Episode 8 - Bencana di Menoreh

Bagasi dan kabin belakang mobil sedan Yashwan penuh dengan tumpukan kardus berisi popok bayi, pembalut wanita, sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, handuk kecil, tisu basah, dan minyak kayu putih. Minyak kayu putih ini ide Desitra karena ia beranggapan bahwa orang yang kebanjiran biasanya kedinginan.

Jardis juga sudah selesai mengatur mobil MPV miliknya agar muat disesaki oleh pakaian bayi dan anak, kardus-kardus biskuit, mie cup, dan susu kotak. Ia akan semobil dengan Damar dan Pastha. Sementara Yashwan dengan Desitra. Ada empat mobil box lagi yang akan mengikuti mereka ke Magelang. Mobil box yang berisi makanan instan, air mineral dalam kemasan, obat-obatan, susu, mainan, selimut, dan pakaian itu mereka sewa untuk mengirim bantuan. Biaya untuk membeli semua itu tentu saja dari emas yang dimiliki Yashwan dari ayah dan kakeknya.

"Kita berangkat sekarang," kata Yashwan pada Jardis, sepupunya yang baru akan memulai tugas skripsinya bulan depan.

Jardis mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.

Dua hari lalu pada malam Selasa yang diguyur hujan lebat, Desa Rejowinangun, Salaman, Mertoyudan, dan Mungkid diterjang air bah. Hujan lebat selama berhari-hari lumrah terjadi di wilayah Jawa, tapi baru kali ini hujan menyebabkan air sungai Progo meluap mengantarkan air berarus deras merusak apa yang dilewatinya. Rumah-rumah kaca hancur, sekolah-sekolah, kantor pemerintahan dan kantor polisi terendam lumpur. Warga mengungsi dipelataran parkir Mal Artos karena tempat itu tempat terdekat yang tidak kena banjir. Mal Artos terpaksa menutup operasionalnya karena pengungsi yang mendatangi area parkir terus bertambah. Mal Artos ditetapkan jadi zona pengungsi utama

Seperti yang sudah diduga banyak orang, banjir bandang ini disebabkan oleh Buhri Brothers yang mengelola tambang emas. Hanya saja audit yang dilakukan oleh kantor gubernur membuktikan curah hujan yang tinggi dan sedimentasi alami sungai Progo yang jadi penyebabnya, bukan karena keberadaan tambang emas. Selain itu Buhri Brothers mempunyai izin dan tata kelola resmi untuk analisis mengenai dampak lingkungan sampai izin gubernur dan bupati. Jadi tak ada alasan menyalahkan Buhri Brothers. Untuk itulah tuduhan terhadap Buhri Brothers dianggap mengada-ada. Tapi nyatanya hanya setahun sejak tambang itu beroperasi bencana sudah menerjang.

Banyak rumah warga yang tahan gempa tapi tidak anti banjir, maka Pemerintah Jawa Tengah cepat turun tangan mengurus kebutuhan makan, pakaian, dan tempat istirahat warga yang mengungsi. Mereka langsung mendata rumah siapa saja yang terendam, memberikan kompensasi seragam sekolah dan sepatu gratis untuk anak-anak yang belajar disekolah milik pemerintah, juga menyiapkan uang pengganti untuk pertanian rumah kaca milik warga yang rusak.

Yashwan mengetahui keadaan di Magelang sejak sebelum banjir datang. Damar memberitahukan gambar citra satelit bahwa air dari dalam lubang tambang mengalir keluar membanjiri area sekitar. Sebagian mengalir ke hilir bukit Menoreh dan sebagian mengalir ke arah sungai Progo. Hujan yang datang memicu banjir karena volume air menjadi berlebihan.

Yashwan sudah menelpon Cakrakinaryo untuk memberitahu soal itu dan menyuruhnya menghubungi bupati untuk mengevakuasi warga. Tapi Cakrakinaryo bergeming. Baru ketika Yashwan menelpon untuk ketiga kalinya yang disertai ancaman bahwa ia akan dilaporkan atas tuduhan menelantarkan warga, barulah iia berkoordinasi dengan bupati. Tapi sebelum bupati melakukan antisipasi, banjir sudah keburu datang.

Yashwan baru bisa berangkat hari ini ke Magelang karena ia harus mengumpulkan barang untuk bantuan dan mencari mobil box yang bisa disewa.

"Apa menurutmu keberadaan tambang itu ada hubungannya dengan banjir di Magelang?" tanya Desitra dalam perjalanan ketika mereka istirahat di rest area tol.

"Menurut apa yang digambarkan satelit memang begitu. Tapi kita tak punya bukti dan kita tak bisa menjadikan penampakan dari satelit yang dirahasiakan keberadaannya sebagai barang bukti," jawab Yashwan sambil menyeruput kopinya.

Damar, Jardis, dan Pastha sedang lahap menyantap soto ayam yang jadi menu makan siang mereka.

"Apakah menurutmu Cakrakinaryo tah bahwa sebenarnya tambang itu yang menyebabkan banjir?" tanya Desitra lagi.

"Aku duga ia tahu. Dari awal ia seperti bersekongkol dengan Buhri Brothers untuk membuka tambang emas di Menoreh."

Tiba-tiba suara terdengar diantara suara obrolan Yashwan dan Desitra.

"Hei, Yashwan, daritadi kau hanya minum kopi saja. Apa menyetir berjam-jam merusak saraf laparmu?" ledek Pastha.

Jardis menyambar, "Dia takut gendut sebab perutnya tidak berbentuk kotak-kotak seperti milikku."

Pastha dan Damar tertawa. Yashwan mengacuhkan mereka dan tetap menikmati kopinya. Padahal ia sengaja tidak makan bukan karena takut gendut tapi kalau ia kenyang ia akan susah konsentrasi menyetir karena badan terasa berat dan uap kantuk mudah datang. Mana tega ia menyuruh Desitra menggantikannya menyetir kalau ia mengantuk.

Yashwan bersyukur didampingi Desitra. Desitra tidak semenitpun tertidur selama perjalanan. Ia membawa permen aneka rasa untuk Yashwan, menceritakan hal-hal lucu, menghubungi Narin di kamar bawah tanah rumah kaca Cinere, dan memberitahukan informasi dari Damar tentang kondisi terkini di Magelang.

Hujan mengguyur wilayah Yogyakarta sampai Magelang. Dan setelah perjalanan panjang selama 14 jam, mereka tiba di zona pengungsi yang ada di Mal Artos.

Mereka disambut Mulawarman, sekretaris desa Rejowinangun yang sekarang merangkap menjadi kordinator zona pengungsi. Kardus-kardus diturunkan dan langsung dibagikan kepada para pengungsi yang menerimanya dengan sukacita. Setelah semua selesai dibagikan Yashwan dan kawan-kawannya duduk lesehan diantara pengungsi sambil berbincang dengan Mulawarman.

"Apakah banjir di desa mereka sudah surut, Mas?" tanya Jardis.

"Sudah. Tapi tetap merekaeka takut tiba-tiba banjir bandang datang lagi." jawab Mulawarman.

"Menurut aparat apa penyebab banjir ini?" tanya Yashwan.

Mulawarman tak langsung menjawab. Ia tampak berpikir sambil memperhatikan apakah Yashwan dan kawan-kawannya bisa dipercaya atau tidak.

"Menurut pemerintah provinsi ini bencana alam karena meluapnya sungai Progo ..."

Damar memotong, "Tapi citra satelit tidak menunjukkan sungai Progo tidak meluap tapi kelimpahan air."

Mulawarman mengernyit, "Apa maksudnya?"

"Eh, maksudnya, ya sungai Progo meluap karena tak mampu menampung limpahan air," jawab Yashwan cepat. Ia menyesalkan Damar yang asal ceplos. Mulawarman adalah aparat desa, siapa tahu ia bersekongkol juga dengan Buhri Brothers seperti Cakrakinaryo.

Tapi Mulawarman tak percaya jawaban Yashwan. Ia ingin memancing Yashwan.

"Menurut kalian apa penyebab banjir ini? Pendapat kalian akan objektif karena kalian bukan berasal dari wilayah sini," kata Mulawarman.

Damar, Jardis, Pastha, dan Desitra memandang kearah Yashwan.

Sebenarnya Yashwan lelah untuk berbincang lebih lama. Ia ingin istirahat. Tapi teman-temannya malah kelihatan penasaran dengan apa yang akan dikatakannya kepada Mulawarman.

"Mas Mulawarman akrab dengan kades Cakrakinaryo?" Yashwan balik bertanya.

Mulawarman tidak mengerti, "Akrab secara pribadi atau secara pekerjaan?"

"Dua-duanya," tukas Yashwan.

Mulawarman tertawa singkat kemudian tersenyum kecut. Ia geleng-geleng kepala kemudian mengangkat bahunya. Mulawarman tidak menjawab apa-apa tapi Yashwan mengerti maksud dari bahasa tubuh yang ditunjukkan Mulawarman.

Karena benar-benar sudah lelah, Yashwan pamit pada Mulawarman tanpa menjawab pertanyaan yang ditanyakan Mulawarman soal penyebab banjir. Ia bilang akan kembali esok harinya membawa bantuan lagi jika bisa. Mulawarman mempersilahkan tamunya itu pergi.

Desitra memaksa Yashwan menyerahkan kemudi kepadanya karena Yashwan memang tampak lelah. Lagipula Desitra sudah tahu letak hotel di Yogya yang akan mereka inapi. Mobil-mobil box pembawa bantuan sudah kembali ke Jakarta segera setelah kardus terakhir diturunkan dari mobil.

Pukul sebelas malam sesampainya di kamar Hotel Arjuna, Yashwan langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal. Desitra memesan kamar tipe suite yang bisa diisi empat orang dengan satu kamar tipe deluxe yang saling terhubung dengan pintu sambung untuk Desitra sendiri.

Adzan Subuh hampir berkumandang tapi rasanya baru beberapa menit Yashwan tidur tapi telinganya kini memaksanya untuk bangun. Smartwatch yang diletakkan di meja samping tempat tidurnya berbunyi.

"Yashwan. Ada berita duka," suara Mulawarman terdengar lesu begitu Yashwan menjawab panggilan Smartwatchnya.

Untuk sepersekian detik Yashwan belum bisa mencerna apa yang dikatakan Mulawarman tentang berita duka karena matanya masih berat dan belum sepenuhnya sadar dari kondisi bangun tidurnya.

"Pak Cakrakinaryo meninggal," sambung Mulawarman.

"Hah?!" Yashwan mengucek matanya dan duduk terkesiap ditempat tidur. "Pak Cakrakinaryo meninggal?!"

"Iya. Bunuh diri," lanjut Mulawarman dengan suara sendu. "Sekarang jenazahnya masih di rumah sakit."

"Apa?" Bunuh diri?!" Yashwan tak sadar dirinya sangat terkejut hingga berteriak kaget.

"Minum racun serangga," tambah Mulawarman.

"Minum racun serangga?!" Sekelebatan bayangan muncul dibenak Yashwan yang aneh rasanya membayangkan Cakrakinaryo yang gigih dan culas minum racun serangga. 

"Kalau begitu kami akan ke rumah duka sebentar lagi," sahut Yashwan sambil menyudahi pembicaraan telepon. "Terima kasih, Mas Mulawarman."

Yashwan membangunkan Jardis, Pastha, Damar, dan Desitra dengan cepat, menyuruh mereka bersiap-siap ke rumah Cakrakinaryo. 

Selain Yashwan, yang paling kaget adalah Pastha. Pastha bisa dibilang akrab dengan Gandis, anak gadis remaja Cakrakinaryo, yang pernah ditemaninya saat Cakrakinaryo terpilih jadi kepala desa.

"Rumah Cakrakinaryo kebanjiran. Bagaimana mungkin ia akan disemayamkan dirumah yang kebanjiran?" tanya Desitra.

Yashwan menepuk dahinya. "Aku lupa. Tadi kupikir kita menunggu di rumah duka saja jadi kita tak perlu ke rumah sakit. Siapa tahu jenazah Cakrakinaryo sudah keluar dari rumah sakit setibanya kita disana."

"Satu-satunya tempat terdekat yang tidak kena banjir adalah Mal Artos. Atau apa mungkin Cakrakinaryo disemayamkan di kantor bupati?" Pastha membagi pikirannya.

Akhirnya Yashwan mendapat kabar dari Mulawarman bahwa Cakrakinaryo akan disemayamkan di zona pengungsi dan nantinya dimakamkan di pemakaman umum di Kecamatan Secang, desa yang tidak kena banjir bandang yang berjarak 10 km dari kantor kepala desa Rejowinangun.

Tentu saja kendaran tidak bisa melintas ditengah banjir setinggi lutut orang dewasa. Orang-orang mengusung dan mengiringi jenazah Cakrakinaryo ke pemakaman dengan berjalan kaki. Yashwan dan keempat temannya juga ikut berjalan kaki bersama 100 orang kerabat Cakrakinaryo. Berjalan mengusung peti jenazah ditengah banjir yang berarus sungguh sulit. Terlihat beberapa orang kesulitan menembus banjir termasuk Damar, dan Jardis Sementara Yashwan dan Pastha tidak kelihatan kesulitan karena ia sudah biasa beraktivitas fisik. Desitra berada di pengungsian dan membantu Mulawarman karena Yashwan memintanya untuk tidak ikut pemakaman Cakrakinaryo. Yashwan mengatakan tenaga Desitra lebih diperlukan di pengungsian daripada basah-basahan ikut menerobos banjir berkilo-kilo meter.

Tiba-tiba salah seorang dari enam pengusung jenazah terpeleset. Ia jatuh ke dalam air dan menyebabkan pegagannya pada peti lepas. Kelima orang pengusung jenazah yang lain kaget dan kehilangan keseimbangan. Akibatnya, bluumm! Peti jatuh ke air. Orang-orang panik dan jeritan-jeritan menggema dari mulut orang yang merasa kaget sekaligus ngeri. 

"Ambil petinya!" teriak salah seorang kerabat Cakrakinaryo sambil memegang ujung peti. "Cepat ayo angka petinya!"

Tapi tak ada yang berani mengambil peti yang sudah terendam di air itu. Orang-orang saling berpandangan, ada yang beristigfar, menangis, dan menjerit-jerit ingin pulang.

Yashwan merasa kasian pada anak dan istri Cakrakinaryo yang menangis bingung, bergegas ia maju dari barisan belakang, berkecipakan di air dengan cepat dan mengangkat peti untuk membantu orang yang berteriak tadi. Damar, Jardis, dan Pastha ikut berkecipakan di air menggotong peti. Peti tidak terangkat dengan seimbang kerena kurang satu orang pengusung. Yashwan susah payah menggotong peti sambil berjalan menembus arus air. Begitupun Damar dan Jardis yang sebentar saja tangannya sudah terasa pegal. 

Beberapa menit peti berjalan tiba-tiba ada tangan lain yang mengangkat peti, membuat pegangan pada peti jenazah jadi lebih ringan. Ternyata Galih, anak kedua Cakrakinaryo yang membantu mengangkat peti itu. Yashwan memberi anggukan pada Galih untuk menyemangati dan mendukungnya.

Iring-iringan harus berjalan menerobos banjir sejauh dua kilometer ke tempat yang lebih tinggi sebelum meneruskan perjalanan ke pemakaman menggunakan kendaraan.

Pemakaman berlangsung singkat karena semua orang lelah. Para kerabat langsung pulang begitu tanah terakhir menutup kuburan Cakrakinaryo. Sebagian dari mereka kelelahan dan kembali ke zona pengungsi. Sebagian lagi yang tidak kebanjiran memilih pulang ke rumah masing-masing.

Yashwan ingin menemani istri dan anak Cakrakinaryo tapi ia memilih menemui Mulawarman di zona pengungsi. Ia meminta Jardis, Damar, dan Pastha, yang sudah berganti pakaian kering, belanja berdus-dus air mineral, mainan anak, susu formula, dan susu UHT untuk dibagikan nanti dipengungsian.

"Kau kelihatan lelah, Yashwan. Belum biasa menghadapi bencana?" sapa Mulawarman.

Yashwan tertawa kecil, "Tidak lelah, hanya sedikit kedinginan karena basah berjam-jam menerobos banjir." 

"Saya menyesal tidak bisa mengantarkan almarhum pak kades ke peristirahatan terakhir." ujar Mulawarman. Tapi Mulawarman tidak menampakkan penyesalannya karena ia merasa sudah ada kerabat yang mengurus jenazah Cakrakinaryo sementara ia lebih berguna mengurus pengungsi dan mengordinir berbagai bantuan yang datang.

"Saya masig tak menyangka Pak Cakrakinaryo memilih bunuh diri. Setahu saya ia berambisi jadi kepala desa. Rasanya tak mungkin orang yang ambisinya sudah tercapai akan nekat seperti itu," kata Yashwan.

Mulawarman mengangguk. Ia memandangi Yashwan selama beberapa lama. "Kau kenal baik dengan Cakrakinaryo?"

Yashwan tak langsung menjawab. Ia tersenyum sambil angkat bahu.

"Bagaimana ya. Dibilang dekat tidak tapi nyatanya kami ikut membiayai pencalonan Pak Cakrakinaryo sebagai kepala desa," ujarnya.

"Membiayai pencalonan almarhum? Saya pikir ia menggunakan uang pribadi," Mulawarman heran. "Darimana sampeyan kenal Cakrakinaryo kalau sampeyan bukan kerabatnya?" 

Yashwan tertawa. Ia memanggil Desitra. Desitra mengangkat tangannya tanda menyuruh Yashwan menunggu. Tak lama kemudian Desitra datang membawa secangkir kopi panas untuk Yashwan.

Yashwan terkejut melihat Desitra bisa tahu bahwa ia membutuhkan kopi. Setelah mengucapkan terima kasih, ia meminta Desitra duduk.sebelahnya. Yashwan menarik napas panjang sebelum mulai bercerita pada Mulawarman bagaimana ia bisa kenal dengan Cakrakinaryo dan membiayai pencalonannya. Yashwan juga bercerita soal Buhri Brothers dan staf ahli bupati yang pernah mereka mata-matai.

Mulawarman mendengarkan cerita Yashwan dengan khidmat. Sesekali ia tertegun dan nampak kaget mengetahui fakta-fakta yang diberikan Yashwan.

"Jadi benar ada hubungannya antara Buhri Brothers dengan Cakrakinaryo. Pantas saja dulu Cakrakinaryo ngotot supaya tambang emas itu dibuka lagu untuk Buhri Brothers. Kalau begitu ia menerima suap dari Buhri Brothers," timpal Mulawarman saat Yashwan selesai bercerita.

"Mungkin almarhum menyesal ikut andil dalam pengoperasian tambang yang menyebabkan banjir ini sehingga beliau bunuh diri," kata Desitra.

Mulawarman dan Yashwan saling berpandangan tidak yakin meski mereka tahu mungkin saja pendapat Desitra benar. Mulawarman tiba-tiba tersentak. Ia ingat sesuatu.

"Rekaman!" serunya. "Saya punya rekaman percakapan sebelum tambang itu resmi dibuka. Tapi entah ada gunanya atau tidak karena pak kades sudah meninggal," katanya menyesal.

"Rekaman apa, Mas?"

Mulawarman tak menjelaskan isi rekaman itu. Ia hanya memberikan kata sandi dari cloud storage dimana ia menyimpan rekaman suara itu.

"Rekamannya semua ada disini," tambah Mulawarman.

"Rekaman itu pasti berguna jika memang banjir ini akibat dari adanya tambang emas di bukit Menoreh," kata Desitra.

"Mudah-mudahan, semoga begitu," sahut Mulawarman. " Tapi kalian harus mendengarkannya lebih dulu sebelum memutuskan rekaman itu berguna atau tidak."

Banjir sudah tiga hari menggenangi beberapa desa di Magelang. Meski sudah surut dibanding hari sebelumnya tapi penduduk masih khawatir karena hujan juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti maka banjir diprediksi belum akan hilang.

Pastha, Damar, dan Jardis sudah datang membawa bantuan sekaligus sepatu baru untuk mereka bertiga. Ya, disela-sela membeli barang untuk pengungsi, Pastha mengajak Damar dan Jardis membeli sepatu baru menggantikan sepatu lama mereka yang basah dan jadi berat.

Bantuan bahan masakan untuk dapur umum dari dinas sosial datang setelah bantuan yang dibeli Pastha, Damar, dan Jardis selesai dibagikan ke pengungsi. Mulawarman kembali sibuk mengatur bantuan yang diangkut empat truk kiriman dari perusahaan jamu di Semarang.

Yashwan mengajak teman-temannya kembali ke hotel untuk beristirahat, mendengarkan rekaman milik Mulawarman lalu mendiskusikan langkah mereka selanjutnya.

Yashwan menggandeng tangan Desitra --yang malu sekaligus senang-- menuju mobilnya, membukakan pintu untuk Desitra yang mengembangkan senyum tercantiknya, kemudian tancap gas kembali ke hotel tempat mereka menginap di Yogya.