Berkemas


“Jangan lupa bawa lipstik dan bedakmu,” kata Anto kepada Mayang. Sementara dalam hatinya, Mayang berniat meninggalkan hampir semua yang ia miliki di kamar ini: lipstik, bedak, dosa, Anto, juga status pelacurnya.

“Aku mau beli yang baru saja, Mas,” jawab Mayang. Anto hanya menggeleng, kemudian menutup pintu dan hilang ditelan bising dangdut koplo.

Mayang mulai memilah pakaian yang hendak ia bawa. Pakaian yang sedikit tertutup ia masukkan ke lambung koper, sedangkan beberapa pakaian kerjanya ia benamkan ke dalam plastik. Meskipun ia hampir yakin tak memerlukan pakaian kerjanya lagi, ia tetap berjaga untuk segala kemungkinan. Toh, tak ada tempat di belahan dunia mana pun yang bisa ramah pada bekas pelacur, kecuali tempat pelacuran. Begitulah keyakinannya.

Mayang sudah bersiap untuk segala hal buruk. Apabila tidak ada pekerjaan lain untuk menyambung hidup, ia akan memilih mengamen.

Menjadi penyanyi dangdut terkenal adalah impian yang mengajaknya hijrah dari Cianjur ke Jakarta lima tahun silam. Apalagi Anto, lelaki kampungnya yang terkenal sukses mengadu nasib di Ibu Kota, saat itu, mengatakan, bahwa dirinya bisa mengenalkan Mayang kepada beberapa produser musik di Jakarta.

Mayang yang belum genap 20 tahun kala itu telah bersiap untuk segala hal buruk. Ketika di Jakarta Anto hanya memberinya panggung kecil di Bar Bunga, di kawasan pelacuran, ia tak terlampau kecewa. Ia sepenuhnya menyadari suaranya pas-pasan, wajahnya sekadar manis, dan goyangnya pun kurang heboh.

**

“Panggung itu milikmu, May,” bisik Anto. Kemudian, ia mengajak Mayang ke lantai dua, melewati lorong yang membariskan kamar dan memasuki salah satunya.

Kamar itu jauh dari bayangan Mayang tentang kehidupan di kota yang gemerlap dan penuh orang kaya. Luasnya tak lebih besar dibandingkan kamarnya di kampung, meskipun berlantai keramik. Kasurnya kapuk terbalut seprai berbau apak. Di sudutnya ada ruang serupa kamar mandi, namun hanya terdapat toilet jongkok, pancuran kecil, bak semen. “Ini kamar bilas namanya, May,” jelas Anto, “kamu pasti bakal sering menggunakannya.”

“Oh iya, May, jangan lupa matikan lampu dan malam ini jangan kunci kamarmu.” Anto kemudian memberi ruang untuk Mayang beristirahat.

Untuk kali pertama, Mayang tak menuruti seluruh perintah Anto. Ia tak memadamkan lampu kamar, dan belum tidur sebab pulas pejamnya tertinggal di kampungnya. Ia merindukan segala yang ia tinggalkan demi peruntungan nasib; ketenteraman, bapaknya yang miskin, ibunya yang penyabar, dan kamarnya.

Akhirnya, Mayang terlelap dalam mimpi buruk. Namun, tiba-tiba, Anto membangunkannya pada kenyataan yang lebih buruk. Anto menyergap tubuhnya, melucuti pakaiannya, dan kemudian menciumi tubuhnya secara beringas.

Teriakan Mayang teredam bekap tangan kasar Anto. Tubuhnya terkurung nafsu lelaki perkasa itu. Dan, ketika Anto memasuki tubuhnya secara paksa, ia hanya bisa memerdekakan kesedihan dan amarahnya lewat air mata.

“May! Percuma kamu berteriak! Ini salah satu usahaku menyelamatkamu. Kamu pilih mana, diperawanin sama lelaki yang nggak dikenal atau sama aku?!”

Mayang terdiam, menyesal mengapa ia tak menuruti perintah Anto memadamkan lampu. Paling tidak, ia tak harus melihat wajah keparat itu.

Setelah gairah Anto tumpah tuntas, dia meninggalkan tubuh telanjang Mayang. Itu kali pertama bagi Mayang. Sakitnya bukan main. Tetapi, bagian paling sakit adalah hatinya. Ia membenci Anto, namun lebih membenci dirinya sendiri yang tak mengikuti nasihat ibunya untuk membatalkan keberangkatan ke Jakarta.

Usai malam buruk itu, Mayang terus menerus dikunci di kamar. Hanya sesekali Anto datang membawa makan dan minum. Dan, setiap Anto datang, Mayang tahu belaka ia harus melakukan hal yang dibencinya; tidur dengan lelaki yang tak dicintainya. Setiap selesai memerkosanya, Anto selalu mengatakan bahwa tak ada lagi tempat di dunia ini yang bisa menerima seorang pendosa seperti Mayang, kecuali tempat yang penuh dosa juga. Mayang percaya apa yang dikatakan Anto, sebab baginya, di kawasan remang ini, dosa bebas bersembunyi dan Tuhan tak terlampau waspada.

Seminggu yang penuh nafsu Anto dan tangis Mayang telah habis. Anto tak lagi mengurungnya di kamar, melainkan memerangkapnya dalam status baru sebagai pelacur. Panggung Bar Bunga rupanya bukan untuk mementaskan keterampilan bernyanyi, melainkan tempat untuk ia dan teman-teman lainnya duduk, menunggu ditunjuk tamu, lalu melayani mereka di kamar masing-masing. Sementara Anto hanyalah preman Bar Bunga yang tugasnya membuat tamu tak sekadar duduk merokok atau ngopi, atau minum bir sambil makan kacang. Berulang kali, dia bicara dengan para tamu sambil menunjuk Mayang.

“Ada barang gres dari Cianjur.”

**

Berbulan-bulan Mayang melewati hari dengan menumpahkan tangis. Pada malam hari setelah ia letih melayani tamunya, dan ia bosan mengurung diri di kamar, ia menyusuri tubuh gang yang sempit dan seolah tak muat diisi seluruh penyesalannya. Ia melewati banyak bar dan kafe yang di berandanya duduk sejumlah pelacur yang asyik bercanda. Ia tak mengerti mengapa mereka bisa begitu bahagia, sementara ia tidak. Air matanya menggerimis, dadanya penuh oleh pertanyaan.

Ia terus laju bagai menyusuri kemurungan nasibnya hingga sampai ke ujung gang. Ia memesan segelas teh manis panas di salah satu warung yang menempel di tembok pembatas kali. Ia tahu, untuk melarikan diri, ia hanya harus menyisi arus kali ke arah kiri. Menemukan jalan besar, mencari ojek, lalu pulang ke kampung. Tetapi, untuk melakukan itu, ia bagai tak punya alasan. Lagi pula, ia takut bila kehadiran seorang pelacur mengusik ketenangan kampung dan ketenteraman keluarganya. Segalanya sudah berbeda. Sekarang, bagi Mayang, rumah tak selalu berarti tempat di mana ia merasa nyaman dan dicintai.

Segelas teh manis tandas, Mayang memutuskan pulang ke Bar Bunga.

Mayang masuk kamar, memadamkan lampu seolah ingin memadamkan seluruh kesedihannya. Ia mulai berpikir bahwa menjadi pelacur harus menjadi pengorbanannya. Dan, pengorbanan mesti menghasilkan kegembiraan atau kebahagiaan bagi orang lain. Ia bertekat mencari banyak uang untuk keluarganya, juga bakal bekalnya apabila para lelaki, nanti, kehilangan minat pada tubuh tuanya. “Suatu hari, May,” bisiknya kepada diri sendiri, “kamu akan punya sawah yang luas, agar bapak dan ibumu tidak lagi terhina di kampung.”

**

Dari teman pelacurnya, Mirta, Mayang belajar banyak hal. Salah satunya cara mendapatkan uang lebih. “Setiap lelaki pasti ingin mulai dengan oral, dan lu jangan kasih dulu sampai mereka minta. Nah, kalau mereka minta, lu minta tip lebih dan deal harga, deh,” kata Mirta. Lalu, setelah mempraktikkan apa yang dikatakan Mirta, Mayang mulai mendapatkan banyak tip dari pelanggan. Apalagi, ia selalu dipromosikan sebagai ‘barang baru’.

Selain dari Mirta, Mayang juga mendapatkan pelajaran lain dari Rukmini; primadona Bar Bunga yang terkenal pilah-pilih lelaki. “May, kerja itu mesti bahagia. Makanya, gua sih selalu milih judesin cowok yang jelek dan nggak gua suka. Palingan abis itu mereka bete sendiri dan akhirnya cuma milih keluarin pake tangan. Atau kalau nggak, gua biasanya minta mereka jangan pake kondom biar mainnya cepet,” kata Rukmini. Kemudian, sejak saat itu, ketika ia tengah kehilangan gairah mendapatkan uang dan ingat dosa, ia mengikuti nasihat temannya. Ia memilih judes dan menolak kondom. Tak masalah, sebab penyakit kelamin, di tempat ini, cuma ilusi hari esok, sementara kehidupan adalah hari ini.

Pada suatu malam Februari, Mayang duduk dan masih letih sehabis melayani 10 tamu sejak siang. Rukmini ‘sang primadona’ bar tengah naik kamar bersama perjaka. Para pelacur Bar Bunga sudah paham mana perjaka dan yang bukan. Perjaka selalu pemilih, berhati-hati, dan rentan kecewa. Biasanya, perjaka yang datang ke tempat ini tak pernah menyiapkan diri untuk kecewa. Mereka tak sadar, bahwa bedak, lipstik, dan remang lampu mampu meningkatkan kecantikan para pelacur hingga 40 persen.

Mayang asyik bertaruh dengan teman-temannya ketika Rukmini turun. Mereka punya hiburan sendiri di tengah rutinitas kerja; menjadikan satu atau dua tamu lelaki sebagai taruhan. Jika tamu yang ditentukan memilih salah satu di antara mereka, yang lain mesti membayar sejumlah uang. Maka, kembalinya Rukmini ‘sang primadona’ ke panggung adalah kabar buruk bagi mereka. “Duh, perjaka itu cuma buang-buang duit. Gua goyang dikit langsung keluar. Dan, tahu nggak sih, dia langsung malu dan merasa bersalah gitu gara-gara main cepet. Helooow? Emang gua istri lu apa!” kata Rukmini, yang disambut tawa teman-temannya, kecuali Mayang.

Mayang terus memandang ‘taruhannya’ yang tengah duduk sendiri. Sepertinya, lelaki itu pertama kali datang ke Bar Bunga. Tatapannya dan botol bir yang berbaris di meja sama dingin dan memabukkan. Dia tampak tenang, berhati-hati dan pemilih, tetapi jelas sudah tidak perjaka. Sementara Anto, berulang kali mendesak tamu itu untuk naik ke atas.

Setelah menghabiskan botol bir keenam, tamu itu menghampiri panggung dan menunjuk Mayang. Sontak yang lain mengejek Mayang, sementara ia sendiri wajahnya bersemu merah. Malam itu, ia untuk pertama kali menang taruhan, dan ia bangga. Lebih daripada perasaan itu, entah mengapa ia merasa bahagia.

Mereka masuk kamar. Segera saja Mayang melucuti seluruh pakaiannya dan bilas. Ia hendak memberikan malam yang istimewa bagi tamunya. Namun, usai bilas, tamunya masih berpakaian lengkap.

“Mas, kok belum dibuka bajunya?”

“Nanti saja. Aku ke sini cuma mau ngobrol dengan pelacur.”

Dada Mayang seolah ditikam. Memang pernah ada beberapa orang yang datang ke kamarnya bukan untuk memuaskan nafsu, melainkan untuk melakukan wawancara. Tetapi, dari semua yang ditemuinya, baru kali ini ia dipanggil pelacur. Biasanya, kaum terdidik selalu memanggilnya PSK.

“Oke. Silakan wawancara pelacur ini,” ketus Mayang.

“Aku mau ngobrol, bukan wawancara. Kamu tersinggung aku panggil pelacur?”

“Tidak. Toh kenyataanya aku memang pelacur.”

“Mbak … siapa namanya?”

“Mayang.”

“Mbak Mayang harusnya marah pada mereka yang memanggil PSK. Berarti mereka nggak sadar bahwa menjadi pelacur bukan sepenuhnya pilihan, melainkan karena terdesak keadaan.”

“Maksudnya?”

Lelaki itu hanya tersenyum. “Sudah, lah, kita ngobrol yang lain saja. Kamu suka puisi?”

“Ummm .. suka,” jawab Mayang, ragu, sambil mencoba mengingat bait pertama puisi Chairil Anwar di buku pelajaran sekolah. Satu-satunya puisi yang pernah ia baca.

Kemudian, mereka melanjutkan percakapan sambil menunggu ketukan di pintu yang menandakan waktu ‘ngamar’ mereka sudah habis. Lelaki itu bernama Oddie, seorang penulis puisi, atau dia menyebut dirinya penyair. Meskipun Mayang sedikit heran, mengapa kata-kata lelaki itu tak puitis. Kata-kata Oddie tegas, tetapi seakan mampu menghadirkan keindahan dan rasa percaya. “May, puisi itu tidak mesti puitis,” bisik Oddie, beberapa menit sebelum terdengar ketukan di pintu kamar.

**

Kali kedua mereka ngamar, Oddie membawa potongan koran yang memuat puisi tentang Mayang. Meskipun tak ada namanya di sana, tetapi ia tahu puisi itu mencatat apa yang mereka bicarakan dalam bahasa yang lain. “Ini rumahmu, May, sederhana saja sebab aku tahu, kamu tak akan betah jika terperangkap keindahan,” kata Oddie. Meskipun tak paham, Mayang merasa bahagia. Ia tak menyangka, ada ‘rumah’ yang bisa menerimanya apa adanya. Rumah yang hanya tersusun dari kata-kata.

Tanpa sadar, tangan Mayang tergerak menanggalkan pakaiannya sendiri. Lalu, ia memeluk Oddie, sambil membuka satu per satu kancing kemeja pujaan hatinya. Ia ingin betul menelusuri seluruh lekuk dan rahasia pada tubuh itu, mendapati ruang paling dalam di sana, dan memilih tinggal. Ia ingin berumah di kedalaman rahasia Oddie, bukan sekadar di puisi-puisinya. Dan, ketika tubuh mereka terbebas dari perangkap rahasia, satu hentakan lembut Oddie membuat jutaan sayap kupu-kupu mengepak dalam tubuh mayang. Itu adalah malam terbaik Mayang. Itu pertama kalinya ia bercinta tanpa dipaksa.

**

Selanjutnya, hampir setiap hari, di panggung bar Bunga, Mayang selalu berdebar menanti kedatangan Oddie. Meski ia tahu Oddie tak mungkin selalu datang. Pekerjaannya sebagai penulis membutuhkan banyak waktu. Dan, jika pun punya waktu, belum tentu dia punya uang. Oddie memang selalu membayar setiap kali bercinta dengan Mayang. Beberapa waktu silam, Mayang sempat tersinggung dengan sikap Oddie. Namun, Oddie menjelaskan bahwa apa yang dia lakukan bukan karena menganggap yang mereka lakukan sebagai hubungan transaksional. Oddie cuma ingin Mayang tahu, bahwa dia menghargai dan menghormati kondisi yang mesti dijalani Mayang.

Selain Oddie, yang ditunggu Mayang adalah puisi. Setiap Oddie datang, dia selalu membawakan sejumlah puisi tulisannya dan buku puisi penyair lain. Mayang paling menyukai puisi-puisi W.S. Rendra, terutama salah satu yang berjudul Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta. Membaca puisi itu, Mayang seolah menemukan kembali apa yang hilang selama ia mencari nafkah di tempat ini; kehormatannya.

**

Oddie belum juga tampak berminggu-minggu. Sementara kerinduan selalu menggelisahkan Mayang. Lalu, pada suatu ambang pagi setelah bar tutup, nasib buruk mengejutkannya. Anto berlutut di hadapannya, melamarnya disaksikan sejumlah pelacur, preman, dan berpuluh botol bir. Mayang hanya bisu beberapa saat, mencoba memilah kalimat penolakan dengan hati-hati.

“Woi, Perek! Masih untung lu ada yang mau ngawinin,” maki Freddy, salah satu preman Bar Bunga. “Udah bilang aja iya. Kalau nolak karungin dan buang ke kali aja, To!”

Keringat dingin mengucur di wajah Mayang. Ia tahu rasanya jatuh cinta, dan bisa membayangkan bagaimana sakitnya ditolak. Maka, ia juga tahu besar kemungkinan Anto akan membunuhnya. Dunia terlalu sibuk untuk mengurusi seorang pelacur yang mati. Anto pasti menyadari itu. Jelas tak ada sedikit pun alasan bagi Anto untuk takut membunuhnya. Tetapi, dalam hati kecilnya, Mayang bukan takut mati. Ia cuma takut tak lagi dapat bertemu dengan Oddie.

“Oke, To, gua mau terima lu,” jawab Mayang, “tapi syaratnya lu harus tetap ngizinin gua kerja. Juga selalu pakai kondom setiap kita berhubungan.”

Anto melompat girang. Keriuhan pun menyambut jawaban Mayang. Semua orang di Bar Bunga bahagia, kecuali dirinya. “Eh, To, jangan girang dulu. Jawab dulu pertanyaan gua!” bentak Mayang.

“May, kamu tahu nggak, bukan cuma kamu dan aku yang nikah di sini. Mereka yang nikah juga tetap kerja sesuai tugas masing-masing, kok. Aku tetap jual kamu, malah lebih giat lagi. Kita bakal lebih giat cari rezeki bareng, May. Dan kalau soal kondom, aku juga setuju.”

“Oke. Terus kapan lu mau ke rumah?”

“Ah, dasar goblok lu, May,” kata Anto, diikuti tawa, “ya, kalau lu udah bilang iya, berarti lu udah resmi jadi istri gua. Oh, ya, sekarang, kamu harus balik kayak dulu lagi, panggil aku ‘Mas’. Dan aku nggak suka kamu pakai ‘gua-elu’. Mulai biasain ‘aku-kamu’, ya!”

Malam itu, Mayang telah jadi istri orang. Meskipun tanpa penghulu, tanpa ijab qobul, tanpa orangtuanya, dan tanpa cinta.

**

Hari berjalan seperti biasa selama berbulan-bulan. Anto menepati janjinya. Siang hingga bar tutup, Mayang tetap melacur, sementara Anto tetap orang yang selalu menawarkannya pada tamu. Tetapi, setelah bar tutup, mereka adalah sepasang suami istri. Sementara Oddie, tetap sesekali datang, dan selalu meninggalkan janji untuk menikahi Mayang suatu hari nanti.

“May, kamu suka baca puisi?” tanya Anto, sambil berbaring di sebelah Mayang, di kamar mereka berdua yang, saat bar Bunga buka, menjadi tempat kerja Mayang.

“Ya, Mas. Kenapa memang?”

“Nggak, May. Nanya saja.”

Mayang melanjutkan membaca buku puisinya.

“Eh, May, aku juga bisa bikin puisi, kok.”

Mayang tak menjawab, malah bangkit dari kasur untuk mematikan lampu. Ia tetap lebih suka status pelacurnya dibandingkan statusnya sebagai istri Anto. Meskipun sebagai seorang ‘suami’, Anto tidak terlalu buruk. Ia tak sekasar dulu, dan selalu memberikan seluruh penghasilannya pada Mayang.

“May, aku nggak suka sama tamumu yang namanya Oddie. Mulai besok kamu jangan layanin tamu itu, ya.” Mayang tak menjawab, pura-pura lelap dalam tidurnya.

Esok malamnya, Oddie datang. Tepat ketika Anto keluar membeli rokok. Didorong rasa rindu yang hendak meledak, mereka pun naik kamar.

“Odd, kapan kamu bawa aku pergi dari sini? Aku udah nggak betah, Odd!”

“May, kamu sabar, dong. Aku nggak mau ngebahayain nyawa kamu. Suatu hari, kalau waktunya tepat, kita pasti bakal bersama, kok, May.”

Lalu, Oddie menjengkali tubuh Mayang dengan ciuman, melucuti pakaiannya, kemudian memasuki tubuhnya. Namun, baru sebentar mereka mabuk dalam gairah, ketukan di pintu terdengar.

“Kan belum satu jam!” bentak Mayang pada ketukan itu.

“May, buka sekarang!”

Mayang panik. Itu suara Anto. Ia segera mengenakan lagi pakaiannya, dan meminta Oddie melakukan hal yang sama. Sementara ketukan di pintu berubah jadi gedoran dan teriakkan Anto berubah menjadi makian. “Odd, kamu tenang, dan jangan ngomong apa pun. Jangan ngelawan. Biar aku yang selesain,” bisik Mayang.

Setelah berpakaian lengkap, Mayang membuka pintu. Segera saja Anto yang marah menampar istrinya hingga tersungkur di lantai. Sementara Oddie diam. Mencoba menuruti perintah Mayang.

“Dasar, Perek! Gua berusaha sabar dan bilang jangan lagi main sama banci itu. Eh, lu malah main sama dia!” maki Anto, sambil menunjuk Oddie. Mayang segera bangkit, dan berdiri tegak di hadapan Anto.

“Aku kerja, Mas,” kata Mayang, terisak.

“Kerja apa?! Lu tuh selingkuh!”

“Aku kerja, Mas. Kamu jangan sembarang nuduh.”

“Jangan begoin gua, May! Lu ngaku atau gua bunuh sekalian banci itu!”

Anto hendak mengambil botol bir di meja, namun Mayang memeluk kakinya dan meminta maaf.

“Gila! Segitunya lu belain banci itu! Bangsat lu emang!”

Mayang terus merengek memohon maaf. Saat posisi tubuh suaminya menyisakan celah ke arah pintu, ia memberi isyarat Oddie untuk kabur. Segera saja Oddie berlari secepat kilat. Anto hendak mengejar, namun tubuhnya jatuh tertahan berat tubuh Mayang.

Anto mencoba bangkit, tetapi berat cinta Mayang terhadap Oddie bagai menambah bobot tubuhnya untuk menahan Anto.

“Lepas, Perek! Gua mau bunuh banci itu! Gua suami lu, May, harusnya lu hargai gua! Maki Anto dalam posisi tengkurap.

“Kalau lu suami gua, kalau lu cinta gua, lu nggak akan ngejual gua, To …” Mayang terisak di atas kaki Anto.

Anto kehilangan kata-kata. Gairah untuk membunuh Oddie pun surut setelah mendengar kata-kata istrinya. Lelaki perkasa itu takluk oleh kesedihannya sendiri.

**

Mayang selesai berkemas. Ia bangkit, dan keluar kamar. Ia menyusuri Bar Bunga dan menyapa setiap sudutnya. Ia tahu, segala yang ada di Bar Bunga telah menjadi bagian dari dirinya. Dan, meninggalkan bagian yang paling ia benci sekalipun tetap saja membuatnya merasa kehilangan.

Ia melangkah keluar. Mencoba menikmati terakhir kali kawasan yang akan digusur lusa nanti. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa ia tak bisa sepenuhnya bahagia meninggalkan kawasan ini. Bagi seorang yang hidupnya tak punya banyak ingatan manis, maka ingatan buruk layaklah disebut sebagai kenangan.

Belakangan, suasana di lingkungannya murung sekaligus mencekam. Para preman hampir setiap malam berkumpul untuk menyusun perlawanan. Sementara usai kerja, hampir seluruh pelacur duduk di beranda bar, berbincang tentang bagaimana cara membangun kembali kehidupan mereka yang akan runtuh bersama kawasan ini.

Setelah puas menyusuri fragmen-fragmen yang menyusun tujuh tahun hidupnya, Mayang pulang ke bar Bunga. Di kamar, ia mendapati Anto tengah mengasah parang seolah mengasah nyalinya yang semakin tumpul. Ia tahu betul, bagi suami dan teman-temannya, perlawanan terhadap negara adalah peperangan sia-sia. Mereka pasti dengan mudahnya dilumpuhkan. Tetapi, bagi mereka, melawan adalah pilihan yang mesti mereka tempuh.

Mayang segera berbaring di kasur, mencoba memejamkan mata. Namun, suara asahan parang Anto mengusir kantuknya. Sekitar lima belas menit, Anto berhenti dan berbaring di sampingnya.

“May, waktu kamu pergi, aku masukkan bedak dan lipstikmu di koper.”

“Mas …,” Mayang menarik napas, dalam, “aku sudah nggak mau jadi pelacur lagi.”

“Kamu jangan salah paham, May. Memang cuma pelacur yang pakai bedak dan lipstik? Kamu nggak semuda dulu, May, wajahmu sudah punya keriput. Bibirmu juga sudah biru karena kebanyakan merokok. Kamu butuh bedak dan lipstik buat cari suami.”

Anto duduk di tepi kasur, mengambil sebatang rokok, lalu membakarnya.

“May, puisi-puisimu juga aku masukkan ke koper.”

“Lho, bukannya sudah kamu bakar, Mas?”

“Ya … dulu, sebelum aku bakar aku salin dulu, May. Puisi tulisanmu, juga puisi-puisi dari Oddie.”

Mayang terkejut mendengar ucapan Anto, namun ia tak punya jawaban.

“Aku suka puisimu, May …”

“Makasih, Mas.”

“Puisi Oddie juga bagus. Aku yakin suatu saat dia bakal jadi penulis terkenal.”

“Sudah, Mas, jangan bahas itu lagi.”

Anto bangkit, mengenakan kemeja, kemudian mengambil parangnya.

“Mas, mau ke mana?”

“Besok penggusuran dimulai, May, aku harus jaga tempat ini. Aku nggak akan biarkan siapa pun menghancurkan kenangan yang pernah kita bangun di tempat ini.”

“Mas, mending kamu jangan ikut-ikut,” Mayang membalik wajahnya ke arah tembok, “aku belum siap jadi janda.”

Anto menghentikan langkah di ambang pintu. Air matanya menitik. “May, aku taruh juga alamat Oddie yang baru. Kemarin aku ketemu dia. Aku bilang besok kamu bakal datang ke sana. Sampaikan salamku buat dia. Dan kalau punya waktu, main ke sini, May. Bawa puisi-puisimu,” Anto melanjutkan langkah, “juga anak kalian.”


**


Mayang berjalan menyusuri trotoar Jakarta. Oddie tak ada di kosnya, meskipun kunci dan pesan sudah dia titipkan ke penjaga kos. Mayang sempat bermalan di sana. Namun, ia merasa tak nyaman dan memutuskan pulang ke kampung halamannya.

Ia sadar, Oddie bukan lagi lelaki yang mencintai dan dicintainya. Sudah bertahun-tahun setelah Anto hampir membunuh Oddie, dan mereka tak pernah lagi bertemu. Ia tahu, segalanya sudah berubah. Dari puisi-puisi Oddie yang tertinggal di kamar kos, ia yakin semua ditulis bukan untuknya. Mayang pantang hidup dalam rasa iba orang lain. Maka, pagi buta ia sudah pergi dan meninggalkan secarik ucapan terima kasih di pintu kamar Oddie.

Mayang berhenti di sebuah warung, duduk dan memesan teh botol. Di dekatnya, ada lapak koran dan dua lelaki yang asyik berbincang.

“Biar mampus, tuh, para pelacur dan preman. Emang dosa harusnya dari dulu diberantas. Penyakit itu,” kata salah satu lelaki itu.

Mayang meletakkan teh botolnya, kemudian membeli sebuah koran. Hatinya ngilu melihat foto ratusan teman-temannya memegang parang mendekati moncong senjata. Ia mulai menyusuri kata demi kata dalam berita koran itu. Ketika sampai pada nama-nama korban tewas, ia mendapati nama Anto Pamungkas.

Ia meremas koran. Bibirnya bergetar menahan tangis. Sementara dua lelaki itu makin nyaring tertawa. Ia heran, mengapa ketika Anto mati, ia malah bersedih sedangkan dua lelaki di sampingnya merasa bahagia. Harusnya, ia yang paling berhak berbahagia, bukan orang lain.

Mayang telah bersiap untuk segala hal buruk. Tetapi, hari ini, ia tak juga bisa menjawab, apakah kematian Anto adalah salah satunya.


===


Jakarta, 2015


Oleh Raditya Nugi

Lahir di Jember, 21 Maret 1989. Cerpennya pernah terbit dalam antologi cerpen bersama Dunia di Dalam Mata (Katabergerak, 2013), Lima Teguk Kopi (AG Litera, 2015). Dan, karya lainnya adalah novel Jiwa yang Sanggup Meredam Gempa (Bypass, 2016).