Episode 38 - Aji Pamungkas


Bintang melangkah ke dalam lorong. Di hadapannya, berdiri Panglima menggenggam dengan kedua tanggannya Parang Hitam. Raut wajahnya penuh suka cita.

Di dalam lorong sempit yang hanya selebar satu setengah bahu lelaki dewasa, Bintang mengeluarkan Tempuling Raja Naga. Ia berpikir semakin cepat ia memenuhi kehendak Panglima, maka semakin cepat pula penderitaan ini akan berakhir

Bintang memasang kuda-kuda. Namun, kuda-kuda tempuling kali ini tidak seperti hendak menikam dari atas kepala. Tempuling dihunuskan ke depan dengan tinggi sejajar ulu hati.

“Kawan Bintang, bersiaplah!” seru Panglima.

Ia lalu mengangkat Parang Hitam tinggi ke atas kepala. Lalu melompat cepat ke depan. Dari gerakannya, terbaca jelas bahwa ia akan mengayunkan parang dari arah atas ke arah bawah. Bagi pengguna tombak, dalam lorong sesempit ini, maka akan kesulitan menangkis. Pilihan terbaik adalah mundur ke belakang, menjauh dari jangkauan parang, atau..

Bintang dengan cepat menusukkan tempuling lurus ke depan. Posisi dada Panglima yang terbuka karena mengangkat parang tinggi-tinggi menjadi incaran. Kurang dari setengah meter jarak ujung Tempuling Raja Naga yang tajam dari dada Panglima, seketika itu juga panglima menurunkan gagang Parang Hitam. Menggunakan ujung tumpul di bawah gagang parang, ia menekan ujung tempuling di hadapannya ke arah bawah.

“Bam!” Pukulan ujung gagang melesakkan tempuling ke tanah. Kedua lengan Bintang bergetar keras. Lalu Panglima melesat maju, mengubah gerakan menebas menjadi tusukan lurus ke arah depan!

Perubahan dari kuda-kuda menebas dari arah atas ke bawah menjadi kuda-kuda menusuk berlangsung begitu cepat dan akurat. Meski demikian, raut wajah Bintang masih tenang. Dengan cepat pula ia mengerahkan tenaga dan mengangkat tempuling. Gerakan ini akan menyapu Panglima dari arah bawah ke atas.

Melihat pergerakan tempuling, serta merta Panglima mengubah posisi tubuhnya. Ia melepaskan tangan kiri dari gagang parang, lalu tubuhnya menyamping sehingga pundaknya menempel pada dinding lorong. Bilah tempuling hanya menyisir di depan dadanya. Terlebih lagi, meski secara teknis ia menghindar, tangan kanannya masih terus menusukkan parang ke arah Bintang.

Ujung tajam Parang Hitam melesat tanpa hambatan. Bintang sadar bahwa jika ia tak membalikkan tempuling segera, maka ujung parang tersebut akan menerkamnya. Segera ia mengerahkan tenaga dalam agar bobot Tempuling Raja Naga berubah menjadi seberat 100 kg. Tempuling yang tadinya menyapu ke atas, kini dengan mudah dikendalikan untuk menghujam ke bawah.

Jarak antara Bintang dengan Panglima masih berjarak sekitar satu setengah meter. Keduanya saling berhadapan di dalam lorong sempit. Panglima berada dalam posisi menusuk, sedangkan tempuling yang tepat berada di atas kepalanya menghujam dengan cepat. Dalam situasi terjepit, Panglima memuntir pergelangan tangannya. Ujung parang hitam besar yang tadinya dalam posisi menusuk kini menghadap ke atas. Panglima siap menahan hujaman tempuling menggunakan ujung parang.

“Trak!”

Sesaat sebelum bilah tempuling bersentuhan dengan ujung parang, Bintang kembali mengalirkan tenaga dalam untuk menambah beban tempuling menjadi hampir seberat 150 kg. Panglima terkejut dengan kecepatan balik tempuling dan tenaga hantaman yang dihasilkan, segera ia melompat empat sampai lima langkah mundur. Reaksinya sangat cepat. Perpindahan dari gerakan menangkis lalu menghindar mengalir dengan sempurna. Kini, ia bahkan berada di luar jangkauan tempuling.

Dalam lingkungan sempit keduanya bertukar serangan menggunakan senjata yang panjang dan lebar. Gerakan mereka tak menunjukkan kecanggungan sama sekali. Meski demikian, kini mereka kembali berada pada posisi awal sebelum pertukaran serangan berlangsung.

Bintang berdiri tenang, mengamati Panglima yang kini kembali menggenggam Parang Hitam di kedua belah tangannya.

Keputusan yang ia ambil adalah untuk kembali menghunuskan Tempuling Raja Naga, sebagai langkah menjaga jarak aman dari Panglima. Namun, kali ini ia yang akan mengambil inisiatif menyerang. Bintang menarik tenaga dalam dari tempuling, menyebabkan bilah sepanjang lebih kurang 4 m tersebut seringan kapas. Sambil menghentakkan napas, ia kemudian melesat maju.

Gerakan maju tersebut dibarengi dengan lengan kanan yang menggenggam pangkal tempuling bergerak ke kiri dan kanan, sedangkan lengan kiri berfungsi sebagai titik tumpu. Walhasil, ujung tempuling di depan juga menyapu ke kiri dan ke kanan. Gerakan tersebut sangat cepat dan lebar sampai hampir menyentuh kedua sisi dinding lorong silih berganti. Melalui gerakan ini, Bintang berniat menutup ruang gerak Panglima sambil pelan-pelan mendorong mundur lawannya.

Namun, bukan Panglima namanya bila semudah itu ia dapat terdesak mundur. Panglima pun merangsek maju, dengan parang besarnya menghunus ke depan, ia menerima sapuan tempuling, lalu membiarkan parang dibawa menempel ke dinding lorong.

“Jurus Parang Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba!”

Seketika itu pula lebar Parang Hitam bertambah sampai seukuran beberapa jengkal orang dewasa. Tambahan lebar parang disebabkan oleh tenaga dalam yang melingkupi bilah parang. Dengan kekuatan yang didongkrak oleh jurus silat tersebut, Panglima lalu beralih menekan tempuling ke arah berlawanan sehingga berhasil menjepit tempuling ke sisi lorong. Keadaan kini berbalik, jika sebelumnya tempuling menekan parang ke sisi lorong tembok, kini justru parang yang menjepit tempuling.

Panglima kemudian melangkah maju sambil menyisir tempuling yang menempel di sisi dinding. Dengan cara ini, tempuling yang terjepit antara Parang Hitam dan dinding tak bisa bergerak.

“Jurus Parang Naga, Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung!”

Perubahan jurus silat ini membuat Parang Hitam kembali berubah bentuk menjadi memanjang. Setelah mematikan gerakan tempuling, parang siap menikam deras ke arah dada Bintang. Mau tak mau, ruang yang tersisa bagi Bintang adalah ke belakang. Ia dipaksa mundur.

Sisik Raja Naga!

Pelindung dari sisik ekor Komodo Nagaradja menjalar secepat kedipan mata membungkus dari mata kaki hingga ke lutut. Secepat itu pula Bintang mengalirkan tenaga dalam ke arah pinggang sampai ujung kaki. Dengan kombinasi otot yang telah diperkuat oleh gurunya, mengenakan Sisik Raja Naga, dan aliran tenaga di otot dan sendi dari pinggang sampai ke ujung kaki, Bintang melenting cepat tinggi ke atas!

Naluri Panglima mengatakan bahwa lawannya berniat melompat melewati dirinya, untuk kemudian melangkah ke luar lorong. Sebagaimana Bintang, Panglima pun dengan cepat mengalirkan tenaga dalam ke arah pinggang dan kedua kakinya sehingga dapat segera berhenti merangsek maju, lalu melompat mundur. Meski tenaga dalamnya telah terpakai untuk melancarkan dua Jurus Parang Naga, ia tentunya masih menyisakan cukup tenaga untuk menyusul Bintang. Di saat Bintang mendarat nanti, mereka akan kembali berhadapan.

Namun, Panglima tak memperkirakan bahwa di saat melenting tadi, Bintang telah melempar tiga segel pijakan setinggi hampir delapan meter dari permukaan tanah. Masing-masing segel tersebut dalam posisi berjajar sepanjang lorong dengan jarak lebih kurang dua meter dari satu sama lain. Di atas, Bintang kemudian melompat cepat dari satu segel pijakan satu ke segel pijakan berikutnya.

“Tuing... Tuing... Tuing...”

Panglima hanya menyaksikan dengan kesal. Bukan karena ia tak dapat melompat menyusul ke atas, melainkan karena Bintang menghindar, bukannya berhadapan secara langsung dan mengadu jurus.

“Keterampilan khusus lagi…” gumam Panglima pelan. Tentu masih segar dalam ingatannya ketika Bintang menggunakan teknik yang sama di kala latih tarung pertama mereka di pinggiran Kota Dana.

Bintang kemudian mendarat tepat di luar lorong. Tanpa menoleh ia berujar, “Aku menang. Kau berlatihlah lebih keras lagi.” Lalu, ia menghilang ke arah pustaka istana.

Pasca latih tarung bersama Bintang, Panglima pun kehilangan semangat untuk kembali berlatih jurus silat. Tak hendak membuang-buang waktu, ia pun memutuskan untuk mencoba mendalami Kitab Gema Bumi.

Kini Panglima berada di salah satu halaman dalam istana, duduk bersila di bawah sebuah pohon rindang. Telapak tangannya menyentuh Kitab Gema Bumi.

“Gema Bumi? Apakah maksudnya ‘gempa bumi’?” gumam Panglima sambil menebar mata hati ke arah kitab kusam kecoklatan tersebut.

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisu

kaukah itu

teka

teki

yang

tak menepati janji?

Panglima memejamkan mata, berupaya merasakan wilayah sekitar dirinya. Ia tidak menebar mata hati ke seluruh penjuru seperti layaknya dilakukan oleh banyak ahli. Saat ini, Panglima mengirimkan mata hati yang difokuskan ke arah tanah, baru menyebar ke seluruh penjuru arah.

Panglima kemudian merasakan dirinya seperti tenggelam di tengah lautan. Namun sesungguhnya bukanlah lautan, melainkan tanah yang teksturnya menjadi mirip air yang bergelombang dan beriak. Panglima membiarkan tubuhnya tenggelam, semakin tenggelam… tenggelam semakin dalam…

Di pagi pada hari berikutnya, Bintang mendapati bahwa Panglima telah meninggalkan kamarnya terlebih dahulu. Mungkin anak itu pergi berlatih sendiri, pikirnya. Akan tetapi, Bintang tetap waspada. Ia menebar mata hati sambil berjalan ke arah pustaka istana. Mata hatinya pun kemudian menangkap kehadiran Panglima. Anak remaja bertubuh besar dan kekar tersebut sedang duduk bersila… tepat di pintu masuk pustaka istana!

“Jikalau Kawan Bintang memenangkan latih tarung hari ini, maka diriku tak akan pernah lagi mengganggu Kawan Bintang bermain di pustaka istana,” terdengar suara Panglima ketika Bintang hendak memutar arah.

Kata-kata itu menghentikan langkah kaki Bintang. Ah, paling-paling kau tak hendak mengakui kekalahan sehari yang lalu, sehingga menantangku dengan dalih berlatih tarung, pikir Bintang dalam hati. Meski, sebenarnya ia tahu betul bahwa bukanlah demikian kepribadian Panglima. Bintang hanya kesal kesenangannya membaca kini dihalang-halangi.

“Baiklah. Bila memang demikian kehendakmu, aku tak akan menolak.”

Kedua anak remaja tersebut kembali menelusuri jalan setapak istana menuju gelanggang berlatih. Jalan setapak istana merupakan lantai batu granit yang diratakan membentuk berbagai ukuran yang disusun berhimpitan. Sebagian besar bongkahan granit tersebut berukuran tiga sampai empat telapak kaki.

“Kawan Bintang, sungguh pelik kuperhatikan langkah kakimu,” ujar Panglima akhirnya bersuara. “Mengapa dikau berjalan menghindari garis-garis antar bebatuan granit itu?”

Bintang tak menjawab, ia asyik melangkah dan memastikan agar telapak kakinya tak menginjak garis antar bongkahan batu granit. Kadang ia mengambil langkah sempit, terkadang melangkah lebar, sesekali jinjit berjingkat.

Sesampainya di gelanggang berlatih, Bintang langsung menuju ke arah lorong sempit sehari sebelumnya.

"Kawan Bintang, bukan ke arah sana tempat berlatih kita hari ini," ungkap Panglima sambil melangkah semakin dalam ke area gelanggang berlatih. Bintang mengikuti sambil bertanya-tanya dalam hati akan latihan seperti apa gerangan yang disajikan dalam menu Panglima hari ini.

Sekira 100 langkah kemudian, mereka tiba di depan sebuah pondok. Lebih tepatnya, sebuah kotak berukuran 3 x 3 m yang terbuat dari tanah. Sebuah pintu kayu kecil dan tebal menjadi jalur masuk ke dalam kotak tersebut.

Panglima meletakkan parang besarnya di samping pintu, lalu melangkah masuk terlebih dahulu, disusul Bintang.

Ruang di dalam kotak hanya bersinar temaram, diterangi oleh satu bongkah batu kuarsa kecil yang menempel di langit-langit. Setiap sisi dinding terlihat compang-camping dan retak-retak. Tak perlu diperhatikan dengan teliti, sepintas saja dapat disimpulkan bahwa compang-camping dan retak-retak itu disebabkan oleh hantaman benda-benda keras dan atau tajam. Lantainya juga terbuat dari tanah, yang telah dipadatkan sedemikian rupa.

Udara di dalam lembab dan pengap, karena memang tidak ada lubang angin. Udara hanya dapat masuk dari celah-celah sempit di antara pintu kayu.

"Kawan Bintang, mari kita bertukar jurus di dalam ruang ini," ujar Panglima. Seperti biasa, nada bicaranya saat hendak berlatih tarung penuh dengan semangat.

"Kawan Bintang dipersilakan menggunakan senjata atau tangan kosong. Syarat kemenangan hari ini adalah siapa yang paling lama dapat terus bertarung. Tiada batas waktu pertarungan," tutup Panglima dengan memasang kuda-kuda sambil menyibak gerakan kembangan di dalam ruangan sempit itu.

Kembangan adalah gerakan tangan dan sikap tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak-gerik musuh, sekaligus mengintai celah pertahanan musuh. Kembangan merupakan gerakan pembuka yang umum diterapkan pada awal pertarungan silat. Rangkaian gerakan kembangan dapat bersifat mengantisipasi serangan atau mengelabui lawan. Seringkali pula gerakan kembangan silat menyerupai tarian yang berkesinambungan.

Gerakan kembangan Panglima merupakan aliran tangan kanan dan kiri yang bergerak perlahan membentuk lingkaran besar. Kedua kakinya bergerak seperti menyapu tanah, ke kiri dan ke kanan membentuk jalur setengah lingkaran.


***


Seorang lelaki setengah baya, bertubuh besar memasang kuda-kuda. Sepertinya ia baru saja kelar berlatih silat, karena terlihat sekujur tubuhnya mengucurkan keringat. Dadanya pun naik turun, petanda bahwa latihan yang baru selesai tersebut adalah latihan pernapasan yang teramat berat adanya.

“AJI... PAMUNGKAS!” teriaknya membahana selayaknya hendak merapal sebuah jurus mematikan, sampai-sampai terdengar ke seluruh penjuru Keraton.

Tidak lama berselang, terdengar sejumlah langkah kaki bergegas tak beraturan memasuki halaman dimana lelaki paruh baya tersebut usai berlatih. Beberapa orang kemudian terlihat bersembah sujud. Paling depan, adalah seorang lelaki tua yang kelihatannya sangat renta. Sekujur tubuhnya menggigil, entah karena sudah uzur, atau mungkin karena saking takutnya.

“Aa... ampun beribu-ribu aa... ampun, Kanjeng Gusti Aa... Adipati...” suara lelaki tua terdengar gemetar.

“Suarakan laporanmu!” terdengar suara sang Adipati berwibawa.

“Gusti Raden Pangeran melarikan diri dari Keraton...” jawab lelaki tua itu cepat, pasrah menerima hukuman.

Nun jauh dari sana, di luar batas wilayah Kadipaten, seorang anak remaja berusia 13an tahun menatap tajam ke arah Keraton. Ia lalu bersiul, dan menapakkan kaki setengah menari ke arah yang berlawanan.

“Heh... Yang benar saja... Tak rela bila diri ini harus berguru ke sana. Sekalipun diakui sebagai perguruan terbesar di Kota Ahli, bahkan seantero Pulau Jumawa Selatan sekalipun... Perguruan Maha Patih bukanlah yang terbaik untukku,” lalu ia tersenyum lebar.

“Kudengar gadis-gadis di pulau itu terbiasa bertelanjang dada, menampilkan pemandangan surgawi... setiap hari...” kedua matanya kini menyipit, air liur mengalir pelan dari ujung senyumnya.

“Slurph...” ia menarik air liur yang sedikit lagi hendak jatuh ke tanah.

“Takdirku berada di Pulau Dewa!”