Episode 37 - Cembul Manik Astagina


Sebuah perahu berlayar tenang mengikuti arah angin dan arus laut. Perahu tersebut merupakan perahu penumpang berukuran sedang, dengan sebuah tiang layar di tengahnya.

Di kejauhan, terlihat sebuah gunung yang megah berdiri menantang langit. Kepulan asap membumbung tinggi dari puncaknya, yang menjulang menembus awan. Gunung itu adalah gunung tertinggi di wilayah tenggara.

“Lihat! Itulah Gunung Dewi Anjani,” seru seorang ayah kepada anak-anaknya. Mereka berdiri di haluan perahu. “Tiga-empat jam lagi kita akan tiba di Pulau Batu.”

Lalu sang ayah melanjutkan pembicaraan dengan sebuah ceritera…

Dahulu kala, di gunung itu hiduplah seorang pertapa bernama Resi Gotama. Atas baktinya, ia kemudian dianugerahi seorang bidadari bernama Dewi Windradi untuk dinikahi. Dari pernikahan tersebut, mereka lalu dikaruniai tiga orang anak, yaitu Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa.

Singkat cerita, Dewi Windradi kemudian mendapat hadiah pusaka kedewaan dari Bhatara Surya. Hadiah tersebut bernama Cembul Manik Astagina, sebuah wadah berbentuk bundar sebesar dua kepal tangan dengan tutup di atasnya. Ada pun kesaktian dari pusaka tersebut adalah bila tutupnya dibuka, maka dikisahkan bahwa akan terlihat segala peristiwa yang terjadi di bumi dan langit.

Saat menganugerahi pusaka tersebut sebagai hadiah, Bhatara Surya berpesan kepada Dewi Windradi agar jangan Cembul Manik Astagina diberikan kepada sesiapa pun, serta jangan sekali-kali membuka tutupnya.

Akan tetapi, meski telah dipesankan demikian, Dewi Windradi malah memberikan Cembul Manik Astagina kepada putrinya, Dewi Anjani. Tindakan itu ia lakukan karena besarnya cinta kasih kepada putri sulungnya tersebut. Ia merasa bahwa sekedar memberikan pusaka tersebut kepada putrinya tidaklah menjadi persoalan. Ia pun telah menekankan kepada Dewi Anjani agar jangan sekali-kali membuka tutup Cembul Manik Astagina.

Pada suatu hari, Dewi Anjani tergoda untuk membuka tutup wadah tersebut. Ia tak dapat menahan diri karena ingin melihat segala peristiwa yang terjadi di bumi dan langit sebagaimana yang dikatakan terkandung di dalam Cembul Manik Astagina. Akan tetapi, betapa malang nasib Dewi Anjani, segera setelah membuka tutup, sebuah kutukan justru mengubah dirinya menjadi monyet. Ia pun harus menetap dan bertapa di gunung agar dapat kembali berubah menjadi manusia.

“Demikianlah ceritera tentang Gunung Dewi Anjani itu…. bahwa bila kalian tidak mendengarkan kata-kata orang tua, maka kalian akan seperti Dewi Anjani… berubah menjadi monyet!” tutup sang ayah sambil menirukan gerakan-gerakan seekor monyet. Gelagat tersebut disambut gelak tawa anak-anaknya.

Bintang yang sedari tadi turut mendengar dongeng tersebut hanya menghela napas. Sepertinya tidak sesederhana itu ceritera tentang Dewi Anjani, pikirnya. Akan tetapi, mungkin versi yang tadi memang lebih cocok untuk didongengkan kepada anak-anak.

Sebagai seorang anak remaja yang tumbuh di wilayah tenggara, tentu Bintang pernah mendengar berbagai versi ceritera rakyat tentang Gunung Dewi Anjani. Entah yang mana satu yang benar, ia tidaklah terlalu tertarik.

Di lain sisi, satu hal yang menarik perhatian Bintang adalah pancaran aura formasi segel yang samar-samar terasa dari satu titik nun jauh di dalam gunung. Aura tersebut sangatlah kuat, terbukti karena dapat dirasakan meski jarak perahu dengan Pulau Batu masih cukup jauh. Lebih lanjut, Bintang dapat menyimpulkan bahwa segel tersebut bahkan kemungkinan besar tidak kalah kuatnya dengan segel Pulau Bunga, tempat ia bertemu dengan gurunya.

Duduk bersila di salah satu sudut di atas geladak perahu, Panglima sedang membolak-balik Kitab Gema Bumi. Raut wajahnya kusut. Sepertinya ia menemukan jalan buntu.


***


“Salam hormat Tuan Kepala Pengawal Istana Kerajaan Parang Batu, namaku Bintang Tenggara dari Pulau Paus,” ungkap Bintang kepada seorang lelaki berusia 30-an tahun dan berperawakan sedang.

Bintang dan Panglima kini berada di kediaman Kepala Pengawal. Berkat petunjuk arah dari Panglima, setelah turun dari perahu mereka beberapa kali tersalah arah ketika menuju Istana Kerajaan Parang Batu. Namun, berkat Panglima yang sudah cukup dikenal di lingkungan prajurit Istana Kerajaan Parang Batu jugalah, mereka dapat langsung menuju ke kediaman Kepala Pengawal tanpa melalui pemeriksaan ketat.

Bagaimana mungkin tak mudah dikenal, siapa lagi yang bertubuh besar, bertelanjang dada, dan menyoren sebilah parang besar di pundak...

“Selamat datang adik Bintang Tenggara,” jawab Kepala Pengawal singkat. “Tiada perlu terlalu resmi. Panggil saja aku Kakak Lombok.”

“Kakak Lombok, apakah aku bisa menggunakan gelanggang latihan?” sela Panglima. Sepertinya ia ingin melemaskan tubuhnya yang kaku setelah dua hari berlayar di atas perahu.

“Gunakanlah sesukamu.”

“Kawan Bintang, mari kita berlatih,” Panglima terlihat bersemangat sekali.

“Biarlah temanmu beristirahat sejenak,” kali ini Kepala Pengawal yang menyela.

Panglima terlihat bingung. Lalu bergegas meninggalkan Bintang dengan Kepala Pengawal. Tubuhnya sudah tak tahan lagi berdiam terlalu lama.

“Adik Lamafa Muda,” tegur Kepala Pengawal setelah Panglima menghilang dari pandangan. “Apakah kau membawa buah tangan untukku?”

Bintang sama sekali tidak terkejut. Pasukan Telik Sandi melebur diri ke setiap lapisan masyarakat. Jadi, tidaklah mengherankan bilamana Kepala Pengawal sudah mengetahui jati diri Bintang dan ‘buah tangan’ titipan Panggalih Rantau.

Meski demikian, Bintang tetap bersikap waspada. Ia ingin memastikan niat Kepala Pengawal. Tanpa menanggapi, kedua matanya hanya menatap Kepala Pengawal Lombok tanpa ekspresi.

Menjawab tatapan Bintang, Kepala Pengawal mengeluarkan Lencana Pasukan Telik Sandi miliknya. Ia lalu menebar mata hati ke lencana tersebut. Seketika itu juga, Bintang merasakan lencana pemberian Panggalih Rantau di dalam dimensi penyimpanan bergetar pelan.

Ia keluarkan lencana tersebut. Sesaat berhadapan dengan lencana milik Kepala Pengawal, bintang-bintang kecil di permukaan kedua lencana berputar pelan. Keadaan ini menandakan keduanya beresonansi dan asli adanya.

“Apakah ada khabar berita tentang Kakak Panggalih?” tanya Bintang cepat.

“Panggalih masih mengecoh anggota Partai Iblis yang mengejarnya. Ia sengaja tidak menyusulmu, dan menjauh dari Pulau Batu. Dampak buruk racun yang menyerang tubuhnya pun semakin memudar.”

Mendengar jawaban tersebut, Bintang menjadi lega. Ia khawatir terjadi hal tak diinginkan atas Panggalih Rantau. Selain itu, hanya ada tiga orang yang mengetahui tentang racun yang menghantui Panggalih saat itu. Bila hal tersebut diketahui oleh Kepala Pengawal, maka tentunya berasal dari informasi yang dikirimkan langsung oleh Panggalih Rantau.

Bintang membalikkan badan, berpura-pura mengambil sesuatu dari dalam tas punggungnya, padahal ia merogoh ke dalam ruang dimensi mustika retak Nagaradja. Ia lalu mengeluarkan sebuah gulungan naskah berwarna hitam. Aura segel masih terpancar kental dari naskah tersebut.

“Adik Bintang, bolehkah aku lancang memohon bantuanmu?”

Bintang terlihat heran. Kepala Pengawal sepertinya tak hendak menerima gulungan naskah di tangannya. Bila bantuan yang diharapkan adalah membuka segel pada gulungan naskah berwarna hitam itu, maka Bintang percaya dapat ia kerjakan dalam selang beberapa hari.

“Menurut hemat kami, gulungan naskah itu memuat daftar nama-nama anggota Partai Iblis di wilayah tenggara. Karena isinya demikian penting, maka segel yang digunakan memiliki fungsi ganda.

“Fungsi pertama segel adalah mengunci agar gulungan naskah tidak mudah dibuka. Sedangkan fungsi kedua adalah mengirimkan petunjuk lokasi gulungan naskah tersebut bilamana segelnya dibuka. Sehingga, anggota Partai Iblis dapat segera bertindak mengamankan pihak-pihak yang membuka segel.

“Kerajaan Parang Batu hanyalah kerajaan kecil di wilayah tenggara. Aku hendak menghindari kemungkinan terjadinya pertempuran dengan Partai Iblis di Pulau Batu,” raut wajah Kepala Pengawal menunjukkan kekhawatiran.

“Oleh karena itu, bantuan yang kuharapkan adalah agar adik Bintang kiranya bersedia mengantarkan gulungan naskah itu ke Perguruan Gunung Agung di Pulau Dewa.”

Bintang pun terlihat khawatir. Dengan membawa gulungan naskah, maka kembali memunculkan kemungkinan akan pertemuan dengan Kum Kecho. Meski demikian, ia tak memiliki alasan untuk menolak, karena memang tujuan dirinya adalah ke Pulau Dewa.

“Tentu kami akan memberikan imbalan yang setimpal,” ungkap Kepala Pengawal.

“Saat ini aku telah mengirimkan utusan ke Pulau Paus, dimana kami akan membangun Gardu Jaga Kerajaan Parang Batu di Dusun Peledang Paus. Di masa depan selama menuntut keahlian di perguruan, Adik Bintang tidak perlu khawatir bilamana terjadi perselisihan dengan pihak-pihak tertentu. Pulau Paus dipastikan akan aman karena berada di bawah perlindungan Kerajaan Parang Batu.”

Sesungguhnya yang disampaikan Kepala Pengawal sangatlah telak. Salah satu kekhawatiran Bintang sejak memutuskan berangkat ke Perguruan Gunung Agung adalah keamanan di Pulau Paus. Kekhawatiran tersebut bukanlah tak berasalan. Sebagai contoh, ketiga orang pawang yang telah ia dan Panglima kalahkan di Kota Dana, bisa saja mereka mencari tahu asal-usul Bintang lalu membuat kekacauan di Pulau Paus. Lalu, nanti di perguruan, bisa saja ia secara disengaja atau tidak disengaja menyinggung perasaan atau melukai murid lain, yang mungkin berasal dari keluarga saudagar kaya atau kalangan bangsawan. Lalu, bisa saja mereka melakukan pembalasan di luar perguruan dengan mencelakai Dusun Peledang Paus.

Bintang mengangguk dan segera menyimpan kembali gulungan naskah yang diperkirakan memuat nama-nama anggota Partai Iblis tersebut.


***


“Pemahaman, penafsiran dan pencerahan,” ungkap Bintang. “Ketiga hal tersebut merupakan sebuah proses yang berkesinambungan.”

Panglima menatap kosong ke arah Bintang. Sedangkan Bintang, yang tadinya hendak memberikan panduan lebih lanjut mengenai tata cara mempelajari jurus sakti, hanya mampu menghela napas. Tatapan mata Panglima mencerminkan bahwa sebentar lagi anak bertubuh besar itu akan terjatuh ke dalam jurang keputusasaan. Padahal, baru beberapa hari ini ia mencoba mempelajari ilmu sakti.

Sebagai seorang ahli silat, yang terbiasa mengolah tubuh dan naluri bertarung, mempelajari kitab kesaktian adalah sesuatu yang benar-benar baru. Apalagi dari sudut pandang Panglima, ia terbiasa mampu menguasai ilmu silat semudah membalikkan telapak tangan.

“Bayangkan engkau sedang mempelajari jurus silat. Langkah pertama: pemahaman. Dalam berlatih, tentunya engkau harus memahami makna dari setiap gerakan. Apa arti dari gerakan tersebut? Kemana arah gerakan selanjutnya? Hanya setelah engkau memahami dengan benar manfaat dan tujuan gerakan, barulah gerakan tersebut dapat diterapkan dengan benar.

“Kemudian, penafsiran. Engkau perlu menafsirkan saat paling tepat untuk melancarkan gerakan silat tersebut. Misalnya, dalam kondisi seperti apa jurus silat itu dapat menyebabkan dampak yang paling ampuh?”

Panglima memejamkan matanya. Ia diam membatu. Benar-benar membatu, sampai tak terlihat gerakan bernapas. Dalam benak ia membayangkan kata-kata menjadi gerakan. Gerakan-gerakan tersebut lalu berhenti kaku. Batu!

batu mawar

batu langit

batu duka

batu rindu

batu jarum

batu bisu

kaukah itu

teka

teki

yang

tak menepati janji? **

“Brrrrt...” Bintang merasakan adanya gempa bumi ringan.

Panglima seketika itu juga membuka matanya. Ia telah meraih pemahaman. Sekarang tinggal bagaimana ia melakukan penafsiran untuk menggapai pencerahan atas jurus Gema Bumi.

Setelah perbincangan dengan Kepala Pengawal, Bintang diundang menginap di kediaman Kepala Pengawal. Adapun jadwal keberangkatan ke Pulau Dewa masih sepekan lagi. Memperlambat keberangkatan ke Pulau Dewa bertujuan untuk mengikis kecurigaan dari Partai Iblis tentang keberadaan naskah pada diri Bintang. Bukan tak mungkin, anggota Partai Iblis ada di dalam istana. Nantinya, Armada Laut Kerajaan Parang Batu yang akan mengantarkan dirinya ke Pulau Dewa.

Kediaman Kepala Pengawal berada di dalam kompleks istana. Ini adalah kali pertama Bintang berhadapan dengan kemewahan kehidupan istana, sehingga cukup canggung. Berbagai jenis makanan selalu tersedia. Bilamana memerlukan sesuatu, para pelayan selalu siap menyediakan. Pengalaman ini berbeda sekali dengan kehidupan di Pulau Paus.

Kediaman tersebut demikian luas, bahkan memiliki halaman sendiri dan sejumlah kamar kosong. Oleh karena itu, Bintang tiada lagi perlu tidur sekamar dengan Panglima, yang setiap malam mempraktekkan jurus Dengkuran Membahana.

Selain itu, berkat wewenang Kepala Pengawal Istana, Bintang juga dapat memanfaatkan berbagai sarana di dalam istana. Jadi dalam jangka waktu sepekan ini, Kepala Pengawal menganjurkan agar Bintang dapat memantapkan diri sebelum mengikuti ujian masuk Perguruan Gunung Agung.

Kini ia sedang berjalan menuju pustaka istana ketika berpapasan dengan Panglima. Apa yang ia lakukan di sini? tanya Bintang dalam hati. Bukankah gelanggang latihan berada di sisi utara istana, sedangkan pustaka berada di sisi selatan? Apakah ia tersasar lagi?

Bintang lalu pasrah diseret Panglima menuju gelanggang latihan. Interaksinya beberapa hari ini dengan Panglima menyimpulkan bahwa teman barunya tersebut sangat, sangat keras kepala.

“Di gelanggang latihan ini terdapat berbagai macam situasi bertarung,” Panglima menerangkan. “Tempulingmu begitu efektif dalam pertarungan di ruang terbuka.”

Kini Panglima membawa Bintang ke salah satu ruang simulasi berlatih. Ruang tersebut hanyalah terdiri dari sebuah lorong. Lebar lorong tersebut hanya satu setengah bahu orang dewasa. Panjangnya lebih kurang 10 m. Kedua sisinya merupakan tembok tebal dengan tinggi yang juga mencapai 10 m.

“Kawan Bintang, hadapi aku menggunakan tempulingmu di lorong sempit ini. Siapa di antara kita yang berhasil terlebih dahulu mencapai jalan keluar di belakang lawannya, maka dialah pemenang.”



Catatan:

*) cembul1/cem•bul/ n tempat tembakau (gambir dan sebagainya) dibuat dari logam (biasa ditaruh dalam cerana atau puan)

    manik/ma•nik/ n butir kecil-kecil (dari merjan, karang, dan sebagainya) diberi berlubang dan dicocok untuk perhiasan, kalung, dan sebagainya;

    Astagina: delapan sifat yang harus dimiliki oleh seorang Brahmana

**) Kutipan sajak dari puisi berjudul ‘Batu’ karya Sutardji Calzoum Bachri. Semangat baca karya sastra Indonesia!