-samar terdengar pula suara lesung batu beradu, sepertinya sedang ada orang yang menumbuk ramuan. Benar saja, seorang gadis belia sedang duduk melipat kaki ke samping. Di depannya sebuah lesung batu berbentuk sebesar mangkok, dengan sebuah alu batu menghujam ke dalamnya. Sesekali terlihat tangan kiri gadis tersebut menyeka sisi atas lesung batu, untuk memasukkan kembali serpihan-serpihan ramuan yang meloncat keluar.

Wajah gadis belia tersebut berbentuk oval, dengan hidung elang dan sepasang mata kecil. Rambutnya digelung ke atas, meski ada beberapa lembar rambut terlepas dan bermain di depan kedua matanya. Jika saja pipi putihnya tidak ditempel debu tebal dan bila saja rambutnya ditata rapi, maka gadis belia ini layak menjadi kembang desa di mana pun ia berada.

Sejak dijadikan budak oleh Kum Kecho, sudah hampir sepekan Melati Dara menetap di kandang ini. Ia bertugas menyiapkan makanan dan ramuan keperluan serangga siluman. Berbekal bakat keterampilan khusus peramu dan dua-tiga tahun mempelajari teknik mengolah ramuan di perguruan, sesungguhnya pekerjaan ini sangatlah sederhana. Yang sulit adalah menyajikan makanan dan ramuan dalam jumlah yang diperlukan dalam waktu yang sangat singkat. Ia terpaksa bekerja sejak subuh sampai larut malam.

Di dalam Partai Iblis, budak merupakan posisi yang lumrah. Bahkan bila beruntung, seorang budak dapat naik peringkat menjadi anggota partai. Pendekatan ini adalah cara menjaring anggota yang cukup unik. Menyadari bahwa tak banyak yang suka rela menjadi anggota Partai, seorang sesepuh di masa lampau mencetuskan kebijakan agar anggota menculik atau menipu orang untuk dijadikan budak. Setelah menjadi budak, sambil bekerja mereka diberikan sumber daya untuk memupuk keahlian. Berkat tempaan secara fisik dan mental, sering kali para budak tumbuh menjadi ahli-ahli yang perkasa, menjagal majikan mereka, lalu menetap di Partai Iblis.

“Mengapa lambat sekali kerjamu?!” tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu kandang. Sosok berjubah hitam lalu masuk ke dalam. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat pasi, garis hitam menghias kantung matanya.

Melati Dara tersontak. Dari sudut pandangnya, andai saja ada sedikit bantuan, tentu pekerjaan ini dapat selesai jauh lebih cepat. Kegiatan Kum Kecho seharian hanyalah bermain dengan serangga siluman. Di malam hari, Kum Keco bertapa. Melati Dara tahu betul bahwa Kum Kecho tidak pernah tidur.

“Jawab pertanyaanku!” bentak Kum Kecho sambil menjambak rambut Melati Dara.

Melati Dara hanya terdiam menunduk. Sudah tak terbilang lagi seberapa sering Kum Kecho menjambak rambut di kepalanya. Salah menyiapkan ramuan, ia menjambak. Terlambat, ia menjambak. Menentang dengan kata-kata, ia menjambak. Menatap marah, ia menjambak. Apa pun reaksi dirinya, maka Kum Kecho akan menjambak rambut.

Pernah terlintas di benak Melati Dara untuk menggundulkan saja rambut di kepalanya. Namun, ia urungkan niat itu karena rasa takut akan kemungkinan Kum Kecho menjambak rambut yang tumbuh… di tempat lain. Beruntunglah bagi Melati Dara, ahli pawang bengis itu sama sekali tak pernah melecehkan kegadisannya.

Tiba-tiba dari luar kandang terdengar keramaian, yang disertai dengan api obor berkobar terang.

Dahi Kum Kecho berkerut, ia lalu menatap Melati Dara. “Siapkan barang-barangmu… Sepertinya kita akan segera menempati kediaman yang lebih layak.”

“Baik, Tuan,” jawab Melati Dara Singkat.

“Hei! Kum Kecho!” terdengar suara berseru dari halaman gubuk. “Keluar kau sekarang juga!”

“Oh, ada tamu rupanya,” jawab Kum Kecho santai sambil keluar dari kandang.

“Aku sudah muak dengan kelakuanmu! Kudengar kau membantai sesama anggota Partai di Pulau Kuda!” seorang pemuda berusia sekitar 17an tahun, berparas tampan dengan rambut panjang sebahu, terlihat memimpin sepuluh orang ahli yang seusia.

“Seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 7, dan sepuluh orang ahli Kasta Perunggu Tingkat 5,” gerutu Kum Kecho. Sepertinya mereka telah merencanakan penyerangan malam ini dengan matang.

“Apa urusanmu dengan tindakanku?” tanya Kum Kecho menyepelekan.

“Kami mewakili partai untuk menghukummu… Kalau kau hendak selamat, kami bersedia menerima ganti rugi.”

“Hukuman? Ganti rugi?” Kum Kecho setengah tak percaya.

“Benar! Kau melakukan pelanggaran. Sebagai ganti rugi, cukup kau serahkan budakmu!” kini terbersit senyum mesum dari wajah pemuda itu.

Melati Dara yang mengintip dari celah dinding kandang tersontak. Tak perlu menelaah dalam-dalam, sudah jelas bahwa sasaran mereka adalah dirinya. Sebagai budak, ia sadar betul masih sangat beruntung memiliki Kum Kecho sebagai majikan. Jambakan demi jambakan rambut adalah ringan adanya. Beberapa hari bersinggungan dengan budak-budak yang sudah terlebih dahulu berada di dalam lingkungan Partai Iblis, ada saja ia mendengar perlakuan bejat para majikan terhadap budak-budak mereka.

“Kalian akan menyingkir bilamana aku menyerahkan budakku?” tanya Kum Kecho memastikan.

“Benar! Kami akan menutup mata atas kekeliruanmu di Pulau Kuda,” jawab si pimpinan kelompok. Raut wajahnya tak lagi berusaha menyembunyikan senyum mesum.

Kum Kecho mengernyitkan dahi, seolah bepikir keras. “Tidak cukup!” jawabnya. “Aku menginginkan imbalan tambahan untuk ditukarkan dengan budak itu.”

Seketika itu juga dada Melati Dara berdetak keras. Sepasang bibir merahnya bergetar. Jelas terlihat bahwa Kum Kecho hendak menyelamatkan diri sendiri, bahkan berupaya mencari kesempatan di dalam kesempitan. Wajar saja, walaupun ia adalah pawang serangga siluman dengan Kasta Perunggu Tingkat 5, Kum Kecho seorang diri tak akan mungkin dapat bertahan menghadapi seorang ahli Kasta Perunggu Tingkat 7, ditambah lagi sepuluh orang ahli Kasta Perunggu Tingkat 5. Kedua lutut Melati Dara terasa lemas.

“Kau tak punya hak untuk tawar-menawar…” jawab remaja tampan tersebut. Sungguh ia merasa berada di atas angin.

“Namun, karena hari ini hatiku sedang bersuka cita, dan karena aku memang seorang yang berbesar hati, maka akan kudengarkan pintamu….”

Kum Kecho dengan sabar mendengarkan bualan remaja tampan itu, lalu ia menjawab…

“Aku meminta… NYAWAMU!”

Seketika itu juga terdengar denging nyamuk dari sisi kiri dan kanan kelompok tersebut. Sedangkan dari balik tubuh Kum Kecho melompat tiga ekor kutu.

1000 Nyamuk Buru Tempur!

Trio Kutu Gegana Ledak!

Rupanya sebagian besar dari para ahli Kasta Perunggu Tingkat 5 yang hadir di belakanng pemuda tersebut memiliki kesaktian unsur api dan unsur angin. Secara umum, memang sebagian besar serangga memiliki kelemahan terhadap kedua unsur itu. Meski terkejut, mereka dengan cepat merapal berbagai jurus unsur api dan unsur angin. Walhasil, ke-1000 nyamuk hanya berputar-putar tak berani mendekati api, sedangkan ketiga kutu didorong balik oleh hembusan angin.

“Hahaha… Sungguh kau bernyali tebal! Tapi nyali tanpa ditopang kekuatan adalah…”

“Brak!”

Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, Kum Kecho sudah melompat cepat ke depan.

Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam!

Telapak tangan Kum Kecho menghantam dada remaja tampan pimpinan kelompok. Anehnya, hantaman tersebut tak membuat tubuh lawan terpental. Akan tetapi, darah segar berhamburan keluar dari hidung dan mulutnya!

Pada permukaan dada yang terkena hantaman, kini meninggalkan bekas telapak tangan yang dalam. Dapat dipastikan bahwa tulang dada pemuda itu remuk. Seketika itu pula ia rubuh tergeletak di tempat. Perbedaan dua tingkat keahlian tak berarti apa-apa.

“Mustahil! Jurus silat?!”

“Bukankan ia ahli dengan keterampilan khusus pawang!?”

“Kita salah perhitungan! Ia adalah ahli silat!”

Para anggota kelompok terkejut bukan kepalang. Sepuluh orang ahli jumlah mereka, masih pula disibukkkan oleh kerumunan nyamuk dan tiga ekor kutu. Kini baru mereka sadari bahwa nyamuk dan kutu adalah pengalih perhatian dari rencana Kum Kecho untuk menyerang langsung si pimpinan. Perlahan langkah kaki mereka menapak mundur.

Setelah menyerang, Kum Kecho segera kembali ke posisi berdiri tegak. Ia tak hendak berlama-lama menampilkan kuda-kuda dari jurus silat yang baru saja ia kerahkan. Malah, raut wajahnya memberi kesan bahwa ia merasa sangat tak nyaman merapal jurus silat itu.

Walau sepintas, sempat terlihat posisi kuda-kuda yang unik. Kaki kirinya membujur lurus ke belakang, sementara lutut kanannya ditekuk mengarah ke depan sambil menapak keras ke tanah. Pada posisi tubuh bagian atas, badannya tegak menyamping. Sikut lengan kiri ditekuk menghadap ke belakang, dan telapak tangan kiri dibuka sejajar dengan dada. Pada saat yang sama, lengan kanan menyerang lurus dengan telapak tangan terbuka menghadap ke sasaran!***

Bukan hanya para penyerang yang terkejut, Melati Dara dua kali terkejutnya. Pertama, selama lebih dari sepekan ia menghabiskan waktu bersama Kum Kecho, tak pernah sekali pun ia melihat tuannya itu berlatih jurus silat. Lagipula, bagaimana mungkin seseorang yang berketerampilan khusus pawang memiliki keahlian silat tingkat tinggi pada saat yang bersamaan. Kedua, Kum Kecho tidak menyerahkan dirinya kepada pemuda itu, malah rela menempuh bahaya. Melati Dara tak habis pikir.

Kum Kecho menjulurkan tangan kanannya ke tubuh pimpinan kelompok. Kemudian, ia menjambak rambut pemuda tersebut untuk mengangkat tubuhnya. Wajahnya tak lagi tampan. Bekas darah masih belum kering dari hidung dan mulutnya.

“Be… beraninya… kau…” Ia rupanya masih siuman. Darah segar kembali mengalir dari mulutnya.

“Sudah, hentikan… Kami menyerah!” teriak salah seorang anggota kelompok di belakangnya. Ia bersama teman-teman lainnya tidak lagi merapal jurus. Nyamuk kembali terdengar berdenging, dan ketiga kutu melompat-lompat di tempat.

Kum Kecho menatap dingin. Ia lalu mengangkat tangan kirinya, bersiap menusukkan jemarinya ke tubuh remaja yang kini tak lagi tampan.

“Jangan lancang, anak muda!” tiba-tiba terdengar suara bergegar. Pada saat yang sama, tekanan mata hati menyelimuti sekujur tubuh Kum Kecho!

Tubuh Kum Kecho sedikit bergetar. Kasta Perak! pikirnya. Ia pun melawan tekanan mata hati tersebut dengan mata hatinya sendiri.

“Heh… Kasta Perunggu Tingkat 5… dengan kemampuan mata hati sedikit di atas rata-rata?” kembali terdengar suara itu, kini setengah memuji, setengah mengejek.

“Lepaskan kemenakanku, dan kau tidak akan kehilangan nyawamu! Aku, Lurah Pulau Satu Garang, hanya akan menjatuhkan hukuman 100 rajam cambuk atas kelancanganmu!”****

Seketika itu juga kedua kelopak mata Kum Kecho menyipit.

“Cress!”

Tanpa basa-basi, Kum Kecho menghunuskan jemarinya ke leher pemuda yang sedang ia jambak itu. Darah segar lalu muncrat keluar saat Kum Kecho memutus pembuluh darah di leher.

“KURANG AJAR!”

Seketika itu juga Kum Kecho merasakan tekanan yang luar biasa beratnya, berkali lipat dari sebelumnya dan mengunci gerakan. Satu lutut kakinya terpaksa bertopang di tanah. Bila saja ia tak memiliki dasar mata hati yang kuat, dipastikan tekanan tersebut dapat mengancam jiwanya.

Selang beberapa saat, sebuah bayangan berkelebat ke depan tubuh Kum Kecho.

“BINASA!” terdengar teriakan yang kini lebih membahana dari sebelumnya. Rupanya pemilik suara datang menyerang. Ia melontarkan tinju ke arah dada Kum Kecho yang masih berlutut menahan tekanan mata hati.

“Grab!” tiba-tiba sebelah tangan menjulur dan mencengkeram tinju yang sedikit lagi menghantam tubuh Kum Kecho!

“Kakak Lurah, Pulau Satu Garang? Mengapa Kakak bertandang tanpa memberi kabar?” terdengar suara lelaki berusia sekitar 20an tahun menegur dengan sopan.

“Bupati Pulau Lima Dendam! Aku datang karena tindakan lancang warga pinggiran pulaumu terhadap kemenakanku!” Dada Lurah Pulau Satu Garang masih naik turun, napasnya menderu kencang. Bila saja yang menghentikannya bukan pejabat setingkat Bupati, maka pastilah ia tetap akan mengamuk.

“Oh!” Bupati Pulau Lima Dendam terdengar heran. “Sepanjang pengamatanku, bukankah kemenakanmu yang datang menantang anak muda ini?” Ia menunjuk ke arah Kum Kecho yang kini terlepas dari tekanan mata hati dan kembali berdiri tegak.

“Bahkan, pertarungan tidak berlangsung adil…”

“Tidak mungkin! Ia menjebak kemenakanku! Ia lalu membunuhnya bahkan setelah aku memberi peringatan!”

“Kakak Lurah Pulau Satu Garang, kau tidak memberikan peringatan. Kau tadi mengancam hukuman rajam!” jawab sang Bupati, kini dengan nada sedikit lebih keras.

“Apa wewenangmu mengancam dan hendak menghukum warga Pulau Lima Dendam? Pertarungan pun berlangsung di dalam dan di antara warga Pulau Lima Dendam, kau tak berhak ikut campur.”

“Kau... ”

“Kakak Lurah Pulau Satu Garang, sebaiknya kau segera pulang. Tenangkan hati dan pikiranmu, esok kita lanjutkan pembahasan ini.”

Lurah Pulau Satu Garang menatap tajam ke arah Bupati Pulau Lima Dendam, lalu ke arah Kum Kecho. Ia kemudian berkelebat menghilang.

“Salam hormat, Tuan Bupati Pulau Lima Dendam,” serentak kesepuluh orang ahli dalam kelompok penyerang berlutut memberi hormat. Kum Kecho tetap tegak berdiri.

“Hm… Segera kalian bereskan mayat itu. Esok pagi, bantu kepindahan anak muda ini untuk menempati wisma milik mayat itu. Sesuai aturan Partai Iblis, harta benda dan budak milik pihak yang kalah akan menjadi hak milik pemenang.”

“Baik, Tuan Bupati.”

“Dan kau… Kum Kecho namamu, bukan? Esok pagi, singgahlah ke Graha Bupati, aku hendak mendengarkan langsung ceritera tentang Sang Lamafa Muda.”

Kum Kecho menjawab dengan anggukan ringan. Bagaimanapun juga, tak mungkin ia menolak permintaan orang yang baru menyelamatkan jiwanya.

“Setelah itu, ada tugas menantimu di Pulau Dewa,” lanjut sang Bupati sebelum menghilang bersama angin malam.


Catatan:

*) Judul lengkap Episode ini adalah ‘Tapak Suci di Rumah Hantu’.

**) Luas wilayah Pulau Dewa adalah 5.636,66 km2.

***) Cukup rumit menuliskan kuda-kuda jurus Tapak Suci, Gerakan Pertama: Remuk Redam. Bagi yang sempat mengikuti serial manga ‘Kungfu Boy’ karangan Takeshi Maekawa, silakan membayangkan kuda-kuda jurus Kungfu Peremuk Tulang atau Tsuhaiken milik Chinmi. Kebetulan mirip adanya. Demikian.

****) Jabatan Lurah, Camat, Bupati dan Gubernur di Partai Iblis adalah kebetulan belaka. Tidak ada sangkut-pautnya dengan jabatan serupa di Nusantara. Demikian.

Kepada para penggemar Kum Kecho, semoga episode ini dapat mengobati rasa rindu kalian... :D 

Bagi yang belum berpartisipasi dalam kuis Episode 42, ayo jangan mau kalah dengan yang sudah menjawab. kembangkan kreativitas. Jangka waktu kuis masih cukup panjang.