Jendela yang Membingkai Lolita



Dunia tengah murung sebab diguyur hujan Februari. Valdi duduk di kamarnya. Kopinya tandas, tetapi kesedihannya belum. Vony, kekasihnya, beberapa jam lalu memutuskan hubungan mereka. Alasannya bukan karena ia terlalu baik. Jika saja alasannya seklise itu, tentu saja ia bisa memberikan perlawanan. Namun, kenyataannya lain. Voni sudah tak mencintai Valdi, karena baginya, hubungan mereka membosankan.

Sebetulnya bukan kehilangan Vony yang membuat Valdi bersedih. Melainkan karena berakhirnya hubungan mereka, sama artinya dengan kegagalannya mewujudkan rencana hidup yang sempurna. Ia adalah pembenci segala ketidaksempurnaan. Tentu saja hubungan gagal termasuk di dalamnya.

Hampir seluruh yang direncanakan Valdi memang terjadi secara akurat dalam kehidupannya. Ia selalu jadi juara kelas di sekolah, satu dari lima lulusan terbaik di universitas, dan kariernya di kantor pun menggembirakan. Tentu saja, Vony adalah bagian dari rencana sempurnanya.

“Harusnya tinggal beberapa langkah lagi,” keluh Valdi, “menikah, memiliki anak lelaki kembar bernama Chairil dan Anwar, lalu mati mendadak karena sakit jantung pada usia 58.” Bahkan, kematian pun telah ia rencanakan. Mati mendadak, baginya, paling tidak sakit atau merepotkan orang lain. Tetapi, sialnya, satu kata ‘putus’ dari Vony merusak segalanya.

Berbulan-bulan kemudian, hidup Valdi tak lagi teratur. Wajahnya tak mengenal pisau cukur, matanya murung, rambutnya kusut, dan tidurnya kurang. Ia juga sering terlambat ke kantor, serta tenggat kerjanya selalu mengecewakan perusahaan.

Pada pagi yang tergesa-gesa, ia setengah berlari mengejar jam keberangkatan bus menuju kantornya. Ini hari yang menjengkelkan dan penuh kecerobohan. Ia bangun terlambat, tak sempat mandi, dan kopi tumpah di kemejanya. Ia membenci hari ini. Atau lebih tepat, ia membenci seluruh hari setelah kepergian Vony.

Saat melewati tikungan kompleks, tiba-tiba wajah seorang perempuan di dalam jendela sebuah rumah melemahkan gesit tungkainya. “Itu wajah yang diciptakan Tuhan dengan serius,” gumamnya. Dan, saat berhenti agar lebih fokus, ia merasa apa yang ia pikirkan benar semata.

Ia sedikit menyesal, mengapa setelah lima tahun tinggal di kawasan ini, ia tak juga menyadari bahwa lingkungan kumuh ini memiliki sesuatu yang menakjubkan.

Itu adalah sepotong wajah yang paling membuat Valdi takjub. Segala bentuk yang ada di sana memang sudah selayaknya seperti itu. Maksudnya, mata itu memang harus murung, sebab kalau tidak, bibir mungil merah jambu itu akan terlalu menonjol. Juga hidung lancip dengan lubang sempit itu, jika lebih lebar sepermilimeter saja, jadi tidak cocok dengan rahang tirus-keras yang membingkainya. Barangkali, gurau Valdi kepada dirinya sendiri, Tuhan bahkan tidak percaya diri dan harus membeli penggaris saat merancang wajah itu.

Ia terpaku di belakang tiang listrik yang tertancap di dekat semak lahan kosong. Sementara di seberang, perempuan itu belum bergerak satu sentimeter pun. Perempuan itu seperti melamun, tetapi Valdi tak mencoba menebak sebabnya. Yang penting, ia bisa memandangi wajah itu lebih lama.

Perempuan yang terkurung jendela berbingkai coklat itu terlihat bagai lukisan sempurna yang sanggup melampaui zaman. “Ini jauh lebih indah daripada Mona Lisa. Maka, bukan tidak mungkin aku akan melampaui Leonardo Da Vinci,” desisnya.

Pikiran Valdi semakin liar. Ia menganggap apa yang terbingkai jendela itu adalah kesatuan yang utuh. Jendela itu, perempuan itu, bahkan lemari hitam dengan kayu tak berkualitas, dan cangkir dengan merek kopi instan itu. Baginya, mereka adalah bagian dari rencana Tuhan yang sempurna. Bahwa lemari itu tidak tersusun dari kayu bagus, dan cangkir yang cacat kupingnya di genggaman perempuan itu, adalah caraNya membuat sang objek utama terlihat sempurna.

Ini rencana Tuhan yang sempurna, termasuk juga kepergian Vony, patah hatiku, dan kebetulan yang menakjubkan pagi ini.

Dering ponsel membuyarkan pikiran Valdi. Nama atasannya yang muncul di layar membuat ia bergegas melanjutkan rencana semula: mengejar bus. Mungkin, ia akan terlambat lagi. Tetapi tak masalah, sebab cinta ternyata selalu tepat waktu.

Sepanjang laju bus, dalam hati ia berjanji akan mengembalikan kesempurnaan hidupnya bersama perempuan itu. Dan, untuk rencana sempurna, tentunya diperlukan awal yang sempurna.

**

Kehidupan Valdi kembali seperti semula. Ia tampak klimis, bugar, dan sampai kantor tepat waktu. Alasannya adalah rencana perkenalan sempurna dengan Lolita, perempuan yang cantik terbingkai jendela. Nama itu ia ketahui dari tetangganya. Juga informasi bahwa Lolita adalah anak seorang pengusaha asal Bandung yang belum genap seminggu pindah.

Tiba-tiba saja Valdi percaya, Tuhan menciptakan patah hati untuk menjaga populasi seniman. Dan, ia, sekarang, telah dipilih menjadi salah satunya. Maka, ia berpikir untuk mempersembahkan kepada Lolita lukisan ‘Mona Lisa’ versi Valdi Da Vinci. Karena selain ia memang orang terpilih, ia juga mesti membuat perkenalannya dengan Lolita sempurna dan berkesan.

Dengan bantuan Google, serta temannya yang pelukis, ia memutuskan belajar melukis. Ia percaya, melukis adalah keterampilan, sedangkan inspirasi bernama Lolita adalah anugerah. Yang pertama bisa dimiliki semua orang, sedangkan yang kedua hanyalah miliknya.

**

Setelah lebih dua bulan berubah status dari lelaki patah hati menjadi ‘seniman’, Valdi telah hapal kebiasaan Lolita. Hampir setiap hari, sekitar pukul tujuh pagi, dia selalu duduk di tempat dan posisi yang sama. Dan, sungguh ajaib, cangkir dengan merek kopi instan yang pertama dilihatnya digenggam Lolita tak pernah berubah. Mungkin itu adalah cangkir favorit Lolita. Dan, kalau aku benar menikah dengannya, aku akan membayar berapa pun agar perusahaan kopi instan itu terus menerus memproduksi suvenir yang sejujurnya payah itu.

Hampir setiap pagi, pada jam yang sama sebelum berangkat ke kantor, ia bersembunyi di balik semak di seberang rumah Lolita. Ia merekam sepenuh cinta perempuan cantik itu dengan mata dan ingatannya. Sesekali, ia akan memotret Lolita, namun lebih sering membuat sketsa wajahnya di kertas gambar. Lalu, malam setelah pulang kerja, ia akan memindahkan apa yang sanggup ia rekam dan bayangkan ke atas kanvas.

Layaknya mencoba hal baru, pada mulanya Valdi mengalami kesulitan. Namun, kegigihan selalu berbuah manis. Ia hampir menyelesaikan lukisan yang mendekati kesempurnaan objeknya. Tinggal beberapa polesan lagi dan, voila, segalanya sempurna.

Sialnya, persoalan menghampiri Valdi. Pada suatu Selasa pagi, ia mendapati Lolita mengganti cangkirnya. Dan, entah sebab alasan apa, ia merasa terpukul. Tangannya mencengkeram erat semak, rahangnya berdenyut, dan darahnya mendidih.

Ia menarik napas dalam, mencoba menghirup kembali amarahnya yang hendak berhamburan. Baginya, cangkir baru Lolita telah menghancurkan kesempurnaan lukisannya. Untungnya, tak butuh waktu lama hingga ia bisa mengatasi keadaan. Lalu, ia mengintip ke seberang, berusaha merekam lekuk dan detail cangkir baru itu dengan sepenuh sabar. Setelah dirasa cukup, ia membatalkan rencana ke kantor dan kembali ke rumah.

Di luar kesadarannya, ia membanting lukisannya, lalu menginjak-injaknya sambil berteriak bagai orang gila. Tak puas, ia mengambil pisau dapur dan merobek jerih payahnya selama ini. Kemudian, setelah badai di hatinya reda, ia terisak sambil memeluk lukisannya.

Esok harinya, ia memulai segalanya dari awal dan tak kehilangan ketekunan. Berkat keterampilan melukis yang telah meningkat, ia berhasil melakukannya lebih cepat. Hanya butuh kurang dari satu bulan, ia tinggal menyelesaikan beberapa detail lukisan.

Sekali lagi, kegembiraannya kandas. Sepulang dari luar kota untuk urusan kantor selama seminggu, ketika melewati rumah Lolita, ia mendapati apa yang dibingkai jendela itu telah banyak berubah. Lemari hitam yang biasanya ada di sana telah berganti tembok yang catnya pun berubah. Lebih sialnya ada poster Justin Bieber—penyanyi muda Amerika yang ia benci—di sana.

Sontak amarahnya bangkit kembali. Ia membenci Justin Bieber, dan semakin membencinya sebab telah menggagalkan lagi kesempurnaan lukisannya. Ia mengambil batu besar, hendak melempar jendela rumah Lolita. Namun, logika dan cintanya yang besar melindapkan niat buruknya.

Ia pulang. Seperti sebelumnya, ia menghancurkan lukisannya. Kali ini, kegilaannya makin menjadi-jadi. Tak puas melihat lukisannya hancur, ia mengambil bensin dan membakarnya. Lalu, setelah merasa amarahnya mengabu dilahap api, ia memadamkannya.

Ia menangis bagai anak kecil. Air mata menyelamatkannya dari rasa marah yang ganas dan hendak membakarnya hidup-hidup. Setelah kesedihannya terasa bisa dinikmati, ia memasang lagi kanvas baru dan merencanakan segalanya dari awal. Ia terduduk lesu memandang kanvas kosong bagai memandang hatinya. Baginya, yang pantas mengisi keduanya hanyalah Lolita. Sebaris doa pun terlintas di hatinya. Semoga album penyanyi tengil itu tak laku, Tuhan, meskipun aku tak pernah tahu selera musikMu.

**

Hampir satu bulan. Apa yang dibingkai jendela Lolita tidak berubah. Kali ini, Tuhan seolah menjawab kegigihan Valdi. Meskipun ia masih sedikit kecewa sebab album terbaru Justin Bieber tetap saja laku. Ia mulai menyiapkan pakaian yang paling pas dan pantas, kata-kata yang memikat, serta alasan paling masuk akal untuk mengetuk pintu rumah Lolita. Dan, untuk mematangkan segala persiapannya, ia, untuk terakhir kali, memantau jendela Lolita.

Lolita masih selalu duduk di sana sambil melamun. Juga masih cantik dan ia dambakan. Tetapi, ia masih saja belum punya keberanian untuk memulai perkenalan. “Perlu beberapa detail yang mesti diubah sedikit,” desisnya.

Ia pulang ke rumah dan kembali bekerja dengan kuas-kuasnya. Tanpa sadar, ia menghabiskan waktu berhari-hari. Lanjut berminggu-minggu. Anehnya, setiap kali memandangi jendela rumah Lolita, ia selalu merasa tak puas. Ia merasa perlu ada yang diubah atau ditambah pada lukisannya. Berulang kali, hingga pada suatu hari, Lolita menyergapnya.

Tuduhan negatif dari Lolita pun dialamatkan kepadanya. Wajahnya pasrah dituding kata-kata Lolita yang tajam. Untungnya, ia bisa mengatasi keadaan. Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, ia berhasil menjelaskan segalanya pada Lolita.

“Oke,” kata Lolita, “coba buktikan apa yang kamu katakan. Aku ingin melihat lukisan itu.” Kemudian, mereka berjalan kaki menuju rumah Valdi.

Sepanjang tempuh tungkainya, Valdi merasa gugup. Keringat meluncur dari wajahnya. Ia takut Lolita kecewa atau tak suka pada lukisannya. Namun, jika ia menunda Lolita melihat lukisan itu, maka berarti ia membenarkan tuduhan negatif Lolita. Dan, segalanya bakal kandas.

Valdi mempersilakan Lolita masuk, dan sedikit berbasa-basi menawarkan minum. Lolita menolak sebab alasan diburu waktu. Akhirnya, ia masuk kamar, dan membawa lukisannya ke hadapan Lolita.

“Itu tidak mirip denganku. Anda berbohong. Perempuan di lukisan itu jelas berbeda denganku,” bantah Lolita. “Maksudku, ummm, dia cantik sekali.”

“Itu lukisanmu. Aku membuatnya semirip mungkin denganmu. Jendela itu, lemari itu, cangkir kopi dan poster Justin Bieber itu.”

“Demi Tuhan, jika Anda bilang ini kepada Justin Bieber, aku bersumpah dia pasti percaya bahwa itu adalah lukisannya. Lihat, kau bahkan lebih sempurna melukis bocah konyol itu.”

“Demi Tuhan, itu lukisanmu.” Valdi terdengar seperti memohon kepercayaan Lolita

“Jangan mengada-ada!”

“Kau harus percaya!”

“Kau tahu, aku menempel poster Justin Bieber karena aku sangat membencinya?”

“Demi Tuhan?”

“Nah, kau pikir kepercayaan itu tidak melibatkan logika, hah!?”

Valdi kehilangan kata-kata.

“Itu bukan aku, Bung, karena perempuan itu terlalu sempurna. Bahkan …,” Lolita menarik napas, “bahkan aku yakin kau bisa orgasme lebih cepat saat membayangkan wajah itu dibandingkan jika membayangkan wajahku.”

“Tidak, Loli. Sumpah. Aku tak pernah sekali pun berpikir membayangkanmu untuk hal-hal semacam itu.”

“Oh, Bung,” Lolita tersenyum kecut, “terima kasih telah menghinaku.”

“Maksudnya?”

“Sudah, lah, Bung. Aku cuma bercanda.” Lolita mengambil bungkus rokok dari sakunya, mengambil sebatang, lalu membakarnya. “Bung, sekali lagi harus aku tegaskan, itu bukan lukisan wajahku.”

“Tidak, Loli, lihatlah, ini benar-benar lukisanmu,” suara Valdi bergetar. “Aku membuatnya hampir setahun hanya untuk mempersiapkan perkenalan yang sempurna untukmu.”

“Ya, Tuhan … entah mengapa hampir seluruh seniman yang kutemui cengeng dan suka membuang waktu,” Lolita mengetuk dahinya, “oke. Sekarang, kita sudah berkenalan. Lalu?”

Valdi mencoba menumpahkan perasaannya, sambil memilah kata yang paling tepat dan bisa dipahami Lolita.

“Tuan Pelukis yang baik,” Lolita memutus kebisuan, “kalau Anda bersikeras bahwa ini lukisanku. Oke. Baik. Aku berusaha menerimanya.” Tatapan Lolita menajam. “Sekarang pertanyaannya aku ubah. Apakah lukisan yang tidak mirip denganku meskipun Anda bersikeras bahwa itu aku, hendak Anda berikan padaku?”

“Ya, lukisan ini untukmu, Lol, sebagai awal perkenalan kita. Dan …”

“Dan apa?” tanya Lolita, ketus. “Hei, Bung, aku sudah punya kekasih. Sebentar lagi kami bertunangan. Atau jika Anda tidak keberatan, bagaimana jika dijadikan hadiah pernikahan kami nanti?”

Mendengar pertanyaan Lolita, tubuh Valdi seolah kehilangan berat. Kesedihan berkilauan pada matanya.

“Oh, Tuhan. Anda seniman, dan tentunya baca Kahlil Gibran. Pasti Anda orang yang pandai melepaskan orang yang Anda cintai, bukan?”

“Tidak,” jawab Valdi, “maksudku, maaf. Lukisan ini adalah milik Lolita yang aku cintai. Kamu bukan dia.”

“Oke, tidak ada masalah. Boleh aku pergi?”

“Silakan.”

Lolita pergi. Meninggalkan kecewa untuk Valdi. Namun, beberapa jam setelah dia pergi, Valdi bisa memaafkannya. Baginya, perempuan bermulut ketus itu adalah Lolita yang lain, bukan Lolita yang dicintainya sepenuh sungguh.

Ia memandang Lolitanya yang murung di bingkai jendela. Tiba-tiba, terbersit di pikirannya untuk melukis dirinya sendiri di samping sang pujaan hati. Barangkali, pikirnya, kehidupan sempurna hanya bisa kekal pada kanvas belaka.

**

Berbulan-bulan. Valdi tak juga berhasil melukis dirinya sendiri. Hingga akhirnya, usai merenung beberapa jam di hadapan cermin, ia mulai kembali bekerja dengan peralatan lukisnya. Lalu, pada malam harinya, ia berteriak “eureka!” di hadapan seekor keledai.


===


Jakarta, 2015


Oleh Raditya Nugi

Lahir di Jember, 21 Maret 1989. Cerpennya pernah terbit dalam antologi cerpen bersama Dunia di Dalam Mata (Katabergerak, 2013), Lima Teguk Kopi (AG Litera, 2015). Dan, karya lainnya adalah novel Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa (Bypass, 2016).