Episode 9 - Keberhasilan Pertama

“Satu-satunya cara yang sanggup kupikirkan adalah membiarkan Claudya dan Daniel menikah, kemudian aku akan menyelinap ke acara resepsinya, dan mengencingi saus puding mereka,” ucap Bastian. Hampir dua minggu lewat, dan Daniel atau Claudya belum juga menghubungi ponselnya. Didesak Badut untuk berpikir, Bastian spontan mengucapkan gagasan konyol.

“Bas, serius sedikit, dong!” bentak Badut.

“Ya, habis mau bagaimana lagi? Kita sudah berusaha, dan hasilnya nihil.”

“Justru itu, Bas, Badut meminta bantuanmu.” Kirana mencoba menengahi percakapan dua lelaki di dekatnya. “Dia butuh ide-ide brilianmu.”

“Itu ide paling brilian sejauh ini, Na.”

Gurat wajah Badut kecewa. Dia belum bisa menerima bahwa upayanya mesti dihentikan, keinginannya mesti diurungkan, dan cintanya terpaksa kehilangan harapan.

Sementara itu, Bastian tengah mencoba menyingkap kebuntuan pikirannya. Tetapi, semakin berusaha dia justru semakin menyadari tak ada jalan lain bagi Badut selain melapangkan dadanya.

Tiba-tiba, ponsel Badut berbunyi. Nama Bang Joe muncul di layar. Badut hendak mengabaikan, namun niatnya surut mengingat selama ini Bang Joe selalu baik padanya.

Badut mengambil ponselnya, bangkit, dan menjauh dari ruang tamu Bastian. “Halo, Bang,” ucapnya.

Di seberang sambungan, Bang Joe tampak menimbang bagaimana cara mengucapkan kabar buruk tanpa melukai perasaan Badut. Di layar komputernya, terpampang file foto pra nikah pasangan yang tampak bahagia. Dia mengenal yang perempuan. Sosok itu adalah mantan kekasih Badut, Claudya, yang dulu sering kali diajak Badut ke kiosnya.

Sesungguhnya Bang Joe tak pernah menyukai Claudya. Dari sejumlah pertemuannya dengan Claudya, Bang Joe bisa menyimpulkan bahwa perempuan itu tak layak untuk Badut. Baginya, Badut adalah lelaki baik, sedangkan Claudya adalah sejenis manusia yang mudah saja meninggalkan pasangannya untuk mencapai kepuasan tertentu. Kepuasan itu, dalam tafsir Bang Joe, yang sudah makan asam garam percintaan, adalah kepuasan yang tak merujuk pada satu tujuan tertentu, melainkan terbersit spontan dan berubah-ubah. Mudahnya, Claudya adalah seorang petualang yang tak pernah betah berdiam dalam hati seseorang.

“Dut …,” ucap Bang Joe, ragu. Namun, akhirnya, kalimat berikutnya mengalir begitu saja. Bang Joe menjelaskan bahwa dia mendapat operan kerjaan cetak undangan dari temannya. Sedangkan temannya sendiri dapat order dari Puspita Wedding Organizer. Lalu, Bang Joe masuk ke niat intinya. Dengan sangat hati-hati Bang Joe mengungkapkan bahwa undangan yang tengah dikerjakannya adalah undangan pernikahan Claudya dengan lelaki lain bernama Daniel. Dan, saat ini, tengah memasuki tahap desain.

Bang Joe menarik napas sebentar, sebelum berusaha melemparkan sejumlah kalimat bijak untuk menjaga stabilitas Badut.

Di seberang sambungan, Badut menyambut gembira kabar itu. Dia tak menyangka, kebuntuan rencananya justru terbuka lewat sebuah kebetulan. Lalu, Badut mulai berkhayal bahwa itu bukan kebetulan, melainkan takdir. Ya, dia memang ditakdirkan berpisah sementara dengan Claudya, lalu ditakdirkan merebut kembali perempuan itu dari lelaki lain, sebab mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Selamanya. Lalu, tekadnya semakin bulat.

“Dut, percaya sama aku. Claudya itu bukan perempuan yang baik buatmu,” ucap Bang Joe, membuyarkan lamunan Badut.

Berbeda dengan yang ada di pikiran Bang Joe, Badut justru terdengar gembira mendengar kabar darinya. Bahkan, Badut berencana ke kios Bang Joe siang nanti.

**

Bang Joe masih belum bergeser dari duduknya. Di tengah tiga orang yang mengitarinya dengan tatapan penuh harap, dia masih menimbang. Dua jari kanannya mengetuk konstan di atas meja, dan selaras dengan itu, pikirannya mengucap repetisi ‘ya’ dan ‘tidak’.

Bang Joe memang tidak menyukai Claudya. Jelas. Tetapi, jelas pula bahwa dia tidak menyukai perbuatan tercela. Apalagi, perbuatan itu bisa berdampak pada citranya sebagai pembuat desain cetak undangan.

“Aku tetap memutuskan ‘tidak’, Dut.” Akhirnya, Bang Joe tak mengubah keputusannya.

“Bang …,” suara Badut terdengar memohon.

“Dut, jujur aku benci dengan mantanmu yang sialan itu. Banyak betul lagaknya kalau pas kau ajak dia ke sini. Tapi, bukan berarti aku berhak mengacaukan hidupnya.” Tatapan Bang Joe mencoba mengajak Badut berdamai dengan kenyataan. Dan, dari sebelah kiri, tatapan Kirana dengan maksud yang sama menimpal.

Bastian yang sedari tadi mengunyah rumput laut, meletakkan bungkus camilannya, dan mencoba angkat suara. Melihat bungkus camilan di meja, Bang Joe segera mengambil isinya dan memakannya.

“Apa ini, Kawan?” tanya Bang Joe pada Bastian. Lidahnya masih beradaptasi dengan makanan di mulutnya.

“Rumput laut, Bang,” jawab Bastian.

“Cuiih,” Bang Joe meludahkan rumput lautnya, kemudian matanya menatap jengkel Bastian, “gila kali kau, ni! Seumur hidup aku nggak pernah makan rumput darat, malah kau kasihnya aku rumput laut!”

Bastian santai saja menghadapi Bang Joe. Malah, melihat reaksi Bang Joe, dia mulai merencanakan strategi agar berhasil mempersuasi lelaki itu. Bastian menangkap dua poin penting. Pertama, Bang Joe membenci Claudya; kedua, Bang Joe pemarah. Tinggal mencari celah bagaimana membuat lelaki itu semakin muak kepada Claudya. Setahu dia, orang yang marah semakin mudah dihasut.

“Aku pun sependapat sama Bang Joe, tapi aku terpaksa makan rumput laut ini, karena kata Claudya, orang yang tidak suka rumput laut adalah orang-orang tidak berkelas, norak, mesti dimusnahkan dari peradaban, dan tidak layak lulus casting sebagai manusia.” Bastian mencoba mengarang fitnah tentang Claudya.

“Rusak kali mulut si Claudya itu!” Bang Joe terpancing. “Memang kenal kau dengan Claudya, Kawan?” tanya Bang Joe kepada Bastian.

“Kenal, Bang, aku mantan sahabatnya. Tapi, aku pikir nggak ada manfaatnya jika aku terus berdekatan dengan manusia macam dia.”

Bang Joe menatap Badut, kemudian berkata, “Nah, Dut! Apa kubilang! Hidup itu cuma sekali, Kawan, habiskan dengan orang-orang yang bisa membuatmu bahagia!” Mendengar ucapan Bang Joe, Badut hanya bergeming.

“Bang Joe juga harus tahu kalau Claudya pernah bilang …” Bastian sengaja memutus ucapannya.

“Bilang apa?!” tanya Bang Joe, tak sabar.

“Claudya pernah bilang kalau temannya Badut yang bernama Bang Joe …”

“Apa, apa, apa?!”

“Dia pernah bilang kalau Bang Joe, dia sebutnya Joe ‘si Lidah Golok’ bakal jadi perjaka seumur hidup, dan …”

“Dan apa?!” bentak Bang Joe, sembari menggebrak meja.

“Dan selera desain Bang Joe sangat buruk.”

“Kurang ajar! Berani-beraninya dia ngatain selera desainku! Biar sekalian kuhancurkan juga, nih, undangannya!”

“Tapi kan itu bisa merusak citra Bang Joe,” ucap Bastian, wajahnya artifisial.

“Peduli setan soal citra! Ini soal kehormatan!”