Episode 11 - Amanah Soka Dwipa



Pagi ini suasana Keraton Watugaluh begitu ramai, tak seperti biasanya. Sudah sejak semalam, Keraton mulai didatangi oleh sejumlah orang penting. Alun-alun di depan Keraton juga sudah penuh sesak dengan para prajurit perang. Mereka semua sudah siap bertempur, ada yang duduk di atas kudanya, ada pula yang berbaris rapih menghadap ke arah selatan, mendengarkan arahan dari Lembu Sutta di hadapan mereka.

Meski posisiku berjaga saat ini sangat jauh dari tempat Lembu Sutta memberikan arahan, namun aku masih dapat melihatnya meski samar. Bagaimanapun aku ‘kan seorang pemanah, meski bukan pemanah ulung tapi mataku juga terbilang cukup jeli. Sayang, aku tidak diajak untuk ikut berperang oleh Ki Purboyo, dia malah menyuruhku menjaga Keraton. Padahal aku sangat ingin ikut mereka ke medan perang.

Para prajurit keraton pilihan yang diajak ikut berperang terlihat begitu siap untuk maju ke medan pertempuran. Di barisan depan adalah pasukan berkuda, di susul dengan pasukan pemanah. Lalu ada pula para prajurit pembawa umbul-umbul Keraton Watugaluh, yang berwarna biru dengan lambang surya di tengahnya. Selanjutnya disusul oleh para prajurit yang membawa perisai, dan senjata tombak, pedang maupun gada seperti si Darojat. Eh… Tunggu… prajurit di barisan paling belakang itu si Darojat?

Karena penasaran aku putuskan untuk mendekat ke arahnya. Aku mengendap-endap dan memperhatikan wajahnya. Nah! Benar rupanya, itu memang si Darojat.

“Sedang apa kau di sini?” ujarku sembari menepuk pundaknya.

“Eh, Ro... Iya.. semalam aku diminta oleh Ki Purboyo untuk bergabung dengan prajurit perang, terjun menyerang Pring Dawa.”

Wah… ini benar-benar tidak adil. Aku dan Darojat ‘kan masuk sebagai prajurit keraton bersamaan, tapi mengapa dia diajak ikut berperang sementara aku hanya disuruh menjaga Keraton? Ini tidak adil bagiku.

“Ro… kamu kok malah melamun?”

“Weh… Iya… Ya sudah, kamu hati-hati di sana. Jaga dirimu baik-baik, ya.”

“Terima kasih, Ro. Kamu juga jaga dirimu baik-baik. Eh… lekas kembali ke pos jagamu, Ro. Mereka sudah mau datang,” ujar Darojat sambil menunjuk ke arah Keraton.

Aku belum sempat melihat siapa yang datang, tapi aku yakin akan menjadi masalah bagiku bila tidak lekas kembali ke pos jaga. Aku kembali mengendap-endap dengan cepat dan berdiri tegap di pos jagaku. Dari dalam Keraton muncul Prabu Reksa Pawira dengan kereta perang yang ditarik oleh empat ekor kuda. Disusul oleh para pendekar aliran putih, para Adipadi dari Kadipaten sekutu Watugaluh, dan Soka Dwipa. Mereka melintas di sampingku menuju ke barisan depan para prajurit perang. Namun ketika melintasiku, Soka Dwipa mengentikan kudanya dan membiarkan dirinya ditinggal oleh rombongan Sang Prabu.

“Ro... kamu tidak ikut ke Pring Dawa?”

“Ampun Raden, saya diberi tugas oleh Ki Purboyo untuk menjaga Keraton, Raden.”

Tiba-tiba Soka Dwipa mendekatkan kudanya ke arahku, mencondongakn tubuhnya dan berbisik ke arahku.

“Aku punya satu tugas lagi untukkmu…. Tolong jaga Rara Andhini. Kupercayakan dia kepadamu,” setelah mengucapkan kata itu dia bergegas memacu kudanya mengejar rombongan Prabu Reksa Pawira.

“Hati-hati Raden… Pulanglah dengan selamat!” teriakku yang dibalas dengan lambaian tangan ke arah atas olehnya.

Setelah tiba di hadapan para prajurit, Prabu Reksa Pawira memberikan motivasi dan membakar semangat mereka. Hal tersebut sontak membangkitkan semangat juang para prajurit perang Keraton Watugaluh yang ditandai dengan teriakan-teriakan riuh yang menggetarkan semesta. Ketika matahari semakin tinggi, mereka pun berangkat.

Jarak dari Watugaluh ke Pring Dawa cukup jauh, bila mereka terus berjalan, maka kemungkinan mereka baru akan sampai di perbatasan kota Pring Dawa esok malam. Mungkin mereka akan membangun perkemahan terlebih dahulu di batas kota untuk beristirahat, baru paginya setelah tenaga mereka pulih serangan dahsyat akan dilancarkan kepada pasukan Jayalodra. Ya… ini sih hanya perkiraanku saja...

Kini aku memiliki tanggung jawab baru, selain aku harus menjaga keamanan Keraton Watugaluh, aku juga harus menjalankan amanah dari Soka Dwipa untuk menjaga pujaan hatinya, Rara Andhini. Beberapa hari ini aku terus mengintai, mengawasi Rara Andhini, memastikan keselamatannya. Namun, aku agak sedikit risih, sepertinya gerak-gerikku dicurigai oleh para prajurit Keraton lainnya. Entah apa yang ada di dalam benak mereka. Mungkin mereka tengah berprasangka buruk tentangku.

Untuk menghalau kecurigaan mereka, akhirnya aku putuskan untuk mendekati salah seorang dayang yang selalu mengikuti Rara Andhini, Srinti namanya. Aku mendekatinya hanya untuk mendapatkan alasan agar dapat berada di dekat Rara Andhini.

Itu pada awalnya…. Berbeda dengan sekarang… Saat ini hatiku telah terpetik olehnya dan aku pun jatuh cinta beneran kepada Srinti. Mau dikata apalagi, perjumpaan kami yang bisa dikatakan sering ternyata menumbuhkan perasaan cinta di antara kami.

Bahkan di luar tugasku pun aku sering sengaja janjian bertemu dengan Srinti berdua di taman. Biasanya sore hari, setelah Srinti selesai menyiapkan pemandian di Taman Sari, kami bertemu. Ya seperti sore ini, kami pun janjian bertemu di taman Keraton. Tentunya diam-diam, jika dia ketahuan kepala dayang maka dia akan dimarahi, begitu pula denganku.

“Maaf, Kanda sudah lama menunggu ,ya?” ujarnya yang datang dengan terburu-buru.

“Tidak juga… Oh iya… Sebelum aku lupa, ada yang ingin aku sampaikan kepadamu.”

“Apa itu Kanda?”

“Sini duduk dulu di sampingku,” Srintipun duduk di sampingku dan dengan cepat aku berlutut di hadapannya.

“Oh… Kekasihku… Hanya padamulah cintaku ini kusandarkan. Kujadikan hatimu satu-satunya tempat bagi cintaku untuk bernaung dan ku…. Dan kan… dan ku…”

“Dan kan kujaga teduhnya hatimu dengan kelembutan cintaku? Serat Tresna Rembulan, karangan Empu Witara ‘kan?”

“Jadi malu aku, ketahuan nyontek,” ujarku sambil menggaruk kepala, tersenyum dan merunduk malu.

“Kanda… cinta sejati bermula dari hati dan akan bermuara di hati pula. Tidak dapat ditunjukan melalu kata, karena kata hanya mampu menyentuh telinga. Sampaikanlah perasaan Kanda kepada dinda melalui hati, getarkanlah hati dinda dengan cinta yang Kanda miliki,” ujarnya sembari pergi meninggalkanku dengan senyum tipis yang menambah manis wajahnya.

Aku hanya dapat tersenyum-senyum memandang wajahnya sebelum dia pergi. Entah dia berbicara apa kepadaku, aku sudah lupa. Kalaupun ingat, mungkin otakku ini tidak akan sanggup mengartikannya. Satu yang ku ngat dari perjumpaan kami sore ini, dia begitu mempesona.

Dua purnama telah kulalui, menjalankan amanah dengan sebaik mungkin dan akhirnya pasukan perang yang dipimpin langsung oleh Prabu Reksa Pawira kembali dari Pring Dawa. Mereka bersorak-sorak gembira. Sepertinya mereka telah memenangkan pertarungan dan mengalahkan Jayalodra.

Ada rasa bahagia bercampur sedih di hatiku. Bahagia karena bisa melihat kawan-kawanku pulang dengan selamat, sedih karena tugasku untuk menjaga Rara Andhini harus selesai, yang artinya aku akan jarang bertemu dengan Srinti. Bahkan mungkin akan jadi lebih sulit untuk bertemu, karena Ki Purboyo yang kuharapkan gugur di medan tempur ternyata pulang dengan selamat...

Aku tidak sabar mendengar cerita dari rombongan pasukan yang baru pulang perang. Mataku memandangi wajah-wajah prajurit yang pulang satu demi satu, aku mencari si Darojat. Ingin sekali aku mendengar kisah pertempuran itu darinya. Ketika melihat wajah sangarnya, ku arik dia agar terpisah dari arak-arakan rombongan prajurit.

“Weh… Coro…,” Ujarnya sambil memelukku.

“Bagaimana pertempuran di Pring Dawa?”

“Kita menang, Ro… Kita menang!”

“Iya… maksudnya bagaimana bisa kita sampai menang?”

“Kita berhasil mengalahkan Jayalodra…,”

“Bukan itu juga maksudku… Maksudku bagaimana kalian bisa mengalahkan Jayalodra… ceritakan padaku dari awal!”

 

Saat aku sedang bertanya kepada Darojad, tiba-tiba terdengar perintah bahwa seluruh penghuni Keraton diminta berkumpul di Pendopo.

“Wah! nanti saja ya kuceritakan… sekarang kita kumpul dulu di Pendopo Agung,” ujar Darojat sambil merangkulku.

Kami berkumpul, duduk berlutut mengitari sisi luar Pendopo Agung, berbaris melingkar. Di tengah Pendopo Agung terdapat para petinggi Keraton, ada Prabu Reksa Pawira yang masih melepas rindu dengan keluarganya. Ada Patih Lembu Sutta yang memeluk erat Nyimas Rara Kemuning isterinya. Ada pula Soka Dwipa yang kulihat beberapa kali mengarahkan pandangannya kepada Rara Andhini, seolah ingin melepas rindu tapi tidak ingin ada satu orang pun yang tahu.

Ada pula Adipati Tedjo Alur dan Adipati Surya Kusuma, serta Empu Parewang. Iya… itu Empu Parewang! Telah lama aku tidak berjumpa dengannya. Aku ingin berlari ke sana dan memelukknya, namun aku tidak berani melakukannya. Itu adalah hal yang cukup lancang. Kami para prajurit hanya boleh berada di luar pendopo.

“Dengarlah semuanya! Saya berterima kasih atas jasa kalian semua. Baik yang ikut pergi berperang maupun yang bertugas menjaga Keraton Watugaluh. Kemenangan ini adalah bukti bahwa angkara di atas bumi tidak akan bertahan lama dan kebenaran akan menemukan jalannya. Sebagai rasa syukur, maka dalam beberapa hari kedepan saya akan menggelar Selametan Agung.

“Kumpulkanlah seluruh rakyat. Sampaikanlah kabar ini ke seluruh negeri, termasuk Kadipaten-Kadipaten yang berada di bawah kekuasaan Watugaluh. Undang para Guru untuk datang ke keratonku ini sebagai tamu istimewa. Akan kuberikan masing-masing sepasang sapi jantan dan betina kepada mereka. Dan untuk malam ini, silahkan semuanya beristirahat. Tidak… tidak ada pesta kemenangan… yang ada Selametan Agung yang sudah saya sampaikan tadi,” ujar Prabu Reksa Pawira.

Para prajuritpun kembali ke kesatrian untuk beristirahat. Meski terlihat lelah, namun kegembiraan tak bisa mereka tutupi. Senyum sumeringah yang menghiasi wajah mereka cukup menandakan bahwa mereka sangat bahagia.

“Ro… besok kamu dan Darojat pergi ya ke Kadipaten Lor Gunung. Sampaikan kepada para Guru di sana untuk datang dalam acara sedekah bumi,” ujar Ki Parewang yang tiba-tiba sudah muncul di sampingku.

“Siap, Ki!”

Setelah menerima perintahnya aku dan Darojat pergi ke kesatrian untuk beristirahat. Sesampainya di tempat tidur aku membaringkan tubuhku. Baru sejanak berbaring aku sudah bangkit lagi, duduk di tepi tempat tidurku.

“Jat… kok kita malah tidur? Yang jaga malam siapa?” tanyaku padanya.

“Lah? Yang disuruh jaga keraton ‘kan Kamu… Aku ‘kan yang ikut perang... Ya aku istirahat lah.”

“Oh iya… aku lupa… malah ikutan tidur. Eh... sebelum aku kembali ke pos jaga, ceriterakanlah kepadaku bagaimana kalian bisa mengalahkan Jayalodra? Apakah Jayalodra mati?”

“Nah! Itu permasalahannya, Ro!” darojat bangkit dari posisi tidurnya dan wajahnya mendadak serius.

“Kami tidak tahu dia sudah mati atau belum…”

“Loh? Gimana ceritanya? Kok bisa begitu? Tapi kalian menang ‘kan?”

“Menanglah… seluruh pasukannya berhasil kami luluh lantahkan. Jadi begini, Ro… kami tiba di perbatasan pada malam hari dan kami membuat perkemahan di sana. Pagi harinya kami melancarkan serangan dari tiga arah: utara, barat dan timur. Pasukan yang dari utara dipimpin oleh Prabu Reksa Pawira, dari barat oleh Adipati Tedjo Alur dan Patih Lembu Sutta sementara dari timur dipimpin oleh Adipati Surya Kusuma dan Soka Dwipa.

“Penyerangan didahului oleh lesatan anak panah oleh para pemanah kerajan dari ketiga arah tersebut. Hal tersebut sontak membuat para pasukan Jayalodra yang sebenarnya sudah disiapkan untuk berangkat ke Watugaluh menjadi kocar-kacir, karena tidak tahu dan tidak siap dengan serangan yang kami lancarkan. Kami menghabisi seluruh pasukan berbaju merah yang kami lihat, sedangkan Prabu Reksa Pawira, Tedjo Aulur, Surya Kusuma Lembu Sutta dan Soka Dwipa mengejar Jayalodra.”

“Loh? Jayalodra lari? Bukankah dia punya Mustika Karang Abang yang sangat dahsyat itu?”

“Iya… tapi sepertinya Jayalodra tahu bila Prabu Reksa Pawira dan yang lainnya mengincar mustika tersebut. Jika mustika itu terlepas dari dirinya maka seluruh kekuatannya akan hilang. Nah, bila yang melawannya sebanyak itu, peluang untuk merebut mustikanya juga semakin besar, ‘kan? Mungkin itulah penyebab mengapa Jayalodra memilih kabur. Selain itu, di antara para penyerangnya ada Kanjeng Prabu Reksa Pawira, walau Jayalodra memiliki Mustika Karang Abang, namun kekuatan sang Prabu Juga tidak dapat dianggap remeh, dia sadar betul akan hal itu. Meski begitu, sesekali Jayalodra juga menyerang mereka dengan berbagai ajian, termasuk ajian Reka Geni yang waktu itu kau lihat?”

“Yang mana, ya?”

“Yang itu… yang kamu cerita dia bisa memunculkan bola-bola api dari langit.”

“Oh, yang itu… iya.. aku lupa nama ajiannya… Wah, itu jurus yang sangat hebat! Aku melihat orang langsung terbakar habis ketika terkena oleh bola api itu.”

“Iya… tapi Kanjeng Prabu lebih hebat lagi. Dia mengeluarkan ajian Mendem Jiwo, sebuah ajian perisai diri. Prabu Reksa Pawira, bukan hanya melindungi dirinya dari serangan Jayalodra, tapi juga melindungi kami semua yang ada di sekelilingnya. Dan Lembu Suttapun turut membantu Sang Prabu dengan mengarahkan ajian Reka Gunung kepada Jayalodra. Jika orang biasa mungkin akan hancur berkeping-keping karena jurus itu. Namun karena Jayalodra mendapatkan ajian Pancasona dari mustika itu, dia hanya terpental dan bisa lanjut berlari. Hingga akhirnya dia tersudut di sebuah tebing yang berbatasan dengan laut selatan.

“Sang Prabu meminta adiknya itu untuk menyerah. Namun Jayalodra hanya membalasnya dengan makian dan akhirnya ia terjun ke laut selatan menyatu dengan buih ombak yang menghempas karang.”

“Berarti kita belum sepenuhnya aman ‘kan? Jayalodra masih hidup!”

“Ya, mungkin… atau mungkin juga dia sudah mati di makan ikan mas.”

“Ikan mas itu ikan air tawar Jat, nggak ada di laut.”

“Iya di makan ikan gitu-gitulah maksudku… Yang penting sekarang dia sudah tidak punya pasukan lagi. Kamu kembali sana ke pos jaga! Nanti dihukum Ki Purboyo baru tahu kamu!”