Episode 40 - Kunjungan Istana Pangeran (1)


Sudah lebih dari 50 tahun si kakek mengabdi di Istana Kerajaan Parang Batu. Artinya, sedari kecil ia sudah berada di dalam istana. Pekerjaan sehari-harinya adalah menjaga gerbang dimensi, sebuah tugas yang diwariskan oleh kakek kepada ayahnya, lalu dari ayah kepada dirinya. Berkat jabatannya itu, ia banyak dikenal sebagai Kakek Gerbang.

Kini adalah waktu istirahat makan siang. Kakek Gerbang sedang menyusuri jalan setapak menuju ruang makan abdi istana, melewati gelanggangg berlatih. Pada saat itulah ia mendengar suara keras dari wilayah dalam gelanggang.

“Brak!”

Terdengar seperti ada sesuatu yang rubuh! Segera ia memacu langkah ke dalam gelanggang berlatih. Bukan main terkejut si kakek ketika menyaksikan salah satu fasilitas gelanggang hanya tersisa puing-puing! Adalah pondok tanah, berukuran tiga meter persegi, yang kini rubuh dan hanya berbentuk tumpukan bongkahan tanah.

Lalu, dari balik tumpukan tersebut sesosok tubuh bangkit perlahan. Kepulan tipis debu tanah tersibak sebelum kedua mata Kakek Gerbang melihat dengan jelas seorang anak remaja bertubuh besar, berambut cepak dan bertelanjang dada. Bentuk tubuh dan wajahnya mengingatkan pada seorang anak remaja yang ia temukan tersimpang arah di gerbang dimensi kira-kira sepekan lalu.

Kakek Gerbang lalu melihat anak remaja tersebut menyeret sebongkah besar tanah keluar dari puing-puing pondok tanah. Dari sudut bongkahan tersebut, terlihat wajah merah padam seorang anak manusia. Matanya pun melotot ke arah anak remaja yang menyeretnya.

Bintang dalam keadaan terpasung tanah!

Rahang Kakek Gerbang menganga sampai-sampai hendak menyentuh perutnya sendiri. Rasa lapar dan dahaga yang beberapa waktu lalu ia rasakan seolah sirna.

“Kami baik-baik saja,” ungkap anak remaja berbadan besar melihat si kakek yang terpana.

Tersadar, Kakek Gerbang memutar tubuhnya. Sebagai abdi istana, ia tak ingin mencampuri urusan tamu kehormatan Kepala Pengawal. Lebih baik baginya untuk segera mengisi perut yang sudah kosong sedari tadi.

Panglima Segantang lalu meraih Parang Hitam yang tergeletak di dekat reruntuhan pondok tanah. Menggunakan sisi tumpul parang, ia mulai mementung-mentung bongkahan tanah yang berisi tubuh Bintang.

Bintang masih terus melotot. Dalam benaknya ia merasa dicurangi. Bukankah latih tarung tadi seharusnya menggunakan jurus-jurus persilatan? Mengapa Panglima mengerahkan kesaktian unsur tanah?! Sejak kapan pula si kekar itu bisa memanipulasi unsur tanah?!

Tapi, lebih dari itu, mengapa pula Panglima harus mementung-mentung tanah yang melingkupi tubuhnya? Bukankah seharusnya ia bisa memanipulasi tanah dengan mengerahkan kesaktiannya?

Meski demikian, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Bintang; karena kekesalan yang sudah mencapai ubun-ubun, dan karena dagunya terjepit tanah yang mengeras.

“Kawan Bintang, maafkanlah diriku. Dalam hal kesaktian ini, aku baru memahami cara menghentikan dan mengunci gerakan lawan menggunakan unsur tanah. Belum kuketahui cara melepaskanmu menggunakan kesaktian tersebut.”

Bintang: “…”

“Kemenangan hari ini adalah milikku,” ungkap Panglima sambil menyingkirkan bongkahan tanah yang mulai mengelupas.

“Sehari lalu kawan Bintang menerapkan keterampilan khusus segel untuk meraih kemenangan. Hari ini aku mengerahkan kesaktian unsur tanah. Hasil latih tarung kita masih seimbang adanya.”

Bintang: “…”

Bintang sadar bahwa ia tak bisa menggugat kemenangan Panglima hari ini. Memang benar sehari sebelumnya ia melempar formasi segel sebagai tempat berpijak untuk menghindar dari Panglima. Dengan kata lain, dirinyalah yang terlebih dahulu berbuat ‘curang’ karena mengerahkan keterampilan khusus, bukan hanya mengerahkan jurus-jurus silat.

Tidak sebentar waktu yang termakan sampai akhirnya seluruh tubuh Bintang terlepas dari gumpalan tanah. Tanpa kata-kata, Bintang segera melangkah pergi.

“Kawan Bintang, tunggulah sejenak,” tahan Panglima sebelum Bintang melangkah terlalu jauh.

“Terimalah ini,” Panglima menyusul sambil menyerahkan selembar gulungan kertas.

“Apa ini?” Bintang bertanya acuh tak acuh sambil membuka gulungan. Tiba-tiba kedua bola matanya melotot, seolah ingin copot.

“Itu adalah jadwal latihan harian kita sebelum bertolak ke Pulau Dewa. Sesuai kesepakatan, bila diriku kalah maka aku tak akan mengganggu kawan Bintang bermain ke pustaka istana. Sedangkan bila aku menang, maka kita akan terus berlatih bersama.”

Bintang melongo. Ia tak merasa pernah menyetujui kesepakatan dalam bentuk apa pun.

“Janganlah khawatir, diriku telah menyisihkan waktu untuk kawan Bintang membaca di pustaka istana. Lihatlah di dalam jadwal itu. Diriku pun akan turut serta.”

Bintang: “…”

“Oh, di dalam jadwal tersebut ada pula waktu bagi kita berlatih bersama Harimau Bara dan Siamang Semenanjung,” tambah Panglima Segantang semakin bersemangat.

“Jadwal bermula pada esok hari,” tutupnya sambil tersenyum polos.

Bintang: “…”

….

“Huaahaha…” Komodo Nagaradja tak henti-hentinya tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimana rasanya kekalahan pertamamu…? Hahaha…”

Waktu beranjak petang, Bintang sedang berada di dalam pustaka istana, dan gelak tawa gurunya itu sangat, sangat mengganggu. Ia hanya berdiam diri sambil membaca. Guru seperti apa ini…? pikirnya. Menertawakan kekalahan murid sendiri…

“Memang tak bisa aku menghentikanmu menelusuri berbagai buku dan kitab di pustaka ini. Kusadari bahwa engkau sedang menelusuri cara menyembuhkan tubuhku.... Dan aku berterima kasih untuk itu,” ungkap Nagaradja.

Bintang masih terdiam. Kalau sudah tahu, mengapa masih mengganggu, pikirnya lagi.

“Namun, sungguh engkau mesti berlatih tarung. Tinju Super Sakti dan Silek Linsang Halimun engkau dapatkan bukan dari tahapan berlatih dari dasar. Kedua jurus tersebut diperoleh melalui jalinan mata hati. Meski beruntung dapat menghemat waktu, muncul pula serangkaian kekurangan yang teramat nyata.

“Alam pikiranmu memang telah menguasai jurus-jurus tersebut. Tapi tubuhmu belum terbiasa dengan setiap gerakan dan bentuk jurus. Buktinya, suhu tubuhmu meningkat tinggi hanya dalam rentang waktu singkat kala mengerahkan jurus Silek Linsang Halimun.”

Bintang mengetahui nasehat gurunya tersebut ada benarnya. Mengerahkan mata hati, ia lalu mengalihkan topik pembicaraan, “Guru, ketika kami berlatih tarung tadi, aku merasakan guru bereaksi ‘eith…’ dan ‘eits…’, apakah artinya keterkejutan guru pada dua kesempatan tersebut?”

Nagaradja hanya terdiam.

“Guru..?” seru Bintang.

“Kau ingat pertama kali kita menyaksikan Panglima Segantang bertarung?” tanya Nagaradja.

“Saat itu aku memintamu menyelamatkannya, karena sesungguhnya aku merasakan aura yang sangat kukenal terpancar dari tubuhnya. Aura tersebut sangat serupa dengan aura seorang sahabat dari wilayah Kepulauan Serumpun Lada di barat daya Negeri Dua Samudera. Namun, saat itu kuanggap sebagai kebetulan saja.”

“Lalu?” desak Bintang lagi.

“Lalu, tadi Panglima Segantang mengerahkan jurus silat Pencak Laksamana Laut. Jurus silat yang diciptakan oleh sahabatku tersebut. Oleh karena itu, aku sangat terkejut.”

“Baiklah, bila demikian,” ungkap Bintang setengah melamun.

“Sedangkan keterkejutan kedua tadi disebabkan karena Panglima Segantang telah dapat mengerahkan dasar dari jurus Gema Bumi. Walau, ia hanya memahami seberkas. Hanya mampu memanipulasi unsur tanah, itu pun masih sangat terbatas.”

***

Hari-hari berikutnya Bintang menjalani latihan bersama Panglima. Kegiatan mereka diawali sedari subuh. Berdua mereka berlari menelusuri kota. Bintang menggenggam dua batang bilah besi berat di kedua tangannya, selayaknya ketika dia berlari membawa bilah bambu di Dusun Peledang Paus dulu. Sedangkan Panglima, anak remaja kekar tersebut malah berlari sambil memanggul karung berisi bijih besi dan menenteng sepasang gada besi. Sangat mencolok sekali.

Awalnya Bintang berupaya menghindar dari berlari berdekatan dengan Panglima. Tapi pada suatu kesempatan, Panglima malah berbuat onar di pasar di dalam kota. Sedikit saja ia melihat kejadian yang melanggar Tujuh Prinsip Prajurit, maka Panglima tak akan segan bertindak, dan ujung-ujungnya berkelahi.

Senang sekali ia berkelahi, keluh Bintang. Belum lagi Panglima punya kecenderungan tersasar, sehingga meningkatkan kemungkinan ia berkelahi entah dimana itu. Akhirnya Bintang memaksakan rute berlari yang ‘aman’ bagi mereka, yaitu hanya mengililingi tembok luar istana kerajaan.

Jelang siang, Panglima pun menemani Bintang menelusuri pustaka istana. Walaupun, Panglima hanya membolak-balik buku-buku yang memuat gambar-gambar senjata. Sungguh senang hatinya melihat berbagai jenis senjata pusaka yang tercantum di dalam berbagai buku bergambar.

“Cembul Manik Astagina…,” gumam Panglima pada satu kesempatan.*

Hari ini Bintang secara khusus menelusuri kitab-kitab sejarah. Ia berupaya memuaskan dahaga akan sejarah seputar Perang Jagat, Sembilan Jenderal Bhayangkara dan Tujuh Senjata Pusaka Baginda. Sesuatu yang tak bisa terpenuhi di Dusun Peledang Paus dulu. Ia pun baru menyadari tentang keberadaan Pasukan Lamafa Langit. Meski demikian, ia merasa ada informasi-informasi yang tak sejalan atau hilang. Sungguh ada yang janggal, pikirnya.

Komodo Nagaradja yang secara tak langung turut mencermati kitab-kitab sejarah itu pun berpandangan senada. Meski demikian, ia belum hendak menyuarakan pandangannya. Mengapa tak ada rincian tentang Sembilan Jenderal Bahayangkara atau Pasukan Lamafa Langit? Mengapa nama Gemintang Tenggara dan namaku tak pernah muncul? pikirnya. Sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah, ia jauh lebih resah dibandingkan Bintang.

Seusai makan siang sampai petang, kedua anak remaja terlihat berlatih di gelanggang berlatih istana. Dalam beberapa kesempatan, Kakak Lombok, sang Kepala Pengawal Istana Kerajaan Parang Batu, turut menemani. Ia dengan senang hati memberikan sedikit tunjuk-ajar dalam berlatih. Kepala Pengawal tersebut jugalah yang menyumbang kambing atau sapi untuk santapan Harimau Bara, bilamana binatang siluman Kasta Perak tersebut dikeluarkan dari Kartu Satwa.

Enam hari berlalu tanpa terasa. Keesokan harinya adalah jadwal mereka bertolak ke Pulau Dewa, menumpang armada laut Kerajaan Parang Batu.

Bintang dan Panglima baru saja menyelesaikan makan siang dan hendak menuju gelanggang berlatih ketika mereka melihat keramaian. Banyak abdi istana sibuk lalu-lalang melakukan persiapan. Mereka mengangkat kursi dan meja ke dalam wilayah gelanggang berlatih.

“Ada apa gerangan?” tanya Panglima Segantang kepada salah seorang abdi istana.

“Para Pangeran, yaitu ketiga adik Yang Mulia Paduka Raja, tiba-tiba datang berkunjung,” jawab seorang abdi. “Mereka sekarang sedang berada di dalam Istana Utama membahas perihal negeri.

Kerajaan Parang Batu memiliki empat orang pangeran. Pangeran pertama adalah yang saat ini bergelar Yang Mulia Paduka Raja dan menetap di Istana Utama, tempat Panglima dan Bintang kini berada. Sedangkan ketiga adik Yang Mulia Paduka Raja menempati istana mereka masing-masing di perbatasan wilayah Kerajaan Parang Batu.

“Oh! Apakah akan ada latih tarung setelah pertemuan mereka nanti?” tanya Panglima dengan mata berbinar.

“Benar sekali. Seperti biasa pada setiap kunjungan, malam ini rencananya masing-masing istana akan mengirimkan wakil untuk uji kekuatan di gelanggang berlatih.”

“Kawan Bintang, sepertinya malam ini akan ada keramaian!” Panglima setengah berteriak. Sebentar lagi mungkin ia akan berjingkrak-jingkrak keseruan sendiri.

Malam pun tiba. Obor-obor menyala terang, merompak kegelapan dan hawa dingin malam di dalam wilayah gelanggang berlatih. Berbagai umbul-umbul kerajaan terlihat menari-nari di sana-sini. Sungguh meriah suasana malam ini.

Tepat di tengah gelanggang berlatih, terdapat panggung persegi setinggi 1 m dan seluas 16 x 16 meter. Pada keempat sisinya, kini terlihat susunan rapi sejumlah meja dan kursi. Masing-masing sisi nantinya merupakan tempat duduk setiap perwakilan istana yang hadir.

Di salah satu sisi, di tengah-tengah deretan kursi, terlihat singasana paling besar bercokol megah di atas panggung kecil. Pastinya itu adalah singasana Yang Mulia Paduka Raja, dan di sekelilingnya adalah kursi-kursi tempat para menteri kerajaan, bangsawan, serta para abdi istana. Sementara ketiga sisi-sisi lainnya, terlihat juga singasana-singasana telah disiapkan di bagian tengah, hanya saja ukurannya lebih kecil.

Panglima dan Bintang segera menuju ke sisi Yang Mulia Paduka Raja.

“Hendak kemanakah gerangan Yang Terhormat Tamu Kerajaan?” tanya seorang pengawal dengan sopan. Ia tahu bahwa kegiatan ini hanya diperuntukkan bagi kalangan dalam Kerajaan Parang Batu dan jumlah kursi yang telah dipersiapkan pun jumlahnya terbatas. Pada saat yang sama, ia juga tak mau menyinggung perasaan kedua ahli muda tersebut.

“Siapkan dua bangku tambahan di belakang,” tiba-tiba terdengar suara menyela. Tidak lain adalah Kepala Pengawal Istana yang memberi perintah kepada pengawal tersebut.

“Kuharap kalian berdua tidak berkecil hati karena duduk di belakang dan berperan sebagai pengamat,” tambahnya sambil tersenyum. Bintang menangkap ketegangan yang hendak disembunyikan dari raut wajahnya.

“Terima kasih, Kakak Lombok,” ungkap Panglima cepat. Sepertinya ia sudah tahu bahwa kegiatan ini hanya untuk kalangan terbatas, tapi masih mencoba peruntungan. Sungguh beruntung ia.

Seluruh kursi penonton kini telah terisi.

“Yang Mulia Pangeran Keempat memasuki gelanggang berlatih,” terdengar suara pembawa acara berkumandang. Seluruh hadirin menundukkan kepala mereka. Pangeran keempat lalu duduk di singasana yang telah disiapkan untuknya.

“Yang Mulia Pangeran Ketiga memasuki gelanggang berlatih.”

“Yang Mulia Pangeran Kedua memasuki gelanggang berlatih.”

“Yang Mulia Paduka Raja memasuki gelanggang berlatih.” Kini, bahkan ketiga pangeran menundukkan kepala mereka.

Setelah serangkaian formalitas berlangsung, pembawa acara kembali menyampaikan pengumuman.

“Telah disepakati hari ini bahwa hendaknya Kerajaan Parang Batu mempersiapkan generasi muda dengan seksama. Oleh karena itu, uji kekuatan kali ini hanya dibatasi untuk perwakilan yang berusia di bawah 16 tahun dan berasal dari Kerajaan Parang Batu sahaja.”

Para hadirin bersorak-sorai.

“Oleh karena itu, masing-masing Kepala Pengawal Istana diminta mempersiapkan tiga perwakilan dari generasi muda,” sambung pembawa acara.

Rupanya Kepala Pengawal Istana Kedua, Ketiga dan Keempat telah mempersiapkan perwakilan mereka. Ketiganya lalu melangkah mendekat ke panggung berlatih untuk menempati bangku masing-masing. Kehadiran mereka disusul oleh tiga orang prajurit muda, kecuali Istana Ketiga yang hanya membawa seorang perwakilan.

Terakhir terlihat Kakak Lombok, sebagai Kepala Pengawal Istana Utama, melangkah menuju panggung berlatih, di belakangnya tiga orang prajurit muda mengikuti.

Keempat Kepala Pengawal Istana telah berdiri di sudut mereka masing-masing. Para penonton dari setiap kubu mulai bersorak-sorai.

“Terima kasih Kepala Pengawal Sekalian. Selanjutnya, kita percayakan keputusan kepada generasi muda. Mereka berhak menantang perwakilan dari istana lain,” teriak pembawa acara mempersilakan.

Suasana sening.

“Aku menantang perwakilan dari Istana Utama,” teriak satu-satunya perwakilan dari Istana Ketiga.

Kini terdengar sorak-sorai dari sudut Istana Ketiga.

“Aku menerima tantanganmu,” jawab salah satu perwakilan Istana Utama.

Kubu Istana Utama mulai bersorak-sorai memberikan dukungan. Bintang sedikit bergeser menjauh dari Panglima yang turut berteriak keras tanda kegirangan.

Kedua remaja naik ke atas panggung. Keduanya berusia 14 tahun, dan berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4.

“Kalian diperbolehkan menggunakan senjata. Namun, karena pertarungan ini hanyalah uji kekuatan, atau latih tarung, maka hendaknya menahan diri untuk tidak membunuh lawan,” pembawa acara mengingatkan.

“Namaku Gili Meno,” ungkap perwakilan Istana Utama…

“Traang!” tanpa basa-basi perwakilan Istana Ketiga menyerang dengan sebilah parang. Parang yang ia gunakan adalah parang berukuran sedang, bukan parang besar seperti milik Panglima Segantang.

Untungnya Gili Meno siaga menangkis tebasan parang yang datang dari atas. Namun, tebasan parang disusul oleh tendangan ke arah perut yang tak sempat ia hindari. Gili Meno terpental beberapa langkah ke belakang. Tangannya memegang perut menahan senak.

“Namaku Sembalun,” tukas perwakilan Istana Ketiga angkuh. “Dan… kau lengah!” cibirnya.

Kembali Sembalun melompat menyerang. Kali ini ia menebaskan parangnya dari samping. Gili Meno sudah siap menangkis.

“Jurus Parang Api!” teriak Sembalun. Begitu parang mereka beradu, tiba-tiba parangnya meledakkan api, membuat Gili Meno terkejut dan kehilangan konsentrasi.



Catatan:

*) Cembul Manik Astagina sempat disinggung dalam Episode 37.