Menyapa Lampu Jalan


Pembaca yang budiman, sebelumnya izinkan aku memperkenalkan diri. Namaku Claudya Maryane. Aku bukan penulis. Jadi, barangkali, kisah ini—aku lebih suka mengatakannya sebagai ingatan—merupakan satu-satunya ‘karyaku’ yang bisa kalian baca. Aku menabung kalimat demi kalimat selama bertahun-tahun untuk menyelesaikannya, hanya agar aku tidak menjadi gila. Itu saja. Dan harus kutegaskan sekali lagi, aku bukan penulis.

Tapi mantan tunanganku, Martin, merupakan seorang penulis. Ia menulis puisi dan prosa. Meski karyanya tidak cemerlang, setidaknya beberapa cara menulis dalam cerita ini kupelajari darinya. Aku harus sedikit berterima kasih kepadanya untuk hal tersebut, dan menghujat serta membencinya untuk kisah yang akan kalian baca ini.

Aku bertemu dengannya di sebuah kafe di wilayah Cikini. Berkenalan. Makan malam. Pacaran. Dan akhirnya bertunangan sekitar enam bulan setelahnya. Sesederhana itu. Toh tak ada salahnya, karena ia lelaki yang baik, pandai bersikap manis, setia, dan perhatian. Meskipun aku merasa ia merawat sebuah ruang gelap dalam dirinya. Tapi tak masalah, lah. Lagi pula, aku sudah cukup berumur kala itu dan tak mau menunda-nunda pernikahan untuk sekadar mencari yang terbaik.

Segalanya sederhana dan indah. Sampai beberapa bulan sebelum kami menikah, kami menyepakati suatu hal. Kami akan secara terang mengungkapkan sifat dan gelap masa lalu masing-masing. Aku mengungkapkan kepadanya bahwa aku pencemburu, egois, terkadang kasar, dan beberapa kali pernah kencan dengan sepupu mantan pacar terakhirku. Namun, ia menerimanya dengan dada selapang langit.

Lalu, tibalah waktu bagi Martin untuk mengungkapkan masa lalunya. Saat itu, hujan jatuh di luar perangkap musim. Wajah Jakarta begitu sejuk, dan orang-orang terlihat lebih tenteram. Kami mengendarai mobil menembus gelap menuju sebuah jalan—aku harus merahasiakan nama jalannya dari kalian demi kebaikan kita bersama—di wilayah pinggiran kota.

“Aku ingin mengenalkanmu kepada beberapa lampu jalan, sambil mengenal masa silamku,” kata Martin, yang kubalas dengan senyum sebab tak mengerti maksud perkataannya.

Mobil kami parkir di sebuah bengkel tua. Kemudian, ia menuntunku menyusuri trotoar jalan. Di sana gelap begitu gemerlap, sementara cahaya hanya sepintas-pintas dari kendaraan yang jarang lewat. Ini jalan paling sepi di antara seluruh jalan yang pernah aku tempuh di kota ini.

“Kamu mau tahu kenapa di sini gelap?”

“Kenapa?”

“Karena lampu-lampu jalan di sini memilih mati bersama seorang perempuan.”

“Maksudnya?”

Ia tidak menjawab dan langkahnya tetap terlantun.

Kami berhenti di dekat sebuah lampu jalan yang mati. Dan tanpa kuduga, ia menyapa lampu jalan tersebut dengan panggilan “Darwin”. Ia berdiri di bawah kepala lampu yang tertunduk, dan menumpahkan kemurungan. Entah mengapa, warna Martin terasa berubah seharu biru. Tak lama, air matanya menggerimis.

“Namanya Darwin.” Ia menepis gerimis matanya, kemudian membuang pandang ke wajahku, “Clau, sapalah Darwin.”

Tenggorokanku mampat. Tak satu kata pun dapat keluar. Menyapa lampu jalan? Bahkan, cuma orang gila yang terlalu gila mau melakukannya. Tapi, mengingat segala penerimaannya padaku, aku tak membunyikan keluhan. Mungkin cuma lelucon yang berakhir kejutan manis.

“Claudya,” panggilnya, sambil menolehku, “sebelum bertemu denganmu, aku pernah mencintai seorang perempuan yang disangka gila sebab hampir setiap hari menyapa lampu-lampu jalan yang ada di sini. Aku harap, kamu tak menganggapku gila jika saat ini aku melakukan hal yang sama dengannya.”

Kepalaku semakin sulit memahami maksud perkataannya. Aku seolah disedot oleh ruang gelap dalam dirinya; ruang yang sering kali membuatku merasa berjarak darinya. Tapi, hei, Claudya, beberapa bulan lagi kau akan menikah dengan lelaki itu. Kamu cukup melewati malam dengan sedikit kesabaran.

“Maksudmu, perempuan yang mati itu?” aku menarik napas, “siapa namanya?”

“Raslene, Clau.”

“Nama yang bagus,” jawabku sekenanya.

“Tapi Raslene tidak gila, Clau, kamu percaya kepadaku, kan?”

“Ya. Kamu yang gil__”

“Ia cuma seorang yang sanggup mencintai banyak hal yang bahkan tak menarik bagi sebagian besar orang.”

“Ya, Tin, sebagian itu termasuk aku.”

Aku berusaha meredam gejolak amarah dalam diriku. Sangat tidak adil jika ia menerima kelam masa laluku, tapi aku tak menerima sendu masa lalunya. Ia pun terlihat sulit mengatasi dirinya.

“Sayang, masih ada berapa lampu jalan lagi?” aku bertanya dengan kalimat yang lebih tepatnya berkeluh, “kalau untuk satu lampu jalan kita menghabiskan waktu selama ini, mau pulang jam berapa?”

“Masih ada empat lagi, Clau. Tapi sebentar. Aku ingin menjelaskan sedikit padamu bahwa Darwin merupakan salah satu yang memiliki cahaya paling terang.”

“Ya, Tin, aku percaya. Sungguh. Bahkan saking terangnya aku bisa melihat komedo di alis gelapmu.”

“Maksudku, sebelum Darwin dan teman-temannya memilih mati bersama Raslene.”

“Ya, Tuhan, Martin,” aku menghela napas panjang, “ini cuma sekumpulan lampu yang diabaikan negara. Tolong jangan mempuitisasikan sesuatu.” Raut wajahnya berubah kecewa. “Aku percaya. Tapi, ummm, astaga! Beri aku waktu untuk memahami semua ini.”

“Clau, dulu aku dan Raslene sering berteduh dari kegelapan di bawah Darwin. Ia dan teman-temannya memadamkan hidup tepat setelah Raslene mati. Sudah berulang kali juga beberapa orang datang untuk kembali menghidupkan mereka, tapi selalu gagal.”

“Aku. Per.ca.ya. Oke?”

“Oke.”

“Next.”

Angin menyelinap ke celah jaketku. Dingin. Tapi terasa ada dingin yang lain mendemamkan pikiranku. Aku baru menyadari, rupanya lelaki di sebelahku ini tak pernah sanggup utuh kurengkuh. Sebagian dirinya tertinggal di sebuah dunia yang tidak dapat aku pahami; dunia di mana seorang perempuan bisa meyakinkannya bahwa memberikan nama pada lampu jalan merupakan suatu hal normal.

“Siapa nama lampu ini?”

“Lisa.”

“Perempuan?”

“Ya.”

“Apakah dia secantik Keira Knightley?”

“Ya.”

“Gila!”

“Dia cantik, namun sakit-sakitan.”

Angin semakin giat menyelinap ke celah jaketku.

“Mungkin maksudmu sering masuk angin. Dan bagiku sulit rasanya membayangkan apabila aku menjadi Raslene yang harus mengeroki tubuh Lisa.”

Ia mengabaikan ucapan sinisku, malah mengulurkan tangannya ke tubuh Lisa. Kemudian, telapak empat jarinya sibuk meraba. Lama. Sebelum akhirnya berhenti pada satu bagian.

“Sini, Clau, ulurkan tanganmu.”

Aku mendekatinya. Dengan sedikit ragu kuulurkan tanganku. Sekarang, telapak jari-jariku menggantikan miliknya di tubuh Lisa. Aku merasakan ceruk goresan di sana.

“Baca dengan tanganmu, Clau.”

“Andi.”

“Andri,” katanya, “Andri dan Narcia dalam kurungan hati tanpa panah lebih tepatnya, Clau.”

“Oke. Terus, maksudnya?”

“Kata Raslene, pada suatu malam sebelum kami bertemu, Lisa terlihat meredup. Ia panik dan segera mencari tahu apa yang terjadi. Rupanya, ia menemukan goresan di tubuh Lisa. Waktu itu, cahaya yang menderas dari nganga luka itu mengalir hingga ke trotoar. Banyak sekali. Hingga Lisa pun mati. Raslene menangis dan berdoa terbata-bata agar Tuhan membiarkan nyawanya menggantikan nyawa Lisa. Tak lama keajaiban terjadi. Entah mengapa mata Raslene mengalirkan cahaya. Dan cahaya itu perlahan merambat naik ke tubuh Lisa sehingga membuatnya kembali menyala. Namun, perlahan-lahan wajah Raslene kehilangan terang. Menjadi sedikit kehitaman maksudk__”

“Hoam.”

“Clau, kamu harus dengarkan aku sebentar.”

“Atau dengan kalimat yang lebih sederhana, dia cuma ingin berkata: Hei, Martin, aku ini sebenarnya putih dan cantik. Kulit hitamku ini adalah hasil pengorbanan yang menakjubkan.”

“Jangan sinis, Clau, Raslene tak pernah berbohong.”

“Dia tidak pernah berbohong, sebab kamu terlalu percaya.”

“Tidak, Clau, dia memang tak pernah berbohong.”

“Oke. Dua lampu jalan lagi, kan? Aku sudah sudah letih. Ingin segera sampai ke rumah dan terbebas dari masa lalumu yang aneh ini.”

Perjalanan ke lampu jalan berikutnya hanya kami tempuh kurang dari satu menit. Aku berjalan cepat dipecut rasa jengkel.

“Oke. Siapa namanya?”

“Pohon.”

“Bukan. Lampu jalan ini, Martin!”

“Ya, Clau, namanya Pohon.”

“Oh.”

“Apakah kamu tak bisa melihat bahwa Pohon sedikit lebih jangkung dibandingkan yang lain?”

“Tidak.”

“Clau, Raslene menamakan lampu jalan ini Pohon karena ia satu-satunya lampu jalan yang bisa bertumbuh. Dulu, Pohon adalah lampu jalan paling pendek di sini. Hanya setinggi dada orang dewasa. Hal itu membuatnya menjadi lampu jalan yang tidak percaya diri.”

“Oh, Tuhan,” aku mengelus tubuh Pohon, “menyakitkan sekali jika aku ditakdirkan menjadi lampu jalan yang kuntet dan minder.”

“Jangan begitu, Clau, kamu harus belajar menghargai segala yang ada dan hidup di sekitarmu.”

“Ya, pun kamu. Kamu harus belajar menghargai calon istrimu dengan tidak menceritakan hal yang tak akan bisa aku percaya!”

“Clau! Kenapa kamu harus marah, hah!?”

“Aku lebih baik mendengar kamu bolak-balik masuk lokalisasi daripada mendengar cerita gilamu!”

“Tapi aku tak pernah ke lokalis__”

“Atau paling tidak cerita betapa bahagianya kamu dengan mantan-mantanmu.”

“Aku cuma merasa bahagia dengan Ras__”

“Brengsek!”

“Dan … dan kamu, Clau.”

Aku menangis. Aku merasa kalah. Menyakitkan menghadapi kenyataan yang baru saja kudengar.

Aku membalikkan tubuh, hendak memaksa kedua tungkai gemetarku untuk berjalan. Tapi, ia menarik ujung jaketku. Entah mengapa, aku tergerak balik menatapnya. Lalu, kami duduk di trotoar jalan, dan masing-masing lama menyimpan suara.

“Lanjutkan ceritamu tentang Pohon. Aku mau mendengarnya.”

“Lain waktu saja kalau kamu keberatan, Clau.”

“Aku mau malam ini. Selesaikan kisah masa lalumu.”

“Kata Raslene, Pohon sebenarnya bisa saja menjadi tinggi jika ia mau berdoa. Tapi ia begitu angkuh. Sampai pada suatu hari, ketika cahaya milik Lisa menimpa tubuh Raslene, Pohon untuk pertama kalinya jatuh cinta.”

Matanya menjadi cermin yang menangkap sendu langit, napasnya terhela pelan; berat dan dalam. “Pohon jatuh cinta pada bayangan Raslene. Maka sejak saat itu, ia rajin berdoa semoga bertumbuh lebih tinggi sehingga bisa menciptakan bayangan tubuh Raslene seperti lampu jalan di sekitarnya.”

“Tin, pasti Raslene cantik sekali sampai lampu jalan saja bisa mencintai bayangannya.”

“Kamu juga cantik, Clau,” ia tersenyum lembut, “bahkan jauh lebih cantik.” Pandangnya teduh ke arahku, “Oh, satu lagi, Clau. Pohon kerap protes kepada Raslene tentang namanya, karena ia jadi sering kali takut ditebang.”

“Ya.”

Kami bangkit. Menuju lampu jalan terakhir.

“Namanya Daus, Clau. Dulu, Raslene mati tepat di kakinya …”

Matanya berubah keruh. Angin yang meruncing menikam dadaku. Pecah. Aku seolah kehilangan sesuatu yang memberatkanku.

“Sebelum Daus memilih mati, ia sempat menceritakan kepadaku kejadiannya. Ia juga satu-satunya lampu jalan yang bisa berbicara kepadaku. Malam itu hujan deras, dan terjadi pemadaman listrik. Semua lampu jalan di sini mati. Tentunya termasuk Darwin, Lisa, Pohon, dan Daus. Raslene kuyup di belakang tubuh Daus. Menepi dari kesunyian yang memadati jalan.

Keadaan terasa mencekam. Entahlah. Kata Daus, waktu itu tak ada satu pun kendaraan yang lewat. Lalu, saat hari sudah larut, seorang gadis cantik berpayung merah terlihat di kejauhan. Dari arah yang berlawanan, secara kebetulan sekumpulan lelaki mabuk tengah berjalan limbung. Karena takut, ketika berjarak hanya beberapa meter dari sekumpulan pria mabuk itu, si gadis cantik memilih menyeberang jalan. Namun, salah satu dari para pemabuk itu segera menghadang langkahnya. Perlahan-lahan gadis itu mundur teratur. Dan tiba-tiba, pria bertubuh paling bongsor menyergapnya. Gadis yang hendak diperkosa itu meronta-ronta. Tapi derap hujan menggila, sehingga teriakannya hanya terdengar seperti bisikan.

Raslene segera keluar dari persembunyiannya. Hendak menolong gadis itu. Tapi salah seorang dari sekumpulan pria mabuk menghadangnya. Menendangnya hingga terpental beberapa meter. Tak cukup sampai di situ, pria itu menginjaknya. Meludahinya. Mengatainya perempuan gila. Kemudian setelah puas, ia kembali beralih dan membuas pada gadis cantik itu. Raslene mencoba bangkit, namun tak sanggup. Tubuhnya nyeri dan kelelahan. Ia hanya sanggup menangis. Dan,” ia menarik napasnya dalam, “tanpa disangka dari matanya mengalir lagi cahaya. Mula-mula cahaya itu menggenang di trotoar. Kemudian perlahan merambat dari kaki ke dada Daus. Namun, sekumpulan pemabuk yang terlanjur beringas tak menyadari keajaiban berada di dekat mereka.

Air mata Raslene perlahan-lahan merambat hingga ke kepala Daus. Dan akhirnya membuat Daus menyala. Melihat lampu yang tiba-tiba menyala, para pemabuk panik. Kemudian mereka lari kocar-kacir. Meninggalkan gadis cantik yang setengah telanjang itu.

Tapi, Clau, Raslene tak bisa berhenti menangis. Air matanya semakin menderas. Daus menjadi sangat terang, dan cahaya menggenangi separuh jalan. Perlahan-lahan, warna Raslene pudar. Pun bayangannya. Lalu esoknya, Daus, Pohon, Lisa, dan Darwin memilih memadamkan hidup mereka sebab kehilangan Raslene …”

Pembaca yang budiman, setelah mendengar cerita tunanganku, tentunya aku punya satu kesimpulan; dia gila. Maksudku, dia memang penulis dan berimajinasi jelas bukanlah sebuah dosa. Tapi mengarang masa lalu, serta mengatakan kenyataan yang mengada-ngada membuatku tak bisa lagi bertahan mencintainya. Namun, aku jelas tak bisa mencampakannya saat itu juga. Setelah kami pulang, sedikit demi sedikit aku mulai mengambil jarak darinya. Sampai beberapa bulan kemudian, aku benar-benar meninggalkannya dengan alasan menemukan lelaki yang lebih baik.

Seperti biasa, ia menerima segala keputusanku dengan dada selapang langit. Bahkan, ia mengucapkan kalimat perpisahan yang manis disertai doa-doa baik. Dan, setelah itu, kami tak pernah saling menghubungi kembali.

Sekitar tiga bulan kemudian, ia ditemukan mati tepat di kaki Daus. Anehnya, Daus dan kawan-kawannya telah kembali menyala. Dari sejumlah bukti-bukti yang ditemukan polisi—catatan harian, novel yang tidak selesai, puisi-puisi buruk, dan berbutir-butir obat penenang—ia dinyatakan mati bunuh diri.

Menurut keterangan kepolisian, ia mengalami depresi karena tak sanggup menyelesaikan novelnya. Namun, kenyataannya bukan seperti itu, para pembaca. Ia memang telah merancang alasan bunuh dirinya. Catatan harian, novel yang tidak selesai, puisi-puisi buruk, dan pil-pil penenang itu bagian dari upayanya mengelabui polisi sekaligus membuatku tidak terlibat dalam keputusan cerobohnya. Alasan sebenarnya, pembaca yang budiman, karena ia masih mencintaiku. Ya, ia masih mencintaiku. Begitulah yang dikatakan Daus ketika kebetulan pada suatu malam aku melewatinya.


===


Jakarta, 2015


Oleh Raditya Nugi

Lahir di Jember, 21 Maret 1989. Cerpennya pernah terbit dalam antologi cerpen bersama Dunia di Dalam Mata (Katabergerak, 2013), Lima Teguk Kopi (AG Litera, 2015). Dan, karya lainnya adalah novel Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa (Bypass, 2016).