Episode 12 - Kembalinya Jayalodra


“Dung! Dung! Dung!”

Suara Gong menggema di seantero negeri, mengiringi kedatangan para Guru memasuki Kota Raja Wilujaya. Hari ini Prabu Reksa Pawira menggelar Selametan Agung dan rencananya akan ada lebih dari 1.000 ekor sapi yang dibagikan kepada para Guru dalam acara ini.

“Rame bener ya, Ro… banyak sekali yang datang,” ujar Darojat yang menemaniku berjaga di dekat alun-alun.

“Iyalah, Jat… ini kan acara besar. Syukuran kemenangan kita.Walau…”

“Walau apa, Ro?”

“Walau aku masih khawatir karena Jayalodra masih hidup.”

“Husstt… Jangan ngomong begitu kamu. Nanti kalau kedengeran orang lain, gimana? Kan tidak enak… bisa merusak suasana bahagia.”

“Tapi ucapanku benar, ‘kan?” ujarku sambil melempar tatapan tajam ke arah mata Darojat.

Darojat hanya terdiam, terlihat raut kegelisahan di wajahnya. Dahinya yang merenyut, mata yang memandang ke bawah dan hidungnya yang kembang kempis menunjukkan bahwa di hatinya juga tersimpan kegundahan yang sama denganku.

Para Guru yang baru tiba beramai-ramai menuju ke kompleks Candi yang ada di barat Keraton Watugaluh untuk beribadah dan mengambil tirtha suci dari sumur yang ada di dalam Candi. Setelah itu mereka beralih ke alun-alun Kota Raja, duduk dan memanjatkan doa kepada Sang Maha Tunggal.

Seluruh Rakyat Watugaluh pun turut ikut berdoa, menghantarkan puja dan puji kepada Sang Pemilik Jagad Raya. Sedangkan kami, maksudku para prajurit Keraton, tetap menjalankan tugas untuk berjaga mengamankan acara ini. Sementara itu, aku mencuri kesempatan untuk bertemu Srinti.

“Jat… aku mau ke Keraton dulu, ya… Aku mau nganu…”

“Nganu itu apa?”

“Maksudku aku mau itu lho… mau mengamankan jalur yang akan dilewati keluarga Keraton. Biar pas mereka lewat, semuanya aman terkendali, gitu loh…,”

“Oh… mau nyari Srinti? Yo wis ngono…,”

“Iya… eh bukan. Mau mengamankan jalur ini, Jat… Beneran…”

“Ya, sudah sana…”

Darojat tidak dapat dibohongi, dia tahu maksudku sebenarnya. Tapi, ya sudahlah… Darojat ini yang tau dan aku percaya padanya bahwa dia tidak akan melaporkanku kepada Ki Purboyo. Aku berjalan lewat pinggir alun-alun secara perlahan sambil melihat ke kanan dan ke kiri, supaya tidak ada yang mencurigaiku, dan menganggapku sedang berpatroli.

Setelah melewati Gerbang Keraton aku mengendap-endap, berjalan jongkok melintasi taman. Namun, ketika aku tengah melintasi taman aku malah menjumpai Soka Dwipa tengah berbicara dengan Rara Andhini, sepertinya perbincangan yang serius.

“Adhinda… Kanda senang kita dapat berjumpa seperti ini lagi. Seperti biasanya, di taman dimana sinar matahari membelai lembut bunga-bunga dengan hangat sinarnya. Di taman dimana aku pertama kali berjumpa denganmu, bunga terindah di antara seluruh bunga yang mengisi taman ini.”

Rara Andhini membalas rayuan gombal Soka Dwipa dengan bahasa isyarat. Soka Dwipa yang mengerti tentang apa yang diutarakan kekasihnya itu tersenyum dan tertawa kecil. Sementara Rara Andhini tetap dengan sikapnya, tersenyum dan tertunduk malu.

“Adhinda…. Kanda ingin berkata jujur kepada Dhinda. Kanda sudah tidak mampu lagi bila terus terdiam dan menyimpan semua perasaan ini sendiri. Kanda cinta akan engkau, kanda berniat untuk mempersuntingmu,”

Raut wajah Rara Andhini berubah, dia menatap tajam dan kembali menyampaikan bahasa isyarat kepada Soka Dwipa. Kulihat air mata tak bisa terbendung lagi dan tumpah membasahi pipi Rara Andhini.

“Kanda tahu bila Ayahandamu menjodohkan Kanda dengan Ayundamu, Rara Gendhis. Namun percayalah, bila yang mampu menghidupkan cinta dihatiku hanya engkau seorang,” ujar Soka Dwipa Sambil mengusap air mata Rara Andhini.

“Kanda bersumpah, bila hanya engkau yang Kanda cinta dan hanya engkaulah yang akan mendampingi Kanda hingga saat ajal menjemput.”

Sebenarnya aku tidak ingin menganggu mereka, namun kulihat mereka berdua tidak menyadari ada beberapa prajurit yang menuju ke arah mereka. Sepertinya para prajurit itu ditugaskan untuk mencari Rara Andhini untuk bergabung dalam rombongan keluarga Keraton yang akan berjalan dari Keraton ke alun-alun. Aku dengan sigap berlari ke arah mereka berdua.

“Ampun beribu ampun, Raden… Saya tidak akan mengulanginya lagi…”

Soka Dwipa terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Namun dia langsung mengerti apa yang aku lakukan setelah beberapa prajurit Keraton tiba di tempat itu.

“Untuk kali ini kuampuni, tapi lain kali jangan bertindak bodoh apalagi sampai hampir melukai Putri Raja.”

“Sekali lagi maaf, Raden. Maaf, Ndoro Putri,”

Para prajurit yang datang hanya terdiam menyaksikan sandiwara kami. Mereka tidak berani bertanya kepada Soka Dwipa tentang apa yang telah kuperbuat hingga membuat Rara Andhini menangis.

“Mohon maaf, Kanjeng Gusti. Gusti Rara Andhini diminta untuk segera mengahadap kepada Kanjeng Prabu Reksa Pawira,” ujar salah seorang prajurit Keraton. Rara Andhini pun pergi dikawal oleh mereka.

“Terima kasih, Ro. Untung ada kamu. Kalau tidak mungkin aku telah dilaporkan mereka kepada Prabu Reksa Pawira,” ujar Soka Dwipa sambil menepuk bahuku.

“Supaya tidak menimbulkan kecurigaan lainnya, bagaimana kalau sekarang kita bergegas menuju ke alun-alun. Bagaimana, Raden?”

“Benar juga kamu, Ro… Mari.”

Kami berdua pun pergi ke alun-alun Keraton. Tak berselang lama setelah kami berdua sampai, rombongan keluaraga Keraton pun keluar dari Keraton, berjalan dan kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Singhasana yang mereka duduki berbeda dengan saat ujian masuk prajurit Keraton. Bila saat itu mereka duduk di singghasana megah di atas panggung, kini mereka hanya duduk di atas kursi tanpa ada panggung, hanya dipayungi oleh para dayang.

Patih Lembu Sutta membuka acara dengan beberapa patah kata. Memang, biasanya kalau ada acara besar seperti ini, sang Mahapatihlah yang memimpin acara.

“Ro, kita ke sana saja, ya. Biar bergabung dengan yang lain,” ujar Soka Dwipa menunjuk ke arah samping singghasana keluarga Keraton.

“Baik, Raden. Hamba ikut saja.”

Aku yakin Soka Dwipa ingin pindah ke sana biar dapat berdekatan dan melihat wajah Rara Andhini dengan lebih jelas. Ya, maklum saja. Namanya juga orang lagi kasmaran.

Kami sampai di samping tempat duduk para puteri raja sesaat sebelum Lembu Sutta menyelesaikan pidatonya. Kulihat ada tiga wanita yang tersenyum ke arah kami. Yang dua Rara Gendhis dan Rara Andhini yang keduanya melempar senyuman ke arah Soka Dwipa, dan yang satunya lagi kekasih hatiku Srinti yang tersenyum sambil mengibaskan kipas ke arah para puteri raja.

Setelah pidato pembukaannya selesai, Sang Patih mengundang salah satu Mahaguru untuk memimpin doa. Berdirilah di antara para Guru seorang Maha Guru yang terlihat sudah sangat renta. Ia berjalan ke arah kami dengan sangat perlahan. Karena tidak tega, aku menghampirinya, menggandengnya dan membantunya berjalan ke hadapan Sang Prabu.

“Maha Guru… Saya mohon kesediaan Maha Guru untuk memimpin doa,” ujar Lembu Sutta menyambut sang Maha Guru.

 Sang Maha Guru mengangkat tangan yang kugandeng. Ua berterima kasih kepadaku dengan mengangkat tangannya. Dia kemudian berjalan ke arah Prabu Reksa Pawira dan berlutut di hadapan Sang Prabu untuk memberi hormat. Sang Prabu yang merasa tidak enak karena diberi penghormatan seperti itu oleh seorang Maha Guru akhirnya bangkit dari singghasananya dan membantu Sang Maha Guru untuk bangkit.

 Namun, ternyata Sang Maha Guru malah menyerang Prabu Reksa Pawira dengan sebuah batu merah yang menyala. Dia memukulkan batu itu ke dada Reksa Pawira dan membuat sang Prabu itu lemas tak berdaya. Tubuhnya terjatuh dan sang permaisuri, Kanjeng Nyai Ratu Nila Kencana, dengan sigap menangkap tubuh Sang Prabu hingga dia jatuh terduduk dan Sang Prabu tergeletak di pangkuannya. Sementara Nyai Nawang Sari, ibu Rara Andhini yang juga selir Sang Prabu hanya mampu menangis sambil memeluk erat putrinya.

“Hahaha… Akhirnya… setelah menunggu sekian lama… aku bisa membalaskan dendamku, dendam ibuku kepadamu Reksa Pawira!” ujar Sang Maha Guru yang tiba-tiba berubah menjadi Jayalodra.

Semua orang yang melihat kejadian itu sontak terkejut dan bertambah kaget lagi. Ketika di tengah para Guru yang duduk dan rakyat yang mulai panik bermunculan para siluman yang jumlahnya sangat banyak. Makhluk-makhluk aneh itu mulai menyerang rakyat dan para Guru secara membabi buta.

“Jayalodra menggunakan Ajian Malih Rupa untuk mengubah wajahnya dan dia juga menggunakan Ajian Halimun untuk menyembunyikan para siluman itu,” ujar Soka Dwipa yang berdiri gemetar di sampingku. Bukan hanya karena rasa takut, kami tidak langsung mengambil tindakan cepat dikarenakan posisinya tidak menguntungkan bagi kami.

“Ini adalah hari pembalasanku! Bagaimana rasanya Kakang, melihat orang lain dari bawah sana? Itulah yang selama ini kualami! Aku harus memandang ke arahmu dari bawah, dari tempat yang hina sambil meratapi kepergian ibundaku! Kini arwah ibundaku akan tenang di sana, saat kukirim nyawamu ke neraka!” ujar Jayalodra sambil mengarahkan serangan kepada Prabu Reksa Pawira yang sebenarnya sudah tidak sadarkan diri.

Namun sebelum Jayalodra berhasil menyerang Sang Prabu, Nyai Rara Kemuning, anak pertama Prabu Reksa Pawira, menghunuskan tusuk kondenya yang terbuat dari emas ke arah leher Jayalodra. Hal tersebut hanya mampu mengalihkan perhatian Jayalodra sesaat, sebab tusuk konde itu patah seketika mana kala menyentuh kulit leher Jayalodra.

“Setan alas! Berani-beraninya kau menggangguku! Ajian Tapak Sewu!” Jayalodra menyerang sang puteri dengan Ajian Tapak Sewu dan membuat sang puteri terpental jauh.

Tubuh Rara Kemuning yang terpental langsung ditangkap oleh suaminya, Patih Lembu Sutta.

“Dhinda… Dhinda… bertahanlah Dhinda!” ujar Lembu Sutta yang tak mampu menahan tangis.

“Tenangkan hatimu… Kanda… ini sudah jal… jalanku… tolong jaga Ayahanda dan bunda. Maaf…. maafkan dhinda yang tak… tak bisa menjaga anak dalam…,” belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Rara Kemuning telah meninggal di pelukan suaminya.

Air mata sang Mahapatih jatuh membasahi kening jasad sang Istri. Namun tangis itu tak berlangsung lama. Setelah membaringkan jasad sang Istri di tanah, Lembu Sutta bangkit dan berteriak kepada Jayalodra.

“Jayalodra! Akulah yang akan mengantarkanmu ke neraka,” ujar Lembu Sutta sambil berlari dan terbang menuju Jayalodra.

Mereka berdua bertarung satu lawan satu. Lembu Sutta yang menyimpan amarah dan dendam di hatinya seolah menjadi sangat kuat. Setiap pukulan dan tendangan yang diarahkannya dialiri oleh tenaga dalam yang sangat besar. Meskipun begitu ini bukan berarti baik, konsentrasi dari Lembu Sutta juga terpecah karena emosinya. Hal tersebut terbukti mana kala Jayalodra beberapa kali nyaris berhasil menyentuhkan Mustika Karang Abang ke tubuh Lembu Sutta. Untungnya Lembu Sutta cukup sigap untuk menghindar.

“Ro! Ini kesempatan kita untuk membawa Kanjeng Prabu dan keluarganya pergi,” ujar Soka Dwipa.

“Benar, Raden! Ayo kita bawa mereka pergi.”

Di saat Jayalodra sedang sibuk menghadapi Lembu Sutta, kami membawa sang Prabu beserta keluarga pergi dari tempat itu. Soka Dwipa membantu sang Ratu memapah Reksa Pawira sementara aku mengamankan jalur mereka. Sayangnya tidak ada tempat yang cukup aman untuk pergi kecuali Keraton. Kita terjebak! begitu pikirku. Pasalnya para siluman yang dibawa oleh Jayalodra ada di mana-mana, mebuat kekacauan. Ada yang bertarung dengan prajurit dan ada pula yang menyerang rakyat yang ada di sini. Satu-satu tempat yang belum tersentuh oleh mereka adalah Keraton.

“Kita pergi ke keraton! Cepat!” Titah sang Ratu.

Kamipun mengikuti perintahnya dan bergegas menuju Keraton. Tapi di saat kami berada di depan benteng Keraton aku melihat Darojat dan Ki Purboyo tengah bertarung bersama para siluman. Aku tidak dapat meninggalkan mereka berdua. Aku pun memisahkan diri dengan rombongan keluarga Keraton termasuk Srinti lalu pergi untuk menyelamatkan Darojat dan Ki Purboyo.

“Ro! Kamu mau ke mana?” tanya Soka Dwipa.

“Nanti aku menyusul, kalian pergi saja duluan,” sahutku sambil berlari ke arah Ki Purboyo dan Darojat yang mulai tersudut.

 Soka Dwipa bersama beberapa prajurit dan keluarga Keraton bergegas masuk ke dalam Keraton. Aku memandang mata Srinti yang berkaca-kaca dari kejauhan. Dengan cepat kupalingkan wajahku dan berlari ke arah Darojat dan Ki Purboyo bertarung, di depan benteng sayap barat.

Aku melihat jasad seorang prajurit Keraton tergeletak di tanah. Dipunggungnya ada tas berisikan anak panah dan tak jauh dari jasad itu ada busur panah tergeletak. Kuambil tas dan busur panah itu, lalu kupanah para Siluman yang mengepung Ki Purboyo dan Darojat. Beberapa Siluman yang terkena panahku berubah menjadi asap berwarna hitam.

Ketika ada celah, Ki Purboyo dan Darojat berlari ke arahku menyelamatkan diri. Saat berada dekat denganku tiba-tiba Darojat mengayunkan gadanya mengarah kepadaku. Aku memejamkan mata dan terdengar suara seperti benda terpukul. Ternyata Darojat menyerang siluman yang hendak menyerangku dari belakang!

“Kita kabur, Ro! Kabur ke mana kita tapinya, ya?” ujar Darojat sambil terus berlari.

“Para keluarga Keraton pergi bersembunyi ke dalam Keraton… itu satu-satunya tempat yang aman!”

Kami bertiga berlari dan berbelok melewati gerbang menuju ke arah Keraton. Sebelum berbelok, saat sedang berlari aku melihat keadaan semakin memburuk bagi Lembu Sutta. Kulihat dia sudah mulai lemas. Wajahnya sudah babak belur dihajar oleh Jayalodra. Beberapa pukulan lalu mengarah ke wajah dan ulu hati sang Patih ,dan diakhiri oleh Ajian Samber Nyawa yang membuat tubuh sang Mahapatih hancur, terkoyak menjadi bagian-bagian kecil!

Apa yang kami lihat itu membuat lari kami semakin kencang. Kami berlari melintasi gerbang Keraton dan berlari terus hingga sampai di depan bangunan Keraton. Namun saat tiba di sana, Ki Purboyo menghentikan larinya.

“Kalian pergi lebih dulu, aku akan tetap di sini. Pergilah ke Kamar Prabu Reksa Pawira. Pasti mereka semua sedang ada di sana… Cepat!”

“Tapi bagaimana denganmu, Ki?”

“Sudah… ini sudah menjadi bagian dari tugasku… Aku yakin sebentar lagi Jayalodra akan sampai ke sini! Cepat pergi!”

Dengan berat hati kami pun pergi meninggalkan Ki Purboyo yang berdiri dengan gagah di depan Keraton. Celaka! Kami harus mempercepat gerak kaki kami. Kulihat Jayalodra dan pasukan silumannya telah bergerak masuk ke area Keraton.

 

Aku dan Darojat tiba di Kamar Prabu Reksa Pawira, namun di sana sepi hanya ada Soka Dwipa yang masih menunggu kami.

“Syukurlah kalian selamat! Ayo cepat ikut aku!” ajak Soka Dwipa sembari menggeser patung yang ada di tengah kamar itu.

Di bawah patung itu ada sebuah lubang berbentuk kotak dengan anak tangga di salah satu sisinya. Tidak terlalu besar namun cukup kuat untuk dimasuki oleh tubuh manusia. Darojat turun lebih dulu, disusul olehku, dan paling terakhir adalah Soka Dwipa. Saat kami turun, patung yang berada di atas bergeser dengan sendirinya menutup lubang di atas kami.

“Eh, Ro! Jangan di injek kepalaku!” ujar Darojat berang.

“Maaf, maaf… habisnya kamu berhenti nggak bilang-bilan, sih.”

“Ini udah sampe bawah… udah mentok! Tapi gelap sekali ini tempatnya.”

“Balikan badanmu, di belakangmu ada lorong, kau bisa rasakan udara berhembus dari sana, kan? Ikuti saja lorong itu,” Ujar Soka Dwipa.

Kami bertiga pun berlari menelusuri lorong yang sempit itu. Saking gelapnya, beberapa kali tubuh kami menyerempet dinding lorong yang sepertinya terbuat dari batu, mungkin batu bata. Kerena teksturnya kurasa sedikit kasar, tidak seperti tanah. Kami mulai melihat ada cahaya di ujung lorong. Ternyata kami harus memanjat anak tangga lagi untuk keluar dari lorong ini.

Setelah kami memanjat tangga itu, kami keluar dari balik patung yang ada di kompleks candi tua di sebelah barat Keraton. Kami keluar dari candi itu dan bergabung dengan keluarga keraton yang sudah siap melarikan diri dengan perahu-perahu kecil.

“Maaf, Raden. Jalan Rahasia yang kita lalui tadi…. Apa Jayalodra tidak mengetahuinya? Bagaimana pun dia ‘kan juga pernah tinggal di keraton ini?” tanyaku kepada Soka Dwipa.

“Jayalodra tidak pernah naik takhta menjadi seorang Raja, tentu dia tidak pernah menghuni kamar itu. Sehingga dia tidak akan tahu ada ruang rahasia di sana. Lagipula, Sri Maharaja Adhipramana juga tidak begitu suka dengan perangai dan perilaku Jayalodra. Sehingga rahasia-rahasia kerajaan tidak akan diberikan kepada Sang Pangeran.”

“Kita akan pergi kemana, Raden?”

“Kita akan naik perahu, menelusuri sungai ke arah utara dan melewati lembah Agro. Tapi kau harus ingat aba-abaku, ya. Ketika kuberikan aba-aba kau dan Darojat harus segera lompat dari perahu.”

“Loh? Kenapa harus begitu, Raden?”

“Nanti, di ujung sungai ini akan ada sebuah air terjun yang sangat tinggi. Kita harus melompat sebelum sampai di air terjum itu. Kalau tidak tubuh kita akan terhempas ke bawah dan hancur bersama dengan perahu.”

Kami bertiga dan para prajurit beserta keluarga keraton yang selamat pun berangkat dengan perahu-perahu kecil. Arus sungai begitu deras, membuat laju perahu yang kami naiki begitu cepat. Aku dan Darojat masing-masing memegang dayung sebagai alat untuk mengatur arah perahu, sementara Soka Dwipa berada di depan, melihat jalur dan memberi aba-aba kepada kami.