Episode 41 - Kunjungan Istana Pangeran (2)



Belum sempat Gili Meno kembali bersiap akibat keterkejutan atas ledakan jurus Parang Api, kepalan tinju Sembalun menghantam wajahnya. Gili Meno kini terhuyung ke belakang menahan sakit dan darah yang mengalir dari hidungnya. Namun, Sembalun tidak berhenti sampai di situ. Kembali ia menyarangkan tinju yang disusul tendangan ke arah perut Gili Meno. Tanpa pertahanan apa-apa, Gili Meno kini terjungkal jatuh dari panggung pertarungan.

Sembalun melihat lawannya yang tergolek tak berdaya, lalu tersenyum mengejek. Para pendukung di sudut Istana Ketiga berteriak bangga atas kemenangan wakil mereka. Sudut Istana Utama sunyi.

“Hai, Lombok Cakranegara! Hanya sekadar itukah kemampuan perwakilanmu,” teriak Kepala Pengawal Istana Ketiga mencemooh. Ia adalah seorang lelaki berjanggut berusia setengah baya, dan masih terlihat tangguh.

Kepala Pengawal Istana Utama hanya tersenyum kecut, ia lalu berujar, “Ini hanyalah latih tarung, mengapa perwakilanmu begitu keras menjatuhkan perwakilan kami?”

“Keras? Maafkan diriku Tuan Kepala Istana Utama,” Sembalun tiba-tiba menimpali. “Sesungguhnya daku baru saja pemanasan. Adalah perwakilan Tuan yang terlalu lemah.”

“Kurang ajar!” seru Panglima Segantang sambil menggeretakkan gigi. Kini di barisan paling belakang kubu Istana Utama, terlihat Panglima Segantang berdiri. Meski, tak seorang pun menyadari karena perhatian sedang tertuju ke atas panggung.

Bintang kembali menggeser kursinya menjauh. Ia paham betul kalau Panglima Segantang bersumbu pendek, apalagi bila terkait Tujuh Prinsip Prajurit. Sedikit saja tersinggung, maka perkelahianlah jawabannya.

Lombok Cakranegara, sang Kepala Pengawal Istana Utama memicingkan mata, meski pembawaannya masih santai, ia menatap tajam ke arah Kepala Pengawal Istana Ketiga.

“Kemana perginya wibawa Istana Utama bila hanya sedemikian penampilan wakilnya,” ungkap Kepala Pengawal Istana Ketiga setengah mengejek.

“Pertarungan antara perwakilan pertama Istana Utama melawan perwakilan pertama Istana Ketiga dimenangkan oleh perwakilan pertama dari Istana Ketiga,” teriak pembawa acara mengumumkan, yang disusul oleh tepuk tangan seluruh hadirin.

“Selanjutnya…”

“Aku menantang perwakilan kedua dari Istana Utama!” belum sempat pembawa acara menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara dari kubu Istana Kedua.

“Namaku Gili Nangu, 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 4,” ungkapnya sambil berjalan ke atas panggung.

Kepala Pengawal Istana Utama, Lombok Cakranegara, tentu bukanlah seseorang yang bodoh. Ia sudah bisa membaca gelagat Kepala Pengawal Istana Kedua dan Ketiga. Sejak awal kunjungan mendadak ketiga Istana Pangeran, terdapat indikasi kuat bahwa sasaran mereka adalah dirinya. Kemungkinan besar hendak menggesernya dari jabatan Kepala Pengawal Istana Utama.

Tentu tidak mudah menjatuhkan posisi Kepala Pengawal Istana Utama hanya dari latih tarung. Namun, dengan membantai setiap wakil dari Istana Utama di depan banyak orang, tentu akan mencoreng arang di muka Lombok sebagai Kepala Pengawal Istana Utama. Kemudian, akan ada tekanan dari sana sini bahwa Kepala Pengawal Istana Utama hendaknya diganti karena tidak bisa membangun bakat-bakat yang tangguh untuk mengawal Yang Mulia Paduka Raja. Pada akhirnya, ia akan diminta mengundurkan diri.

Apa kepentingan mereka? Bukan kepentingan mereka, namun kepentingan Partai Iblis! Dan kemungkinan besar agresi ini terkait dengan gulungan naskah yang kini berada di tangan Bintang.

Kecurigaan Lombok, harga diri Kepala Pengawal Istana Kedua dan Ketiga telah dibeli. Sedangkan Kepala Pengawal Istana Keempat, masih cenderung tak berpihak, walau tak bisa berbuat banyak.

“Perwakilan Istana Utama baru saja menyelesaikan pertarungan. Ada baiknya aku yang menjadi lawanmu,” tiba-tiba terdengar suara perwakilan dari Istana Keempat.

“Narmada, namaku.” Ia melompat ke atas panggung. “15 tahun. Kasta Perunggu Tingkat 4.”

Gili Nangu menoleh ke arah Kepala Pengawal Istana Kedua dan dijawab dengan anggukan. Sepertinya mereka sadar agar tidak memaksakan kehendak dengan menghabisi ketiga perwakilan Istana Utama dalam sekali pukul.

Panglima kembali duduk. Ia masih menatap tajam ke arah Sembalun, yang kini sudah kembali ke bawah panggung. Dari tatapannya, bukan tak mungkin ia akan mencegat Sembalun di jalan nanti, lalu menantang berduel. Jarak kursi Bintang dengan Panglima semakin menjauh sekitar 50 cm dari posisi awal.

Pertarungan antara Gili Nangu dan Narmada pun berlangsung… berat sebelah. Meski berada pada kasta yang sama, terlihat Gili Nangu lebih berpengalaman dalam pertarungan. Gerakan tubuhnya lebih lincah, dan penguasaan jurus lebih matang. Setelah bertukar puluhan jurus, akhirnya Narmada menyerah kalah.

“Terima kasih atas pelajaran hari ini, Rekan Gili Nangu. Terpaksa aku mengakui keunggulan jurus-jurusmu,” ungkap Narmada sebelum turun dari panggung. Mengakui kelebihan lawan dan menyerah dalam latih tarung adalah biasa. Bahkan, dianggap sebagai sebuah tindakan yang terhormat.

Dari pertarungan para perwakilan tersebut, Lombok Cakranegara dapat menyimpulkan bahwa baik Gili Nangu maupun Sembalun bukanlah prajurit kerajaan, mungkin pendekar bayaran, ataukah…? Ah, tidak mungkin Partai Iblis sampai mengirimkan anggota mereka untuk turun langsung, pikirnya. Segera ia tepis pemikiran itu.

“Pertarungan kedua dimenangkan oleh Gili Nangu, perwakilan dari Istana Kedua!” teriak pembawa acara dan disambut tepuk tangan meriah dari kubu pendukung Istana Kedua.

Masing-masing kubu kini telah menyelesaikan satu pertarungan. Perwakilan Istana Kedua dan Ketiga masing-masing memenangkan satu pertarungan, sedangkan perwakilan Istana Utama dan Istana Keempat masing-masing menderita satu kekalahan.

“Berikutnya, kami persilakan kepada para perwakilan untuk kembali memilih lawan mereka,” pembawa acara mengumumkan.

“Kali ini, bolehkah kami menantang perwakilan Istana Utama?” terdengar suara santun dari kubu Istana Kedua.

Kemudian seorang anak remaja tampan naik ke atas Panggung. Seluruh tatapan mata tertuju padanya. “Namaku Pringgarata, Kasta Perunggu Tingkat 5, usia 15 tahun.”

“Pringgabaya, apakah diperbolehkan mengirim perwakilan yang tak berasal dari kalangan prajurit istana?” ucap Kepala Pengawal Istana Utama kepada Kepala Pengawal Istana Kedua sesaat setelah melihat perwakilan yang kini melangkah ke atas panggung. Ia tahu betul bahwa perwakilan tersebut adalah adik kandung dari Kepala Pengawal Istana Kedua dan bukanlah prajurit, melainkan murid salah satu perguruan di Pulau Dewa.

“Lombok Cakranegara, apakah ada larangan mengirimkan wakil yang bukan prajurit?” jawab Pringgabaya. Usianya mungkin hanya beberapa tahun di atas Lombok Cakranegara. Tetapi, dari pembawaannya terlihat betul bahwa ia merasa lebih hebat dari lawan bicaranya.

“Menurut pemahamanku, tujuan dari latih tarung kali ini adalah membangun bakat-bakat muda di dalam Kerajaan. Tentu saja tak hanya terbatas pada prajurit istana,” tambah Pringgabaya.

“Aku tentu saja tidak berkeberatan bila demikian adanya,” jawab Lombok Cakranegara. Kemudian, ia memberi isyarat agar salah satu perwakilan Istana Utama untuk menjawab tantangan yang dilontarkan. Dari gerak-geriknya, Kepala Pengawal Istana utama tersebut terlihat tenang.

Meski demikian, semua yang hadir memahami bahwa perwakilan Istana Utama terdiri dari dua remaja dengan Kasta Perunggu Tingkat 4, salah satunya Gili Meno yang telah terlebih dahulu menderita kekalahan. Sedangkan perwakilan terkuat berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5, yang seharusnya menjadi unggulan Istana Utama.

Pada kenyataannya, dari seluruh peserta latih tarung hanya ada dua orang anak remaja yang berada Kasta Perunggu Tingkat 5. Salah seorang menteri yang duduk di barisan depan kubu Istana Utama lalu berbisik kepada Lombok Cakranegara.

“Kepala Pengawal Istana Utama, alangkah bijaknya andaikata kita korbankan perwakilan yang lemah pada babak ini. Nanti, di babak terakhir, kita dapat menantang perwakilan dari Istana Keempat. Berkat hubungan baik yang kita miliki dengan pihak Istana Keempat, setidaknya kita bisa mengamankan satu kemenangan,” ungkap menteri tersebut.

Saran tersebut memang benar merupakan langkah paling aman yang dapat ditempuh oleh kubu Istana Utama. Langkah tersebut juga dapat berperan ganda, yaitu menjaga muka Istana Utama, sekaligus mengamankan posisi Lombok Cakranegara sebagai Kepala Pengawal Istana.

Tentu saja Lombok Cakranegara telah memperhitungkan opsi ini. Kubu lawan pun kemungkinan besar telah memperhitungkan akan adanya opsi tersebut, bahkan mungkin telah mempersiapkan antisipasi. Oleh karena itu, ia ingin menempuh langkah lain. Mungkin lebih baik baginya mengikuti saja skenario mereka demi memastikan apakah benar Partai Iblis berada di balik kejadian ini.

“Yang Terhormat Menteri, sesungguhnya aku memiliki rencana lain,” jawabnya tegas, sambil mengalihkan pandangan ke arah perwakilan kedua dan terkuat dari Istana Pertama. Bila wakil kali ini kalah, maka Istana Utama dipastikan tidak memiliki kesempatan meraih kemenangan barang satu kali pun.

“Aku menerima tantanganmu,” jawab perwakilan dari Istana Utama. “Praya namaku, usia 15 tahun, Kasta Perunggu Tingkat 5.”

Kedua perwakilan kini telah naik ke atas panggung. Pringgarata terlihat berbeda dari Sembalun. Ia sangat ramah dan beretika. Ia memberi hormat sebelum memulai latih tarung, serta memberi kesempatan lawannya bersiap.

Praya mengeluarkan sebilah tombak dan menyerang terlebih dahulu. Sebuah tusukan ditujukan ke arah dada. Pringgarata berkelit ke samping, lalu ditanggapi dengan tebasan tombak yang membuatnya terpaksa mundur menjaga jarak.

Praya terus merangsek menyerang. Sedangkan Pringgarata terus menerus berkelit ke kiri dan ke kanan, bahkan kembali mundur bilamana perlu. Seluruh penonton bersorak menyemangati. Terlihat harapan besar dari Kubu Istana Utama.

Dari sudut pandang penonton, Praya terkesan berada di atas angin. Namun sesungguhnya Praya sadar bahwa lawan sedang menakar kekuatan dan jangkauan tombaknya.

“Keluarkan senjatamu!” seru Praya. Ia sudah mulai bosan ujung tombaknya hanya menerpa angin.

Pringgarata menjawab dengan senyuman, lalu mengeluarkan sebilah pedang. Panjang pedang itu lebih kurang setengah depa dengan mata tajam pada salah satu sisinya.

Secara umum, tombak memiliki beberapa kelebihan dibandingkan pedang. Jangkauan tusukannya lebih jauh dan sapuannya dapat menghantam lebih keras daripada pedang. Di lihat dari sisi penguasaan jurus pun lebih mudah mendalami sebilah tombak.

Sedangkan pedang memiliki kelebihan yang berbeda. Pengguna pedang memiliki variasi jurus menyerang dan bertahan yang lebih banyak. Selain itu, pengguna pedang biasanya lebih lincah bergerak.

Pada akhirnya, senjata adalah senjata. Alat. Tombak dan pedang merupakan alat perpanjangan tangan empunya. Adalah keahlian penggunanya yang akan menentukan hasil akhir sebuah pertarungan.

Kenyaatan inilah yang sekarang terlihat di atas panggung. Pringgarata secara kentara lebih lincah menarikan pedangnya. Ia mampu memainkan tempo bertahan dan menyerang secara harmonis. Di lain sisi, napas Praya sudah mulai terengah-engah karena tak satu pun serangannya menerobos gerak gemulai pedang Pringgarata.

“Badai Seribu Tombak!” teriak Praya mengerahkan kesaktian.

Setiap tusukan tombaknya kini semakin cepat seolah mampu membelah angin. Kembali, Pringgarata terdorong mundur meski tak satu pun mata tombak berhasil menembus bahkan bayangan dirinya.

“Pedang Angin Puyuh!”

Pringgarata juga mengerahkan kesaktian. Ia menebaskan pedangnya bertubi-tubi ke ruang kosong ke arah depan. Setiap tebasan pedang mengirimkan tebasan-tebasan angin yang bahkan terlihat dengan mata telanjang.

Para penonton bersorak semakin kencang. Keduanya sama-sama menggunakan kesaktian unsur angin. Perlahan namun pasti, tebasan-tebasan angin dari pedang Pringgarata menyayat pertahanan Praya. Pakaiannya tercompang-camping, kulit tubuhnya yang tersayat di berbagai tempat mengalirkan darah. Sekujur tubuh rasanya seperti diiris-iris oleh puluhan pisau silet.

Praya melompat mundur jauh ke belakang, menghindar dari jangkauan pedang angin. Napasnya terengah-engah. Sementara lawannya masih terlihat tenang, bahkan berjalan santai menghampiri dirinya. Dengan kondisi saat ini, kemungkinan untuk menang terlalu kecil.

“Jangan paksakan dirimu,” sayup-sayup Praya mendengar suara Kepala Pengawal Istana Utama berseru ke arahnya.

Praya pun mengendorkan kuda-kudanya. Ia sadar jurang yang memisahkan kemampuan dan penguasaan jurus antara dirinya dan Pringgarata. Tak ada gunanya melanjutkan pertarungan.

“Terima kasih atas tujuk-ajar rekan Pringgarata, aku mengakui keunggulanmu dan menye…”

“Jleb!” Tiba-tiba Pringgarata merangsek menikam ke arah dada Praya. Dalam keadaan tak siap, refleks Praya bergerak ke samping. Pedang Pringgarata tertancap di bahunya.

Tidak sampai di situ, Pringgarata lalu melepaskan tendangan sapuan ke arah tulang kering Praya.

“Brak!”

“Hentikan!” seru Lombok Cakranegara. Lalu ia melompat ke atas panggung untuk segera menghentikan pendarahan dan memeriksa kondisi kaki Praya. Dari pengamatannya, beruntung sekali Praya sempat bergerak ke samping sehingga pedang Pringgarata tidak mengenai urat darah maupun tulang punggung. Sedangkan kaki yang disapu tendangan hanyalah retak sedikit.

“Bawa dia ke balai pengobatan, segera!” perintahnya. Sekelompok tabib istana sigap menandu Praya.

“Kau temani Praya,” sambungnya berbicara ke arah perwakilan ketiga dari Istana Utama.

“Maafkan diriku Kepala Pengawal Istana Utama. Sesungguhnya kukira lawanku sedang merapal jurus pamungkas, sehingga aku bertindak mencegah,” ungkap Pringgarata. Meski santun, tak ada seberkas pun perasaan bersalah maupun penyesalan atas tindakannya menyerang lawan yang hendak menyerah pada pertarungan tersebut.

“Dusta!” Tiba-tiba terdengar teriakan dari bawah panggung. Lalu sesosok tubuh besar dan bertelanjang dada melompat ke atas panggung.

“Kau sengaja mencelakai lawan yang hendak menyerah!” sosok tersebut menunjuk ke arah Pringgarata.

“Aku Panglima Segantang adalah perwakilan berikutnya dari Istana Utama, dan aku menantangmu!”

Pringgarata mundur dua-tiga langkah ke belakang. Padahal, anak remaja di depannya hanya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4, setingkat lebih rendah dibandingkan dirinya. Seluruh hadirin pun terkejut sekaligus terkesima.

“Apa maksudnya ini, wahai Lombok Cakranegara?!” seru Kepala Pengawal Istana ketiga. Orang tua setengah baya itu kini menatap tajam ke arah Panglima Segantang.

Jauh di belakang kubu Istana Utama, Bintang berjalan mengambil bangku Panglima yang terpental karena cepatnya gerakan temannya itu berdiri lalu berlari ke atas panggung. Bintang hanya mampu menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk menantikan kejadian seperti apa yang akan bergulir.

“Aku menantangnya!” seru Panglima Segantang masih menunjuk ke arah Pringgarata.

“Jaga tindakanmu, wahai Panglima Segantang. Kau adalah tamu di sini. Sebaiknya jangan ikut campur urusan dalam negeri Kerajaan Parang Batu,” Pringgabaya kini menyela.

“Di dalam latih tarung apa pun bisa terjadi. Pastinya akan ada pihak-pihak yang menderita cedera. Jangan salahkan lawan, salahkan dirimu sendiri yang kurang persiapan,” sebuah senyum puas terukir dibibirnya.

Baik Kepala Pengawal Istana Kedua, Ketiga dan Keempat tentunya sudah mendapatkan laporan tentang kehadiran Panglima Segantang di Istana Utama. Ajang latih tarung kali ini pun disusun sedemikian rupa agar jangan sampai Istana Utama memperoleh celah untuk menunjuk Panglima Segantang sebagai salah satu perwakilan. Maka dari itu, sejak awal tema dari latih tarung hari ini adalah ‘generasi muda Kerajaan Parang Batui’.

Sebagai kerajaan yang bersahabat, tidak mungkin para Kepala Pengawal di Kerajaan Parang Batu tidak mengenal nama Panglima Segantang. Beberapa tahun lalu, ketika sejumlah negara sahabat berkumpul, pernah pula diadakan latih tarung generasi muda usia di bawah 14 tahun. Saat itu, seorang Prajurit Muda bernama Panglima Segantang dari Kerajaan Serumpun Lada menyapu bersih seluruh lawan seusianya yang berasal dari berbagai kerajaan.

“Sudahlah, kita anggap kejadian tadi hanyalah kecelakaan. Cedera yang dialami wakil kami pun tidaklah membahayakan jiwa,” kini Lombok Cakranegara berjalan menghampiri Panglima. Ia lalu meraih tangan kanan Panglima yang masih tertuju ke arah Pringgarata. Pringgarata sendiri hanya membatu di hadapan Panglima, lidahnya kelu tak bisa berkata-kata.

“Tapi…” Panglima berupaya membantah.

Kepala Pengawal Istana Utama menatap Panglima, lalu memberikan anggukan, sebelum menggiring Panglima turun dari panggung.

“Malam semakin larut, mari segera kita lanjutkan latih tarung ini,” ungkap Kepala Pengawal Istana Utama tenang, seolah tak ada kejadian apa-apa.

Panglima segera kembali ke tempat duduknya di belakang kubu Istana Utama. Ia mendapati bahwa jarak bangkunya dengan Bintang kini terpisah lebih dari satu meter. Perlahan ia raih bangkunya, mendekatkan diri ke samping Bintang, lalu duduk. Tenang sekali pembawannya, sehingga membuat Bintang sedikit curiga.

“Kawan Bintang, terimalah ini...” tetiba Panglima menyerahkan sebuah lencana.



Catatan:

Atas masukan dari seorang teman, ada sedikit perubahan pada Episode 1. Tidak berpengaruh pada plot ceritera, hanya membuat Episode 1 sedikit lebih enak dibaca.


Cuap-cuap tak terkait ceritera:

Saat episode ini ditulis, tiba-tiba masuk pesan singkat dari seorang teman di salah satu aplikasi.

Sis X : Bro, Kum Kecho kok ga dapat jam tayang yang berimbang?

Aye : Udah cukup, kok.

Sis X : Belum cukup. Kum Kecho harusnya tampil lebih banyak.

Aye : Tokoh-tokoh lain malah lebih sedikit…

Sis X : Itu urusan mereka. Gue menuntut hak Kum Kecho!

Aye : Lho… ‘kan tokoh utamanya Bintang...

Sis X : Tidak, tokoh utamanya jelas Kum Kecho!

Aye : Ha?

Sis X : Jangan paksa gue bikin petisi online, ya.

Aye : (menutup aplikasi)