Episode 34 - Teman Seperjalanan (2)


“Habisi dia!” seru Pawang Kera Gunung menggunakan mata hati kepada Siamang Semenanjung. Ia enggan memberikan kesempatan bagi Panglima Segantang untuk terus mengisi mustika tenaga dalam.

Seketika itu juga Siamang Semenanjung melompat menyerang Panglima Segantang yang sedang menyerap tenaga alam dari telapak tangan yang ditempelkan ke lantai tanah. Tak sampai lima persen tenaga yang tersaring dan mengisi mustika kasta perunggu. Ditambah tenaga dalam yang masih tersisa, paling banyak ia hanya memiliki 15 persen tenaga dalam secara keseluruhan.

Lengan panjang berbulu lebat, yang di baliknya menyembunyikan bilah-bilah besi, mengangkat tinggi dan siap menyapu tubuh sasarannya. Panglima Segantang segera menggenggam parang besarnya dan berguling ke arah belakang. Serangan lengan kanan siamang luput dan hanya menghantam tanah di permukaan panggung.

Begitu mendapat pijakan, Panglima Segantang langsung melenting ke depan melancarkan serangan balik. Sisa tenaga dalam yang baru terkumpul ia alirkan ke pinggang, bahu dan lengan untuk melakukan tebasan diagonal dari arah kanan bawah menuju kiri atas. Siamang yang serangannya luput, sedikit kehilangan keseimbangan, sehingga hanya mampu menangkis menggunakan lengan kiri.

“Trang!” Siamang terdorong beberapa langkah ke belakang. Panglima Segantang terhuyung di tempat. Darah mengalir dari sudut bibirnya, dan kedua lengannya terasa kebas. Kini ia sudah benar-benar kehabisan tenaga dalam. Hanya karena fisik yang tangguh sajalah ia bisa tetap berdiri dan menghunuskan parang besarnya.

Sejak awal ia menyadari bahwa kemungkinan untuk menang melawan seorang pawang dengan Kasta Perunggu Tingkat 7 adalah sangat kecil. Namun selagi masih ada kemungkinan, dan selama ia tetap memegang teguh Tujuh Prinsip Prajurit, maka ia tak akan mundur. ‘Keberanian membela kebenaran’ merupakan salah satu dari prinsip yang siap ia tukar dengan nyawa sekalipun. Demikian tekad seorang prajurit.

“Hanya sedemikian batas kemampuanmu, anak muda?” kembali Pawang Kera Gunung menyepelekan lawannya. Meski sempat terkejut pada kemampuan anak remaja tersebut, ia sekarang sudah bisa menakar bahwa lawannya tidak lagi memiliki tenaga dalam.

“Sekarang waktu yang tepat untuk pulang dan kembali ke ketiak ibumu,” sang pawang lalu tertawa terbahak-bahak.

Mata Panglima Segantang melotot, mukanya merah padam. ‘Kehormatan’ adalah satu lagi prinsip prajurit. Ketika kehormatannya diinjak-injak menggunakan kata-kata, amarahnya pun memuncak. Kembali pasir, kerikil bahkan tanah di sekitar tempat ia berdiri bergetar deras. Dedebuan pun mulai terangkat.

“Habisi dia!” perintah Pawang Kera Gunung untuk kedua kalinya. Kembali Siamang Semenanjung melompat!

“Selamatkan dia!” sergah Nagaradja.

Bintang, yang sedari tadi sedang asyik menyaksikan tontonan seru, menyeringai. Ia cukup kagum dengan keteguhan hati anak seusia yang bertubuh bongsor itu. Namun, kekaguman bukan alasan untuk mencampuri pertarungan orang lain, sedangkan keteguhan hati tanpa ditopang kekuatan yang memadai sama saja dengan membunuh diri sendiri.

“Apa yang kau tunggu!?” Nagaradja mulai tak sabar.

Dari sudut pandang Bintang, pertarungan kedua ahli di depan matanya adalah pertarungan yang adil. Pawang Kera Gunung melempar tantangan, Panglima Segantang menerima tantangan tersebut. Bahkan Pawang Kera Gunung sudah memberi kesempatan agar si anak remaja bertubuh besar dan kekar itu menarik diri, namun tetap ia bersikeras.

Tambahan lagi, campur tangan orang lain tentu saja akan mencederai harga diri Panglima Segantang sebagai seorang ahli silat. Meski, pastinya ada alasan kuat bagi gurunya yang berharga diri tinggi memerintahkan melakukan tindakan yang malah akan mencoreng harga diri seorang ahli silat.

“Hei!” sergah Nagaradja.

“Hmph....” Bintang melenting tinggi ke arah panggung, sambil mengeluarkan Tempuling Raja Naga...

“Brak!” sedikit lagi lengan Siamang Semenanjung hendak menghantam tubuh Panglima Segantang, yang kini hanya mampu bertahan menggunakan parang besarnya... sebuah tempuling mendarat di antara mereka!

Naluri binatang siluman siamang beberapa saat sebelumnya mengisyaratkan bahwa ia harus menghentikan serangan dan menarik lengannya. Berkat naluri tersebut siamang terlepas dari cedera fatal.

Di saat melompat mundur, Siamang Semenanjung terperangah menyaksikan tempuling putih dengan ukiran ruas-ruas tulang di hadapannya. Aura siluman sempurna yang terpancar dari tempuling sangat kental terasa bagi binatang siluman. Sedangkan bagi manusia, yang dapat dirasakan dari Tempuling Raja Naga adalah aura senjata pusaka Kasta Perak.

“Senjata pusaka Kasta Perak apa itu!?” para penonton berseru.

Siamang tiba-tiba berteriak tidak terkendali seperti kerasukan. Lalu ia melompat ke belakang tuannya. Di balik tuannya kini ia meringkuk dan menggigil ketakutan. Gelagat itu mirip sekali dengan anak kucing kecil yang basah kehujanan, mencari tempat berlindung yang hangat.

Bintang mendarat tepat di samping tempulingnya. Ia menatap tajam ke arah Pawang Kera Gunung. Benaknya mencari-cari alasan yang paling tepat mengapa ia merecoki pertarungan orang lain.

Pawang Kera Gunung terlihat gugup, dan berusaha menenangkan binatang silumannya. Meski sangat kuat dan berani, Siamang Semenanjung merupakan binatang siluman yang sangat peka. Aneh sekali, anak yang kini muncul hanyalah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 3, lebih rendah dari yang sebelumnya. Tapi, pasti ada alasan jelas atas reaksi yang ditunjukkan oleh siamang. Sebagai seseorang dengan keterampilan khusus pawang, dengan pengalaman bertahun-tahun melatih Siamang Semenanjung, baru kali ini ia menyaksikan reaksi seperti ini.

“Aku tak suka melihat penindasan,” ungkap Bintang.

Pawang kurus tinggi tersebut terperangah. Apakah penindasan yang dimaksud adalah atas kejadian ia mencederai dan mengambil paksa Kartu Satwa milik si pawang tua, ataukah atas pertarungan berat sebelah yang baru saja berlangsung... Atau keduanya... Pawang Kera Gunung meringis.

Bintang terus memperhatikan raut wajah Pawang Kera Gunung. Ia menyimpulkan bahwa kata-katanya tersebut berhasil menembus pertahanan si pawang. Kini saatnya meluncurkan ‘Taktik Tempur No. 34’ versi Komodo Nagaradja: ‘Kura-kura di bawah perahu, pura-pura sudah tahu’.

“Serahkan Kartu Satwa itu!” sergah Bintang dengan raut wajah tenang. “Aku tahu persis apa yang kau lakukan sebelum ini.”

Dalam benaknya, Taktik Tempur No. 34 sungguh merupakan kejahatan terhadap peribahasa ‘Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu’. Tapi, taktik inilah yang paling tepat digunakan pada situasi seperti saat ini.

Wajah Pawang Kera Gunung kini pucat. Bukan karena rasa takut kepada anak remaja yang baru muncul di hadapannya, tapi lebih kepada kekhawatiran bahwa kejahatannya mungkin sudah terungkap. Mengambil Kartu Satwa dari sesama pawang dalam sebuah pertarungan adalah biasa, namun merampok orang tua adalah kejahatan yang layak diganjar hukuman. Terlebih lagi, dengan kondisi Siamang Semenanjung yang menyedihkan, ia tak memiliki Kartu Satwa berkemampuan tempur lain yang dapat diandalkan, bahkan siamang adalah satu-satunya kartu yang ia miliki.

Awalnya, ia berharap dengan bermodalkan Kartu Satwa Harimau Bara hasil rampokan, ia bisa memancing sejumlah pawang untuk bertarung dan bertaruh Kartu Satwa.

Harimau Bara adalah binatang siluman unsur api yang perkasa dan langka dari Pulau Barisan Barat. Namun, binatang siluman tersebut memerlukan waktu yang sangat lama untuk tumbuh dewasa. Oleh karena itu, sehingga hanya beberapa ahli pawang Kasta Perak yang biasanya hidup sampai usia 250 tahun saja yang cukup sabar memelihara binatang siluman tersebut.

Tanbahan lagi, binatang siluman Harimau Bara juga dikenal sebagai binatang siluman yang terlalu liar. Hanya ada sedikit catatan yang mengungkapkan tentang pawang yang mengendalikan Harimau Bara. Meski demikian, ia percaya bahwa akan ada saja yang mengkehendaki kartu tersebut.

Pada dasarnya, ia berharap dengan mengandalkan kemampuan bertarung dan senjata rahasia Siamang Semenanjung, ia pun bisa memanen beberapa Kartu Satwa selama Muktamar Pawang Tingkat Wilayah berlangsung.

Akan tetapi harapan tersebut sirna, dan kejahatannya kemungkinan akan terbongkar. Dari kerumunan penonton ia melihat panitia muktamar dan beberapa orang anggota pasukan pengamanan.

“Kalau kau ingin selamat, segera serahkan Kartu Satwa itu,” kembali Bintang mengingatkan Pawang Kera Gunung.

“Hahahaha...” Pawang Kera Gunung tiba-tiba tertawa lebar. “Sungguh anak-anak masa kini tumbuh demikian pesat.” Ia lalu memasukkan Siamang Semenanjung kembali ke Kartu Satwanya.

“Aku mengaku kalah... Saat membuka tantangan, aku memang tak menyebutkan Ahli apa dan berapa jumlahnya yang dapat bertarung melawan diriku. Terimalah Kartu Satwa ini sebagai hadiahku kepada kalian...”

Pawang Kera Gunung segera melempar Kartu Satwa Harimau Bara ke arah Bintang. Bintang pun menangkap kartu itu dan memasukkannya ke dalam tas punggung.

Tindakan Pawang Kera Gunung tadi mengundang decak kacum penonton. Tak lama mulai terdengar tepuk tangan dan kekaguman dari penonton yang sedari tadi menyaksikan.

“Sungguh besar hati Pawang Kera Gunung ini...” seru seorang penonton.

“Benar-benar memberi contoh yang baik kepada generasi muda...” ucap penonton lain sambil bertepuk tangan.

Panitia muktamar dan beberapa orang anggota pasukan pengamanan pun menganggap bahwa yang telah terjadi adalah pertarungan biasa. Dengan demikian, Pawang Kera Gunung menyelamatkan mukanya dari cemooh penonton dan menyelamatkan dirinya dari penyidikan pasukan pengamanan. Meski, harga yang harus dibayar cukuplah besar: dirinya kehilangan sebuah Kartu Satwa berharga dan Siamang Semenanjung miliknya menderita trauma berat. Ia pun segera meninggalkan panggung, wajahnya mencerminkan kekesalan tak terperi.

“Atas pertolonganmu, aku ucapkan terima kasih,” terdengar suara dari sisi belakang Bintang.

“Panglima Segantang tak akan melupakan jasamu. Siapakah gerangan namamu?”

“Bintang Tenggara, namaku,” jawab Bintang cepat.

“Kau adalah seorang prajurit? Usiamu cukup muda untuk menjabat sebagai seorang panglima,” Bintang menengadah karena tinggi tubuhnya yang hanya sebahu Panglima.

Ia lalu memerhatikan dengan lebih seksama. Anak bertubuh tinggi kekar itu berambut pendek cepak layaknya prajurit. Roman wajahnya kokoh, dengan dahi pendek, berdagu persegi. Hidungnya pendek tapi runcing, dan dua buah bola mata berukuran sedang dan dalam menatap balik ke arah Bintang.

“Aku seorang Prajurit Muda. Panglima adalah namaku, bukan jabatan.”

“Tanyakan asal-usulnya...” kesadaran Nagaradja berujar.

“Guru belum memberi alasan mengapa aku harus menyelamatkannya tadi...” jawab Bintang ringan.

“Haruskah segala sesuatunya beralasan...? Inilah akibatnya bila terlalu banyak membaca,” Nagaradja geram dengan kebiasaan Bintang.

“Hmph... Anak ini menyibak aura yang sangat kukenal, meski sangat samar-samar. Selain itu, ia memiliki bakat untuk mempelajari kesaktian unsur tanah, unsur sakti yang juga merupakan keahlianku,” meski geram, Nagaradja tetap memberikan jawaban.

“Apakah Kartu Satwa ini milikmu? Dari mana asalmu?” Bintang menyerahkan Kartu Satwa Harimau Bara kepada Panglima.

“Kartu Satwa ini milik seseorang yang kukenal. Aku akan mengembalikannya. Aku mohon Kawan Bintang bersedia menemani, karena sesungguhnya Kawan Bintanglah yang mendapatkan kembali kartu ini.

“Diriku berasal dari Kerajaan Serumpun Lada di barat laut Negeri Dua Samudera.”

Keduanya lalu berjalan menuju balai pengobatan. Mereka terlihat sebagai dua orang anak remaja sepantaran yang sedang menuju tempat bermain. Belum 13 tahun usia mereka. Perbedaan yang paling kentara adalah yang satu besar kekar mencapai 175 cm, sedangkan satunya lagi berbadan langsing dengan tinggi baru mencapai 160 cm. Yang satu menyoren parang besar di pundak, yang satunya memakai tas punggung.

Sepanjang perjalanan, Panglima banyak berceritera. Ia mengutarakan rencananya mempelajari kesaktian unsur api di Istana Danau Api, lalu tentang gerbang dimensi yang menyimpang arah dan membawanya ke Kerajaan Parang Batu, tentang kejadian ia salah menumpang perahu, serta tentang kakek tua pemilik Kartu Satwa Harimau Bara.

“Hm... Panglima, apakah ini arah yang benar menuju balai pengobatan? Sepertinya kita telah melewati jalan setapak ini sekitar 500 langkah lalu...”

“Aku yakin kita berada di jalan yang benar. Kawan Bintang tak perlu khawatir, aku tak mungkin tersalah arah.”

Bintang: “...”


***


“Sekarang ceriterakan tentang jati dirimu! Dan bagaimana caranya engkau menyembunyikan mustika tenaga dalam?”

 Raut wajah gadis tersebut terlihat lemah. Air mata mengalir di kedua pipinya. Matanya tak memiliki sinar yang seharusnya dimiliki seorang gadis remaja berusia 15-16 tahun. Hasrat hidupnya telah sirna.

“Melati Dara...” ungkapnya pelan. “... mencuri... Ramuan... Pelumat... Jiwa... dari perguruan...” rintihnya terputus-putus.

Andai saja Komodo Nagaradja mendengar nama gadis tersebut... meski tak berhasil menebak siapa pembunuh di perahu kala itu, ia justru berhasil menebak nama depan bekas dayang-dayang ini dengan tepat.

“Ramuan Pelumat Jiwa?!” Kum Kecho terkejut. Segera ia memeriksa detak nadi dan aliran darah di pergelangan tangan gadis tersebut.

“Ramuan Pelumat Jiwa memang memberi dampak tersembunyinya mustika... Tapi bukan demikian kegunaan ramuan itu.”

“Harus... membalas dendam... ayah... ibu... kakak... adik...”

“Buka mulutmu!” Kum Kecho kemudian membuka rahang Melati dan memasukkan seekor belatung ke dalam mulut gadis itu. “Terhitung hari ini, engkau adalah budakku!”

Melati Dara hanya menutup mata. Air matanya kembali mengalir.

“Aku akan membawamu ke Partai Iblis. Pada waktunya nanti, akan kau dapatkan kesempatan membalas dendam.”

Kedua mata Melati Dara sontak terbuka, sinar kehidupan kembali berpijar. Ia menatap tajam ke arah Kum Kecho!



Cuap-cuap tak terkait ceritera:

Pembicaraan Binar (siswi kelas II SD, saat itu) dengan abahnya.

Binar : Bah, Bah... lihat gambar ini (sambil menyodorkan kertas A4)

Abah : Gambar binatang apa pula ini? (melirik ke gambar coret-corat tak jelas)

Binar : Ini serangga jahat, coba tebak namanya...

Abah : Ga tau ah...

Binar : Ih, Abah... ini serangga baru gabungan kumbang sama kecoa... Coba apa namanya?

Abah : ‘Ga Jelas’ itu namanya....

Binar : Bukan, bukan... Namanya adalah Kum Kecho! Ngerti ‘kan? KUMbang KECOa...

Abah : Hmm...