Episode 1 - Prolog

Selli tahu hubungan antara dirinya dan tempat kelahirannya melebihi kisah cinta Romeo dan Juliet. Selli memiliki segalanya di tempat yang memang tidak keren-keren banget itu. Tapi Selli punya teman lelaki yang mirip banci, Selli juga punya teman perempuan bernama Anggie yang senantiasa menceritakan bagian-bagian tubuh mananya lagi yang disentuh cowoknya, dan Selli punya anjing bernama Popho yang—entahlah, Selli tidak punya kenangan menarik apa pun bersama Popho.

Jadi, saat Selli tahu kalau ia akan meninggalkan itu semua, Selli mulai memikirkan cara merakit bom. Yang akan ia gunakan untuk mengebom sekolah dan rumah barunya. Rumah lamanya tidak akan hancur oleh bom, barangkali hanya rusak, dan sedikit tindakan renovasi akan membuatnya semakin bagus dari sebelumnya.

Belum lagi jalanan depan rumah lamanya yang bisa diakses dua mobil sekaligus, dengan supermarket yang menunggu di ujung jalan dan dua orang pegawai Domino’s Pizza yang setiap hari memegangi plakat promo harian. Kompleks itu berisi rumah-rumah bergaya mediterania yang diisi oleh orang-orang yang enggan bergaul dengan tetangga karena khawatir akan kekokohan status serta tiang sosial mereka. Selli tidak mengerti apa itu, tapi baginya itu cukup keren dan bergengsi. Ia tidak perlu mencari hiburan. Hiburan yang akan mencarinya.

Dan saat Selli melihat rumah barunya, ia yakin kalau petasan saja sudah cukup mampu untuk merontokkan atapnya, kemudian sedikit cairan kimia akan membuat lantainya terbakar, lalu tidak percaya dengan jalur akses rumahnya yang hanya bisa dilalui satu orang sehingga mereka harus berjalan sambil baris seperti tentara. Di seberang gang rumahnya terdapat warung rokok yang menjual kondom kepada anak-anak SMP, dan di sebelahnya ada taman bermain yang lebih sering dipakai oleh pemulung untuk tidur siang.

“Di belakang sini ada Pasar Malam yang kata para tetangga sangat gemerlap seperti sebuah kasino di Las Vegas,” kata Suni, ibu Selli, perempuan bertubuh kecil yang hanya akan memberi pelukan kepada orang-orang yang setinggi dengannya.

 “Waaaoow..” Selli berusaha terkejut, tapi gagal. Ibunya bahkan belum berinteraksi dengan para tetangga.

 Tinggal di sebuah kavling dengan gang sempit dan informasi yang mengatakan bahwa dataran tersebut rendah membuat keadaan semakin buruk. Ini seperti pengumuman bahwa mereka bebas menghias rumah selama sembilan bulan dan banjir akan datang, menghanyutkan semuanya tanpa ampun atau belas kasih. Kalau hari itu benar-benar datang Selli akan menyisakan beberapa bomnya untuk meledakkan diri sendiri.

Dan ternyata merakit bom tidak semudah Tyler Durden membuat bom dari sabun dalam film Fight Club. Peraturan pertama untuk merakit bom adalah; kau harus menjadi seorang psikopat terlebih dulu, kemudian mencampur adukkan konsep ledakan dan seni, dan meyakini bahwa setan ikut berperan di dalamnya. Selli tidak bisa menjadi psikopat. Tidak sama sekali. Dengan payudara yang membesar secara prematur, dan kepala yang selalu tertunduk di depan orang asing, dan kulitnya yang seputih kejujuran, sekaligus rambut panjang berponi lurus yang digunakan untuk menutupi tanda lahirnya yang berwarna merah muda nyaris membentuk sebuah planet, seakan ketika para bayi diberi kesempatan oleh Tuhan untuk memilih di mana tanda lahir mereka akan ditempatkan, gadis itu tidak sengaja memilih kening yang ia kira pantat. Dan karena tanda lahir itu selalu memberi kesan bahwa Selli seperti sedang dalam kondisi berdarah-darah, poninya selalu mendapat perawatan ke salon agar terus menjaga keningnya dari dunia.

Psikopat seperti Selli hanya akan berakhir di rumah bordil..

“Di mana Popho?” tanya Selli, “Popho diberikan ke keluarga Hasan,” jawab ibunya.

“Tapi mereka, kan, keluarga Islam?”

“Memangnya kenapa?”

“Islam tidak boleh memelihara anjing.”

“Hasan tidak bilang begitu.”

“Oke. Sepertinya Hasan mengikuti ajaran Baba. Mama tahu Baba?”

“Tidak, nama macam apa itu?”

“Itu bukan nama. Itu panggilan ayah dalam buku The Kite Runner. Dan di sini Baba diceritakan sebagai orang Islam yang makan babi dan minum alkohol—yang menurutku sama tidak bolehnya dengan memelihara anjing—dan Baba ini berkata ‘Jika Tuhan memerhatikan kehidupan kita, kuharap Dia lebih mementingkan hal-hal selain kesukaanku minum scotch dan makan daging babi’ mungkin Hasan juga menggunakan ini untuk membuatnya memperbolehkan diri memelihara Popho.”

“Kau harus memperbanyak diri membaca buku biografi dan pepatah China Kuno. Keluarkan jeruk mandarin yang kuberi label harta karun!.”

Sebelum Selli bertanya kenapa ibunya harus membawa dua dus jeruk dengan mengorbankan meja rias Selli yang jawabannya sudah jelas karena mobil bak itu payah dan ibunya setengah mati hanya ingin mengeluarkan ongkos pindahan sekali jalan, Selli mengambil salah satu dus dari atas mobil dan meletakkannya di dinding dekat jendela yang diisi jaring laba-laba.

“Apa ini bisa kujadikan meja rias?” tanya Selli, menunjuk meja belajar kayu yang catnya sudah mengelupas. Dulunya meja itu digunakan tukang kebun untuk meletakkan gunting rumput sekaligus tempat bercinta dengan seorang gadis pengantar baju laundry. Dan sudah lebih dari dua ribu kali ketumpahan kopi.

“Beritahu aku, dalam daftar prioritas hidupmu, dandan berada di urutan ke berapa?” ibunya tidak menjawab.

“Entahlah, tiga belas?” Selli mengira ia salah bicara, sampai ibunya tersenyum, mengeluarkan sebuah lip balm stroberi.

“Baiklah, jadikan itu nomor satu. Ambil meja itu. Bagaimanapun juga tiga hari lagi kau resmi menjadi anak SMA. Kau perlu menunjukkan wajah terbaikmu kepada dunia. Dan biarkan yang terburuk tetap berada di dalam kaca rumah.” Dalam beberapa detik yang mengerikan, untuk pertama kalinya Selli melihat ibunya bisa merancang sebuah kalimat seperti tadi.

“Apa itu artinya aku boleh punya kendaraan sendiri?”

“Untuk apa? Sekolah barumu bisa ditempuh sembilan menit dengan jalan kaki.”

“Ya Tuhan, ibu bilang aku sudah SMA. Anggie sudah mempunyai skuter yang bisa menghasilkan suara klakson serupa terompet dalam musik jazz.”

“Kau masih berteman dengan anak nakal itu? Jika ada sesuatu yang terjadi kepadamu aku akan menyalahkan Anggie sepanjang hari di depan kuil.”

“Dia tidak nakal, kok. Dia cuma terjebak dalam masa pubertas yang begitu dalam dan gelap, Anggie tersesat. Kami sedang berusaha membawanya kembali ke permukaan.”

“Bersama si banci yang ahli berbahasa Jerman itu?”

“Federal bukan banci. Dia hanya sedikit kemayu. Paling tidak dia belum berencana membeli alat pembesar payudara.” Selli terkikik dan ibunya menggeleng-gelengkan kepala.

“Tidak ada kendaraan untuk seorang perempuan. Apalagi jika kau hanya dilindungi sebuah helm. Ya Tuhan! Helm tidak menyelamatkanmu dari kecelakaan, keberuntungan yang menyelamatkanmu. Hilangkan gagasan tentang kendaraan dari dalam benakmu dan berikan kedua kakimu sedikit olahraga.” Selli memutar bola mata dan menyandarkan tubuh ke pintu, memandangi pagar rumah barunya yang sangat pendek sehingga anak kelas 5 SD pun pasti bisa memanjatnya.

“Ambil foto keluarga yang tersandar di depan kulkas. Minta bantuan supir itu.”

Tanpa mengeluh, Selli kembali ke mobil bak. Supir mobil bak payah itu sedang merokok sambil bersandar di sisi pintu pengemudi dan tampaknya tidak berniat membantu siapa-siapa di tengah hari yang panas. Untuk sepersekian detik Selli ingin mengambil rokok itu dan menghisapnya kuat-kuat dan melihat apa yang bakal terjadi. Dan tentu saja itu tidak terjadi. Karena ia tidak ingin cari masalah dengan supir mobil bak. Merokok adalah tipu muslihat pemerintah untuk mengurangi penduduk dunia. Sebab menggunakan nuklir atau semacamnya pasti sangat mencolok.

Selli meraih apa yang diminta ibunya. Terbungkus seprei hitam dan berdebu. Bingkai fotonya sangat lebar sampai-sampai Selli harus merentangkan tangannya seperti sedang pemanasan saat pelajaran olahraga yang ia benci. Dan ketika berhasil melewati pintu rumah barunya, Selli berupaya menahan senyuman ganjil yang tampak begitu aneh di wajahnya.

Bukan jenis senyuman yang ditunjukkan untuk simbol keramahan. Ini jenis senyum yang hanya ditemukan dalam keadaan yang tidak menyenangkan, dan itu semua karena kesadaran aneh. Melihat dirinya terpampang di dalam foto itu, dengan kebaya yang kesempitan, bedak yang membuat wajahnya kian seputih Putri Ular, berdiri tepat berada di belakang ibunya, yang bergestur seolah-olah penguasa bumi, dengan cincin dan kalung menghiasi tiap jengkal tubuhnya, abang tertuanya, Lie Rey, berada di ujung sebelah kiri, dengan jubah kelulusan di badan dan ekspresi datar di wajah, dua abang lainnya, Jerry dan Chauken, mengenakan kemeja berwarna silver dari Poshboy, membuat mereka tampak kembar dengan rambut jabrik, keduanya juga tidak tersenyum, dan di bawah ketiga anak lelaki itu ada ayahnya, dengan setelan jas rancangan Calvin Klein warna hitam, dengan ekspresi yang dianggap sebagai tersenyum, membuat foto itu tampak seperti sekelompok gangster dari China yang berhasil lolos di imigrasi dan memutuskan membuat foto keluarga sebagai kedok.

Setelah selesai mendikte semuanya dan menghentikan senyum yang kian terasa membuat rahangnya pegal—tersenyum sendiri merupakan gejala awal menjadi psikopat dan dia mulai yakin bisa merakit bom. Selli kembali mengangkatnya dan mencari lokasi yang pantas untuk benda keramat itu (seolah-olah rumah barunya begitu besar sehingga perlu dilakukan Pencarian).

Dan Selli menggantungkannya di dinding toilet. Secara vertikal.