Episode 35 - Binatang Siluman Kasta Perak


Akhirnya kedua anak remaja tersebut tiba di balai pengobatan. Itu pun setelah berputar-putar tak menentu, sampai akhirnya Bintang berinisiatif bertanya kepada orang-orang sekitar.

“Kakek Pawang, bagaimana kondisi tubuhmu?” tanya Panglima tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Aku membawa kembali Kartu Satwa Harimau Bara. Nanti kakek dapat menyerahkannya langsung kepada putra kakek,” tambah Panglima lagi.

Sang Kakek Pawang menatap lembut ke arah Panglima. “Terima kasih atas bantuanmu, nak. Namun, baru kuketahui bahwa anakku telah lama meninggalkan dunia ini...”

Panglima terdiam. Ia bukanlah seorang yang bisa banyak berbasa-basi. Dari raut wajahnya terlihat bahwa ia juga turut berduka. Kedua tangannya menyodorkan selembar Kartu Satwa.

“Hatimu sungguh bersih...” ungkap si kakek. “Ambillah kartu itu untukmu. Harimau Bara akan cocok dengan kepribadianmu.”

“Tapi... Tapi bukan aku seorang yang mengambil kartu ini. Kawanku Bintang yang pada akhirnya mengupayakan kartu ini kembali...”

“Kalau begitu, kalian berdua boleh memiliki Harimau Bara ini,” Kakek Pawang lalu meraih Kartu Satwa Harimau Bara, kemudian meminta Panglima dan Bintang juga memegang kartu secara bersamaan.

“Alirkan sedikit tenaga dalam kalian kepada Kartu Satwa,” perintahnya. Di saat tenaga mengalir, mata hati Kakek Pawang menghapus jejak tenaga dalam miliknya, lalu mengimbuhkan jejak tenaga dalam Panglima dan Bintang. Dengan demikian ritual perpindahan Kartu Satwa dari kakek kepada Panglima dan Bintang rampung.

Proses seperti ini biasa terjadi ketika seorang pawang memperjual-belikan binatang siluman yang sudah jinak. Harimau Bara, bila nanti dikeluarkan dari kartunya, akan serta-merta menerima Panglima dan Bintang sebagai tuannya.

Hari masih siang. Kesibukan Kota Bara, semakin menjadi. Seminar seputar keterampilan khusus ahli pawang terus berlangsung. Di atas panggung di tengah kota, silih berganti para pawang bertarung, atau lebih tepatnya pamer keahlian. Meski bukan pertarungan serius, namun banyak penonton yang menantikan kesempatan langsung menyaksikan binatang siluman langka hadir di atas panggung. Semakin banyak penonton yang mengikuti dan merasa sangat terhibur, sebagaimana terdengar dari tepuk tangan dan sorak-sorai mereka.

“Kawan Bintang, mari kita berlatih tarung,” seru Panglima Segantang dengan penuh semangat. Raut wajahnya terlihat seperti seorang anak yang ingin pergi bermain bola bersama sahabatnya.

Bintang meringis. Ia masih ingin mengikuti seminar seputar keterampilan khusus pawang. Bahkan, ia berharap dapat mengikuti lebih dari satu seminar.

“Aku suka anak ini!” seru Nagaradja.

Walhasil, Bintang tak dapat menolak ajakan Panglima, dan desakan gurunya. Tibalah mereka di sebuah lapangan sepi di pinggiran Kota Bara.

“Tempuling Raja Naga!” seru Bintang.

“Oh! Kawan Bintang adalah seorang lamafa!” Panglima tak menyembunyikan kerterkejutannya. Ia telah melihat tombak putih nan panjang itu, namun baru menyadari bahwa senjata itu adalah tempuling khas lamafa. Kini sorot matanya malah seperti terbakar. Semangatnya menggebu-gebu. Ia semakin ingin berlatih tarung.

Bintang menyeringai. Apakah Panglima Segantang ini kawan? Atau lawan?

“Parang Hitam!”

Kedua tangan Panglima kini menggengam... parang berwarna hitam. Dari auranya Parang Hitam hanyalah sebuah senjata berkasta perunggu tingkat rendah. Bagaimana mungkin bisa dibandingkan dengan Tempuling Raja Naga. Dari namanya saja sudah kalah gengsi...

“Aku akan menyerang terlebih dahulu!” dan Panglima pun menghentakkan napas lalu melompat mengayunkan parang besar dengan mudahnya ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Setiap tebasan parang besarnya memiliki kekuatan yang tak terbendung!

Setiap serangan parang diterima oleh Bintang yang selangkah demi selangkah bergerak mundur. Bila saja otot sekujur tubuhnya tidak diperkuat oleh Komodo Nagaradja, tentu ia akan kesulitan menerima setiap tebasan parang dari seorang ahli Kasta Perunggu yang setingkat lebih tinggi. Bintang semakin terdesak, pada saat yang sama Panglima terus memperoleh momentum serangan.

Bintang terpaksa, atau lebih tepatnya dipaksa, melompat mundur ke belakang. Panglima terus merangsek maju tanpa ragu, dan tentunya siap menerima serangan balik. Namun, seketika kakinya menapak dari lompatan mundur tadi, Bintang tidak langsung menerjang maju sesuai perkiraan Panglima. Bintang malah berputar satu kali di tempat, baru kemudian melecut bersama Tempuling Raja Naga. Gerakan berputar di tempat tersebut, berhasil merusak momentum Panglima yang sebelumnya siap menerima kemungkinan serangan balik.

“Trak!” meskipun dalam keadaan terkejut, Panglima menangkis tikaman tempuling dengan bilah parangnya. Dorongan tempuling membuatnya mundur belasan langkah, sedangkan Bintang mendarat ringan di tempat yang sama.

Akan tetapi, serangan Bintang tak berakhir di posisi itu. Ketika tempuling ditangkis parang tadi, Bintang sempat melempar segel pijakan belasan meter di udara. Jadi, saat kakinya menyentuh tanah, Bintang segera kembali melompat ke atas menuju segel pijakan. Lalu dengan bertumpu pada segel pijakan tersebut, ia melenting ke arah mundurnya Panglima sambil mengujamkan tempuling!

Kejadian Panglima mundur dan Bintang menyusul berlangsung bersamaan. Kembali Panglima terpaksa bertahan. Ia menangkis menggunakan Parang Hitam. Di saat mendarat, Bintang segera melompat cepat ke samping kanan. Posisi ini merupakan titik buta Panglima karena pandangan matanya terhalang oleh parangnya sendiri.

Kini berada di sisi samping, Bintang tidak menikamkan tempuling, melainkan menyabetkan tombak panjang tersebut ke arah bahu kanan Panglima. Karena bertarung di lapangan, panjang tempuling yang lebih dari 4 m dapat bergerak leluasa.

“Trak!”

Bintang sebelumnya telah memperhitungkan seluruh rangkaian serangan ini. Namun, yang tidak ia duga adalah meski seluruh serangan terukur dan ditutup dengan gerakan cepat dari arah titik buta, Panglima masih dengan leluasa dapat menangkis sabetan tempuling menggunakan tebasan parang! Momentum serangan Bintang pun terhenti.

“Ahai…! kekuatan melawan kecepatan. Naluri melawan perhitungan. Siapakah pada akhirnya yang akan menang?” Nagaradja segera mengambil peran layaknya komentator.

“Kawan Bintang! Sungguh kau adalah seorang lamafa!” seru Panglima penuh semangat. Latih tarung kali ini adalah pengalaman baru baginya.

Di lingkungan keluarga prajurit, bahkan di seluruh Kerajaan Serumpun Lada, tak ada seorang pun yang sepantaran yang dapat menyaingi kekuatan dan naluri bertarung Panglima Segantang. Bahkan, ahli silat yang lebih tua sekali pun kesulitan mengatasi keahlian silatnya.

Bagaimana tidak, sejak belajar merangkak Panglima sudah senang bermain dengan senjata. Di saat baru bisa berjalan ia sudah mulai berlatih silat. Bahkan keluarganya sempat khawatir akan kebiasaan anak kecil mereka dalam berlatih silat. Kekhawatiran mereka lalu perlahan berkembang menjadi kebanggaan karena kemampuan silat terus tumbuh bersamaan dengan hati yang mulia.

Tak terhitung sudah berapa banyak latih tarung yang pernah ia jalani. Otot-otot tubuh yang keras dan naluri bertarung adalah bukti nyata pengalaman silatnya. Terlebih lagi, hanya ia satu-satu remaja yang mampu menguasai Jurus Parang Naga sampai tingkat ketiga!

“Aku semakin suka anak ini!” seru Nagaradja.

“Panglima, kita sudahi dulu latih tarung hari ini.”

“Hah! Mengapa?! Lagi, lagi, lagi...” Nagaradja terdengar seperti merengek.

“Tapi kita belum bertukar jurus andalan...” ungkap Panglima sedikit kecewa.

Kehendak Panglima inilah yang sudah terbaca dan memang berusaha dihindari Bintang. Ia telah melihat langsung Jurus Parang Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba serta Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung. Karena belum memiliki jurus silat dalam menggunakan tempuling, maka nantinya ia terpaksa melontarkan Tinju Super Sakti. Tinju Super Sakti terlalu menarik perhatian, sesuatu yang enggan Bintang pertontonkan kecuali memang terpaksa.

“Tunggu dulu!” sergah Nagaradja. “Berikan padanya kitab kesaktian unsur tanah yang ada di ruang dimensi. Yang berwarna cokelat itu.”

“Hm…?” Bintang memang membawa beberapa kitab milik Nagaradja. Kecuali Kitab Pandai Persilatan dan Kesaktian, kitab-kitab lainnya belum sempat ia baca.

“Sesungguhnya ada sesuatu yang hendak kuberikan padamu,” Bintang menemukan alasan untuk berkelit dari melanjutkan latih tarung. Lalu ia meraih tas punggung dan berpura-pura merogoh ke dalam. Padahal, ia mengeluarkan sebuah kitab lusuh berwarna cokelat dari ruang dimensi di ulu hati.

Tetiba Panglima merasakan aura yang sangat hangat dan dekat. Saat matanya menatap ke arah kitab, ia merasa seolah dirinya merupakan sebuah batu krikil yang jatuh ke atas tanah. Permukaan tanah di sekelilingnya lalu beriak seperti layaknya air ke seluruh penjuru arah, seperti menerima kehadirannya dengan suka cita. Pada saat yang sama, tenaga alam yang datang dari tanah seolah menyelimuti lembut seluruh tubuhnya. Meski demikian, ia belum berani menerima kitab tersebut.

“Terimalah kitab ini.”

“Kitab apakah gerangan ini?” Panglima masih ragu.

“Ini adalah kitab kesaktian unsur tanah. Sesuai untukmu,” jawab Bintang ringan.

“Kesaktian unsur tanah?” Ini bukan pertama kalinya ia mendengar bahwa bakat kesaktiannya adalah terkait unsur tanah.

“Tapi aku ingin mempelajari kesaktian unsur api...”

“Hei! Kalian bocah dusun!” tiba-tiba terdengar seruan ke arah mereka.

Sontak Bintang dan Panglima menoleh ke arah suara tersebut.

“Kalian telah mempermalukan aku! Sekarang aku ingin menuntut balas!” Pawang kurus tinggi yang menamakan diri Pawang Kera Gunung melangkah cepat ke arah mereka. Kali ini ia tidak sendiri. Dua orang pawang lain berjalan di belakangnya. Kedua pawang tersebut berada pada Kasta Perunggu Tingkat 5. Kini mereka berada sekitar 10 m dari Bintang dan Panglima.

“Kebetulan sekali!” balas Panglima. “Aku belum mengganjar hukuman atas kejahatanmu!” terlihat Panglima Segantang kembali bersemangat.

Tanpa berbasa-basi kedua pawang berjubah hitam dan putih di belakang melangkah maju dan mengeluarkan Kartu Satwa, dan segera memanggil binatang siluman mereka. Terlihat seekor kuda yang berpunuk (bukan unta) dan seekor biawak besar bercula satu muncul di depan pawang masing-masing, bersiap menyerang. Keduanya menunggu perintah dari tuan mereka.

Mata Panglima Segantang menyipit. “Kawan Bintang, aku akan menghadapi si biawak, bagaimana bila kau hadapi kuda itu? Sedangkan Pawang Kera Gunung, aku rasa siamang miliknya belum dapat bertarung.”

“Tidak perlu,” tukas Bintang. “Aku ingin melihat aksi Harimau Bara. Harap keluarkan Kartu Satwa itu.”

“Tapi kita belum pernah berlatih bersama Harimau Bara. Lagipula, aku tak tahu cara mengeluarkannya dari Kartu Satwa... Harimau Bara ini pun masih kanak-kanak,” ungkap Panglima meragukan rencana Bintang. Terlebih lagi, saat ini ia sangat ingin bertarung.

Bintang tetap menengadahkan tangannya tanda tak hendak berkompromi. Panglima dengan terpaksa mengeluarkan Kartu Satwa.

“Hahaha... Wajar saja bila kalian takut. Cepat serahkan Kartu Satwa itu. Aku tak akan berlaku terlalu kasar,” Pawang Kera Gunung meremehkan kedua anak remaja di depannya.

“Kau...” Panglima Segantang telah menggenggam gagang Parang Hitam di kedua tangannya.

“Harimau Bara!” seru Bintang saat mengirimkan tenaga dalam ke arah kartu dan membuka segel dengan mata hatinya.”

Seketika itu juga seekor harimau jantan dengan bulu lebat berwarna jingga keluar dari gerbang dimensi Kartu Satwa. Pola lorengnya berbeda dengan harimau-harimau kebanyakan. Loreng Harimau Bara lebih mirip kobaran api yang berkelebat berwarna hitam. Yang paling unik adalah ukuran tubuhnya yang sudah mirip dengan harimau dewasa, dengan panjang tubuh hampir 3 m dan berat sekitar 150 kg. Akan tetapi, selintas pandang terlihat bahwa memang ia masih seekor harimau kanak-kanak.

Harimau Bara mendarat di tanah dan berjalan mengelilingi Bintang, mengendus tubuhnya. Lalu ia bergerak ke arah Panglima. Setelah mengendus tubuh Panglima, Harimau Bara mengusapkan kepalanya ke lengan anak remaja bertubuh besar tersebut. Mata Panglima yang tadinya tajam menatap musuh di hadapan, kini berubah menjadi lembut. Tak dapat menahan diri, ia mulai mengelus kepala Harimau Bara. Lalu kedua tangannya menggaruk-garuk leher bagian bawah harimau besar itu. Seperti layaknya anak kucing, Harimau Bara merebahkan tubuh dan berguling kesenangan.

“Hei! Apa yang kalian lakukan?!” teriak Pawang Kera Gunung tak habis pikir.

Panglima tersadar dari kegiatan bermain dengan Harimau Bara. Kembali matanya menatap tajam musuh di depan. Seketika itu juga, sang harimau yang sedang asyik bermain seperti menangkap emosi Panglima. Sorot matanya sama dengan sorot mata yang dipancarkan Panglima, bahwa ada musuh di depan. Ia berdiri lalu mengaum keras!

Binatang siluman kuda berpunuk (bukan unta!) yang tadinya siap menyerang, seketika itu juga meringkik dan bergerak tak menentu. Pawangnya gelagapan menenangkan. Lain pula reaksi binatang siluman biawak bercula, yang mundur dengan perlahan-lahan. Pawangnya bersusah-payah mengirim perintah agar ia diam di tempat.

Harimau Bara berjalan gemulai ke arah ketiga pawang dan dua binatang siluman di depan. Dari sorot matanya yang tajam, lalu terpancar kelebat api. Kelebat api ini bukan bermakna kiasan, akan tetapi benar-benar api berwarna biru yang menyala. Dari kuku-kuku kaki dan taringnya pun menyusul kobaran api kecil berwarna biru. Lalu ia melompat dan menerkam!

“Bum!” Titik tumpu tempat Harimau Bara berpijak menyisakan ledakan kecil.

“Swush!” Dalam sekedip mata Harimau Bara sudah mendarat di depan biawak bercula dan mengibaskan cakarnya. Biawak yang panjang tubuhnya mencapai 5 m terpelanting dan berguling-guling belasan meter ke arah samping. Punggung binatang siluman biawak yang seharusnya sekeras kayu jati itu tercabik dan tak henti mengeluarkan darah.

Belum sempat ketiga pawang kembali dari keterkejutan mereka, Harimau Bara dengan cepat menghujamkan taringnya ke leher kuda. Dengan mudahnya lalu ia membanting kuda itu ke tanah. Kuda berpunuk pun hanya meronta beberapa saat sebelum akhirnya terdiam dalam gigitan Harimau Bara.

Seluruh rangkaian gerakan Harimau Bara tadi memerlukan waktu untuk digambarkan dalam tulisan. Namun, pada kejadiannya, sungguh benar-benar berlangsung sangat cepat. Hanya dalam tiga kedipan mata, ia membunuh binatang siluman biawak dan kuda!

“Harimau Bara, kembali!” teriak Bintang.

Harimau Bara menoleh ke arah Bintang, lalu Panglima. Panglima melambai-lambaikan tangannya sebagai gerakan memanggil. Harimau Bara pun melangkah santai, dengan menyeret seekor binatang siluman kuda di mulutnya. Api di mata, taring dan kuku-kukunya perlahan memudar. Ia berhenti di antara Bintang dan Panglima, meletakkan kuda, lalu mulai mencabik dan melahap daging kuda tersebut.

Ketiga orang pawang di depan meraka hanya membatu. Pawang Kera Gunung lalu terjerembap ke belakang, kedua lututnya bergetar tak hendak berhenti.

“Bi... binatang siluman… Ka… Kasta Perak...”




Cuap-cuap pengarang:

Semoga menyukai ceritera ini. Jika sempat, sudi kiranya meninggalkan sepatah dua kata di kolom komentar di bawah, supaya pengarangnya tambah semangat.

Selamat berakhir pekan!