Episode 42 - Unsur Kesaktian


“Mari segera kita lanjutkan latih tarung malam ini!” teriak pembawa acara, yang disambut dengan sorak-sorai dari seluruh hadirin.

“Hm... kami terpaksa mengganti perwakilan terakhir dari Istana Utama karena perwakilan sebelumnya kuutus untuk menemani perwakilan yang cedera,” ungkap Lombok Cakranegara kepada pembawa acara.

“Jangan kau mengulur-ulur waktu!” sergah Kepala Pengawal Istana Kedua. “Siapa saja wakilmu, asal memenuhi syarat, dapat segera maju ke depan.”

Kepala Pengawal Istana Kedua dan Istana Ketiga paham betul bahwa dari semua anak remaja atau prajurit berusia di bawah 15 tahun yang berasal dari Istana Utama, tak akan ada satu pun yang sanggup mengalahkan wakil mereka. Persiapan telah dilaksanakan sedemikian matang sampai-sampai mengeluarkan pundi-pundi perunggu untuk memanggil Sembalun dan Pringgarata yang berdarah asli Pulau Batu dari perguruan mereka di Pulau Dewa.

“Baiklah, akan kupanggilkan perwakilan pengganti...”

“Lencana apa ini?” tanya Bintang mengamati sebuah lencana berbentuk perisai dengan ukiran sebuah gunung berapi yang sedang meletus di tengahnya. Lencana tersebut adalah lencana yang baru saja ia terima dari Panglima.

Mengabaikan Bintang, Panglima tetiba berdiri dan berteriak lantang, “Yang Terhormat Kepala Pengawal Istana Utama, perwakilan ketigamu sudah siap adanya!”

Bintang menatap Panglima yang kini menunjuk ke arah dirinya. Ia baru sadar akan apa yang sedang terjadi. Sedari tadi Bintang hanya melihat Panglima kembali dari panggung, sambil berpikir bahwa perangai Panglima memang sudah tak bisa diobati. Terlalu berlebihan. Oleh karena itu, ia tak memerhatikan pembicaraan yang saat itu sedang berlangsung di dekat panggung.

Aku dijebak! pikirnya. Kini, berkat teriakan lantang dan postur tubuh Panglima, serta gerakan menunjuk, seluruh hadirin menatap ke arahnya.

“Oh... Anak itu memegang lencana Kerajaan Parang Batu.”

“Sepekan terakhir anak itu memang sering terlihat di pustaka istana dan gelanggang berlatih...”

“Bintang Tenggara, namanya. Ia memang menetap di kediaman Kepala Pengawal Istana Utama...”

Berbagai komentar terdengar tentang keberadaan dirinya. Bintang hanya mampu melotot ke arah Panglima.

“Adik Bintang Tenggara, kemarilah segera,” ujar Lombok Cakranegara dengan senyuman sumringah.

“Kawan Bintang, alangkah bijak Kakak Lombok kita!” bisik Panglima. “Ia membuka kesempatan emas untukmu naik panggung dan berlatih tarung,” tambah Panglima dengan wajah tak berdosa nan penuh semangat.

Hm... rupanya rencana Kakak Lombok, pikir Bintang. Pasti tadi ia menyampaikan pesan dan menyerahkan lencana ini saat menggiring si cepak bertubuh besar itu turun dari panggung.

Sesungguhnya Bintang hendak menolak namun tak mungkin. Apalagi kini ratusan mata menatap ke arahnya. Ia pun berdiri dan berjalan pelan menuju panggung di depan. Pembawaannya bertolak belakang dengan Panglima yang sebelumnya melangkah berapi-api.

Meski seluruh mata di seputar gelanggang bertarung tak henti menatap dirinya, Bintang tidaklah gugup, sedikit kesal mungkin. Padahal hari ini adalah hari terakhir latihan bersama Panglima. Keesokan harinya adalah jadwal keberangkatan ke Pulau Dewa. Di sana, kedua anak tersebut rencananya akan berpisah. Bintang akan mendaftarkan diri ke Perguruan Gunung Agung, sedangkan Panglima akan meneruskan niatnya berguru ke Istana Danau Api. Mungkin malam ini adalah puncak dari derita bersama Panglima, Bintang menggerutu dalam hati.

Mengamati Bintang menuju panggung, Kepala Pengawal Istana Ketiga tersenyum menyepelekan. Sedangkan Kepala Pengawal Istana Kedua, justru tertawa lebar. Keduanya dengan jelas dapat merasakan bahwa anak yang kini akan mewakili Istana Utama hanyalah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3. Jelas sekali bahwa anak itu bahkan lebih lemah dibandingkan wakil yang ia gantikan.

“Adik Bintang, maafkan aku. Namun dengan sangat terpaksa aku kembali memohon bantuanmu,” ungkap Lombok Cakranegara.

Meski Bintang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3, Lombok Cakranegara memahami betul bakat dan potensi anak itu. Bagaimana tidak, ia menyaksikan langsung bagaimana Bintang bukan hanya mampu mengikuti menu latihan Panglima Segantang, bahkan dalam latih tarung pun ia mampu mengimbangi si anak jenius silat. Dari waktu ke waktu, Lombok Cakranegara meluangkan waktu memantau latihan mereka, memberi tunjuk ajar di sana sini, yang langsung dapat diterapkan oleh kedua anak itu.

“Pertarungan berikutnya adalah antara perwakilan Istana Ketiga berhadapan dengan perwakilan Istana Keempat,” ungkap pembawa acara. Kembali terdengar sorak sorai dari seluruh yang hadir.

Jika ditelusuri kembali, maka pada latih tarung pertama, Sembalun (Istana Ketiga) menumbangkan Gili Meno (Istana Pertama). Kemudian Gili Nangu (Istana Kedua) mengalahkan Narmada (Istana Keempat). Terakhir Pringgarata (Istana Kedua) mencelakai Praya (Istana Utama).

Jadi, kali ini giliran jatuh kepada perwakilan Istana Ketiga berhadapan dengan wakil Istana Keempat. Bintang menarik napas panjang, rupanya masih ada jeda satu latih tarung sebelum ia naik ke atas panggung.

“Adik Bintang...,” bisik Kakak Lombok. “Saat di atas panggung nanti, kau dapat menantang sesiapa saja yang belum pernah kalah atau belum sempat bertarung…”

Belum selesai Lombok Cakranegara memberi gambaran lengkap tentang aturan dasar latih tarung tersebut, terlihat Sembalun sebagai perwakilan Istana Ketiga menaiki panggung.

“Hanya aku seorang dari Istana Ketiga yang perlu turun tangan dalam latih tarung ini,” ujar Sembalun congkak dari atas panggung.

“Benar! Hanya Sembalun perwakilan dari Istana Ketiga!” jawab seorang lelaki berjanggut berusia setengah baya membahana. Sebagai Kepala Pengawal Istana Ketiga, ini adalah kesempatan bagi kubunya untuk unjuk gigi.

Sembalun sebelumnya telah dengan cepat mempermalukan Gili Meno sebagai perwakilan Istana Utama. Perwakilan dari Istana Ketiga ini jugalah yang bermoncong lancang terhadap Kepala Pengawal Istana Utama.

Perwakilan Istana Keempat menaiki panggung. “Namaku Sentanu, usiaku 15 tahun, kini berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4.”

“Traang!” seperti latih tarung sebelumnya, Sembalun segera membuka serangan. Ia mengayunkan parangnya diagonal dari kanan atas ke kiri bawah.

Akan tetapi, lawannya kali ini lebih waspada. Ia segera menangkis serangan lawan dengan sebilah parang yang berukuran sama.

“Jurus Parang Api!” teriak Sembalun

Ledakan-ledakan kecil kemudian terlihat dan terdengar setiap kali parang milik Sembalun bersentuhan dengan parang milik Sentanu. Meski setiap ledakan tersebut kecil adanya, ketika dipadukan dengan kekuatan tebasan parang, maka cukup untuk membuat tubuh bergetar keras.

Sembalun mengembangkan kesaktian unsur api. Ahli dengan unsur api memang memiliki kecenderungan percaya diri tinggi dan mendominasi, ibarat api yang ganas melahap setumpuk jerami kering. Unsur Api juga sangat cocok bagi ahli jenis penyerang.

Bintang mengamati dengan seksama. Pada Muktamar Pawang di Kota Dana, ia banyak belajar tentang keterampilan khusus pawang. Ia kini bahkan dapat dengan leluasa menggunakan Kartu Satwa Harimau Bara dan Siamang Semenanjung. Meski harus diakui, mata hatinya belum bisa berlama-lama mengomandoi Siamang Semenanjung layaknya seorang pawang sejati. Sedangkan Harimau Bara… harimau itu adalah binatang siluman liar… Liar!

Lalu, selama sepekan terakhir ia menjalani menu latihan bersama Panglima Segantang. Keahlian silatnya tumbuh pesat. Bagaimana tidak, sejak subuh ia mengolah raga, lalu setelah makan siang berlatih tarung bersama seorang anak remaja yang digadang-gadang sebagai jenius silat. Komentar gurunya saat itu pun benar adanya, bahwa adaptasi tubuhnya terhadap jurus silat Silek Linsang Halimun semakin membaik dengan berlatih raga dan berlatih tarung.

Terpaksa diakui bahwa ada banyak manfaat berlatih bersama Panglima Segantang. Mulai dari stamina, kekuatan, kecepatan, pertahanan, sampai naluri bertarung Bintang diasah dan tumbuh pesat. Namun, pengakuan ini cukup disadari dalam hati saja, tak perlu disampaikan secara lisan.

Selain itu, setiap ada kesempatan Bintang pun sembunyi-sembunyi berlatih Gerakan Pertama Tinju Super Sakti. Berharap dapat mencoba Gerakan Kedua: Harimau, namun masih terlalu sulit bagi ahli yang hanya Kasta Perunggu Tingkat 3. Konsumsi tenaga dalam yang dibutuhkan belum terpenuhi.

Kembali ke atas panggung, kini Bintang mengamati Sentanu yang memiliki unsur angin sebagai kesaktian berhadapan dengan Sembalun. Unsur angin lebih lincah dan luwes. Pada pertarungan sebelumnya, jurus pedang Pringgarata juga menerapkan unsur angin untuk menyayat pertahanan Praya. Unsur angin terkesan tenang, namun bisa berbalik tajam menyayat bilamana difokuskan dalam menyerang. Kepribadian ahli dengan unsur angin pun cenderung dinamis, tak mudah ditebak gerak-gerik mereka.

Perlahan namun pasti, ledakan-ledakan pedang Sembalum semakin mendominasi latih tarung. Cara kerja unsur sakti sangatlah sederhana. Ketika telah mencapai pemahaman unsur sakti tertentu, seorang ahli dapat mengubah tenaga dalam sesuai dengan unsur tersebut.

Lihat saja Sembalun, ia mengalirkan tenaga dalam ke arah parang. Dalam kondisi normal, tenaga dalam yang dialirkan dapat melingkupi bilah parang sehingga parang tersebut menjadi lebih kuat. Sementara dengan pemahaman akan unsur sakti, maka tenaga dalam yang keluar dari tubuh berubah menjadi unsur itu sendiri. Jadi, pada bilah parang Sembalun kini mengalir tenaga dalam berbentuk percik-percik api.

Bintang terus mengamati dengan seksama. Pada akhirnya rasa penasaran sedemikian besar, sampai ia harus bertanya...

“Guru… apa alasan Guru menerapkan unsur tanah sebagai kesaktian?” tanya Bintang menggunakan mata hati.

“Mengapa kau bertanya? Bukankah semua pengetahuan bisa kau dapatkan dari Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian?” Komodo Nagaradja berbalik bertanya dengan nada mencemooh.

“Murid bertanya karena Guru sungguh digdaya… Tiada kitab yang dapat mengalahkan pengetahuan guru.”

“Hm…” Komodo Nagaradja tersipu.

“Jawabannya sangatlah sederhana… karena unsur tanah adalah bakatku. Meski, semakin tinggi keahlian, seorang ahli nantinya dapat memupuk dan mengembangkan kesaktian dari unsur-unsur lain…”

Sebentar lagi Komodo Nagaradja agaknya akan mengulangi kembali ceritera tentang persilatan dan kesaktian.

“Aku memiliki maha jurus silat sebagai teknik serangan… ialah Tinju Super Sakti. Keahlian sakti bagiku berfungsi sebagai pertahanan. Sebagai kesaktian, unsur tanah merupakan unsur yang paling kokoh, kuat dan tegar.

“Jadi, sebagai ahli aku menyerang menggunakan jurus silat Tinju Super Sakti dan bertahan dengan jurus sakti Gema Bumi. Kombinasi kedua jurus itu sudah cukup bagiku.”

“Tentu saja!” ucap Bintang cepat.

Dari penjelasan gurunya, Bintang kemudian berkesimpulan bahwa pengguna kesaktian unsur tanah adalah mereka yang cenderung berkepribadian sederhana, namun gigih dan pekerja keras. Lihat saja guru dan kawannya itu.

“Kenapa kau bertanya? Lebih baik kau perhatikan latih tarung di atas panggung itu…” sergah Komodo Nagaradja.

“Aku menyerah kalah!” ungkap Sentanu dengan lantang setelah mundur keluar dari jangkauan parang Sembalun.

Ia tak mau mengulangi kesalahan Praya, yang lambat mengakui keunggulan lawan sehingga kini meringkuk di balai pengobatan akibat tertancap pedang Pringgarata. Meski, harus diakui ada unsur kesengajaan dari tindakan Pringgarata tersebut.

“Pengecut!” ungkap Sembalun dengan tatapan muak. Lalu ia segera turun dari atas panggung.

“Pertarungan ini dimenangkan oleh Sembalun sebagai perwakilan Istana Ketiga,” teriak pembawa acara. Berikutnya adalah latih tarung antara perwakilan Istana Utama berhadapan dengan perwakilan Istana Keempat!”

Istana Utama dan Istana Keempat sama sekali belum meraih kemenangan pada latih tarung malam ini. Pertarungan ini adalah kesempatan terakhir bagi kedua Istana. Tentu para pendukung kedua Istana sangat berharap bahwa setidaknya ada satu kemenangan dari kubu mereka.

Para menteri, bangsawan serta abdi dalam yang hadir pun terlihat bingung, bahkan tegang. Selama ini, setiap latih tarung hanyalah pertunjukan keahlian persilatan dan kesaktian. Kemenangan biasanya dibagi berimbang oleh para perwakilan tiap-tiap Istana. Walau, selalui diakui umum bahwa Istana Utama selalu berada pada posisi teratas. Namun, kali ini sebaran kemenangan tidak berimbang, bahkan ada yang terluka cukup parah, dan Istana Utama terdesak.

Sebagian dari menteri, bangsawan serta abdi dalam mulai mengira-ngira arah latih tarung kali ini. Mereka memerhatikan gerak-gerik para Kepala Pengawal Istana, khususnya Lombok Cakranegara yang terlihat tenang sekali.

Bintang melangkah ringan ke atas panggung. Ratusan tatapan mata yang tadinya mengamati Lombok Cakranegara, kini berpindah ke arahnya. Bagaimana mungkin Kepala Pengawal Istana Utama mengirimkan wakil yang hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3? Apa yang ia pikirkan? Demikianlah tanggapan setiap tatapan mata bilamana dapat disuarakan.

“Namaku Terara, usia 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4,” terdengar suara anak remaja perempuan menyambut Bintang.

“Bintang Tenggara, usia 12 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 3,” jawab Bintang ringan. Ia tak terkejut melihat seorang gadis yang menjadi lawannya, atau pun bahwa gadis tersebut berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4.

Berbeda pula dengan reaksi dari para hadirin. Terdengar gemuruh keterkejutan, bahkan terdengar cemooh dari beberapa orang. Rupanya bagi sebagian besar hadirin, umur 12 tahun terlalu muda dan tak memiliki cukup pengalaman. Hanya bocah seumur jagung. Sementara itu, Kasta Perunggu Tingkat 3 mengungkapkan bahwa Bintang tergolong lemah.

Terara, meski demikian, cukup serius. Bagaimana tidak, ini adalah latih tarung terakhir dari kubu Istana Keempat. Selama ini, mereka selalu berada pada nomor buntut, kubu terlemah.

Terara lalu menggerakkan kedua belah tangannya. Gerakan tersebut terlihat seperti merapal sebuah formasi, namun pada saat yang sama mengalir dan mengalun dengan lembut. Kemudian terlihat bulir-bulir air yang ada di udara berkumpul dan melingkupi kedua lengan, dari ujung jari sampai ke sikut.

Ahli silat tangan kosong dengan kesaktian unsur air, Bintang menyimpulkan dalam hati.

Rupanya Terara tidak hendak meremehkan lawannya, walaupun lawan tersebut lebih muda dan berada pada tingkat yang lebih rendah. Sejak awal ia hendak mengerahkan seluruh kemampuan. Kepribadian pengguna unsur air memang mengalir sesuai dengan situasi. Situasi saat ini mengharuskan Terara meraih kemenangan.

“Hmph!” Terara menghentakkan napas dan mengayunkan lengan kanannya.

Melihat hantaman yang ditujukan ke arah dada, Bintang mengelak ke samping. Dengan cepat ia keluar dari jangkauan pukulan Terara. Gerakan mengelak yang luwes dan terarah.

Akan tetapi, meski pukulannya luput, air yang melingkupi lengan Terara tiba-tiba bergerak memanjang lalu melecut ke arah leher Bintang!

“Cambuk Riak Air!”

Bintang sesungguhnya telah memperhitungkan beberapa kemungkinan teknik penggunaan kesaktian unsur air sejak melihat Terara menunjukkan kesaktiannya. Kemungkinan-kemungkinan tersebut mencakup: jurus bertahan meredam serangan, jurus melempar bola-bola air, jurus membentuk pedang air, jurus hantaman gelombang air, dan tentunya jurus yang membentuk cambuk air.

Dalam rentang waktu singkat, berbagai kemungkinan antisipasi pun telah Bintang perkirakan. Cambuk pada dasarnya adalah senjata jarak menengah yang memiliki kelemahan besar pada pertarungan jarak dekat. Dalam hal jurus cambuk air, yang berbahaya adalah sabetan dari ujung cambuk. Oleh karena itu, gerakan antisipasi yang diambil adalah justru dengan melangkah maju secepatnya ke arah pengguna cambuk. Lalu disusul dengan melancarkan sebuah serangan balik. Tindakan inilah yang saat ini Bintang terapkan.

“Cresh!” terdengar decur air saat tendangan serangan balik Bintang yang diarahkan ke perut Terara, diredam oleh semacam gumpalan air.

Terara kemudian mundur beberapa langkah, menjaga jarak agar cambuk airnya dapat kembali berfungsi maksimal.

Sesuai perkiraan, pikir Bintang.

Di lain sisi, para penonton terkejut. Mereka tidak mengira betapa sangkul gerakan anak remaja berkasta perunggu tersebut. Sampai-sampai, serangan baliknya dapat memukul mundur lawan yang berada satu tingkat lebih tinggi. Sungguh di luar perkiraan para hadirin.

“Guru… menurut Guru, kesaktian unsur apakah bakatku?” tiba-tiba Bintang bertanya menggunakan mata hatinya.

“Hei! Apa yang kau pikirkan!? Jangan pernah meremehkan lawan di tengah pertarungan!” hardik Komodo Nagaradja. Ia tak pernah habis pikir dengan kelakuan-kelakuan tak biasa dari muridnya itu.




KUIS BERHADIAH!

Kepada para Ahli sekalian, sudikah kiranya membantu menjawab pertanyaan Bintang?

Benar! Legenda Lamafa kembali mendapat sponsor! Jadi, raih kesempatan memenangkan voucher senilai masing-masing Rp100.000 untuk 5 orang pemenang.

Caranya gampang, kembangkan kreatifitas dengan menjawab pertanyaan berikut:

“Unsur sakti apakah yang pantas dikembangkan oleh Bintang Tenggara?”

Contoh format jawaban:

Nama unsur sakti: [Logam]

Jurus unsur sakti: [Logam Mulia: Kemampuan mengubah semua jenis logam menjadi emas. Lemah terhadap unsur api.]

Jawaban paling kreatif silakan diisi pada kolom komentar di bawah.

Jawaban ditunggu sampai dengan hari Minggu, 16 April 2017 pukul 23.00 WIB.

 

Pemenang akan diumumkan pada Episode 46 yang terbit Rabu 19 April 2017.