Episode 13 - Menyelamatkan Sang Prabu


Kami yang berhasil kabur dari dalam Keraton Watugaluh dengan menyusuri lorong bawah tanah mulai meninggalkan kompleks candi Kulon dengen perahu kecil. Perahu yang dinaiki oleh Prabu Reksa Pawira bersama sang permaisuri beserta dua prajurit Keraton memimpin di depan, disusul oleh perahu yang ditumpangi oleh keluarga Keraton lainnya. Sementara aku, Darojat dan Soka Dwipa berada di perahu paling belakang.

“Ambil sampan ini, kalian jaga arah sementara aku memberi komando dari depan, mengerti?” titah Soka Dwipa.

“Baik, Raden!” jawabku kompak dengan si Darojat.

Sebelumnya, Soka Dwipa juga sudah mengeluarkan titah untuk mengikuti aba-abanya. Bila telah tiba di ujung sungai kami semua harus melompat ke sungai, bila tidak ingin hancur bersama perahu yang kami naiki. Sebab di ujung sungai ini terdapat air terjun Panamangsa yang sangat tinggi.

“Ro! Dayung yang bener… ini perahunya miring-miring, loh,” tegur Darojat kepadaku.

“Iya… maaf, Jat. Aku sambil mengamati sekitar, berjaga kalau-kalau pasukan siluman Jayalodra berhasil menemukan kita,” jawabku sembari memandang kesana-kemari memantau situasi.

“Kalian bersiap lah! Kita sudah hampir sampai…” ujar Soka Dwipa yang bangkit dari tempatnya duduk di moncong perahu.

Aku dan Darojat meletakkan sampan yang kami pegang di lantai perahu dan menunggu arahan dari Soka Dwipa. Aku melihat, di depan sana Prabu Reksa Pawira dijatuhkan ke sungai oleh prajurit yang bersamanya. Lalu dibawa berenang ke tepian sungai sebelah kanan, begitu pula dengan Ibusuri. Disusul oleh keluarga keraton lainnya yang juga mulai melompat ke sungai dan berusaha berenang ke tepian.

“Sekarang!” teriak Soka Dwipa memberi arahan kepada kami.

“Loh? Ro? Kamu kok nemplok di punggungku? Ini jadi berat!” protes Darojat kepadaku yang numpang di punggungnya.

“Maaf, Jat. Aku sebenarnya bisa berenang, tapi kalau lagi panik dan arusnya sekencang ini aku suka lupa caranya berenang,” jawabku sembari melempar senyum tanpa dosa kepadanya.

Sesampainya di tepian sungai, semuanya mengerubungi Prabu Reksa Pawira. Kondisi sang Prabu semakin memburuk. Tubuhnya lemah dan wajahnya terlihat pucat. Mulutnya seperti komat-kamit namun tak mengeluarkan suara. Tatapan matanya terlihat kosong.

“Kita tidak bisa membawanya berjalan, kita harus menandunya,” ujar Soka Dwipa.

“Ro, Jat… Tolong carikan kayu dan akar pohon, tapi kalian jangan terlalu jauh apalagi masuk ke dalam hutan. Di sana banyak hewan buas yang sengaja dilepas untuk melindungi Watugaluh. Kalau kalian ceroboh kalian bisa celaka,” titah Soka Dwipa kepada kami berdua.

Aku dan Darojat segera mencari kayu dan akar pohon sebanyak yang diperlukan. Kami berkeliling hanya di sekitar tempat mereka berkumpul. Aku tidak berani terlalu jauh karena tidak ingin berjumpa dengan makhluk yang lebih seram dari Darojat. Kami kembali setelah berhasil mengumpulkan semua yang diperlukan. Soka Dwipa langsung memerintahkan para prajurit Keraton untuk membuat tandu dan mengangkat tubuh sang Prabu dengan tandu tersebut.

“Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum keberadaan kita diketahui oleh pasukan siluman milik Jayalodra,” titah Soka Dwipa.

“Aku tahu jalan keluar dari sini yang cukup aman untuk kita lalui. Tapi aku tidak tahu, apakah dengan kondisi Ayahanda yang seperti ini kita bisa keluar lewat sana atau tidak,” ujar Rara Gendhis menawarkan jalan keluar.

“Kita tidak pernah tahu bila tidak mencobanya, Ndo. Bawalah kami ke tempat itu,” tutur Sang Ibu Ratu Nila Kencana.

Rara Gendhis membimbing kami ke arah timur, menjauhi air terjun Panamangsa. Setelah memacu langkah kaki kami cukup jauh, akhirnya kami tiba di tempat yang dimaksud oleh Rara Gendhis. Bukan suatu kabar yang menggembirakan untukku, semula kupikir bahwa akan ada jalan keluar yang mudah, ternyata tidak. Jalan keluar yang dimaksud Sang Putri adalah tebing yang ditumbuhi oleh tanaman liar yang menjalar di tubuh Sang Tebing yang curam.

“Kita bisa turun lewat sini, dengan berpegangan kepada tanaman yang merambat di tebing ini. Tapi, yang sedari tadi sedang aku pikirkan, bagaimana cara membawa Ayahanda turun ke sana dengan kondisi seperti itu,” Rara Gendis menangis dan menutup kedua matanya.

“Jangan menangis, kita pikirkan cara untuk membawa Ayahandamu turun,” Soka Dwipa berusaha menenangkan hati sang putri.

 Soka Dwipa melihat ke sekeliling, dia mondar kesana-kemari sembari berfikir. Sesekali ia melongok ke dasar tebing dan langkah kakinya terhenti di hadapan Darojat.

“Dalam pertempuran kemarin kulihat kondisi fisikmu cukup kuat, kau bisa membantuku?” tanya Soka Dwipa kepada Darojat.

“Sudah tugas hamba untuk memastikan keselamatan Sang Prabu. Jadi, tanpa perlu Raden tanya saya sudah siap.”

“Bagus kalau begitu… Yang lain turun terlebih dahulu, percayakanlah Sang Prabu kepadaku dan Darojat. Kami akan memastikan Sang Prabu turun dengan selamat,” titah Soka Dwipa.

Matahari sudah mulai condong ke barat, cahaya jingga pun mulai tampak memenuhi langit di pelupuk senja. Kami harus tiba di bawah sebelum malam tiba, karena bukan tidak mungkin bila malam tiba pasukan siluman Jayalodra menjadi bertambah kuat dan dapat menemukan kami.

Satu persatu dari kami pun turun bergantian. Dimulai dari sebagian abdi dalem Keraton yang tersisa, dilanjutkan oleh keluarga Keraton yang wanita serta para dayang. Kemudian aku bersama para prajurit lainnya serta keluarga Keraton yang pria menjadi rombongan yang paling akhir turun.

Kami menuruni tebing dengan cara berpegangan dengan tanaman liar yang menjalar di sekujur Tebing. Tanaman ini membantu kami turun, namun bukan berarti tidak ada kendala. Adanya tanaman-tanaman liar ini selain membantu tapi juga sedikit menyulitkan pijakan kaki kami. Hal itu terbukti dengan jatuhnya beberapa prajurit dan keluarga Keraton yang tergelincir saat berpijak di tanaman tersebut. Mereka harus meregang nyawa karena kecerobohan mereka sendiri. Rasa ketidaksabaranlah yang pada akhirnya mendorong mereka ke jurang kematiannya.

Kami semua sudah sampai di bawah, menunggu Darojat dan Soka Dwipa membawa turun Sang Prabu. Meski terlihat sangat kecil dari bawah sini, tapi aku dapat melihat tandu yang membawa Prabu Reksa Pawira mulai diturunkan perlahan. Tandu tersebut terikat, entah dengan menggunakan apa, mungkin dengan akar yang sama dengan yang mengikat tandu atau benda lain.

Tandu itu dibawa turun dengan cara mengikatkan keempat pegangan tandu ke tubuh Soka Dwipa dan Darojat. Soka Dwipa di sebelah barat sedangkan si Wajah Sangar ada di sebelah timur. Mereka turun perlahan, memastikan agar tandu yang membawa Sang Prabu tidak membentur tebing atau pun terputus.

Beberapa kali kudengar terikan keluar dari mulut mereka berdua, entah itu tujuannya untuk memberi semangat kepada diri mereka sendiri, menahan rasa sakit atau melawan rasa lelah. Meskipun telah sangat berhati-hati namun tandu yang membawa Sang Prabu terus saja menyerempet tebing. Aku khawatir bila tandu itu akan terputus jika terus seperti ini.

Untungnya kekhawatiranku tidak terjadi. Mereka sampai di bawah dengan selamat. Terlihat telapak tangan mereka berdua terluka, mungkin karena tergesek oleh beberapa tanaman liar yang tajam. Soka Dwipa terduduk dan menarik nafas panjang sambil beberapa kali mengusap wajahnya dengan punggung tangannya. Ia terlihat sangat kelelahan sehingga aku harus memapah tubuhnya. Kami bergegas melanjutkan perjalanan diiringi dengan redupnya cahaya matahari yang berganti dengan langit malam.

Kami terus mengayunkan langkah kaki menuju utara hingga kami memutuskan untuk beristirahat di tengah hutan. Tidak ada kemah yang kami bangun karena tidak sempat mengumpulkan kayu dan yang lainnya untuk mendirikan kemah. Kami hanya beristirahat, berselonjor ataupun merebahkan diri di atas tanah. Dan kami pun sengaja tidak membuat api unggun agar tidak memancing perhatian pasukan siluman Jayalodra yang kuyakin saat ini sedang mencari keberadaan kami.

Di saat tengah beristirahat, kulihat Soka Dwipa mendekati Rara Andhini dan berbincang dengannya. Entah apa yang mereka bicarakan, dari tempatku duduk aku tidak dapat mendengar percakapan mereka. Kulihat sesekali Soka Dwipa memegang bahu Rara Andhini yang mungil itu. Sementara itu, yang lainnya tidak memperdulikan mereka berdua karena tengah sibuk mengurus diri masing-masing. Ada yang saling pijat, ada yang menangis secara berkerumun, dan Rara Gendhis beserta Ibu Ratu dan Ibu Selir terus berada di samping Prabu Reksa Pawira.

Melihat apa yang dilakukan oleh Soka Dwipa, aku jadi ingin melakukan hal yang serupa dengannya, mendatangi kekasihku Srinti. Namun agak sulit rasanya dalam keadaan seperti ini untukku mendekatinya, apalagi sampai bermesraan dengannya. Bukan hanya waktunya kurang tepat tapi juga aku harus tahu diri. Ah! Sempat-sempatnya aku berpikir kotor seperti itu dalam kondisi seperti ini.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba aku mencium bau aneh di sekelilingku.

“Jat… kamu mencium sesuatu tidak?” tanyaku kepada Darojat yang sudah hampir tertidur di sampingku.

“Aku ndak kentut kok, Ro… memangnya bau… Hm? Iya, bau wangi… aku menciumnya, Ro!”

 

Seketika Soka Dwipa bangkit dari hadapan Rara Andhini dan melihat ke sekeliling.

“Semuanya…. Waspada… Bersiaplah… ada yang datang menuju ke arah kita,” ujar Soka Dwipa.

Kami pun sontak bersiaga, berdiri bangkit dari tempat kami beristirahat dan membuat lingkaran untuk memberi perlindungan kepada keluarga Keraton. Dari arah hutan terdengar suara langkah kaki, sepertinya jumlah mereka banyak. Angin yang berhembus seolah berbisik, sayup terdengar suara seperti orang membaca mantera. Suara itu semakin jelas dan ternyata suara itu datang dari para Guru berbaju putih.

Di antara para Guru tersebut ada yang wajahnya masih terlihat sangat muda, bahkan dia juga tidak memiliki janggut putih seperti yang lainnya. Wajahnya tampan, memiliki tinggi yang hampir sama denganku namun dengan tubuh yang lebih berisi. Tiba-tiba sang Guru Muda itu berlari menuju Prabu Reksa Pawira sambil menangis.

“Ayahanda! Ibunda, apa yang terjadi kepada Ayahanda Prabu?” ujar Guru Muda tersebut yang ternyata adalah Pangeran Hastabrahma.

“Ayahmu diserang oleh Jayalodra, seluruh kekuatan dan ilmu kanuragan Ayahandamu telah dirampas dan dicabut oleh Jayalodra begitupula dengan Kerajaan Watugaluh,” jawab Ratu Nila Kencana.

“Pantas saja, perasaanku tidak enak dan membuatku merasa ingin kembali ke Watugaluh untuk menengok Ayahanda Prabu dan Ibunda Ratu. Ternyata itu adalah isyarat dari para dewata,” ujar Hastabrahma sambil mengusap kening Ayahandanya.

Pangeran Hastrabrahma melihat ke sekitar dan wajahnya terlihat seperti orang bingung, ia seperti mencari sesuatu atau mungkin seseorang.

“Ibunda…. Dimana Kakang Lembu Sutta dan Ayunda Rara Kemuning?” tanya Hastrabrahma sambil menatap Ibundanya.

Ibu Ratu Nila Kencana tidak sanggup mengatakannya kepada Hastabrahma. Namun seolah mengerti, Hastabrahma menundukkan kepalanya dan menangis tersedu melepas kepergian kakaknya. Saat kondisi sudah memungkinkan, Soka Dwipa menceritakan semua yang terjadi kepada Hastabrahma sebab ia berhak tahu akan apa yang terjadi di Kerajaannya.

“Esok Pagi, kita akan berangkat menuju Lor Gunung. Kita cari tabib untuk menyembuhkan Ayahanda Prabu. Untuk malam ini, kita bermalam di sini. Kita akan aman, para Guru akan terus membaca mantera sebagai perisai pelindung untuk kita. Para siluman Jayalodra tidak akan bisa menemukan keberadaan kita di sini,” ujar Hastabrahma.

 Akhirnya kami memiliki tujuan, setelah sebelumnya kami hanya berjalan terus kea rah utara tanpa tujuan yang jelas. Keesokan harinya kami bergegas pergi menuju kadipaten Lor Gunung. Hastabrahma memimpin kami semua. Belum sempat kami tiba di perbatasan Lor Gunung, kami telah disambut oleh Adipati Surya Kusuma dan Adipati Tedjo Alur beserta pasukan mereka.

“Kami telah mendengar tentangt apa yang terjadi dengan Watugaluh dan kami turut berduka. Apakah kalian hendak pergi ke kadipaten Lor Gunung?” tanya Surya Kusuma.

“Iya, kami bermaksud pergi ke sana untuk mencari tabib dan menyembuhkan Ayahanda Prabu,” ujar Hastabrahma.

“Ampun Kanjeng Gusti, bukannya kami lancang. Namun, sepertinya kalian tidak bisa pergi ke Kadipaten Lor Gunung, sebab pasukan siluman Jayalodra pasti akan dengan mudah menemukan kalian bila pergi ke sana,” ujar Tedjo Alur.

“Lantas…. Kami harus pergi ke mana? Kondisi Ayahanda semakin memburuk,” ujar Hastabrahma sembari memandangi Ayahandanya yang ditandu.

“Kita bisa bersembunyi di Kadipaten Kedu, salah satu Kadipaten yang pernah kutaklukkan. Medan untuk mencapai ke sana cukup sulit, kurasa para pasukan Jayalodra tidak akan mengira bila kita bersembunyi di sana. Dan di sana juga sudah ada pasukanku dan pastinya ada tabib yang bisa mengobati luka Kanjeng Prabu di sana,” ujar Tedjo Alur.

“Baiklah, kita akan pergi ke sana,” jawab Sang Pangeran.

“Kalian tunggu di sini sebentar… Aku akan pergi ke Lor Gunung dan meminta bantuan mereka,” ujar Surya Kusuma sebelum ia pergi menunggang kuda ke Lor Gunung bersama beberapa pasukannya yang berlari mengikutinya.

Tidak terlalu lama kami menunggu, Surya Kusuma kembali dengan membawa bantuan. Ia kembali dengan membawa beberapa ekor kuda yang ditunggangi oleh prajuritnya dan juga kereta kencana. Kereta kencana tersebut kemudian dipergunakan untuk membawa Prabu Reksa Pawira yang masih belum sadarkan diri bersama Ratu Nila Kencana, Nyai Nawang Sari, Rara Gendhis dan Rara Andhini.

Para keluarga Keraton yang lain menaiki kuda bersama para Guru, ada yang satu kuda untuk berdua bahkan ada pula yang satu kuda ditunggangi oleh tiga orang. Sementara itu, para prajurit keraton seperti aku, Darojat dan yang lainnya mengikuti mereka dengan berlari.

Sesak nafasku karena harus berlari tanpa henti. Medan yang kami lalui cukup sulit. Bahkan beberapa kali kami harus melepas kereta kencana dari kudanya dan mengangkat kereta tersebut agar dapat melewati tanah yang berlumpur. Semangat untuk tetap bertahan hidup dan menjaga sesama adalah kekuatan utama kami yang mampu membuat kami bahu-membahu untuk menghadapi medan sulit ini bersama.