Episode 33 - Teman Seperjalanan (1)


Sepekan sebelumnya...

“Ananda Kedelapan, Panglima Segantang, gerbang dimensi ini akan membawamu menuju Kerajaan Laut Haru. Dari sana, dikau akan menempuh perjalanan darat menuju Istana Danau Api,” ungkap sang Ayahanda.

“Adik Kedelapan, kami tidak dapat mendampingimu,” ujak Kakak Kelima. “Namun aku sudah bertitip pesan kepada sahabatku, salah satu Kepala Prajurit di Kerajaan Laut Haru untuk mengantarkanmu ke Istana Danau Api.”

“Adik Kedelapan, apakah sudah bulat tekadmu?” tanya Kakak Kedua.

“Ananda bawalah ini,” sang ayah memberikan sebuah lencana berbentuk perisai, yang berukir sebuah perahu layar berwarna kuning dan sebuah keris di bagian tengahnya. Lencana Kerajaan Serumpun Lada.

“Tuan-tuan sekalian, gerbang dimensi menuju Kerajaan Laut Haru segera dibuka,” ungkap petugas gerbang dimensi kerajaan sambil menunjuk ke arah sebuah prasasti batu yang berjarak sekitar lima meter dari lokasi rombongan keluarga Segantang berdiri. Prasasti batu yang tinggi dan besarnya mirip seorang anak berusia tiga tahun, memancarkan aura segel yang cukup kental.

Di udara tepat di atas prasasti batu, tiba-tiba sebuah formasi segel muncul. Formasi segel tersebut mengambang hanya sekitar satu meter dari permukaan tanah. Ukurannya yang sebesar dua daun pintu kemudian terlihat menyala dan menimbulkan retakan pada udara. Udara yang meretak lalu merekah semakin lama semakin nyata sampai membentuk sebuah lubang berwarna hitam. Lubang inilah yang dinamakan sebagai gerbang dimensi.

Setiap gerbang dimensi memiliki kode khas. Kerajaan-kerajaan yang bersahabat di dalam Negeri Dua Samudera biasanya saling bertukar kode khas gerbang dimensi antara satu sama lain, sehingga mereka dapat saling mengunjungi.

Meski terkesan sederhana, gerbang dimensi sesungguhnya adalah barang mewah. Untuk membangun sebuah gerbang dimensi diperlukan sumber daya yang luar biasa besarnya. Di bawah prasasti batu tersebut dipastikan tersimpan berbagai jenis bebatuan langka. Tambahan lagi, tidak sembarang ahli perapal segel yang dapat menyusun formasi gerbang dimensi.

Untuk mengaktifkan gerbang dimensi pun memerlukan mustika binatang siluman kasta perunggu yang cukup banyak. Oleh karena itu, kerajaan yang berukuran sedang hanya akan memiliki satu gerbang dimensi dan sangat jarang menempuh perjalanan menggunakan gerbang dimensi tersebut.

Panglima Segantang dengan tubuh kekarnya berdiri gagah. Ia bertelanjang dada, mengenakan celana hitam longgar yang menggantung di atas mata kaki, sebuah tas pinggang berukuran besar menempel di belakang pinggul, dan parang besar menyoren di pundak.

Ia mengangguk, lalu menatap seluruh sanak keluarganya satu persatu. Tak ada keraguan dari raut wajah yang kokoh tersebut. Bentuk rahang yang persegi dan posisi kedua bola mata yang dalam dari garis kening pendek seolah menegaskan keputusannya. Lalu, ia berujar, atau lebih tepatnya berpantun:

Keris disanding bersama tombak,

Di asap setanggi bunga teratai.

Kalau takut dilambung ombak,

Jangan berumah di tepi pantai.

Dan anak remaja itu pun melompat ke dalam gerbang dimensi.

Perjalanan menggunakan gerbang dimensi menuju Kerajaan Laut Haru biasanya menempuh waktu sekitar setengah jam. Kini satu jam waktu berlalu, namun Panglima masih melayang terombang-ambing di dalam gerbang dimensi. Lalu, tiba-tiba ia terlontar keluar dari dalam gerbang dimensi!

Ia pun melayang belasan meter di udara sebelum akhirnya mendarat. Sebagai seorang ahli silat dengan Kasta Perunggu Tingkat 4, terjatuh dari ketinggian belasan meter bukanlah sebuah persoalan berarti. Seketika ia mendarat, kedua matanya segera memerhatikan sekeliling. Ia berada di taman dalam istana, tapi tak ada sahabat Kakak Kelima menyambut kehadirannya. Bahkan, petugas gerbang dimensi pun tak terlihat.

Lalu, kedua matanya menangkap sebuah lambang kerajaan di dinding belakang prasasti gerbang dimensi. Lambang kerajaan tersebut berbentuk seperti perisai, dengan ukiran sebuah gunung berapi yang sedang meletus.

“Hah! Kerajaan Parang Batu...?” gumamnya terkejut. Sebagai seorang prajurit kerajaan, tentu ia hapal betul lambang-lambang kerajaan seantero Negeri Dua Samudera. Panglima Segantang kemudian menoleh ke arah pintu keluar halaman, di sana terlihat seorang tua sedang terperangah.

“Ada lagi yang tersasar!” Teriak orang tua tersebut ke arah belakang.

Seketika itu juga terdengar suara derap langkah belasan pengawal istana memasuki halaman dalam dan mengelilingi Panglima Segantang. Tombak mereka menghunus tajam, mengunci gerakan anak remaja di depan mereka. Di belakang mereka menyusul seorang Kepala Pengawal.

“Sebutkan jati dirimu!” teriak Kepala Pengawal datang menghampiri. Dari sudut pandangnya, seorang tamu tak diundang, bertelanjang dada dengan sebilah parang besar menyoren di pundak, bukanlah petanda baik.

Anak remaja tersebut sedikit membungkukkan tubuhnya. “Panglima Segantang dari Kerajaan Serumpun Lada memberi hormat kepada Kepala Pengawal Istana Kerajaan Parang Batu.” Pada saat yang sama, ia mengeluarkan, lalu menunjukkan Lencana Kerajaan Serumpun Lada pemberian ayahanda.

“Apa niatmu datang berkunjung tanpa pemberitahuan?” tanya Kepala Pengawal masih tetap waspada. Sorot matanya semakin tajam mengamati.

“Sesungguhnya daku bertujuan menuju Kerajaan Laut Haru melalui gerbang dimensi, namun tiada dinyana terjadi penyimpangan arah,” Panglima Segantang menjawab sopan.

“Apa khabar Kakak Ketigamu?” tanya Kepala Pengawal tanpa basa-basi. Dari raut wajah dan bentuk tubuh yang kekar, memang tak bisa disangkal lagi jati diri anak remaja di hadapannya itu.

“Kakak Ketiga bertugas mengamankan perbatasan,” jawab Panglima Segantang singkat.

“Mungkin yang lebih tepat untuk Kakak Kepala Pengawal Istana Kerajaan Parang Batu tanyakan adalah Kakak Keempatku, yang juga menjabat sebagai Kepala Pengawal Istana, di Kerajaan Serumpun Lada.”

“Hahaha... Masih senang berkelahikah Kakak Keempatmu itu?” tanya Kepala Pengawal itu lagi. Pertanyaan pertama tadi bertujuan untuk membuktikan jati diri anak remaja di depannya. Sedangkan pertanyaan kedua ini untuk mendengar berita sahabatnya yang sudah lama tak bersua.

“Ia masih senang berlatih tanding. Beberapa hari lalu ia ditegur ayahanda karena tak sengaja merusak tanaman di dalam istana di saat mengayunkan tombaknya,” ungkap Panglima Segantang kali ini dengan wajah sedikit khawatir.

“Hahaha... demikian sahabatku itu!” Menyaksikan raut wajah anak remaja di depannya, Kepala Pengawal kini semakin yakin. Tangan kanannya lalu memberi aba-aba agar para prajurit pengawal istana kembali ke posisi jaga mereka.

Meski jauh terpisah, Parang Batu di tenggara dan Serumpun Lada di barat laut, kedua kerajaan tersebut cukup bersahabat. Keduanya juga terlibat dalam perdangangan yang saling menguntungkan. Kerajaan Serumpun Lada memperoleh sumberdaya alam khas wilayah tenggara untuk diperdagangkan di wilayah barat, begitu pula sebaliknya.

Jadi, bukanlah hal aneh bila para Kepala Pengawal pernah berlatih bersama, lalu menjalin persahabatan. Berkat ikatan itu pula Panglima Segantang yang tersasar lalu diundang berkunjung ke kediaman Kepala Pengawal.

Dari penjelasan Kepala Pengawal, Panglima Segantang memperoleh informasi bahwa kira-kira sejak sebulan lalu, terjadi keanehan pada prasasti gerbang dimensi di Kerajaan Parang Batu. Mereka yang hendak bepergian bisa tersimpang arah, tiba di lokasi yang berbeda dengan arah tujuan. Sempat beberapa kali pula mereka menerima kehadiran ‘tamu yang tak diundang’ sebagaimana halnya Panglima. Mereka berupaya menyelidiki penyebab keanehan tersebut sambil menunggu seorang ahli segel dari Pulau Dewa memperbaiki formasi segel pada gerbang dimensi tersebut.

Panglima Segantang pun bertukar ceritera. Ia menjelaskan niatnya mempelajari kesaktian di Istana Danau Api, yang akan segera membuka penerimaan murid baru. Bahwa jika gerbang dimensi tidak rusak, maka pastilah ia saat ini sedang dalam perjalanan ke sana.

Sesungguhnya belum terlambat baginya untuk menuju Kerajaan Laut Haru. Dari Kerajaan Parang Batu ia tinggal menyeberang ke Pulau Dewa. Di sana, ia dapat menggunakan gerbang dimensi Perguruan Gunung Agung. Persoalan mustika binatang siluman untuk mengaktifkan gerbang dimensi pun bukanlah masalah. Setelah mendengarkan kisahnya, Kepala Pengawal langsung bersedia meminjamkan mustika binatang siluman. Kepala Pengawal hanya memberi syarat agar Kakak Keempatnya yang nanti mengantarkan langsung mustika binatang siluman yang dipinjam tersebut.

Namun, dalam perjalanan Panglima ke Pulau Dewa keesokan harinya, hal yang tak terduga kembali terjadi... Panglima Segantang keliru menaiki perahu. Entah bagaimana, ia menumpang perahu yang berlawanan arah. Bukannya menuju ke Pulau Dewa, ia malah menuju ke Pulau Sabana. Entah bagaimana...


***


“Hahahaha...,” pawang kurus tinggi di atas panggung tertawa terbahak-bahak. Dari sudut pandangnya, anak remaja di hadapannya, meski berbadan tegap dan kekar, hanyalah berada pada Kasta Perunggu Tingkat 4. Bukanlah lawan yang seimbang.

“Hanya anak inikah yang bernyali?” kembali ia mencemooh. “Hai anak muda, pulanglah ke dusunmu. Berlatihlah sepuluh tahun lagi sebelum kau berani menerima tantanganku.”

Panglima Segantang tak bergeming. Keteguhan hati terpancar dari sorot kedua matanya.

“Baiklah, aku Pawang Kera Gunung, menghargai nyalimu. Oleh karena itu, aku akan membekalimu dengan pengalaman yang tak akan terlupakan.”

Seketika itu juga Panglima Segantang meraih parang besar di pundaknya. Parang besar berwarna hitam itu panjangnya lebih dari satu setengah meter, dengan lebar satu setengah jengkal jari orang dewasa. Berkat tinggi Panglima Segantang yang hampir 170 cm, maka parang tersebut terlihat seirama sekali dengan postur tubuhnya.

“Hah?” Pawang Kera Gunung dan seluruh penonton terperangah. “Ia bukanlah seorang pawang!” mereka berseru.

“Anak muda, turunlah... jangan paksakan dirimu.”

“Apa yang kau lakukan...? Jangan sia-siakan bakatmu... Segera turun dari sana!”

“Ah... aku tak sanggup menyaksikan pertarungan berat sebelah seperti ini...”

Hampir seluruh penonton di bawah panggung menyerukan agar pertarungan tak dilangsungkan. Kasta Perunggu Tingkat 4 melawan Kasta Perunggu Tingkat 7 ibarat bumi berhadapan dengan langit. Apa lagi, yang berada pada Kasta Perunggu Tingkat 7 adalah seorang pawang. Entah berapa banyak binatang siluman yang ada di tangannya...

Panglima Segantang mengernyitkan dahi. Ia teringat sosok seorang kakek tua, seorang pawang binatang siluman yang menumpang perahu yang sama ketika menuju Pulau Sabana. Dalam perjalanan, kakek tersebut memberikan tunjuk ajar tentang dasar keterampilan khusus milik pawang – tentang Kartu Satwa, teknik segel dalam menyimpan dan mengeluarkan binatang siluman, serta mengendalikan binatang siluman menggunakan mata hati.

Kakek tersebut datang ke Muktamar Pawang dengan tujuan mencari anaknya yang merantau dan telah lama tidak kembali. Sebagaimana dirinya, si anak adalah juga seorang pawang. Ia berharap dapat bertemu anaknya tersebut dan mewariskan satu-satunya Kartu Satwa yang masih ia miliki.

Setelah berpisah arah di dermaga Kota Dana, Panglima Segantang kemudian bertemu lagi dengan si kakek yang dalam kondisi mengenaskan. Kini sang kakek terbaring lemah di balai pengobatan akibat cedera tubuh yang dialaminya. Kartu Satwa di tangannya dirampas paksa.

Kartu Satwa tersebut adalah kartu yang menyegel seekor anak binatang siluman Harimau Bara, yang kini berada di tangan lelaki kurus tinggi di atas panggung.

“Hyaat...!”

Panglima Segantang menggeretakkan gigi lalu melompat menyerang. Ia tak gentar meski kalah tenaga. Kedua tangannya memegang gagang parang hitam besar yang ia angkat tinggi ke atas, kemudian ayunkan ke bawah, ke arah lawan!

Pawang Kera Gunung masih mencemooh. Dengan acuh tak acuh ia mengeluarkan sebuah Kartu Satwa yang kemudian berpendar.

“Siamang Semenanjung!”

Tetiba muncul seekor kera besar berbulu abu-abu tua dan berlengan panjang. Tubuhnya begitu besar sehingga terlihat seolah memayungi si lelaki tinggi kurus. Lengan panjang sebelah kiri siamang lalu mengangkat dan menangkis tebasan parang yang datang dari atas.

“Prang!” Genggaman tangan Panglima Segantang bergetar ketika parang bersentuhan dengan lengan siamang, serasa seperti menghantam batu karang.

Tidak disangka rupanya terdapat pelindung besi di balik bulu lebat siamang. Belum sempat selesai keterkejutannya, lengan kanan siamang lalu mengayunkan telapak tangannya menampar tubuh Panglima!

Panglima Segantang sangat sigap. Parang besar segera berpindah ke sisi kiri tubuhnya dan menangkis tamparan siamang yang menyebabkan seluruh tubuhnya bergetar. Organ tubuh bagian dalam terasa seperti bergeser dari tempatnya, ia pun terbatuk dan memuntahkan darah segar. Tamparan tersebut juga melontarkan tubuh anak remaja tersebut sampai sekitar lima meter ke arah pinggir panggung.

Begitu telapak kakinya menapak, Panglima Segantang kembali melompat dan sebagaimana sebelumnya, mengulang gerakan menebas dari atas.

“Kurang pengalaman...” ejek si pawang kurus tinggi mencibir. Siamang kembali hendak menangkis dengan lengan kirinya.

Namun, kali ini tak terdengar suara logam bertemu logam. Di saat parang besar hendak menebas lengan siamang, Panglima Segantang mengendurkan pergelangan tangannya. Parang hanya menyentuh lengan siamang dengan ringan, lalu turun besamaan dengan pendaratan Panglima tepat di depan pawang kurus kering. Di saat itu pula ia mengubah gerakan menebas menjadi... tusukan!

“Jurus Parang Naga, Gerakan Kedua: Tanduk Menikam Gunung!”

Parang tiba-tiba terlihat memanjang dengan cepat. Sesungguhnya bukan parang itu sendiri yang memanjang, tapi tenaga dalam yang mengalir dan berkumpul di ujung parang seolah menjadi bilah parang tambahan. Kini panjang keseluruhan parang terlihat lebih dari dua meter.

Melihat tusukan yang bergerak cepat, Siamang Semenanjung segera meraih tuannya dan melompat ke samping kanan.

“Cres!” Tusukan berhasil menggores kulit rusuk kiri siamang. Darah segar pun menetes.

Siamang Semenanjung lalu meninggalkan tuannya di tempat ia menghindar, dan segera melompat dengan kedua tangan di atas kepala dan meraung keras. Luka di rusuk kiri memancing marah siamang untuk menyerang. Raungan keras siamang yang memiliki kekuatan kasta perunggu tingkat menengah, sedikit menggetarkan mustika tenaga dalam Panglima Segantang.

Melihat serangan yang semakin dekat, Panglima menggeretakkan gigi dan menggenggam erat parangnya. Pantang mundur! Panglima Segantang membalas serangan dengan serangan.

“Jurus Parang Naga, Gerakan Pertama: Cakar Menyayat Rimba!”

Bila pada jurus sebelumnya parang seolah memanjang, kini parang yang tadinya selebar satu setengah jengkal, bertambah lebar sampai selebar hampir tiga jengkal orang dewasa. Lagi-lagi, tambahan lebar parang disebabkan oleh tenaga dalam yang melingkupi bilah parang.

“Duar!” Hantaman kedua lengan siamang berbenturan dengan parang. Debu-debu beterbangan dan batu-batu kerikil kecil berserakan sampai ke arah penonton.

Siamang Semenanjung terpental. Napasnya terengah. Tuannya, Pawang Kera Gunung, terperangah. Seluruh penonton hanya terdiam. Dalam benak mereka bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang anak pada tingkat awal Kasta Perunggu dapat berhadapan dengan binatang siluman tingkat menengah Kasta Perunggu?

Di alam liar, kejadian seperti ini mungkin saja berlangsung. Tetapi, bagi binatang siluman yang dikomandoi oleh seorang pawang, ini adalah hal yang mustahil. Di alam liar, binatang siluman bertarung menggunakan naluri belaka, sedangkan di bawah pawang mereka bertarung dengan naluri dan arahan...

Hanya setelah debu tersibak mereka dapat menyaksikan Panglima Segantang yang berlutut pada satu kaki. Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Kedua telapak tangannya menempel pada tanah permukaan panggung. Ia sedang menyerap tenaga alam untuk mengisi mustika tenaga dalamnya yang kini terkuras setelah mengerahkan gerakan pertama dan kedua Jurus Parang Naga. Pasir dan kerikil di sekitar tubuhnya bergetar deras.

“Eh?” tiba-tiba terdengar reaksi Komodo Nagaradja dari dalam kesadaran Bintang.