Episode 39 - Pencak Laksamana Laut


Menyaksikan kembangan, jantung Bintang berdetak kencang. Baru kali ini ia merasakan arti mendalam dari ungkapan ‘penyesalan selalu datang terlambat’. Panglima terlihat sangat siap kali ini. Bintang ikut memasang kuda-kuda dan menebar indera keenam, mata hati, untuk mempertajam naluri bertarung.

Keduanya mulai mengalirkan tenaga dalam. Secara teori, Bintang yang dengan Kasta Perunggu Tingkat 3, dipastikan akan kalah jumlah tenaga dalam dibandingkan Panglima yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4. Kembali lagi, mustika tenaga dalam merupakan wadah, dan tenaga di dalamnya bisa dipergunakan untuk memperkuat tubuh serta melancarkan jurus. Para ahli memanfaatkan tenaga dalam tersebut dengan cara mereka masing-masing, mana yang paling sangkul dan mangkus, dialah yang paling perkasa nantinya.

Terkait dengan itu, dalam pertarungan masih banyak faktor-faktor lain yang menjadi penentu, antara lain: pengalaman, keampuhan jurus, jenis senjata, semangat bertarung, dan keberuntungan.

Dalam latih tarung ini, Bintang dipastikan kalah pengalaman bertarung dibandingkan Panglima. Mungkin tak terkira sudah berapa banyak pertarungan yang pernah Panglima jalani. Sampai-sampai Panglima seolah memiliki naluri bertarung layaknya binatang siluman yang setiap hari berburu memperebutkan makanan.

Tekait jurus, tak mungkin pula Bintang mengerahkan Tinju Super Sakti. Jurus tersebut terlalu digdaya dan menarik perhatian. Bahkan ruangan sempit ini dipastikan dapat meledak seketika ia melontarkan Tinju Super Sakti.

Dalam ruangan sesempit ini, Tempuling Raja Naga yang panjangnya 4 m tentu tak akan berfungsi maksimal. Meski senjata pusaka dari gurunya itu dapat diubah berbentuk spiral, tempuling bukanlah tempuling bila bukan berbentuk bilah panjang. Jadi, Bintang memang tak berencana memaksakan penggunaan Tempuling Raja Naga di ruang sempit ini.

Sedangkan untuk semangat, mungkin nama tengah Panglima adalah semangat. Panglima ‘Semangat’ Segantang, pikir Bintang. Cocok sekali. Bila pertarungan didasarkan pada semangat saja, maka Bintang akan kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai.

Jadi, hanya keberuntunganlah yang merupakan andalan Bintang.

Untuk meraih keberuntungan itulah Bintang memutuskan menyerang terlebih dahulu. Meski tak mengerahkan Tinju Super Sakti dalam artian melancarkan tinju beruntun yang menghasilkan kecepatan supersonik dan gelombang kejut, Bintang tetap dapat melancarkan tinju keras yang sangat cepat dan akurat. Dada Panglima menjadi sasaran.

"Brak!"

Panglima menangkis tinju Bintang dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada. Tubuh besarnya terhuyung selangkah ke belakang. Kali ini ia benar-benar terkejut. Menurut perkiraannya Bintang adalah lawan yang cukup tangguh, tapi kini ia sadari bahwa kawannya itu adalah lawan yang sangat tangguh.

Kemudian Bintang menyaksikan aura tenaga dalam Panglima bertumbuh dengan cepat. Celaka, pikirnya, Panglima mendadak serius.

"Hyaat!" Panglima menyerang.

Ia menyapu tinju dari arah kiri ke kanan, lalu melepaskan serangan telapak tangan ke depan. Ketika jarak memendek, ia menyikut, lalu melakukan pukulan menyerong. Kaki dan lulutnya pun bergerak seirama menyerang. Berbagai kombinasi serangan Panglima dilontarkan!

Lebih dari dua puluh gerakan menyerang bertubi-tubi dilancarkan hanya dalam beberapa hentakan napas. Bintang masih mampu bertahan, menangkis dan mengelak. Perlahan tapi pasti, ia semakin terdesak.

Ruang yang sempit seolah menjadi semakin sempit. Bila saja otot-otot tubuhnya tidak diperkuat oleh Nagaradja, maka selayaknya sedari tadi Bintang terhempas jatuh akibat salah satu serangan gencar Panglima. Meski demikian, karena perbedaan tingkat kasta, kekuatan setiap hantaman pukulan tetap membuat sekujur tubuh Bintang bergetar. Kembali ia dipaksa mundur.

Sisik Raja Naga!

Pelindung merah gelap di kedua pergelangan tangan dan kaki Bintang menyebar dan menyelimuti punggung tangan sampai menyentuh sikut, serta menutupi mata kaki sampai ke lutut. Bintang kini lebih leluasa menangkis. Ia tak lagi perlu mengalirkan banyak tenaga dalam untuk membungkus kedua lengan dan kaki. Dalam konteks pertarungan tangan kosong, maka Sisik Raja Naga juga bisa dianggap sebagai senjata, baik untuk menyerang maupun bertahan.

Sebaliknya, Panglima merasakan pertahanan Bintang semakin kokoh. Sekujur lengan dan kakinya seperti menghantam tebing batu yang keras. Padahal, dari sudut penglihatannya, Bintang hanya mengenakan pelindung bersisik aneh berwarna merah bata di kedua lengan dan kaki. Gerakan Bintang pun terlihat ringan.

Pastilah itu perisai pusaka, pikirnya. Panglima pun menyentakkan napas. Tak hendak kehilangan kesempatan untuk terus menekan, Panglima mengubah kembangan.

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Pertama: Tuah Sakti Hamba Negeri!”*

Seketika itu juga kekuatan pukulan dan tendangan Panglima berlipat ganda. Jurus silat yang kini ia kerahkan adalah jurus yang menekankan pada peningkatan kekuatan dalam jangka waktu tertentu. Peningkatan kekuatan mendadak ini tentu memakan tenaga dalam yang cukup besar dan berisiko bagus tubuh. Namun, berkat kondisi fisik yang tangguh, jurus silat ini tak banyak membebani tubuhnya. Paling banyak, ia hanya akan merasa sekujur tubuhnya pegal-pegal seusai latih tarung nanti.

"Eith?" terdengar kesadaran Nagaradja bereaksi.

Bintang terkejut. Ia yang tadinya mulai dapat menangkis dan menghindar kini kembali terdesak. Setiap hantaman pukulan dan tendangan Panglima memiliki tenaga yang sungguh terlampau besar. Rasanya seperti dihantam batu karang, bertubi-tubi pula. Ini adalah kali pertama baginya menahan kekuatan yang sedemikian mendominasi.

Silek Linsang Halimun, Bentuk Kedua: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting!

Terpaksa Bintang mengerahkan ‘bentuk’ kedua dari jurus Silek Linsang Halimun. Menurut Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, tingkatan jurus silat ditandai dengan penyebutan ‘gerakan’, misalkan pada Tinju Super Sakti, ‘Gerakan’ Pertama: Badak; atau Jurus Parang Naga, ‘Gerakan’ Pertama: Cakar Menyayat Rimba. Sedangkan ciri khas tingkatan pada jurus sakti ditandai dengan penyebutan ‘bentuk’.

Nah, Silek Linsang Halimun sebagai jurus silat malah memakai istilah ‘bentuk’. Sungguh benar pengamatan Komodo Nagaradja yang mengatakan jurus silat ini sesungguhnya berada di persimpangan jurus silat dan jurus sakti.

Tiba-tiba Panglima merasakan pukulan kait tangan kanan yang seharusnya menghantam rusuk, malah menembus tubuh lawannya. Rupanya pukulan tersebut hanya mengena bayangan yang menyerupai Bintang. Tubuh Bintang, kini telah berada di sebelah Panglima, lalu mengayunkan tinju lurus berkecepatan tinggi ke arah dada yang terbuka. Panglima yang terkejut karena pukulannya hanya menerpa bayangan, bukan tubuh asli, mundur ke belakang. Gerakan reflek ini membuat ia terhindar pula dari tinju Bintang. Posisi tubuhnya kini menempel pada salah satu dinding ruang sempit.

Dalam posisi terjepit, Panglima menghentakkan napas lalu melontarkan kombinasi tinju lurus tangan kanan yang disusul tendangan ke atas. Lagi-lagi tinju dan tendangannya hanya menyapu bayangan. Kembali lagi ia terpaksa berhadapan dengan serangan balik yang cukup membahayakan. Sebuah tendangan sapuan berhasil menebas tulang kering Panglima, sedikit menggoyahkan kuda-kudanya.

“Bentuk Kedua dari jurus silat Silek Linsang Halimun: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting?” gumam Panglima penuh tanda tanya. Tapi, ia tak memiliki waktu untuk menggali lebih lanjut akan pertanyaan tersebut.

Seingat Panglima, bahkan di Pulau Barisan Barat sekalipun tak banyak yang pernah menyaksikan langsung jurus itu. Tentunya, Panglima adalah pengecualian. Sebagai anak remaja yang dikenal sebagai seorang jenius silat, ia selalu mendapat kesempatan menyaksikan banyak ahli silat memperagakan jurus andalan mereka.

Salah satu dari banyak ahli tersebut, adalah seorang sesepuh dari wilayah barat Pulau Barisan Barat. Dari pengalaman itu, ia mengetahui bentuk jurus, dan bahwa tak banyak jumlah ahli silat yang mampu menguasai jurus Silek Linsang Halimun. Saat ini pun mungkin tak lebih dari jumlah jari di satu telapak tangan.

Oleh karena itu, menjadi tanda tanya besar bagaimana kisahnya jurus tersebut dapat merantau dari Pulau Barisan Barat sampai ke wilayah tenggara? Lalu dapat dikuasai pula oleh seorang anak seusianya?

Berkali-kali serangan Panglima hanya menyapu bayangan Bintang. Berkali-kali pula ia harus berhadapan dengan pahitnya serangan balik di dalam pondok tanah nan sempit itu. Meski demikian, meski bertanya-tanya dalam hati, Panglima tetap tenang. Secara teori, ia memahami cara kerja jurus tersebut yang berasal dari binatang siluman Linsang Halimun. Kemampuan binatang siluman tersebut tidak hanya bersembunyi dan menyatu dalam bayangan. Linsang Halimun juga dapat menciptakan ilusi berbentuk dirinya untuk mengalihkan perhatian pemangsa, sedangkan tubuh aslinya bergerak lincah ke arah lain. Demikianlah landasan dasar dari jurus tersebut.

“Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!”*

Kecepatan dilawan kecepatan. Untuk mengatasi bentukTegang Mengalun, Kendor Berdenting, Panglima memerlukan gerakan silat yang memungkinkan ia bergerak tak kalah tangkas. Demikianlah kelebihan gerakan kedua dari jurus silat Pencak Laksamana Laut. Jika pada gerakan pertama kekuatannya bertambah dua kali lipat, pada gerakan kedua adalah kecepatan yang mengganda.

Tinju lurus Panglima menyapu bayangan, namun tepat di saat Bintang muncul dan akan menyerang balik, Panglima telah terlebih dahulu melontarkan serangan susulan. Ia menyarangkan tinjunya ke bahu sebelah kanan Bintang.

"Sreek..." desir angin terdengar ketika tinju deras tersebut lagi-lagi hanya menyapu bayangan! Tapi kali ini Panglima merasakan bahwa ujung kepalan tinjunya sempat bersentuhan dengan pakaian Bintang.

Bintang sebelumnya telah merasakan perubahan fluktuasi aura tenaga dalam Panglima. Meski hanya sebentar, ia merasakan terjadinya perubahan jurus. Oleh karena itu, ia menempuh langkah aman. Bintang membuat bayangan di balik bayangan. Sebuah keputusan yang tepat.

Panglima Segantang pantang menyerah. Pukulan dan tendangannya mengalir deras tanpa henti. Bintang hanya mampu meliuk-liuk lincah dari bayangan satu ke bayangan berikutnya. Ia tak lagi mampu menyarangkan serangan balik. Malah, sedikit demi sedikit kombinasi serangan Panglima mulai menyentuh tubuh.

Tak terasa lebih dari setengah jam berlalu. Latih tarung kali ini berubah menjadi adu daya tahan. Perlahan tenaga dalam keduanya mulai terkikis. Siapa pun yang nantinya masih menyisakan tenaga di dalam mustika di ulu hati, dialah yang akan keluar sebagai pemenang.

Puluhan gerakan kemudian, tubuh Bintang terasa semakin panas. Keringat mulai mengalir deras di sekujur tubuh. Napasnya menderu, dan kecepatan gerakannya mulai menurun. Kalau soal suhu ruangan sempit yang memang meningkat karena aliran udara sangatlah tipis, masih terbilang wajar bila dibandingkan dengan panasnya Telaga Merah, salah satu dari Telaga Tiga Pesona di Pulau Bunga beberapa waktu lalu.

Panas yang ia rasakan kini lebih disebabkan oleh gerakan tubuhnya sendiri ketika mengerahkan jurus Silek Linsang Halimun: Tegang Mengalun, Kendor Berdenting secara terus-menerus. Maklum, baru kali ini ia menerapkan jurus tersebut, dalam rentang yang cukup panjang pula. Jadi, panas yang ia rasakan berasal dari dalam tubuh.

Sebaliknya, meski terus bergerak menyerang, dan suhu ruangan naik, hanya beberapa bulir keringat yang mengalir di pelipis Panglima. Napasnya pun masih terbilang teratur. Meski demikian, ia menyadari bahwa pertarungan harus secepatnya disudahi. Panglima paham betul bahwa tenaga dalam di mustikanya sebentar lagi terkuras habis akibat mengerahkan jurus Pencak Laksamana Laut.

Bintang mengamati bahwa ledakan kekuatan dan lonjakan kecepatan dari jurus Pencak Laksamana Laut pastinya memakan tenaga dalam amat besar. Hanya sedikit lagi waktu yang diperlukan sebelum Panglima kehabisan tenaga dalam.

Keterbatasan raga melawan keterbatasan tenaga dalam. Siapa yang akan terlebih dahulu menyerah?

Bintang menggeretakkan gigi, menanggung kelelahan yang dirasa. Seluruh sendi dan otot di sekujur tubuhnya kini terasa nyeri sekali. Hal ini adalah bukti bahwa keseluruhan kemampuan raganya dikerahkan hampir mencapai batas.

Meski demikian, Bintang masih memiliki cukup tenaga dalam untuk menerapkan jurus Silek Linsang Halimun. Setidaknya ia percaya masih memiliki cukup tenaga dalam sampai Panglima yang kehabisan tenaga dalam terlebih dahulu. Lagipula, masih ada sedikit cadangan tenaga dalam di mustika retak milik gurunya.

Sesungguhnya bisa saja Bintang menyerah kalah setelah pertukaran jurus di saat-saat awal tadi. Dengan demikian, mengakhiri penderitaan yang tiada perlu sesegera mungkin. Baginya, latih tarung seperti ini tidaklah terlalu banyak manfaat. Masih banyak cara berlatih lain yang bisa ia terapkan sendiri.

Akan tetapi, Bintang tidaklah mau mengecilkan hati gurunya. Sejak awal latih tarung tersebut, Bintang mahfum bahwa kesadaraan gurunya, Komodo Nagaradja, memperhatikan dengan seksama dan penuh suka cita. Maka dari itu, Bintang berniat menjalani latih tarung ini dengan sunguh-sungguh. Selain itu, janji Panglima untuk tak lagi mengganggu kesenangannya menelusuri isi pustaka istana juga merupakan sebuah motivasi tersendiri.

"Grab!" tiba-tiba cengkeraman kokoh tangan kiri Panglima menangkap lengan kanan Bintang!

Di ambang batas kehabisan tenaga dalam, Panglima mengubah taktik. Dengan kecepatan yang ditopang Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang dari jurus Pencak Laksamana Laut, ia mengubah taktik. Kini ia tidak menekankan pada kecepatan pukulan atau tendangan, melainkan mengutamakan kekuatan cengkeraman.

Panglima lalu menarik tubuh lawan sambil mengarahkan telapak tangannya ke dada Bintang. Seketika itu juga Bintang merasakan ancaman bahaya. Meskipun tangan kirinya dicengkeram erat, ia masih dapat dengan mudah memutar menghindar menggunakan Silek Linsang Halimun.

"Bam!" tiba-tibak telapak tangan kiri Panglima keras menghantam... lantai tanah di dasar ruangan.

Di saat yang sama, ia menyentak tangan lawan sampai menyentuh lantai tanah, disusul tubuh Bintang yang terjerembab kehilangan keseimbangan. Sungguh kekuatan raga yang luar biasa besar sehingga dengan mudahnya memainkan tubuh lawan.

Tanah di lantai lalu dengan cepat menjalar menyelimuti lengan pinggang dan kaki Bintang. Seketika itu pula, seluruh bagian tubuh yang menyentuh tanah segera diselimuti gumpalan-gumpalan tanah. Tanah yang menyelimuti tubuh lalu mengeras dan mengunci gerakan.

“Eits?" kembali terdengar kesadaran Nagaradja bereaksi.



Catatan:

*) Nama gerakan-gerakan ‘Pencak Laksamana Laut’ diambil dari sumpah berbentuk pantun yang dikumandangkan oleh Laksamana Hang Tuah. Seorang pahlawan nusantara yang berjaya di negeri jiran.