Episode 36 - Kitab Gema Bumi


“Harimau Bara terlalu membahayakan,” ungkap Bintang kepada Panglima.

“Kawan Bintang, mohon maaf bila aku berbeda pandang,” jawab Panglima. “Menurutku ia sangat lucu dan menggemaskan. Kita harus sering-sering mengeluarkannya.”

Bintang menghela napas. Ia sedikit menyesal pernah mengeluarkan harimau buas tersebut. Setelah menyelesaikan santap siang berupa seekor kuda berpunuk (bukan, bukan unta!), Harimau Bara baru terlihat kenyang. Nafsu makan yang sedemikian besar ini tentunya akan menimbulkan persoalan di masa depan.

Selain itu, Harimau Bara enggan segera kembali ke dalam Kartu Satwa. Dikarenakan ia berada pada Kasta Perak, Harimau Bara dapat dengan mudah menolak perintah kedua tuannya yang hanya berada pada Kasta Perunggu.

Walhasil, Panglima mengajak Harimau Bara bermain. Mereka berlari kejar-kejaran, berjumpalitan di lapangan. Mereka bahkan bergulat ke sana kemari. Mungkin inilah maksud Kakek Pawang ketika berkata bahwa Harimau Bara akan cocok dengan kepribadian Panglima.

Bintang hanya memperhatikan. Sampai akhirnya ia terpaksa turut bermain kucing-kucingan. Beberapa jam kemudian, setelah puas bermain dan dibujuk oleh Panglima, barulah Harimau Bara hendak kembali ke dalam segel. Inilah satu lagi dari sejumlah bahaya yang hendak dihindari Bintang.

Bahaya lain tentunya kekuatan Kasta Perak itu sendiri. Jangankan dua ekor, sekalipun ada seratus ekor binatang siluman Kasta Perunggu, maka akan sangat mudah disapu bersih oleh Harimau Bara. Apalagi Bintang dan Panglima yang juga berada pada Kasta Perunggu, keduanya bersatu sekalipun tak akan mampu melumpuhkan Harimau Bara. Demikianlah jurang perbedaan kekuatan antara Kasta Perunggu dengan Kasta Perak.

“Kalau kau ingin bermain dengan Harimau Bara, sebaiknya kau pelajari cara menggunakan Kartu Satwa. Aku tak akan mau mengeluarkannya lagi,” sergah Bintang sambil berjalan kembali ke arah Kota Dana.

Selain Kartu Satwa Harimau Bara, kini mereka memiliki satu lagi kartu tambahan. Bintang menyita Kartu Satwa Siamang Semenanjung dari Pawang Kera Gunung. Lalu memaksa pawang tersebut memindahkan kepemilikan kepadanya. Panglima pun puas dengan ganjaran hukuman tersebut.

Ketiga Pawang yang telah kehilangan binatang siluman mereka kemudian lari terbirit-birit. Tak akan berani lagi mereka memunculkan batang hidung ke hadapan Bintang dan Panglima.

Matahari sebentar lagi terbenam. Terlihat siluet dua orang anak remaja melangkah cepat seperti hendak pulang ke rumah setelah lelah seharian bermain di luar.

"Kawan Bintang, ada yang hendak aku tanyakan," ujar Panglima sambil duduk bersila. Ia kini mengenakan sepasang pakaian tidur. Mereka berada di rumah penduduk yang Bintang tempati sejak sehari lalu.

"Sewaktu kecil dulu, kakekku pernah berceritera tentang pahlawan pemberani pembela keadilan. Di saat Perang Jagat dulu, ia banyak meluluhlantakkan pasukan binatang siluman. Seluruh tubuhnya sampai berwarna merah karena seringnya bermandikan darah lawan-lawannya,” terlihat betapa serius raut wajah kaku Panglima.

"Sejak kecil pula aku telah mengidolakannya. Namun, tak banyak yang tahu tentang dirinya. Pernah aku menelaah kitab-kitab masa lalu, tapi hampir tak ada catatan tentang dirinya,” kini wajahnya setengah bingung.

"Sama seperti Kawan Bintang, idolaku itu berasal dari wilayah ini. Bukan tak mungkin Kawan Bintang pernah mendengar namanya. Nama pahlawan tersebut adalah... Kodomo Nekat Rajam!"

Bintang Tenggara: "..."

Komodo Nagaradja: "Hah?! Apa aku yang ia maksud? Apakah aku terlihat sebagai ahli silat yang nekat nan suka merajam?!"

Mata Panglima Segantang berbinar. Lalu ia melanjutkan, "Keahlian silatnya tiada banding. Jangankan Empat Raja Angkara, bahkan Kaisar Iblis Darah sekalipun tak berkutik di hadapannya. Ia merupakan pencipta maha jurus silat tiada tanding yang dikenal dengan nama... Gincu Supel Sekali!"

Bintang Tenggara: "..."

Komodo Nagaradja: "Argh... Apakah mungkin aku membinasakan musuh dengan ciuman pertemanan?!"

"Karena juga berasal dari wilayah tenggara, apakah kawan Bintang pernah mendengar nama pahlawan dan jurus pamungkas tersebut?"

Bintang Tenggara: "Hm..."

Kodomo Nekat Rajam: "Muridku, cepat kau keluarkan Tempuling Raja Naga, lalu kau hujamkan langsung ke tengkorak kepala anak itu!"

Bintang lalu merogoh ke dalam dimensi penyimpanan dan kembali mengeluarkan kitab kesaktian lusuh berwarna cokelat. Lalu meletakkannya di hadapan Panglima.

"Guruku sangat mengenal baik pahlawanmu itu. Kitab ini adalah kitab ilmu sakti unsur tanah milik Komodo Nagaradja."

"Komodo Naga… radja...? Kitab kesaktian...?"

"Benar. Pahlawanmu itu masih hidup, dan sehat," ujar Bintang kini berbalik menampilkan raut wajah serius.

Sepasang mata Panglima semakin berbinar, telapak tangannya menyentuh kitab tersebut. Mata hatinya tenggelam ke dalam kitab, lalu ia bergumam, "Kitab Gema Bumi."

Pagi harinya Bintang kembali menelusuri jalanan Kota Dana. Kedua bola matanya merah. Ia kesulitan tidur. Dengkuran Panglima Segantang keras ibarat rangkaian Tinju Super Sakti sepanjang malam.

Adapun Panglima, pagi-pagi ia telah bertolak menjenguk Kakek Pawang. Bukan hanya untuk memastikan kesehatan lelaki tua tersebut, tapi lebih untuk mempelajari cara mengeluarkan Harimau Bara dari Kartu Satwa. Rupanya ia menganggap kata-kata Bintang tentang tak ingin lagi mengeluarkan Harimau Bara secara serius.

Dasar prajurit, pikir Bintang. Sama sekali tak bisa dibawa bergurau. Akan tetapi, dengan demikian Bintang terlepas dari desakan berlatih tarung. Walhasil, seharian ini ia dapat kembali menikmati berbagai seminar tentang keterampilan khusus pawang.

Bintang melompat dari satu seminar ke seminar lain. Ada satu seminar yang secara khusus menarik perhatiannya, yaitu tentang jurus-jurus keterampilan khusus pawang yang telah lama punah.

Salah satu jurus tersebut adalah mengenai asimilasi pawang dengan binatang silumannya. Di saat jurus tersebut dikerahkan, penggunanya berubah menjadi 'manusia siluman'. Bayangkan, seorang manusia mempertahankan kesadarannya sambil memperoleh kekuatan, kecepatan dan naluri binatang siluman. Bentuk tubuh pun berasimilasi menjadi setengah manusia dan setengah binatang siluman. Manusia bisa memiliki cakar, taring, bahkan sayap binatang siluman.

Yang lebih mencengangkan lagi, asimilasi manusia dan binatang siluman itu juga mengasimilasi mustika penampungan tenaga dalam di ulu hati menjadi lebih besar. Dengan kata lain, tenaga dalam yang dapat ditampung di dalam mustika yang terasimilasi menjadi lebih banyak, sehingga dapat mengerahkan kekuatan tiada banding.

Sayangnya, jurus tersebut telah punah di saat Perang Jagat berlangsung. Yang tertinggal hanya catatan dan gambar sebagaimana ditampilkan oleh pembicara seminar. Tidak ada tunjuk ajar jurus yang tersisa. Bahkan Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian pun tiada memuat catatan tentang jurus tersebut.

“Jurus Manusia Siluman…” Bintang menghela napas sambil membayangkan jurus tersebut diterapkan.

Lamunan Bintang kemudian memunculkan bayangan wajah Kum Kecho lengkap dengan muka pucat, garis hitam di bawah mata dan rambut yang acak-acakan. Kum Kecho dalam bayangan Bintang tersebut lalu berasimilasi dengan… lintah kesayangannya. Kum Kecho lalu menjadi seonggok lintah berkepala manusia. Ia berlendir… meliuk-liuk, merayap-rayap…

“Hah!” Bintang kembali dari lamunannya. Kepalanya pening, napasnya tersengal. Perutnya mual, serasa ingin ia memuntahkan darah. Cepat-cepat ia hapus bayangan tadi dari benaknya… Pastilah ini dampak dari kurang tidur, pikirnya. Sungguh mengerikan sekali!

Hari jelang petang. Kini Bintang melakukan kebiasaan yang sama, yaitu menghitung setiap langkah kakinya sambil mencari seminar selanjutnya. Di saat yang sama, dalam hati ia bertanya-tanya mengapa belum terlihat batang hidung Kum Kecho. Bukannya ia hendak bertemu dan beramah-tamah dengan ahli pawang kejam tersebut, namun seharusnya ahli pawang tersebut memiliki kepentingan di Muktamar Pawang. Setidaknya begitulah perkiraan Bintang.

Yang tak ia ketahui adalah pada awalnya Kum Kecho yang tiba lebih awal di Pulau Dana karena lontaran Tinju Super Sakti dan menunggangi capung raksasa, ingin ikut serta dalam beberapa kegiatan dalam Muktamar Pawang. Tapi karena panggilan tugas dari Partai Iblis, Kum Kecho hanya meluangkan waktu sebentar sebelum segera bertolak. Dari Pulau Dana ia kemudian menumpang perahu menuju Pulau Garam di timur Pulau Jumawa Selatan. Meski, ia sempat membeli beberapa perlengkapan kepawangan.

"Bapak Ahli, apakah masih ada Kartu Satwa kosong yang dapat kubeli?" Bintang bertanya kepada seorang pawang yang membuka kios dan menjajakan pelbagai kebutuhan pawang: mulai dari obat dan suplemen, sampai mainan dan perlengkapan binatang siluman.

"Kartu Satwa yang masih kosong hanya tersisa tiga lembar," ungkap si penjual. "Seorang pawang muda berjubah hitam sehari lalu telah memborong 20 Kartu Satwa kosong," tambahnya.

"Aku beli ketiganya," Bintang berujar sambil mengeluarkan keping-keping perunggu yang dibekali oleh Lembata Keraf. Ia sudah menduga bahwa setidaknya ada yg sempat dilakukan 'pawang muda berjubah hitam' ketika berada di Pulau Dana.

***

Air laut nan bening berkilau memantulkan cahaya matahari yang menari-nari. Pantai berpasir putih lembut mengelus jemari kaki. Semilir angin menyapa dengan ramah dan manja.

Tak satu pun dari suasana dan keindahan pantai menarik perhatian sosok berjubah hitam. Langkah kakinya menapak tanpa ragu. Meski tak terlihat terburu-buru, sepertinya ada sesuatu yang harus ia kerjakan segera.

Kum Kecho sedikit geram karena gerbang dimensi menuju Markas Besar Partai Iblis di Pulau Dana tak dapat digunakan. Ia sudah memperkirakan siapa biang keladi rusaknya berbagai gerbang dimensi di wilayah tenggara. Perkiraan waktu kerusakan dan terbebasnya ia dari segel Kepompong Sutera Lestari terjadi hampir bersamaan. Meskin demikian, ia harus akui bahwa kebetulan itu pula yang membebaskan dirinya.

Oleh karena itu, kini Kum Kecho harus menempuh perjalanan laut selama tiga hari dua malam menuju Pulau Garam. Pulau Garam sendiri sudah tidak berada di wilayah tenggara karena merupakan bagian dari Pulau Jumawa Selatan, salah satu dari Lima Pulau Utama.

Seorang gadis remaja berjalan tertatih tepat di belakangnya. Langkah kakinya gontai, raut wajahnya yang cantik terlihat pucat. Hanya tekad yang kuat sajalah yang mendorong tubuhnya untuk terus bergerak.

Melati Dara awalnya berasal dari keluarga yang berkecukupan. Ia tumbuh gembira bersama kedua orang tua serta kakak dan adiknya di Pulau Dana. Sejak kecil, keterampilan khusus sebagai peramu berkembang dalam dirinya. Oleh karena itu, keluarganya bersusah payah mengirimkan dirinya untuk menuntut ilmu ke salah satu perguruan kecil di Pulau Jumawa Selatan.

Kemudian musibah itu terjadi. Keluarganya dibantai. Ayah, ibu, kakak dan adiknya dibunuh tanpa belas kasih. Hanya ia yang saat kejadian tersebut berada di perguruan tak tersentuh. Mendengar berita duka tersebut, ia segera kembali dari perguruan setelah mencuri Ramuan Pelumat Jiwa.

Tekad kuat yang ia miliki berasal dari keinginan menuntut balas dendam. Baru satu pelaku yang berhasil ia habisi dengan racun racikannya sendiri. Rencana yang ia susun seharusnya berjalan lancar. Bahkan, hal tak terduga di atas perahu dengan hadirnya Kum Kecho justru membuka kesempatan untuk mengkambinghitamkan tokoh misterius itu. Namun, siapa nyana, rencananya berbalik arah, dan dirinya tertangkap basah.

Melewati pantai, kini mereka menelusuri jalan setapak di dalam hutan lebat. Langkah kaki keduanya tiba-tiba terhenti menyaksikan pemandangan yang sangat jarang terlihat di dalam hutan lebat nan gelap. Mata keduanya pun terpana.

Sekira sepuluh meter di hadapan mereka, seorang gadis terlihat berjalan malas. Tubuhnya hanya dibalut selendang ungu bermotif batik. Setengah payudara segarnya menyembul ranum. Paha putihnya terpapar mulus. Pinggulnya melenggok ke kanan dan ke kiri.

Melati Dara sontak melangkah maju menduhului Kum Kecho. Hatinya berharap semoga gadis dengan perawakan seusianya tersebut bukan merupakan korban kebiadaban lelaki. Namun, melihat dari pakaian seadanya dan cara berjalannya itu, hati Melati Dara berubah pilu. Pastilah sesuatu yang buruk telah menimpa gadis tersebut.

Belum sempat Melati Dara menyapa, tangan kanan Kum Kecho dengan cepat meraih rambutnya, lalu menjambak gadis tersebut kembali ke belakang. Melati Dara terjerembab menahan sakit, meski ia hanya berani melotot ke arah Kum Kecho.

"Selendang Batik Kahyangan...," guman Kum Kecho sambil menggeretakkan gigi. Jantungnya berdebar. Tubuhnya kini membeku. Tatapan matanya sama seperti saat menyaksikan Tinju Super Sakti yang dilontarkan Bintang beberapa hari sebelumnya.

Mendapati ada orang di depannya, kedua mata sayu Embun Kahyangan hanya melirik sekilas. Seorang anak aneh berjubah hitam, berwajah pucat pasi dengan garis hitam di bawah kelopak mata. Di sampingnya, duduk terjerembab seorang gadis penuh tatapan benci.

Embun Kahyangan melintas malas, melewati kedua anak remaja di depannya. Lalu, ia menghilang ke arah asal Kum Kecho dan Melati Dara. Sepertinya ia hendak menuju ke dermaga.

Kum Kecho masih membeku sampai beberapa saat. Benaknya berputar keras. Wajahnya menampilkan emosi tak menentu. Setelah Tinju Super Sakti, tadi ia berhadapan dengan Selendang Batik Kahyangan... Ingatannya berkelebat pada tokoh-tokoh digdaya masa lampau…

"Bangun!" bentaknya sambil menendang bokong Melati Dara. Lalu ia lanjut menelusuri jalan setapak ke dalam hutan.

"Lain waktu, jikalau kau hendak mati konyol, jangan libatkan orang lain!" lanjutnya menghardik tanpa menoleh.

Bertarung melawan seorang ahli dengan Kasta Perunggu Tingkat 8, Kum Kecho yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5 dan berbekal keterampilan khusus pawang, masih yakin dapat mengimbangi. Meskipun sulit untuk menang, ia masih memiliki jurus simpanan untuk membuka kesempatan bertahan.

Akan tetapi, lain ceriteranya bila berhadapan dengan seorang ahli dengan Kasta Perunggu Tingkat 8, yang menggunakan pusaka Selendang Batik Kahyangan… Sehebat apa pun dirinya, Kum Kecho sendiri percaya bahwa kemungkinan besar ia akan kehilangan nyawa di saat dan tempat itu juga.



Cuap-cuap:

Pembaca "Legenda Lamafa" akhir pekan ini melonjak drastis! Selidik punya selidik, rupanya ada Page FB 'fantasi' atas nama Habieb yang 'mempromosikan'... Terima kasih pengarang ucapkan.

Hahaha... Betapa lucu di sana, tanpa membaca cerita secara utuh, ada pula yang berkomentar miring. 

Untuk yang kesekian kalinya, kuda berpunuk... BUKAN UNTA!

Tabik.