Episode 10 - Kembang Sunyi


Ada sebuah pepatah lama yang mengatakan bahwa cinta itu buta. Semula kukira sepenggal kalimat itu hanya sebatas kiasan belaka. Kupikir mana mungkin cinta tidak memandang satu apa pun dari yang tercinta, pasti ada, entah itu karena kecantikannya, kastanya, atau lain sebagainya. Ya, meski aku tidak pernah merasakan jatuh cinta, namun aku yakin bahwa tidak ada yang namanya cinta buta.

Namun, malam itu mengubah pandanganku tentang cinta. Soka Dwipa yang mengatakan bahwa dirinya mencintai Rara Andhini membuka mataku dan membuat aku percaya bahwa cinta buta itu memang ada. Soka Dwipa mengulur waktu untuk menjawab permintaan Prabu Reksa Pawira yang memintanya untuk meminang putrinya, Rara Gendhis yang cantik jelita dan kalau tersenyum membuat dunia seolah berhenti berputar itu.

Soka Dwipa mengatakan kepadaku bila dia telah jatuh cinta kepada Rara Andhini sejak pertama berjumpa dengannya.

“Di pagi yang diteduhkan oleh awan mendung itu awal perjumpaanku dengan Rara Andhini. Ketika itu aku sedang berjalan di taman yang ada di sekitar keraton dan aku melihatnya. Dia ditemani para dayang sedang menikmati keindahan bunga yang ada di taman. Aku mendekati dan menyapanya seraya menanyakan siapa namanya, namun sapaanku hanya terjawab oleh senyumannya. Awalnya kupikir dia angkuh karena enggan memberi tahu namanya karena ketika kutanya dan hanya tersenyum, tertunduk malu, lantas pergi bersama dayang-dayangnya meninggalkanku. Semenjak itu aku terus memikirkannya, aneh bukan? Dan aku baru tahu kalau dia tidak dapat berbicara ketika perjumpaan kami yang kedua di dekat pintu gerbang keputren.”

“Aku menyapanya lagi dan kembali menanyakan namanya, dan lagi-lagi jawabannya pun sama. Karena sedikit kesal akhirnya kutegur dia. Aku katakan, sebagai seorang putri raja, alangkah baiknya menunjukkan sikap yang sopan dengan menjawab pertanyaanku. Ya, sebagai seorang putri raja dia harus bisa menjaga hubungan baik dengan pemimpin-pemimpin Kadipaten di bawah kekuasaan ayahandanya.

“Apa karena telah kehilangan kadipatenku sehingga aku tidak layak untuk bertegur sapa dengannya? Itu yang kupikirkan, namun aku terkejut tatkala ia menggerakan tangannya seolah meminta maaf kepadaku dan bibirnya seperti mengucap kata, hanya saja aku tidak dapat mendengar apa yang dia ucapkan. Air matanya menetes membasahi pipinya. Dia menutup mulutnya dan berlari masuk kedalam keputren.

“Aku ingin mengejarnya masuk dan menanyakan kenapa dia begitu… Tapi sayang, aku tidak boleh masuk ke dalam keputren. Itu wilayah terlarang bagi pria, kecuali raja, putra raja, dan punggawa kerajaan yang bertugas untuk berjaga di sekitar keputren. Di tengah kebingunganku itu, seorang dayang menyampaikan bahwa Sang Putri meminta maaf kepadaku, dia tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanku atau pun tidak menghargaiku. Dia hanya malu, karena dia memiliki kekurangan, sejak lahir dia tidak bisa berbicara.

“Dayang itu pun memberitahu padaku bila puteri itu bernama Rara Andhini. Sejak saat itu aku merasa bersalah kepadanya. Di sela-sela pertemuanku dengan para Adipati dari kadipaten-kadipaten yang hendak melakukan perlawanan terhadap Jayalodra, aku pun kerap berusaha mencari dan menemui Rara Andhini. Hingga pada suatu pagi aku melihatnya berjalan-jalan di taman, ku hampiri dia dan aku langsung meminta maaf. Dia tersenyum dan memberi isyarat bahwa dia tidak apa-apa dan telah memaafkanku. Mulai saat itu kedekatanku dengannya mulai terjalin. Aku pun belajar untuk memahami setiap isyarat yang dia berikan agar dapat mengerti apa yang hendak dia utarakan. Tapi… sayangnya hingga kini pun Rara Andhini tidak tahu perasaanku kepadanya,” tutur Soka Dwipa, panhang lebar mengutarakan kegundahan hatinya kepadaku.

“Ampun beribu ampun, Raden. Saya memang tidak pernah jatuh cinta. Namun bila perasaan Raden kuat terhadap putri Rara Andhini, ada baiknya Raden ungkapkan kepadanya tentang perasaan Raden dan berterus teranglah kepada Prabu Reksa Pawira bahwa yang Raden cintai adalah Rara Andhini bukan Rara Gendhis.”

“Sayangnya tidak semudah itu, Ro. Saya khawatir jika saya berterus terang kepada Prabu Reksa Pawira, dia akan merasa tersinggung dan marah karena menolak putri dari permaisurinya dan lebih memilih untuk bersama anak dari seorang selir.”

Di sela obrolan kami, tiba-tiba terjadi keributan dari arah barat keraton. Kami pun bergegas menuju ke arah suara bising itu berasal. Sesampainya di sana, kami melihat para prajurit tengah melawan seseorang berpakaian serba hitam dengan kain penutup wajah yang menyembunyikan jati dirinya. Kemampuan beladiri dan ilmu kanuragannya tidak dapat dianggap remeh. Sekali ia mengayunkan pedang yang dipegangnya, dia mampu meluluhlantakkan seluruh prajurit yang hendak menyerangnya.

Belum sempat aku menghadapi orang itu, tiba-tiba muncul Patih Lembu Sutta yang terbang dan langsung menyerang orang tersebut dengan tenaga dalam. Sayangnya, penyusup itu cukup lincah sehingga dapat menghindari serangan Lembu Sutta dengan bersalto ke belakang. Mereka berdua pun bertarung, si penyusup dengan pedangnya sementara sang Mahapatih dengan tangan kosong. Beberapa sabetan pedang dari berbagai arah coba dilancarkan oleh si penyusup namun berhasil dihindari dan ditangkis oleh Lembu Sutta.

Tetiba si penyusup menghunuskan pedangnya yang tertuju ke arah jantung Lembu Sutta. Namun Sang Mahapatih berhasil menahan serangan itu dengan tenaga dalam yang dialirkan ke tangan dan dikeluarkan melalui telapak tangannya yang dengan sigap di posisikan di depan dadanya, menghalangi pedang itu menusuk tubuhnya.

Lembu Sutta memutar telapak tangannya dan seketika pedang yang dihunuskan ke arahnya hancur berkeping-keping disusul oleh si penyusup yang terpelanting, berputar diudara, terhempas oleh serangan yang dilancarkan Lembu Sutta.

Aku bersama Soka Dwipa dipanggil oleh Lembu Sutta untuk membantunya membawa penyusup itu ke hadapan Prabu Reksa Pawira. Soka Dwipa memegang tangan dan leher bagian belakang penyusup itu, sementara aku mencari tali untuk mengikatnya. Setelah kami mengikat tangan dan lehernya, kami bawa penyusup yang sudah tidak berdaya tersebut ke hadapan Prabu Reksa Pawira.

Kami tiba di Balai Agung lebih dahulu sebelum Prabu Reksa Pawira tiba di sana. Sang Prabu akhirnya datang ditemani oleh para punggawa keraton yang mengawalnya. Setelah ia duduk di singhasana, Reksa Pawira mengajukan beberapa pertanyaan kepada si penyusup itu. Sayangnya, si penyusup hanya diam membisu, seolah mulutnya terkunci.

“Lembu Sutta, cepat buka penutup wajah orang ini,” titah Kanjeng Prabu.

Lembu Sutta pun melaksanakan perintah Sang Prabu. Dibukanya kain penutup wajah si penyusup dan Lembu Sutta pun terkejut. Bagaimana tidak? Si penyusup itu ternyata adalah Danur Lingga, kakak Lembu Sutta yang hilang beberapa tahun lalu.

“Kakang Danur Lingga? Apa yang terjadi pada padamu? Mengapa dulu kau menghilang dan kini malah kembali sebagai penyusup ke Watugaluh? Jawab aku, Kakang! Jawab!” pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan oleh Lembu Sutta hanya diacuhkan oleh Danur Lingga.

Lembu Sutta yang kesal bercampur malu itu pun mengarahkan beberapa pukulan kepada kakandanya, berharap agar sang kakak mau membuka mulutnya dan menjawab pertanyaannya. Meski sudah babak belur dan jatuh tersungkur oleh pukulan Lembu Sutta, namun Danur Lingga belum juga membuka mulutnya. Dia hanya terdiam dan memasang wajah penuh kekesalan.

“Hentikan! Cukup Lembu Sutta! Bagaimanapun dia adalah kangmasmu,” ujar Prabu Reksa Pawira sambil berdiri dan berjalan ke arah Lembu Sutta.

“Ampun Kanjeng Gusti, tapi saya benar-benar malu memiliki kakang seorang pengkhianat yang menyusup ke dalam kerajaannya sendiri. Kerajaan yang selama ini telah memberi banyak kepada kami. Hamba benar-benar malu, Gusti.”

Saat Prabu Reksa Pawira dan Lembu Sutta sebang berbicara tiba-tiba Danur Lingga bangkit dan melepaskan tali yang mengikat tangan dan lehernya. Sepertinya kekuatan yang dimilikinya sudah pulih kembali. Dia pun langsung menyerang Prabu Reksa Pawira, namun kini dengan tangan kosong. Danur Lingga mengarahkan pukulan ke arah wajah sang prabu, namun bisa ditepis dengan tangan kiri Prabu Reksa Pawira. Danur Linggga membalikan tubuhnya dan menyerang dengan tendangan memutar namun berhasil di tangkis oleh Lembu Sutta.

Lembu Sutta yang begitu marah kepada kakaknya melakukan ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus pamungkasnya, Ajian Reka Gunung. Dipasangnya telapak tangan di depan dadanya dengan posisi terbuka, lalu ia kumpulkan semua tenaga dalamnya terpusat di telapak tangannya. Kemudian ia mengangkat telapak tangannya seolah menantang penghuni langit, lalu dengan sangat cepat ia hempaskan telapak tangannya ke tanah. Terlihat sapuan energi, gelombang cahaya berwarna biru yang keluar dari tubuh Lembu Sutta mengarah langsung kepada kakaknya.

Melihat hal tersebut, Prabu Reksa Pawira tidak tinggal diam. Dengan sigap dia mengarahkan tinjunya ke bumi dan melesatlah energi yang begitu dahsyat ke arah energi dari tenaga dalam yang dikerahkan oleh Lembu Sutta. Tujuannya untuk menghalangi Lembu Sutta membunuh kakaknya sendiri. Energi mereka pun bertemu di satu titik dan mengakibatkan ledakan yang cukup keras. Bumi bergetar, tiang-tiang keraton bergoyang dan kami yang berada di sana pun seketika roboh karena begitu kuat getaran yang dihasilkan oleh pertemuan energi tersebut.

Danur Lingga terpental dan terluka parah. Baju yang dikenakannya seperti tercabik-cabik. Meski tidak terkena langsung oleh Ajian Reka Gunung, namun karena kuatnya gelombang dari dua jurus yang saling berbenturan itu membuatnya yang berada cukup harus merasakan dampak dari benturan tersebut.

Di tengah kondisinya yang sekarat Danur Lingga mulai membuka suaranya sambil mencoba bangkit.

“Ini semua karena kalian! Karena kalian saya jadi seperti ini! Karena kau aku gagal menjadi seorang Senopati!” sambil menunjuk Lembu Sutta.

“Aku lebih kuat darimu tapi Sang Prabu lebih memilihmu. Dan karena kau pula aku harus kehilangan orang yang kucintai, Rara Kemuning. Sang Prabu lebih sudi menjodohkannya dengan seorang Mahapatih seperti kau ketimbang menerima lamaranku yang hanya seorang punggawa biasa. Aku pergi dari kerajaan ini karena kecewa, setelah bertahun-tahun aku berkelana tak tentu arah, aku mendapat kabar bahwa sang pangeran yang terbuang, adik Prabu Reksa Pawira tengah menyusun kekuatan untuk menghancurkan Watugaluh, di sanalah aku temukan kembali harapan. Aku mencarinya, aku temui dia dan dia menerimaku dengan tangan terbuka.

“Dia, Kanjeng Gusti Prabu Jayalodra, lebih baik ketimbang kalian semua yang ada di sini. Dia menjanjikan kepadaku tahta dan juga cinta dari Rara Kemuning,” kini ia menunjuk ke arah luar istana.

“Apa tujuanmu kemari, Kakang? Jelaskan!”

“Aku dikirim ke tempat ini sebagai telik sandi yang bertugas untuk mencuri informasi penting dan mengawasi pergerakan kalian. Aku tidak sendiri, beberapa orangku telah berhasil lolos. Aku sengaja membuat gaduh agar kalian berfokus padaku dan mereka bisa melarikan diri,” ucapnya sambil tertawa lebar. “Di sana, di Kadipaten Pring Dawa, Jayalodra tengah mengumpulkan kekuatan dan pasukannya untuk… kalian… kalian tidak akan menang… karena…”

Belum sempat dia menyelesaikan ceritanya, tubuhnya sudah jatuh terduduk dan dari mulutnya mengalir darah segar, lalu roboh ke depan. Danur Lingga pun akhirnya harus meregang nyawa.

“Tolong urus jasadnya secara layak. Lakukan upacara kematian esok pagi. Kumpulkan semua petinggi kerajaan, minta mereka semua berkumpul di tempat ini sekarang juga. Ada yang harus dibicarakan,” ujar Sang Prabu kepada salah satu punggawa kerajaan.

Aku bergegas pergi untuk memberi tahu para petinggi kerajaan bahwa Prabu Reksa Pawira meminta untuk berkumpul di Balai Agung. Sementara beberapa prajurit kerajaan yang lainnya kulihat mengurus jasad Danur Lingga. Prabu Reksa Pawira berjalan menuju singhasananya diikiuti oleh Lembu Sutta dan Soka Dwipa yang duduk di bangku mereka masing-masing.

Aku memanggil Eyang Dalem Aji dan mengawalnya menuju Balai Agung. Sesampainya di depan pintu Balai Agung, aku berjumpa dengan Ki Purboyo.

“Ro, kamu jangan kembali ke Kesatrian. Kamu ikut berjaga di sini,” perintahnya kepadaku.

“Baik, Ki. Saya berjaga di dalam atau di luar, Ki?”

“Tadi kan aku sudah bilang di sini! Di sini, ya di sini! Dimana lagi memang? Bocah budeg apa, ya?”

Aku langsung memasang posisi berjaga supaya Ki Purboyo menghentikan celotehannya. Kalau aku mendebatnya terus dia bisa semakin menjadi-jadi nanti.

Semua petinggi kerajaan telah berkumpul di Balai Agung. Sambil menjalankan tugasku berjaga, aku juga menguping pembicaraan mereka.

“Tadi ada beberapa telik sandi menyusup ke dalam keraton. Sebagian dari mereka berhasil lolos sementara pimpinannya telah tewas di tempat ini,” jelas Reksa Pawira tanpa memberitahu kepada petinggi keraton yang lain bahwa Danur Lingga adalah penyusup yang dimaksud.

“Dari telik sandi itu pula, kami mendapat informasi bahwa saat ini Jayalodra tengah menghimpun kekuatan dan bersiap menyerbu Watugaluh dari kadipaten Pring Dawa. Setelah kejadian malam ini, saya yakin mereka akan mempercepat rencana penyerbuan tersebut. Maka dari itulah kukumpulkan kalian di sini untuk bermusyawarah, saya butuh persetujuan kalian untuk melakukan penyerangan ke Pring Dawa,” lanjutnya.

“Ampun beribu ampun Kanjeng Gusti, tanpa Kanjeng Gusti minta sekalipun kami pasti menyetujui keputusan yang diambil oleh Dimas Kanjeng Prabu. Mengingat kondisi juga semakin genting, tidak ada salahnya bila kita melakukan serangan lebih dulu ke Pring Dawa untuk menghentikan Jayalodra,” ujar Adipati Tedjo Alur diiringi oleh sahutan senaga dari para petinggi kerajaan yang lainnya.

“Baiklah kalau begitu, malam ini juga kita siapkan pertempuran untuk esok hari. Ki Purboyo, masuklah!” Sang Prabu memanggil Ki Purboyo untuk menghadapnya.

“Dhalem, Kanjeng Gusti,” ujar Ki Purboyo setelah berlari dan berlutut di hadapan Sang Prabu.

“Segera pilih dan siapkan prajurit. Kita akan melancarkan penyerangan ke Pring Dawa esok pagi. Dan kirim orang untuk mengambil sisa persenjataan yang kita pesan ke padepokan Brojobhumi,” titah Sang Prabu.

Setelah memberi hormat, Ki Purboyo berlari ke luar Balai Agung. Dia menatap ke arahku. Aku sangat berharap dia memintaku untuk bergabung dengan prajurit yang akan dikirim ke Pring Dawa Esok pagi.

“Ro, kamu tetap di sini, ya… sampai esok pagi. Dan besok pagi sampai saya kembali kamu lakukan tugas berjaga seperti biasanya saja. Awas kalau tidak dikerjakan!” ujar Ki Purboyo sebelum ia pergi, berlari menuju kesatrian.

Ternyata aku tidak dipilihnya untuk ikut pergi ke Pring Dawa menyerang Jayalodra. Padahal aku sudah sangat ingin memanah kepala Jayalodra dengan panahku. Tapi apa daya, aku juga harus tahu diri. Aku hanya prajurit baru di sini yang tugasnya hanya menjaga lingkungan keraton.

“Patih Lembu Sutta, aku minta padamu untuk mengumpulkan para pendekar aliran putih untuk ikut bergabung dengan penyerangan kita,” titah sang Prabu.

“Sendhiko, Kanjeng Gusti. Akan saya laksanakan,” jawab sang Mahapatih.